Long Live (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Motivasi, Cerpen Persahabatan, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 22 August 2017

Semester telah selesai waktunya pengambilan raport dan pengumuman juara kelas. Aku berdoa waktu itu agar aku tidak menjadi juara kelas lagi. Aku baru saja mendapatkan teman dan aku tidak mau kehilangan mereka karena bakatku. Aku sudah berusaha untuk tidak ikut ekskul paduan suara di sini. Aku berusaha tidak bernyanyi lagi walaupun kadang-kadang aku bernyanyi di kamar mandi saat mandi atau ketika sedang hujan. Yah hujan adalah saat-saat yang paling indah bagiku karena aku bisa bernyanyi sekeras mungkin tanpa didengar siapapun. Mama sempat heran ketika pemilihan ekskul karena aku memilih olahraga. Padahal aku tidak bisa sama sekali. Mama sempat bertanya kenapa aku tidak ikut paduan suara saja. Dan terpaksa aku pun menceritakan permasalahanku pada mama. Mama terlihat sedih waktu itu karena mama memang tidak pernah tahu akan hal itu. Aku memang tidak pernah menceritakannya pada mama, aku tidak mau melihat mama sedih. Aku lebih memilih menceritakannya pada Jenni. Tapi sekarang akhirnya mama tahu juga, mama juga sempat menelepon Jenni untuk menanyakannya. Mama pun bisa mengerti keputusanku. Tapi kadang-kadang mama juga menyemangatiku. Mama tahu betul aku suka menyanyi dan aku memang merasa lebih baik ketika bernyanyi. Tapi aku rela tidak menyanyi lagi asalkan aku punya teman. Walaupun aku harus mengubur impianku untuk menjadi penyanyi seperti Taylor Swift.

Guru sudah memasuki kelasku dengan membawa rapor kami. Terlihat mereka semua harap-harap cemas dan berdoa di mejanya masing-masing agar naik kelas. Sedangkan aku berdoa supaya aku tidak juara kelas lagi. Dan akhirnya juara kelasku pun diumumkan. Seakan Tuhan tidak mendengarkan doaku. Aku kembali menjadi juara kelas. Aku sudah sangat lemas ketika namaku dipanggil, aku yakin setelah ini aku akan dibenci oleh teman-temanku, mereka pasti akan menjauhiku dan aku akan sendirian lagi. Setelah itu apa yang harus kulakukan? Tapi ternyata dugaanku meleset, tidak seperti yang kutakutkan dan kubayangkan selama ini. Tapat setelah namaku disebut sebagai juara satu teman-teman seluruh kelas bersorak dan menyalamiku mereka memberi selama padaku. Dan Shilla yang selama ini juara satu, yang harus rela kurebut prestasinya dia malah memelukku erat dan tersenyum bangga padaku. Aku tidak percaya ini semua, seakan ini adalah mimpi. Dan jika ini mimpi aku tidak mau bangun selamanya. Ini begitu indah.

Sepulang sekolah aku langsung menceritakannya pada mama. Mama senang sekali mendengarnya. Mama mengelus puncak kepalaku sayang dan menciumiku. Mama berkata persis seperti apa yang telah Jenni katakan sebelumnya, “Ya Sammy, itulah yang namanya teman, sahabat. Jika mereka memang benar-benar temanmu mereka akan mendukungmu bukan berbuat jahat karena prestasimu, jadi tunjukkan lagi bakatmu jangan kau pendam.” Ya melihat kenyataan teman-temanku tidak memusuhiku melihat aku juara satu di kelas membuat harapanku sedikit terbit. Akankah mereka masih ada untukku ketika mereka tahu bakat menyanyiku? Ataukah mereka akan menjauhiku seperti teman-temanku di Manhattan? Mengingat kejadian di Manhattan aku jadi sedih lagi. Itu sebuah pengalaman paling menyakitkan menurutku. Tapi jika aku pendam terus bagaimana aku bisa mewujudkan impianku? Aku masih ingin menjadi seperti Taylor Swift dan aku juga ingin bisa bertemu dengannya. Dia adalah inspirasiku. Tapi aku tidak mempunyai keberanian untuk menunjukkan pada teman-temanku saat ini. Ya mungkin suatu saat nanti.

Sore itu belum lepas dari rasa senangku tidak seperti biasanya aku menyanyi ketika hujan saja. Saat itu cuaca sangat cerah sekali secerah perasaanku. Aku menyanyi di kamarku, keras sekali aku menyanyi saat itu mungkin dapat terdengar sampai ruang tamu. Kebetulan aku sedang sendirian di rumah karena mama, nenek dan kakek sedang pergi ke rumah saudaraku. Aku memang tidak ingin ikut saat itu, aku mau melampiaskan kebahagiaanku dengan menyanyikan lagu-lagu dari Taylor Swift di kamarku. Aku baru saja menyelesaikan sebuah lagu, aku begitu terkejut ketika mendengar tepuk tangan di belakangku. Secepat kilat aku menoleh. Ternyata Shilla sudah berdiri di depan pintu kamarku sambil tepuk tangan dan.. dan melongo. Aku tak sengaja mengerjap beberapa kali ketika tiba-tiba Shilla menghampiriku sambil bertepuk tangan di depanku.

“Ya ampun Sammy, suara kamu bagus banget.. sumpah keren banget Sam. Kenapa kamu nggak ikut paduan suara aja? pasti Bu Irma sama temen-temen pada seneng kalau kamu gabung.”
Aku terkejut mendengar saran Shilla kukira dia akan menjauhiku setelah tahu aku bisa bernyanyi. Tapi ternyata dia malah mengusulkanku untuk ikut paduan suara. “Ngggg… aku nggak tahu Shil. Emang kamu nggak benci sama aku?” Aku bertanya hati-hati sekali, was-was aku menunggu jawabannya.
“Ya ampun kenapa aku benci sama kamu? Memangnya kenapa? Kamu punya salah sama aku?” Shilla malah balik bertanya.
“Entahlah.. aku sudah membuatmu menjadi juara 2 di kelas. Dan aku bisa menyanyi,” jawabku takut.
“Terus? Apa ada yang salah dengan itu?” Shilla terlihat bingung.
“Kukira kau akan menjauhiku, karena teman-temanku dulu begitu. Mereka menjauhi dan memusuhiku karena aku selalu juara satu dan menang lomba nyanyi,” jawabku jujur.
“Bodoh sekali mereka. Cobalah Sammy besok kau ikut denganku bergabung dengan tim paduan suara. Oh ya sebentar lagi ada pentas seni kelulusan kakak-kakak kelas enam. Dan ada menyanyinya juga. Kebetulan kelas kita belum ada yang mewakili. Kamu mau kan menyanyi nanti?” tanya Shilla penuh harap.
“Tapi bagaimana dengan teman-teman yang lain? apakah mereka akan setuju? aku takut nanti mereka malah membenciku?” aku tidak yakin dengan gagasan Shilla.
“Ah kamu tenang aja Sammy mereka pasti setuju kok apalagi Bu Irma. Aku mohon Sammy..” Shilla menangkupkan kedua tangannya di dadanya, memohon.
Wow mendengar permintaan Shilla ini membuat harapanku terbit lagi. Aku ingin menyanyi lagi. Apakah ini saatnya aku menunjukkan bakatku? Aku sudah lelah menyembunyikannaya, karena semakin keras aku berusaha menyembunyikannya keinginanku untuk bernyanyi dan meraih mimpiku malah makin besar. Ya mungkin ini saatnya, kalaupun nanti teman-teman di sekolahku memusuhiku setidaknya aku masih mempunyai Shilla, mama, nenek, kakek, dan tentu saja Jenni yang akan selalu ada dan mendukungku. Dan dengan ini mungkin aku akan tahu apakah mereka benar-benar temanku.

“Baiklah karena kamu yang memintanya, aku akan mencobanya.” Jawabku sambil tersenyum pada Shilla.
“Wah… terima kasih Sammy, aku yakin kamu pasti akan menjadi hebat dan teman-teman pasti akan menyukai suaramu.” Shilla menggenggam tanganku yang membuatku ingin memeluknya.
“Tidak, akulah yang harus berterima kasih padamu karena kamu sudah mau mendukungku,” akhirnya kupeluk juga dia.
“Sama-sama Sammy, aku berjanji aku akan selalu mendukungmu,” kami berpelukan lama sekali. Dan akhirnya kami menghabiskan sore itu dengan menyanyi bersama di kamarku.

Lima hari telah berlalu sejak aku bergabung dengan tim paduan suara sekolahku. Dan juga akhirnya akulah yang dipilih untuk mewakili kelasku bernyanyi di pentas seni kelulusan kakak-kakakkelas enam. Sungguh berbeda sekali dengan apa yang kubayangkan selama ini. Kukira mereka akan berbalik menjauh dan memusuhiku, akan tetapi nyatanya tidak. Mereka mendukungku 100 %, terlihat sekali kegembiraan dan kekaguman mereka saat mendengarku menyanyi di depan kelas. Sungguh awalnya aku kaget sekali saat Bu Irma wali kelas kami menanyakan siapa yang akan mewakili kelas kami nanti, tiba-tiba saja tanpa izin dariku Shilla mengajukan namaku. Dia bicara panjang lebar dan menjelaskannya kepada teman-teman sekelas dan Bu Irma. Aku panik sekali saat itu apalagi ketika Bu Irma memanggilku dan menyuruhku mencoba menyanyi di depan kelas. Awalnya aku tidak mau melakukannya, tapi Shilla terus membujukku dan berusaha meyakinkanku. Katanya, “Jika mereka menjauhimu setidaknya masih ada aku..” dia mengedipkan sebelah matanya. Oh betapa baiknya dia.

Akhirnya aku maju dan menyanyikan sebuah lagu dari Justin Bieber Love Me, atas ide Shilla juga. Eh tunggu dulu bagaimana dia tahu aku bisa menyanyi lagunya Justin Bieber? Jelas-jelas sore itu saat aku bernyanyi bersamanya di kamarku itu lagunya Taylor Swift dan aku juga sama sekali tidak pernah menyingggung tentang Justin Bieber. Tapi kuakui memang dia cerdas mungkin saja dia melihat beberapa poster Justin Bieber di kamarku dan menyimpulkan aku hafal lagunya. Untung saja kesimpulannya benar. Dasar dia memang suka sekali bertindak sesuka hatinya, tapi aku harus berterima kasih padanya karena tanpa tindakan spontannya itu aku tidak akan tahu kalau aku bisa bernyanyi lagi dan mengejar impianku.

Menjelang pensi itu selama seminggu aku terus sibuk latihan bersama Pak Budi guru bahasa seniku yang bisa bermain piano. Atas persetujuan Bu Irma dan teman-teman aku akan bernyanyi lagunya Taylor Swift yang berjudul Long Live. Tapi saat gladi bersih Pak Helmi mendengar aku bernyanyi dan menyuruh aku menambah lagu lagi. Akhirnya aku akan menyanyikan tiga buah lagu nanti, yaitu Taylor Swift – Long Live, Jem – It’s Amazing dan Rachel Bearer – Top of the World. Aku harus ekstra keras latihan hari itu karena acaranya besok dan aku hanya punya satu hari untuk berlatih dua tambahan lagu itu. Untung saja aku sudah hafal di luar kepala lagu-lagu itu karena memang sedang ngetop-ngetopnya saat ini (yang Jem). Sedangkan lagu Rachel Bearer itu adalah pilihanku sendiri, soundtrack dari film Barbie kesukaanku hehehe.

Besoknya aku sangat gugup sekali saat menunggu giliranku tampil. Aku tampil di tengah-tengah acara. Lagu pertama yang kunyanyikan adalah Jem – It’s Amazing, aku sangat gugup waktu memasuki panggung, lebih gugup dari ketika aku lomba di New York. Kakiku terasa lemas, di saat itu aku melihat mama tersenyum padaku. Shilla dan teman-teman juga bertepuk tangan dan meneriakkan namaku sementara Bu Irma sudah siap dengan handycamnya untuk merekamku. Sedikit gugupku hilang dan ketika alunan suara piano Pak Budi mulai mengalun hilanglah semua rasa gugupku. Kulihat kakak-kakak kelas, adik-adik kelas, bapak ibu guru dan para tamu undangan ikut bertepuk tangan riuh saat aku menyelesaikan lagu pertamaku yang membuat rasa percaya diriku makin naik. Aku berhasil dengan baik menyelesaikan lagu kedua dan ketigaku tanpa kesalahan sedikitpun. Padahal dua lagu terakhir itu nadanya tinggi semua. Semua orang di ruangan itu tampak terpesona, bapak dan ibu guru menyalami dan memelukku ketika acara selesai, sungguh aku sangat bahagia sekali saat itu. Kulihat mama juga tampak bahagia sekali, sempat terlihat olehku mama mengusap air matanya tadi setelah aku selesai bernyanyi. Tapi kali ini mama menangis bukan karena sedih melainkan karena bahagia. Dan ketika aku sudah turun dari panggung mama langsung berlari ke arahku dan memalukku, aku agak malu sedikit tapi aku sangat menyayanginya. Oh mama aku sangat menyayangimu apa jadinya diriku tanpa dirimu? Kebahagiaan besar menyelimutiku hari ini.

“Please welcome Taylor Swift and Samantha Olivia…” suara tepuk tangan bergemuruh di depan sana. Aku masih di belakang panggung menggenggam erat tangan Taylor Swift. Ya aku akan bernyanyi sepanggung dengan penyanyi idolaku selama ini. Awalnya kukira ini hanyalah mimpi. Ketika aku menonton tv dan tidak sengaja melihat berita infotainment bahwa Taylor Swift akan konser di Indonesia. Aku senang sekali waktu itu aku langsung meminta uang pada mama untuk menonton konsernya. Tepatnya meminta uangku. Aku sudah mengikuti beberapa lomba tahun ini dan hadiahnya uang juga yang tidak sedikit, cukuplah untuk membeli tiket VIP. Pikirku saat itu aku akan bisa melihat Taylor Swift dari dekat aku bisa menontonnya dari depan panggung, sangat dekat. Kalau aku beruntung aku bisa meminta tanda tangannya.

Tak kusangka ternyata keberuntunganku lebih dari itu, saat tiba-tiba ada seorang dari panitia konser yang mengundang Taylor Swift ke sekolahku dan mengundangku untuk menjadi pembuka di konser itu. Aku akan bernyanyi menjadi pembuka konser Taylor Swift, ya Tuhan.. aku akan bisa bertemu dengannya nanti di belakang panggung, aku bisa meminta tanda tangannya dan semoga.. berfoto dengannya. Ternyata keberuntunganku tak berhenti di situ, setelah dia Taylor Swift mendengarku menyanyi dia meminta agensinya untuk berduet denganku. Astaga aku hampir pingsan saat itu, aku tidak percaya dia adalah artis yang kupuja dan kukagumi selama ingin berduet alias menyanyi sepanggung denganku yang hanya anak kecil berusia 11 tahun ini, denganku.

“Are you nerveous?” sebuah suara indah menyadarkanku. “Yes, really nerveous”, jawabku tergagap.
Dia, Taylor Swift tersenyum, membungkuk dan menggenggam tanganku erat, “It’s okay, everything will be fine Sammy. We will be great, you have a beautiful voice,” dia masih tersenyum dan dia memujiku. Oh…

Konser itu berjalan sangat lancar, tepatnya aku bisa bernyanyi dengan baik bersamanya walaupun gugup setenmgah mati. Dengan ini salah satu impianku telah tercapai aku bisa bertemu dengannya bahkan bernyanyi bersamanya. Yang membuatku mengukuhkan diriku, akan menjadi penyanyi hebat di dunia. Mungkin jika bukan karena Shilla aku tidak akan pernah mendapatkan kesempatan ini, mungkin aku masih takut dengan bakatku ini yang seharusnya sama sekali tidak perlu kutakuti. Terima kasih Shilla.

Ya memang benar apa kata mama dan Jenny, aku tidak perlu menyembunyikan bakatku aku tidak perlu takut kehilangan teman karena bakatku. Karena jika mereka memang benar-benar temanku, mereka akan mendukungku. Terima kasih mama, terima kasih Jenny dan terima kasih sekali lagi Shilla. Kalian yang terbaik dalam hidupku. Taylor Swift… Long Live!!!

Cerpen Karangan: Aminatul Mushthofiyah
Facebook: Amy Kim

Cerpen Long Live (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Burung Kertas Sang Putri Tidur

Oleh:
Sore itu, daun-daun yang berguguran Iringan semilir angin yang dengan hembusannya menyapaku Kelabunya langit mendung, telah berganti dengan warna-warni goresan tinta pelangi Ku langkahkan kaki ku perlahan Sambil menghirup

Jangan Lupa Setia

Oleh:
Sekolah masih sepi, hanya ada beberapa motor yang terparkir di parkiran belakang yang biasanya dipenuhi dengan motor yang berserakan dari sudut ke sudut. Namun itu semua tak berlaku di

Kini Kita pun Berpisah

Oleh:
Sudah seminggu aku tinggal di sebuah kompleks perumahan yang berada di daerah kota Bandung. Aku dan keluargaku baru pindah di kompleks ini. Sekarang aku bersekolah di SDN. 05 BANDUNG.

Selembar Kertas Kesedihan

Oleh:
Di sebuah sekolah dasar terdapat banyak siswa yang mempunyai banyak bakat, salah satunya adalah B’tari Calista Febrianty yang sering disapa dengan sebutan Calista ini anak kelas VI yang mempunyai

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *