Pelangi

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Motivasi, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 3 May 2017

Di sebuah desa hiduplah seorang anak yang bernama Rayhan, ia hidup sendiri karena orangtuanya telah meninggal ketika Rayhan berusia 13 tahun.

Rayhan adalah remaja yang sangat baik hati dan terbiasa hidup mandiri, sehingga banyak tetangga di sekitarnya begitu kagum dengannya. Di setiap harinya ia selalu membantu tetangga di sekitarnya untuk mendapat upah, salah satunya Kang Ucang, bahkan tak jarang Kang Ucang memberi uang cuma-cuma karena ia begitu simpati dengan Rayhan.

Suatu hari Rayhan berangkat sekolah dengan berjalan kaki seperti biasanya, keadaan sekitarnya sedikit lebih dingin dari biasanya karena hujan kemarin malam. Rayhan menyusuri jalan yang lumayan membasahi sepatunya.

“Pyaarrr!!!” Suara mobil yang sengaja menyipratkan genangan air dibaju Rayhan, untung saja ia tidak basah kuyup karena refleks, hanya sedikit bajunya yang kotor.
“Kau pantas mendapatkannya, lihat bajumu kotor sama sepertimu dasar pecundang! Haha!” Ledek Dirkham.
Rayhan tak peduli dengan apa yang dikatakan Dirkham, memang Dirkham sering bersikap seperti itu dengannya, Rayhan hanya ingin optimis dan positif.

“Kalau bukan karena Dirkham aku tak akan tau apa arti dari kesabaran.” Ucapnya dalam hati.

Angin pagi hari sedikit mengeringkan bajunya, beberapa kali ia menebahkan tangan yang membuatnya mulai mengembalikan warna bajunya. Hari ini adalah pengumuman kelulusan ujian kemarin, dengan do’a yang terus ia panjatkan banyak harapan yang tersimpan di dalam hatinya.
“Apa hasil usahaku selama ini akan ditentukan pada hari ini! Aku tak boleh gagal!” Harapnya di dalam hati.

“Hei, pecundang!” Senggol Dirkham.
“Apa yang kau inginkan dariku?”
“Aku hanya memanggilmu.”
“Dengan sebutan pecundang?”
“Ya! Karena aku tau kau akan jadi pecundang hari ini!”
Dirkham meninggalkan Rayhan, sedangkan Rayhan hanya diam menahan luka atas penghinaan Dirkham.

Rayhan berjalan ke taman aula, dengan lamunannya ia duduk dengan bergelimang air mata yang samar-samar.
“Aku tak memiliki siapapun untuk bersandar, aku tak memiliki siapa-siapa untuk bisa kuajak berbagi.”
“Maksudmu, apa? Apa kamu lupa?”
Rayhan menoleh ke belakang, ternyata suara Sarah memecahkan kesedihannya.
“Kau punya orang-orang yang selalu menyayangimu, kau punya tetangga-tetangga yang baik, kau punya aku dan teman-teman yang lain. Jadi, berjanjilah untuk tidak pernah merasa sendiri.”
Rayhan menghapus bekas air matanya, dan ia tersadar dari kesedihannya. Sarah mengajaknya untuk masuk ke kelas dan menunggu pengumuman disampaikan.

Pengumuman akhirnya disiarkan, dengan wajah gugup dan tak percaya Rayhan telah mengukir prestasi tertinggi di sekolahnya.
Ia juga mendapat beasiswa untuk melanjutkan ke perguruan tinggi, beribu rasa syukur ia panjatkan dalam mulutnya.

Dirkham mendatangi Rayhan yang sedang duduk di taman dekat danau melihat pelangi.
“Maafkan aku Rayhan, atas perlakuanku kepadamu selama ini.” Ungkap Dirkham dengan nada penuh sesal.
“Tak apa Dirkham, bagaimanapun juga karenamu aku jadi tau apa artinya kesabaran dan perjuangan.”

Akhirnya mereka kembali bersahabat, bersama udara sejuk yang menyatukan hati mereka.
“Aku adalah seseorang yang paling gagal di dunia ini.” Ucap Dirkham.
“Jangan seperti itu, aku pernah sepertimu tapi namanya tekad dan cita-cita akan tetap terwujud jika kita tetap terus memiliki semangat dan niat yang kuat.”
“Aku mengerti, terimakasih atas motivasinya, aku tau apa yang harus aku lakukan.”
“Bangkit, Dirkham!.”
“Ya, Bangkit!.”

Cerpen Karangan: Imroatus S.
Facebook: Ieim I’imroatus
Nama: Imroatus Solikah
Ttl: Tulungagung, 10-Oktober-1999
Hobby: Membaca, menulis, olahraga, menggambar, memasak dsb.
Kartun Favorite: Naruto

Cerpen Pelangi merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ji Chang Wook dan Penggemar Kelas Berat

Oleh:
“Yeoboseyo. Halo.” “Lisa lagi sibuk, ya?” “Biasa, lagi nyeterika tiap minggu pagi.” “Jam sepuluh ke rumahku, ya. Aku punya film Korea baru.” “Film apa? Apa judulnya?” Tut… tut… tut….

Hargai Cinta

Oleh:
Ini kisah cinta pertamaku, kisah yang takkan terlupakan. Dulu, saat masih SMP aku pernah suka-sukaan sma seorang cowok, dia dulu di kelas C dan aku di kelas A. Menurutku

Senyap Untukmu

Oleh:
Kriiinggg… Kriiinggg… Gubrak! Aku melempar jam berisik itu sekuat tenagaku. Sungguh aku masih ingin terlelap, menghabiskan sisa mimpi semalam. Tapi belum saja genap lima menit aku tenggelam lagi, suara

Pemimpi Bermimpi Menjadi Pemimpin

Oleh:
Di pagi yang dingin menusuk tulang dan embun pagi masih tampak bersinar di antara dedaunan. Aku terbangun dari tidurku, yang semalam telah kurajut sebuah mimpi indah. Mimpi-mimpi yang semalam

Jatuh Cinta Di Penjara Suci

Oleh:
Azan magrib mulai berkumandang, terasa indah di telingaku seolah panggilan dari surga. Hingga memaksaku bangkit untuk hadir mengunjunginya, aku berjalan menuju masjid yang memang letaknya terlalu jauh. Di perjalanan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *