Penantian

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Covid 19 (Corona), Cerpen Motivasi, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 17 July 2022

Langit pagi yang diselimuti oleh awan, berhasil menyembunyikan mentari yang sedang tersipu malu. “Semalam aku bertemu dengan hujan,” katanya. Ditemani dengan aroma tanah sehabis diguyur air hujan, menemani awal pagiku hari ini.

“Bangun, nduk. Wes jam berapa iki? Kowe ora sekolah?” Ucap Ibu sambil menggoyang-goyangkan badanku.

Jam menunjukan pukul 05.00 pagi. Mataku yang berat mulai memaksakan diri untuk terbuka. Kulihat Ibu sudah rapih. Berbalut kemeja ungu muda bergaris putih, celana hitam dan rambutnya yang diikat dengan rapih.

“Ibu harus ke kantor, ada sedikit masalah. Ibu akan pulang sekitar jam 4 sore. Makananmu semua sudah ada di meja. Cepat mandi!” Paparnya.

Aku segera beranjak dari tempat tidurku dan pergi ke kamar mandi. Selesai itu, aku memakan sarapanku dan mencium Ibu yang ingin pergi bekerja.

Sekarang jam menunjukan pukul 7 pagi. Pembelajaran daringku akan segera dimulai. Pagi ini, pembelajaran akan dimulai dengan tatap maya Bahasa Indonesia.

“Selamat pagi dan salam sehat untuk anak-anak Ibu yang duduk di kelas IX,” Sapaan hangat darinya.
“Sebelum memulai pembelajaran pagi ini. Alangkah baiknya, kita berdoa menurut agama dan kepercayaan masing-masing, berdoa dimulai,”

“Aamiin. Anak-anak, pertemuan kita kali ini akan membahas pentingnya Bahasa Indonesia di dalam kehidupan kita. Kalian tahu? Remaja di zaman sekarang lebih menyukai bahasa asing ketimbang bahasa daerah. “Lebih keren,” katanya. Mereka juga lebih suka menggunakan bahasa gaul ketimbang bahasa Indonesia yang baku. Kurangnya minat dan kesadaran remaja dalam mencintai bahasa sendiri, membuat suatu goresan luka tersendiri bagi bangsa Indonesia. Tidak ada salahnya dalam mempelajari bahasa asing. Selama itu bermanfaat bagi kehidupan kita, kenapa tidak? Namun, jangan karena mempelajari bahasa asing, kalian melupakan kekayaan bahasa yang kita miliki. Bahasa daerah. Siapa bilang tidak keren? Buktinya, Indonesia tersebar dari Sabang sampai Merauke. Begitupun, dengan bahasa daerahnya. Namun, kita tetap bersatu dengan satu bahasa kesatuan, yaitu Bahasa Indonesia. Keren, bukan? Jadi, tidak ada salahnya mempelajari bahasa asing. Namun, jangan melupakan bahasa daerah yang kita miliki. Dan tetap mengutamakan bahasa persatuan, yaitu bahasa Indonesia,” Jelasnya.

Tak terasa, ia sudah pamit undur diri dari jam pelajaran hari ini. Baterai ponselku tersisa 50%. Selanjutnya, kita akan belajar bahasa Inggris. Kupikir, bateraiku akan cukup. Jadi, aku tidak menchargernya lagi.

Pembelajaran bahasa Inggris pagi ini juga menggunakan tatap maya. Kira-kira, sudah 1 jam 35 menit pembelajaran ini dimulai dengan tatap maya. Baterai ponselku menunjukan 20%. Jadi, aku menchargernya sembari digunakan kembali untuk belajar.

ADVERTISEMENT

“Baik, anak-anak. Miss, akhiri pertemuan kita dan tugasnya sudah dibagikan, ya…”
“Jlep…” Suara ponselku yang mati tak berdaya.

Sial, aku sangat panik saat itu. Aku belum mengerjakan tugas dan ponselku sudah mati. Rasa panik, khawatir, dan cemas, telah bercampur aduk saat ini.
Ibu pergi bekerja dan di rumah hanya ini ponsel yang aku miliki. Jadi, aku tidak bisa berpikir jernih untuk sesaat.
Rasanya aku ingin menangis. Namun, aku sudah dewasa. Aku sudah kelas IX, sekarang. Kupikir, dengan menangis tidak akan membuat ponselku menyala, dan dengan menangis masalah yang ada di hadapanku tidak akan selesai. Jadi, aku mencoba untuk tenang.

Syukurlah, ponselku kembali menyala dan mengisi daya 3%. Aku mencoba untuk menyalakan ponselku. Dan syukurlah, ia mau menyala.

Aku langsung menghubungi guruku dan menjelaskan masalahku. Lalu, aku meminta izin untuk ketertundaan pengiriman tugas. Untung saja, ia mengerti masalahku dan berkata, “Tidak masalah, Nak. Ibu, tidak memberi batas waktu.”

Ya… Meskipun tidak ada batas waktu, kita harus tetap memberi informasi kepada guru. Guna, mencegah adanya kesalah pahaman. Apapun bisa terjadi, bukan?

Setidaknya, pikiranku sudah tenang sekarang. Aku memutuskan untuk mendiamkan ponselku hingga ia terisi penuh. Sembari menunggu ponselku penuh, aku mulai mencari kesibukan dengan melakukan pekerjaan rumah.
“Toh, pembelajaran sudah selesai,” gumamku.
Padahal… Itu adalah cara bagiku untuk mengurangi rasa khawatirku.

Aku mulai mengambil sapu dan membersihkan seluruh rumah. Selesai menyapu, aku mengambil kain pel dan mulai mengepel seluruh rumah.

Di dalam rumah sudah bersih, aku mulai mengambil sapu lidi dan menyapu halaman rumah. Lalu, aku lanjutkan dengan menjemur pakaian.

Inilah yang aku sukai saat pembelajaran daring. Santai. Aku juga tidak terlalu terbebani dengan tugas. Dan juga, banyak waktu luang yang tersedia.
Namun, terkadang ‘santai’ yang diberikan saat pembelajaran daring membuat suatu sikap kebablasan bagi beberapa anak. Seperti, tidak mengerjakan tugas dan rasa ‘bodo amat’ dengan sekolah.
Kita tidak pernah tahu, sampai kapan pandemi ini terus bergentayangan. Awalnya hanya diliburkan 2 minggu, menjadi 1 bulan, 6 bulan, 2 tahun dan entah sampai kapan.
Setidaknya, kita harus bersyukur masih diberikan kesehatan dan rejeki untuk menjalani pembelajaran daring dari rumah.
Di luar sana, banyak anak yang ingin belajar. Namun, terkendala dengan kuota dan ponsel. Sedangkan kita, masih bisa melakukan pembelajaran dari rumah, tercukupi kuota dan ponsel, malah malas-malasan.

Eitsss… Sepertinya, aku cerita terlalu banyak. Maklum, itulah hal yang bisa mengurangi rasa khawatirku. Kebetulan, aku adalah tipikal anak yang ingin selalu mengerjakan tugas dengan cepat. Dan jika rencanaku gagal, aku akan menjadi panik tidak karuan seperti tadi.

Huh… Akhirnya, setelah menunggu sekitar 1 setengah jam. Ponselku terisi penuh. Aku langsung cepat-cepat menyelesaikan tugasku. Aku bisa bernafas dengan lega sekarang.

Oh, iya. Kebetulan, semua tugasku sudah selesai. Aku akan menyelesaikan paragraf dari ceritaku.

Jadi, apapun yang kita lakukan saat ini adalah tabungan untuk masa depan kita nanti. Jika sekarang, kita malas-malasan, hanya rebahan, bermain game dan tidak ada kemauan untuk belajar. Rasa takut dan kekhawatiran akan masa depan, pasti benar-benar terjadi.

Kita bisa menghadapi pandemi ini dengan semangat belajar yang tak henti. Bukannya tidak bisa. Hanya, kita tidak mau keluar dari zona nyaman kita. Kita tidak mau mencoba hal-hal baru dan berusaha untuk menaklukan ketakutan ‘tidak bisa’.

Aku juga tidak ingin pandemi ini berlalu-lalang terlalu lama. Aku rindu berkumpul dengan teman-teman, menyapa Bapak dan Ibu guru, pergi ke kantin, dan rindu uang jajan. Hehe… Bercanda.

Kita juga harus sadar. Di luar sana, para tenaga medis sedang berusaha untuk menyelamatkan umat manusia. Bahkan, karena ketidak-patuhan kita terhadap protokol kesehatan. Banyak dari para mereka yang telah gugur. Bayangkan, betapa sedihnya keluarga yang ditinggalkan.

Jadi, mari kita melakukan yang terbaik untuk melawan pandemi ini bersama-sama. Tidak akan ada usaha yang sia-sia. Buatlah dunia mengukir semangat kita pada jantung hatinya. Dan dengan begitu, dunia akan bangga mengatakan bahwa, “Kita telah bersama-sama menghadapi pandemi ini.”

Menunggu memang membuat waktu terasa begitu lama. Tapi, percayalah. Penantian hanya terasa pahit pada awalnya. Namun, akan terasa manis pada akhirnya.

Cerpen Karangan: Irends Indriana
Masih dan terus belajar. Selamat menikmati hidangan yang ku suguhkan!

Cerpen Penantian merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Pumba

Oleh:
“Wooooo! Tumben banget lo, Fel?,” tanya Riska dengan menyalami Felly seperti biasanya. “Sejak kapan lo jadi hijabers dengan gaun kayak begitu, hah?!,” tanya Billy. “Kalau bukan karena aturan sekolah

Doraemon Go

Oleh:
“Bu kan lusa Oil ada ulangan harian. Terus kalau Oil bisa dapat nilai tinggi, enggak ada hadiah gitu?” Sang Ibu sedang menggendong anak yang lebih kecil dari Oil itu

Seandainya Saja Aku…

Oleh:
Hari ini adalah hari paling memalukan sekaligus menyedihkan dalam hidupku. Oiya, sebelumnya aku mau memperkenalkan diriku terlebih dahulu. Namaku Fanny Karinina. Tahun ini aku telah lulus dari salah satu

Believe

Oleh:
Nadya adalah gadis dua belas tahun yang memiliki mimpi menjadi penyanyi terkenal. Tetapi, Ibunya melarangnya untuk menjadikannya penyanyi. Nadya pun termenung. Apakah dia akan berhenti menggapai mimpinya atau melanggar

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *