Pena Semangat (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Jepang, Cerpen Motivasi
Lolos moderasi pada: 24 February 2016

Suasana kelas terasa hampa, tidak ada suara terdengar kecuali suara lembaran buku yang ku bolak-balik. Lembaran akhir dari sebuah cerita yang ku baca memiliki makna yang sangat dalam. Seakan terbawa dalam lautan cerita yang menghipnotis. Penulis yang memiliki nama pena Kazuto Kagoya, dia yang tidak diketahui identitasnya ini telah membuat banyak cerita yang membuatku terkagum-kagum. Cerita romantis, komedi, fantasi, dan horor yang dia ciptakan memiliki bumbu rahasia yang membuat adanya daya tarik di setiap kalimat dan memiliki makna-makna yang berarti. Sebagian ceritanya telah di buat “Manga” dan diproduksi oleh “Manga Jepang”.

Memiliki website dengan pembaca terbanyak. Kabarnya dia adalah seorang warga Indonesia. Meskipun memiliki nama pena dengan dialeg Jepang, dia menggunakan bahasa Indonesia untuk menulis hasil mahakaryanya yang sangat luar biasa. Mungkin dia sangat menyukai budaya jepang karena itu hasil karyanya dapat dengan mudah diterima oleh “Manga Jepang”. Tapi siapa pun penulis ini, aku ingin bertemu dengan dia suatu saat nanti. Setelah selesai dengan semuanya, aku merapikan tumpukan buku yang ada di mejaku. Bersiap untuk bergegas ke luar dari kelas. Lorong-lorong kelas yang dingin membuatku harus memakai jaket yang tebal. Mataku melihat seorang siswa yang duduk di sebuah kelas sendirian. Kegelapan tiba-tiba menyelimuti hatiku, apalagi dengan tatapan yang tajam mengarah ke arahku di saat aku melihatnya.

“Ada apa?” kata dia yang sedang duduk dan menatapku.
“A.. aku cuma lewat aja kok,” jawabku agak dengan perasaan grogi.

Lalu dia berdiri dan berjalan menuju ke arahku dan hanya melewatiku saja. Matanya menatap lagi dengan sinis lalu dia pergi meninggalkan aku sendirian di depan pintu kelas. Di kesunyian ruangan sekolah, sambil berjalan otakku masih memikirkan siswa tadi yang duduk di kelas sendirian itu. Entah kenapa aku masih bingung akan hal itu, tetapi aku rasa aku dapat menemukan jawaban itu besoknya. Besoknya aku mendatangi kelasnya, siswa tersebut tidak terlihat di kelas. Hanya terlihat beberapa murid sedang melakukan berbagai aktivitas di kelas tersebut. Lalu aku memutuskan untuk pergi ke kelasku dengan perasaan yang masih penasaran.

Setelah jam pelajaran terakhir usai aku mengunjungi kelas di mana aku bertemu dengan siswa yang ku temui semalam. Aku sangat terkejut, rasa takut bercampur dengan rasa bingung. Dia terlihat sedang menulis sesuatu di sebuah buku berwarna biru. Aku memberanikan diri untuk mendekatinya. Tiba-tiba dia berdiri dan berjalan ke arahku. Jantungku sedikit deg-degan ketika dia menghampiriku. “Ada apa kamu mencari aku?” tanya dia frontal. Aku berbalik dan memalingkan wajahku darinya. Diriku merasa malu ketika melihat wajahnya. Jantungku berdebar-debar ketika dia menatapku. Dia pergi saja melewati diriku yang sedang malu pada dirinya.

“Tunggu..” kataku. Dia berhenti sejenak lalu berbalik lagi ke arahku.
“Ada apa?” jawabnya dengan suara dinginnya.
“Boleh aku tahu nama kamu?” Tanyaku kepadanya dengan nada malu.
“Namaku Reno,” Kata siswa itu dia pun pergi setelah memberitahukan namanya kepadaku. Lalu aku mengejarnya.
“Reno..” teriakku keras di lorong sekolah yang sunyi dan berbunyi sangat nyaring, beberapa saat dia berhenti dan menghadap ke arahku. “Aku ingin menanyakan sesuatu,” kataku kepadanya.
“Apa itu?” masih dengan nada dingin dengan tatapan tajam.
“Apa yang kamu lakukan di kelas, sehingga membuat kamu belum juga pulang?” tanyaku kepadanya dengan nada keras.

Suasana di lorong sekolah yang sangat sepi. Hanya kami berdua yang berada di lorong itu. Angin dingin berhembus ke arah rambutku, membuatnya terurai seperti ilalang yang diterpa angin. “Aku menulis,” Jawabnya beberapa detik setelah aku menanyakannya. “Menulis?” terheran dalam pikiranku. Dia hanya terdiam. Ketika dia ingin berbalik arah dariku, aku memegangi tangannya. Rasa yang berbeda tiba-tiba datang. Perasaan ini tak tergambarkan, membuat jantungku berdetak semakin kencang. Dia melepaskan peganganku dan menatapku lagi. Wajahku memerah dengan perasaan malu kepadanya.

“Menulis adalah hidupku,” katanya Sambil memandangi langit-langit.
“Hidup kamu?” tanyaku masih bingung.
“Setiap cerita itu memiliki nilai kehidupan. Suatu hal yang menyenangkan jika membuat suatu nilai kehidupan bisa diaplikasikan ke dalam tulisan dan juga bisa memotivasi seseorang dan menggerakan hati seseorang,” katanya dengan bijak.

Saat aku mendengar perkataannya itu, langsung merubah pandanganku 180 derajat kepadanya. Kata-kata itu bagaikan cahaya yang menyinari kegelapan. Hati ini menjadi tenang setelah datangnya cahaya itu. Kemudian aku meminta tulisan yang dibuatnya. Dia memberikan sebuah buku birunya dan menawarkan kepadaku untuk membacanya di dekat halaman sekolah. Kami berdua segera pergi ke halaman sekolah. Sebuah buku biru yang menceritakan kisah persahabatan membuat aku kagum dengan karya tulis yang dia buat. Tak kurang dari setengah jam membacanya, aku memberikan buku tersebut kepadanya. Dia menanyakan komentar tentang tulisan yang ia buat. Pikiranku masing bingung harus menjawabnya, soalnya kemampuan menulisku masih amatir. Setelah beberapa lama berpikir, aku memberikannya komentar.

“Sangat bagus Reno, persahabatannya sangat kental,” Aku tersenyum.
“Jadi, perasaan cewek memang lebih peka ya,” ledeknya. Reno terlihat sangat senang. Raut wajahnya yang dingin menjadi lebih berseri. Dia berterima kasih kepadaku, hatiku menjadi tidak karuan dengan ucapan terima kasihnya itu. Lalu dia menanyakan namaku.

“Namaku Fifi,” Jawabku dengan wajah malu.
“Nama yang indah.” Katanya kepadaku. Aku tersipu malu dengan pujiannya itu. Perasaan ini sangat senang sekali ungkapku dalam hati.
Beberapa saat kemudian dia bertanya kepadaku mengenai hobiku.
“Hobi kamu apa?”
“Aku suka menulis,”
“Penulis yang kamu suka?”
“Kazuto Kagoya.” aku semangat.

Ia terdiam sejenak dan terlihat memikirkan sesuatu. Reno mangatakan bahwa dia juga menyukai penulis dengan nama pena Kazuto Kagoya. Sang inspirator yang hebat dan sangat menginspirasi. Ungkapan Reno terhadap penulis tersebut. Aku menganggukkan kepalaku setuju dengan pendapatnya tersebut. “Bagaimana kalau kita adakan taruhan. Siapa yang bisa mendapatkan tanda tangan Kazuto Kagoya, harus melakukan permintaan dari yang menang. Bagaimana?” ajaknya.

Keraguan masih menyelimutiku. Apakah aku menerima tantangan tersebut atau tidak. Pada akhirnya, “Baiklah aku setuju,” aku menyetujuinya. Reno menawarkan sebuah tantangan kepadaku, untuk mendapatkan tanda tangan Kazuto Kagoya dan siapa yang berhasil mendapatkannya pertama. Maka dia harus memenuhi permintaan dari yang menang. Aku menerima tantangan tersebut dan membuat perjanjian dengan jari kelingking kami berdua. Lalu Reno berdiri dan mengatakan, “Your Life is Your Story”. Aku pun berdiri dan mengatakan hal yang sama. lalu kami berteriak bersama dengan keras, “Your Life is Your Story”.

Bersambung

Cerpen Karangan: Andre Mulya
Blog: http://romancetheart.blogspot.co.id
Seorang masyrakat biasa yang mencoba melukiskan kehidupan melalui tulisan.

Cerpen Pena Semangat (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


The Other Side of A Fault

Oleh:
Wajah polos itu menatap padang rumput yang terbentang luas di hadapannya. Pikirannya melayang jauh dari tempat raga itu berpijak. Matanya terpejam secara perlahan seiring hembusan angin. Terdengar suara alam

Aku, Sahabatku dan Cita Cita Kita

Oleh:
Saat ditanya tentang cita-cita, tidak setiap orang mampu menjawab dengan yakin. Mungkin kebanyakan dari mereka, menjawab dengan terpaksa. Karena tak mau dibilang manusia tak bercita-cita. Dari sejak kecil, aku

Lemari Rahasia

Oleh:
Sudah lama aku memerhatikan sebuah lemari usang yang telah lama menghiasi rumahku. Letaknya berada di basement, entah mengapa orangtuaku selalu menyuruh aku untuk jangan mendekati apalagi membuka lemari itu.

Impian Anak Pemulung

Oleh:
“pak ni minum dulu” aku menyodorkan minum untuk bapaknya yang sedang asik meremukan kaleng-kaleng bekas yang kami cari. Bapak menerima minuman yang ku sodorkan tanpa berkata-kata. Mungkin karena bapak

Berjuanglah

Oleh:
Hari ini pengumuman SNMPTN. Wajar jika hati ini ketar-ketir. “udahlah kamu pasti keterima. nilaimu lo bagus” kata septi. Aku hanya tersenyum, tapi hati ini masih tak karuan. Fikiranku melayang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *