Our Starhill, Love River, And A Couple Tree Of Dreams (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Motivasi, Cerpen Persahabatan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 20 November 2017

Dear diary, my best friend forever, Nakori (Ori)

Aku masih sama. Masih seperti dulu. Masih memijak bumi yang sama, menjunjung langit yang sama, juga masih selalu tersenyum. Menghadapi realita hidup yang sangat jauh dari realita angan-angan. Hanya satu perbedaan yang selalu membuntutiku.

Aku masih sama. Masih sudi untuk menziarahi tempat istimewa kita, hingga saat ini. Tempat istimewa kita. Ya, kita. Aku dan engkau sahabatku, Ori. Sekian lama, kita tak berjumpa. Setelah perpisahan yang tak pernah kita harapkan-lebih lebih tak pernah aku harapkan.

Dulu, kamu selalu bilang, “Apapun yang terjadi, aku nggak mau pisah sama kamu”. Dan aku pun mengucapkan hal yang sama. Hingga setelah sama-sama dewasa, aku terlalu marah demi mendengar satu kata ‘pamit’ yang tak sempat terucapkan, darimu. Mengapa keadaan seolah-olah menertawakanku? Aku harus bersusah payah berdiri sendiri tanpa seorang pun berada di sampingku. Aku harus memikul segala beban hidup, seorang diri. Tak ada bahu yang siap sebagai tempatku bersandar menampung setiap keluh kesahku.

Kamu satu-satunya keluargaku yang tersisa harus pergi selepas kepergian kedua orangtuaku beberapa hari silam. Aku bingung. Kenapa tiba-tiba kamu pergi meninggalkanku bersama bayang-bayang kenangan masa lalu. Kamu pergi. Mengkhianati janji kita. Janji untuk selalu bersama. Aku mengerti pengkhianatan itu sejatinya bukan datang atas kemauanmu, melainkan kehendak takdir. Tapi, tetap saja aku tak kan pernah bisa menerima.

Aku masih sudi menziarahi tempat istimewa kita. Hanya sekedar mengenang atau sebagai bahan pelarianku saja. Aku tak kuasa menahan rindu yang selalu membuncah. Hingga kuputuskan untuk selalu mengunjungimu lewat kenangan kita di Starhill ini. Starhill kita, di depan Love River.

Kenangan kita masih terpatri di dalam memoriku. Kita yang selalu mengayuh sepeda, pergi ke bukit ini selepas berkumandangnya adzan dzuhur hingga senja menjemput. Setiap kali datang, tak lupa kita membawa satu balon dengan kertas bergelantungan di sana. Di dalam kertas itu selalu ada tulisan-tulisan mengenai apa cita-cita kita. Aku dengan kata ‘dokter’ dan kamu dengan kata ‘pilot’. Lalu, kita lepaskan dua balon itu dengan mantap. Berharap mimpi itu bisa terwujud seiring terbangnya dua balon hingga menyentuh bola kapas raksasa di atas bentangan langit.

Ritual penerbangan balon telah usai, lalu kita menyambungnya dengan satu ritual lagi. Kamu membawa sebilah pisau dan aku lari ketakutan karena melihat pisau itu berlumuran darah. Tapi, kata kamu itu bukan darah, melainkan saus tomat, lantaran pisau itu baru saja digunakan untuk mengaduk pasta. Kenapa kamu nggak bilang, aku kan malu. Aduh konyol sekali.

Kamu berlari menuju dua pohon besar di tengah-tengah starhill ini bertemankan monster pisau itu. Aku bergeming. Kulihat tangan kamu lihai memainkan pisau ke batang pohon di sebelah kanan. Aku tak tahu apa gerangan yang kamu lakukan?

Tangan kamu melambai ke arahku. Entah kenapa setelah itu aku berlari ke arah kamu seolah aku merugi jika tak mengabulkan lambaianmu.

Aku mendekat. Kutemukan lima huruf terukir besar di kulit pohon itu. Pilot. Itulah yang kamu ukir dengan pisaumu. Lalu kamu memaksa aku untuk melakukan hal yang sama. Aku tau apa yang harus kukerjakan. Lantas aku mengambil pisau itu. Dengan gerakan secepat kilat, aku memainkan pisau itu di atas kulit pohon sebelah kiri. Kata yang kuukir di sana adalah ‘dokter’.

Di A Couple Tree Of Dreams – demikinlah gelar dua pohon di tengah-tengah Starhill- itulah, impian kita terukir. Kamu menjelaskan panjang lebar mengenai alasan kita harus mengukir impian kita di pohon itu. Kata kamu, impian kita akan tertanam kuat dalam hati kita, seperti kata pilot dan kata dokter yang tertulis di pohon itu.
Setelah itu dengan polosnya kamu berkata, “Kamu tau nggak, kenapa aku nulis pilot di dalam kertas yang diterbangkan balon tadi dan aku juga nulis kata yang sama di pohon itu? Karena aku mau bawa kamu keliling dunia naik pesawat. Kamu kan pernah cerita, kalau besar nanti kamu akan keliling dunia. Kalau kamu, kenapa nulis dokter?”.
Dengan polos juga aku menjawab, “Karena aku ingin nyembuhin sakit kamu.”

Aku masih mengingat jelas, begitu susahnya kamu bangkit berdiri saat penyakit itu kambuh, menyerang organ dalam kamu. Aku selalu takut akan kehilangan kamu saat kamu mulai terbatuk-batuk disertai darah yang mengucur deras. Tak jarang, darah itu keluar melalui hidung bersama batuk yang tak kunjung berhenti.
Aku takut saat tiba-tiba kamu pingsan di Starhill ini, mengira kamu telah tiada.
Dan ketakutan akan kehilangan itu, muncul saat ini. Saat ini aku benar-benar takut. Mengetahui kamu telah pergi untuk selama-lamanya.

Tetapi, aku bangga karena kamu telah mewujudkan dua impian agungku. Berkat dukunganmu, aku yang semula pesimis tak akan pernah bisa menjadi dokter lantaran keadaan ekonomi keluargaku yang tak mendukung. Tetapi, keluarga kamu telah berjasa menolongku dengan menjadikanku sebagai bagian dari keluarga kamu, lalu keluarga kamu menanggung semua biaya pendidikanku. Aku dan kamu, Ori, bagaikan langit dan bumi. Kita terlahir dari background keluarga yang berbeda. Kamu dengan kekayaan dan aku dengan hidup yang serba kekurangan. Pernah suatu ketika, dengan berurai air mata aku memberanikan diri untuk mengungkapkan segala keresahanku,

“Maaf Ori, aku memang bukanlah siapa-siapa di mata kamu. Aku bagaikan bumi. Dan kamu bak langit, Ori. Kita sangatlah jauh berbeda. Tapi, kenapa kamu mau berteman denganku? Apakah kamu hanya ingin menertawai…”
“Shhhhhtt… Hapus air mata kamu. Janganlah pernah berfikir seperti itu. Aku bersahabat denganmu dengan tulus. Menurut kamu apa artinya langit tanpa bumi? Hampa, Cha. Langit merasa bahagia dengan datangnya bumi. Bumi yang akan selalu menemani langit. Cobalah kamu berfikir. Bumi akan melihat kerlap-kerlip bintang karena adanya langit. Begitu pula langit. Hanya dengan adanya bumi, dia bisa melihat luasnya samudra, melihat pegunugan yang menjulang tinggi, juga mampu melihat betapa luasnya hamparan savana. Semua ada untuk saling melengkapi, Cha. Bukan untuk saling merendahkan diri.”

Aku selalu merenungkan kata-kata itu. Memang benar. Apapun untaian kata yang keluar dari mulut Ori selalu benar. Aku ingin mewujudkan kebahagiaan kamu melalui kerja kerasku, Ori.
Hingga kini, aku telah menjadi dokter. Itu karena untaian kata-kata semangat darimu. Aku ingat kamu juga pernah bilang, “Cita-cita itu nggak pernah milih, siapakah tuannya. Tapi, dia ada karena usaha. Ingat! Banyak jalan menuju Roma. Jadi kamu jangan berkecil hati, Cha.”

Aku juga berhasil mengelilingai dunia, walaupun tidak bersamamu, Ori. Melainkan bersama salah seorang temanmu yang berprofesi sebagai pilot. Tapi, aku bisa pergi karena kamu.

Kala itu, tepat dua puluh satu tahun sejak kelahiranku. Lalu, kamu menghadiahkan tiket kepadaku. Tiket tour keliling benua Eropa. Anehnya kamu memberiku dua tiket. Satu tiket untukku dan satu tiket lagi ingin aku persembahkan untukmu. Tapi, kamu menolak.
Sebelum pergi, kamu bilang nggak bisa ikut karena ada banyak riset yang menantimu. Tapi ternyata kamu ada di Rumah Sakit bertarung dengan takdir untuk menyembuhkan penyakit kamu hingga akhirnya nyawa kamu tak tertolong lagi. Bodohnya, aku mempercayai omong kosong itu. Aku benar-benar menyesal. Aku nggak bisa menemani sahabatku di akhir hayatnya.

Aku seorang dokter, harusnya aku lebih tau apa maksud kamu. Tapi, aku telah gagal untuk mempertahankan nyawa pasienku. Aku benar-benar telah gagal…
Maafkanlah aku Ori. Aku takkan pernah melupakan kisah persahabatan kita. Meski rasa sakit sebenarnya selalu menyeruak tatkala namamu kembali singgah di dalam hatiku.

Aku ingat betul, kita menamai bukit ini Starhill lantaran bukit ini sebagai tempat di mana kita menebarkan bintang-bintang mimpi kita. Juga Love River sebagai tempat dimana kita bertemu untuk pertama kalinya. Semua tempat yang pernah kita jarah selalu meraih gelar yang filosofis darimu. Kamu sahabatku yang sangatlah jenius, Ori.
Sebagai bentuk penghargaan untukmu, hingga detik ini aku tak pernah lupa untuk selalu menerbangkan balon dengan selembar kertas sebagai do’aku ‘semoga kamu selalu bahagia di alam sana, Ori’.

I proud of you. You are always strong. I promise to you, I will be stronger than you, Ori. Thanks for your motivation.
I Miss You, Ori.

Cerpen Karangan: Alfia Yuliyani
Facebook: Alfia Yuliyani
Nama: Alfia Yuliyani
Pekerjaan: Pelajar di sebuah Smk negeri di Temanggung, Jawa Tengah

Cerpen Our Starhill, Love River, And A Couple Tree Of Dreams (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Thank’s Mom

Oleh:
Semua orang pernah dimarahi oleh mamanya. Namun, berbeda denganku. Mama memarahiku bukan karena aku melakukan kesalahan. Namun karena aku melakukan suatu kebiasaan yang begitu aku senangi. Menulis. Mama tak

Merpati Persahabatan

Oleh:
Ini kisahku ketika masih duduk di bangku SMK. Aku mempunyai 5 orang sahabat yang aku sayangi, Dewi, Dian, Erna, Lezta dan Rahma. Kala itu kami kenal akrab sejak kelas

Sahabat Tetap Sahabat

Oleh:
Seperti biasa, pukul 06.30 bel berbunyi “kringg” semuanya kembali ke kelas dan memulai pelajaran. Pelajaran pertama adalah matematika. Menurut ku itu pelajaran, yang paling bete dan membosankan. Tapi aku

Gara Gara Main Handphone

Oleh:
Vanessa Tresyadara, atau yang biasa dipanggil Nessa ini, gadis yang cantik, supel dan suka main handphone. Ia tak pernah lepas dari handphonenya. Nazwa Audya. Nazwa adalah best friend nya

Ayah

Oleh:
Seperti biasa ketika liburan sudah mulai tiba aku selalu menginap di rumah nenekku, kebetulan ketika itu aku sedang kesal kepada ayahku karena ayah tidak mengizinkanku pergi ke dunia fantasi

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *