Menulis Kehidupan Ku (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Motivasi, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 22 January 2016

Setiap orang yang terlahir di dunia ini tentu diiringi dengan bakatnya masing-masing karena bakat tersebutlah yang menjadi arah dan tujuan dalam hidupmu. Kata-kata ayahku tersebut sering kali terngiang dalam benakku. Membawa pikiranku dalam lamunan akan kebimbangan hidup. Aku yang merupakan anak sulung sekaligus pamungkas dari keluargaku itu tak mampu memberikan hasil yang setara dengan jabatan dalam keluargaku. Sementara kedua adikku adalah permata kecil bagi keluargaku.

Adik pertamaku telah membanggakan orangtuaku, karena berhasil menjadi juara 2 olimpiade fisika tingkat nasional. Begitu pula dengan adik keduaku yang telah meraih juara 2 lomba lari tingkat provinsi. Sementara aku hanyalah anak SMA biasa yang berkeinginan untuk membanggakan orangtuaku. Walaupun sebenarnya orangtuaku tak pernah bangga padaku. Mereka malah lebih menaruh perhatian pada kedua adiku karena prestasi yang telah mereka persembahkan. Bahkan tak jarang aku mendapatkan amarah dari orangtuaku tanpa kronologis yang jelas.

Aku tidak mengerti, apa yang salah dengan diriku. Derasnya kepedihan telah membanjiri seisi hatiku dan dengan perlahan memadamkan segenap rasa cinta pada keluargaku ini. Akankah cinta ini terpendam selamanya dalam hamparan kecemburuan, ataukah suatu saat akan tumbuh menadi kasih yang mampu menghidupi semua ini. Namun, itu semua hanyalah masa lalu. Karena sekarang aku bukanlah anak kecil dan telah sanggup hidup mandiri. Jadi, aku memutuskan untuk berpamitan dengan keluargaku menjalani kehidupan secara mandiri agar mengerti bagaimana cara menjadi orang dewasa.

Tiba saatnya liburan kenaikan ke kelas 2 SMA. Aku pun tinggal di sebuah kos-kosan yang jauh dari rumahku. Tempatnya menakjubkan, barisan pohon yang rindang mengelilingi diriku, terlihat pula bentangan gunung biru yang megah dan hembusan udara nan sejuk menerpa sekelilingku, karena tempat ini jauh dari perkotaan. Pemilik kos-kosanya bernama Pak Anzas, dia orang yang ramah. Selain itu aku juga sempat berkenalan dengan seorang wanita muda di sana, yaitu Erika. Dia sering membawakanku makanan sepulang kerja, dia juga suka bersih-bersih terutama di halaman depan kos-kosanku. Hari demi hari berlalu, ku jalani hidup dengan berbagai aktivitas dan kesibukan tugas sekolah.

Di sela kesibukanku akan padatnya tugas sekolah, tiba-tiba handphone yang sedang ku genggam berdering ada pesan masuk, saat ku buka terdapat perintah, “Tolong kamu jemput keponakan bapak di taman depan bandara ya! karena saya ada urusan penting, dan akan ku kirim fotonya.”
“Lagi-lagi tugas kos-kosan untukku, kenapa harus aku yang selalu dapat tugas.” pikirku dengan rasa malas yang sedang berdengung pada telingaku. Hatiku mulai terasa berat setelah membacanya, namun ku paksakan hati yang berat ini untuk menuruti tugas dari Pak Anzas.

Setibanya di taman aku pun langsung berjalan menyusuri seisi taman. Ditemani oleh hembusan angin dan guguran daun kering serta kerumunan orang yang berlalu lintas di sekelilingku. Aku memperhatikan foto anak ini, “apakah benar seperti ini orangnya? Sepertinya dia terlihat lucu, tapi ini kan foto 7 tahun yang lalu, mungkinkah dia dari luar negeri?” pikirku dengan gemerisik tanya yang menghantui kepalaku. Tiba-tiba secara tak sengaja kedua mataku terpana melirik seorang gadis Jepang yang tengah kebingungan menantikan penantian seseorang yang entah siapa itu. Pikiranku melaju tanpa jeda begitu mengetahui bahwa gadis Jepang itu mirip dengan foto dari Pak Anzas. Manis, begitulah parasnya. Gejolak akan rasa penasaran ini membawaku padanya.

Lalu ku bertaya dengan bahasa inggris, “Permisi, boleh bertanya siapa nama anda? Anda sedang menunggu siapa?”
“namaku Mashiro Yakumo dan aku sedang menunggu seseorang dari Pak Anzas.” jawabnya dengan bahasa Indonesia yang fasih. Jantungku mulai berdetak kencang bercampur senang lantaran berhasil menemukan orang yang ku cari. Aku pun menjelaskan siapa diriku dan apa tujuanku padanya. Akhirnya kami pun pergi menuju kos-kosan. Setibanya di kos-kosan, aku merasa Mashiro seperti seorang pencuri. Itu karena dia telah mencuri pandangan seluruh orang di kos-kosan. Semakin jauh langkahku bersamanya, entah kenapa kepalaku semakin tertunduk malu. Mungkin saja itu karena dia terus saja memegang tanganku dari belakang, pikirku dengan mimik wajah penuh senyum gak karuan.

“Ehem Mashiro, bisakah kamu melepaskan tanganku? karena sepertinya orang-orang di sini ingin memburuku, mereka juga melihat kita kayak mau ngajak tawuran aja” pintaku dengan senyum. Mashiro menjawab, “aku tidak biasa berinteraksi dengan orang asing, jadi maukah kamu menjadi teman yang selalu menemaniku?” Dengan wajah yang memerah penuh rasa gugup aku menjawab, “iya aku janji.” Tiba-tiba Erika melintas di hadapanku, lalu menyapa, “wahh ternyata kamu cowok yang ganas yaa Dhani, baru SMA sudah bawa pulang istri.”
aku menjawab, “siapa juga yang bawa pulang istri?”

“Ciee baru aja kamu ajak dia ke mari, malah sudah gak sabar ingin berbulan madu.” Sahut Erika sambil menjulurkan tanganya pada Mashiro untuk berkenalan. Kemudian Erika menjelaskan padaku kalau dia mendapat tugas dari Pak Anzas, langsung Erika mengantarkan Mashiro ke kamarnya. Keesokkan pagi harinya, saat menjemur pakaian. Erika datang dan bertanya, “di mana Mashiro? sudahkah kamu mengantarnya mengisi administrasi tempat tinggal?”

Begitu mendengarnya aku langsung pergi menuju kamar Mashiro. Aku mengetuk pintu kamarnya, tapi tidak dibuka. Jadi, aku langsung membuka pintu kamarnya. Begitu memasuki kamarnya Aku melihat hamparan kertas berserakan di lantai dan berbagai poster berjejer mengarungi seputar kamarnya. Pemandangan kamar yang menakjubkan seolah membangkitkan semangat hidupku. Seperti memasuki dunia yang berbeda, itulah yang ku rasakan. Aku melihat Mashiro tidur di depan laptopnya. Padahal gadis ini baru saja datang dari Jepang kemarin, tapi sudah kuat begadang mengerjakan sesuatu semalaman.

Tiba-tiba Pak Anzas datang dan mengajakku ke kamar pribadinya. Dia bercerita, “Mashiro adalah kebanggaan negaranya. Karena di usianya yang masih sebaya denganmu yaitu 16 tahun sudah berhasil menjadi juara lomba animasi tingkat internasional. Ia mampu mengalahkan para rivalnya dari Negara lain. Tapi kedatangannya ke sini hanyalah untuk berkunjung menemuiku sekaligus berlibur. Tapi karena aku sibuk jadi aku mohon kamu menjadi tanggung jawabnya.”

Aku terkejut setengah mati dan sangat kagum mendengarnya. Di usianya yang belia ia memiliki prestasi yang luar biasa. Terkadang aku merasa berbeda level bila di dekatnya karena aku hanyalah orang biasa yang tak berguna dan bahkan belum menemukan tujuan hidupku. Suatu siang hari, setelah menulis diary, aku pun tak sengaja tertidur karena mengantuk berat sambil membiarkan buku diaryku terbuka. Tiba-tiba Mashiro datang. Melihat diaryku terbuka, ia pun langsung membaca semuanya. Begitu aku terbangun, aku kaget, langsung merebut buku diaryku, sambil berharap semoga Mashiro tidak marah padaku. Karena akhir-akhir ini aku sering membuat kisah diary tentang dirinya.

Tiba-tiba dia berkata padaku, “Aku suka kamu Dhani, tulisanmu sangat indah, hingga membawaku ke dalamnya.”

Jantungku seperti berhenti berdetak, napasku berhembus tak karuan dan mulutku tak mampu mengucapkan sepatah kata pun. Semangatku bangkit begitu mendengarnya. Mulai saat itu Mashiro ingin agar aku menulis terus. Dia juga menyarankanku untuk mengikuti kompetisi menulis. Akhirnya aku menuruti saranya dan mengikuti lomba cerpen dari internet. Dan lombanya tanggal 20 november.

Hari demi hari ku lalui, ku jalani berbagai aktivitas dengan menulis. Sejak saat itu bagiku tiada hari tanpa menulis. Aku dan Mashiro pun sering begadang untuk latihan bersama. Setelah sekian lama kerja keras yang kita jalani akhirnya tibalah hari perlombaanku. Waktu berputar begitu cepat begitu juga dengan kompetisi yang ku ikuti. Namun keberhasilan tak mampu ku raih secepat yang ku harapkan selama ini. Rasa putus asa ini kembali menghantui kehidupanku seperti dulu lagi. Akan tetapi kedatangan Mashiro mengusir semua rasa keputusasaan itu. Ia juga menghidupkan semangat pantang menyerah padaku.

Ia juga mengajakku latihan keras seperti saat itu lagi, walaupun perlombaan telah tiada berlalu. Mashiro adalah gadis yang baik hati. Ia juga sering mengajariku berbuat kebajikan. Bagiku Mashiro seperti malaikat yang sengaja didatangkan padaku. Ia tak hanya elok di luar tapi di dalam jauh lebih sempurna. Kehadirannya telah memberikan warna dalam hidupku. Membawa perasaanku terbang mengangkasa bersama manisnya keindahan hidup ini. Suatu hari aku menemukan sebuah kompetisi menulis cerpen lagi di internet dan mengikutinya. Lombanya berlangsung di malam tahun baru. Sayangnya saat itu Mashiro akan kembali ke Jepang dan tepat pukul 17.00 ia akan pergi ke bandara, namun Mashiro tidak memberitahuku karena dia tidak ingin menyurutkan semangatku. Dia hanya memberitahu Erika dan Pak Anzas saja.

Saat perlombaan tiba, aku pun diantar oleh Erika dan Mashiro. Aku berjanji pada diriku sendiri akan meraih kemenangan. Aku tak ingin menggoreskan hatinya Mashiro sedikit pun dengan kegagalanku. Aku juga sudah sering berlatih dengan benar-benar sangat keras selama ini. Erika dan Mashiro pun menungguku di luar ruang kompetisi. Putaran waktu berjalan begitu cepat, setelah sekian lama kerja keras yang ku lakukan selama ini akhirnya aku berhasil mendapatkan juara untuk yang pertama kalinya. Senang bercampur haru, itulah yang ku rasakan saat ini.

Semangatku membara tak sabaran lantaran ingin secepatnya mengabari keberhasilanku pada Mashiro. Begitu ke luar aku melihat Erika dan Mashiro sudah pulang jadi aku pergi ke kos-kosan secepatnya. Pada pukul 18.30 aku tiba di kos-kosan. Aku langsung berlari secepat kilat mencari Mashiro ke kamarnya, namun ia tidak membukakan pintunya, aku pun membuka pintunya. Alangkah terkejutnya aku, kegelisahaan hati ini hampir menyirnakan seluruh perasaan yang ku miliki saat ini. Karena melihat kamarnya Mashiro kosong tidak ada barang-barangnya sama sekali. Aku mencari Erika dan bertanya di mana Mashiro.

Erika menjelaskan padaku dengan nada yang seperti meminta maaf “jangan marah ya Dhani, tapi Mashiro sudah pergi ke Bandara untuk kembali ke negerinya dari tadi.”
“apa! Bagaimana bisa? Kenapa kamu tidak memberitahuku?.” Jawabku dengan nada yang agak marah. Akhirnya Erika pun menceritakan semuanya padaku.

Air mataku mulai bercucuran membanjiri pipiku lantaran tak kuasa membendung derasnya kepedihan akan kenyataan pahit ini. Aku hanya bisa berdiri membisu. Untuk menghapus kesedihanku Erika mengajakku menyaksikan pertunjukan kembang api yang indah di malam tahun baru ini. Namun semua ini tidaklah seindah saat ada Mashiro. Sudah terlalu banyak kenangan yang ku ukir dengan pena pada diaryku ini. Sungguh berat rasanya menerima kenyataan bahwa Mashiro telah pergi meninggalkanku. Hanya kenangan dalam diaryku ini yang ia sisakan padaku.

Lalu Erika berkata padaku. “Tadi Mashiro bilang padamu, jangan pernah menyerah dan tetaplah menulis untukku, mungkin aku tidak ada di sampingmu tapi tulisanmu itu akan selalu ada bersamamu hingga menyongsong masa depan.” Aku hanya bisa tertawa sambil berkata, “Hahaha terima kasih atas segalanya Mashiro, aku akan tetap menulis untukmu selama mataku masih terbuka, walaupun mungkin kamu tak kan pernah membaca tulisanku lagi, aku senang bisa berjumpa dengamu.”

Aku pun menatap langit yang gelap sambil berharap suatu saat suaraku dapat tersampaikan padanya. “Setiap orang yang terlahir di dunia ini tentu diiringi dengan bakatnya masing-masing, tapi semua itu akan sia-sia bila tidak diiringi kebajikan, karena kompetisi yang sesungguhnya bukan tentang bakat tapi kompetisi yang sesungguhnya yaitu kompetisi dalam berbuat kebajikan.” Karena menulis adalah kehidupanku.

Cerpen Karangan: Firman Hadi
Facebook: Firman Hady
Ini pengalaman pertamaku dalam membuat cerpen, jadi, mohon dibaca dengan baik dan dikomentari yaa. Terima kasih.

Cerpen Menulis Kehidupan Ku (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Gadis yang Sama

Oleh:
“Kau mencintainya?” tanya Fahmi pada Andi, sahabatnya itu. Gerak-gerik sahabatnya memang tidak salah lagi menunjukkan perasaan yang spesial pada seorang gadis cantik di kelasnya. Fahmi penasaran jawaban apa yang

Dia Dan Dia (Part 2)

Oleh:
Sudah dua hari sejak insiden bioskop Bobi dan Lena. Tampaknya Lena benar-benar kesal pada Bobi. Di sekolah pun Lena memilih untuk menghindari Bobi. Telepon dan sms dari Bobi juga

Bintang Kecil (Part 2)

Oleh:
Ia melihat polisi keluar masuk dari dalam rumah Reyhan. Ada seseorang keluar dari rumah Reyhan dengan tangan diborgol dan didampingi polisi di sampingnya. Tirsya terkejut melihat sosok kedua yang

I Heart You

Oleh:
Seusai kuliah, Salsa mengecek ponselnya yang sedari tadi ditaruhnya di dalam tas. Ada tiga panggilan tak terjawab dan sebelas pesan masuk. Semua dari Dani, kekasihnya. Sa, pulang kuliah jam

Bangkit Setelah Patah Hati

Oleh:
Di bulan kelahiran kita seharusnya menjadi momen paling membahagiakan, bagaimana tidak? Di bulan kelahiran kita, kita akan mendapatkan banyak ucapan, doa ataupun mendapatkan hadiah, bisa dari orangtua, pacar ataupun

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *