Perbudakkan Nafsu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Motivasi, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 27 December 2016

Aku masih dalam posisi yang sama, dengan sebatang rok*k yang terjepit di antara sela jariku, terlentang pada sebuah pembaringan dengan berserak puntung sisa hisapan dan sebotol bir yang setengah lagi belum kuteguk, pun seperti dua jam yang lalu ketika kumandang isya terdengar samar di telingaku.
“Haha masih ingin hidup lo hah? untuk apa? lebih baik kita habisi hidup ini dengan rok*k dan puluhan botol minuman haram ini… hahaha,” aku mencoba berbicara dengan sebuah botol yang telah membuatku setengah sadar dan lelap ditelan keheningan malam.

“Yon… Dion… bangun Yon, sudah siang, jam delapan nih nanti kamu terlambat masuk kuliah!.” Suara itu yang hanya selalu terdengar ketika sinar pagi menembus selah jendela kamarku, dan mungkin tak pernah terdengar dalam kehenening malam meski itu untuk minggu sekalipun, tak hanya ayahku seorang yang seharusnya selalu ada di rumah pun hanya selintas kujumpai setelah kedipan pertama hariku.
“Ya ya yah, Dion dah bangun,” Seraya kusingkirkan puluhan rok*k dan sebuah botol yang masih tergeletak di atas ranjang tidurku.

Hari ini aku masih dengan tampilan yang sama, sebuah kaos hitam dan celana jeans panjang yang sengaja kubuat sedikit robek di antara lekuk lututku.

“Kamu gak makan dulu Yon?,” tanya ibuku yang sedang duduk di atas meja makan bersama ayahku.
“Enggak mah Dion masih kenyang.” Jawabku singkat,
“Loh memangnya kamu dah makan Yon.” Tanya ayahku sambil memegang sendok dan garpu makannya.
“Memang perlu Dion kasih tau kapan Dion makan pah?.” Ucapku sedikit kesal.
“Enggak Yon, takutnya kamu belum makan nanti mag kamu kambuh lagi Yon.” Ujar ayahku mencoba mengingatkan.
“Gak papa, mungkin itu lebih baik, dah lah Dion berangkat dulu.” Seraya meninggalkan pembicaraan dan melangkah menuju garasi motorku.

Kunci ini telah kutancapakan pada lubangnya, deru knalpot pun menggema di pelataran rumahku. Dua puluh menit untuk aku bisa berdiri di lingkup kampus yang telah satu semester ini membuatku jenuh dan mungkin hingga membuat diriku berpikir untuk melepas statusku sebagai seorang mahasiswa.

“Maaf Yon semoga ini kesalahan hidungku, tubuhmu sedikit bau minuman keras Yon atau bau apa Yon?.” tanya seorang penjaga parkir yang spontan membuatku kaget dan menghentikan langkah pelanku.
“Euuu… minuman keras? Maksudnya gimana pak? Mungkin ini bau-bau di jalanan, atau mungkin sedikit bau dari bensin dan kendaraanku pak.” Jawabku dengan sedikit terpatah dan mengelak dari kenyataannya.
“Oh tak kira kamu bawa minuman keras atau alkohol Yon, syukurlah ini memang kesalahan hidungku, ok silahkan kalau mau ke kelas Yon.” Ujar penjaga parkir sambil mempersilahkanku masuk.
“Haha gak mungkin lah pak saya bawa alkohol ke sekolah, oke makasih pak, saya masuk dulu pak.” lagi aku mengelak dengan keadaan yang memang tidak sesuai dengan kenyataaan yang ada di tasku, seraya melangkahkan kaki meninggalkan pelataran parkir.

Suasana kelas masih seperti hari biasa, dengan sebuah keramaian dan penuh dengan perbincangan ramai, pun seperti biasa aku tak pernah menjadi bagian di dalamnya.
“Yon lu dah tau kalau sekarang ada razia?.” Tanya Rahman, seorang yang telah kuanggap seorang sahabat.
“Hah? razia? razia apa Man?.”
“Lu kemarin gak masuk kuliah Yon, nah guru BK bilang katanya hari ini mau ada razia, tapi entahlah razia apa itu gue ga tau,” jawab Rahman santai.
“Serius lo Man?.” Tanyaku dengan penuh gelisah.

“Assalamualikum…!,” dari sudut pintu ruang kelas, terlihat dua orang yang telah satu semester ini menjadi guru BK di sekolahku.
Seketika jantungku berdegup keras, keringat mulai menetes dari selah poriku, tangan dan kakiku mulai tak terkontrol dengan getar yang tak biasa kurasakan.
“Baik seperti janji bapak kemarin, hari ini kita akan adakan razia barang bawaan, oke silakan keluarkan barang bawaan kalian sebelum kami yang memeriksa.” Sambil berdiri di barisan paling depan ruang kelas.
“Gimana ni gue, kalau gue keluarin mati gue.” Ujar ku di dalam hati, sambil memegangi botol b*r yang terselip di dalam tasku.

“Dion? keluarin barang kamu, sebelum kami yang mengeluarkanya, cepat!.” Ucap guru BK dengan nada sedikit tinggi. Tapi tetap aku masih dengan kegelisahan dan ketakutanku mencoba untuk menyembunyikan barang yang ada di tasku.
“Oke biar bapa yang mengeluarin.” Sambil membawa tas hitamku.
“Pak… pak… maaf pak…” dengan keringat yang bercucur di tubuhku dan raup yang mulai memucat, dengan seribu kegelisahan kurelakan tas itu berpindah tangan, tak sampai satu menit.
“Yon ayo kamu ikut bapa ke ruang BK.” Sambil membawa tas miliku. Langkahku semakin tak terkontrol, muka semakin memucat dan keringat gelisah tak lagi bisa kubendung.

Aku telah berada di ruang yang biasa dipakai untuk menangani siswa yang bermasalah.
“Yon kamu tahu ini barang apa? dan kamu tahu apa efeknya bagi hidupmu?.” tanya guru BK dengan nada sedang.
“Tau pa, tapi saya telah biasa seperti ini, aku tak lagi berpikir untuk kedepanya, yang penting hidupku senang, bahagia, dan tak melenceng dari apa yang nafsuku inginkan.”
Satu jam aku menjelaskan tentang semua keadaan dan kehidupan yang aku jalani selama kurang lebih setengah tahun ini.

“Baik Yon, mungkin ini lebih baik untukmu, kamu kami skors selama satu minggu.”
“Tapi pak…”
“Gak ada tapi-tapian sanksi tetap harus ditegakan, makasih Yon, silahkan kamu sekarang bisa kembali ke kelas.”
“Baik, makasih pak.” sambil menyingkirkan kursi yang telah satu jam kududuki dan kuajak untuk mendengar segala isi hati kecilku, sembari melangkahkan kaki yang dipenuhi rasa sesal dan mecoba menyusur jalan kembali menuju ruang kelas.

Belum sampai ku menapakan kaki di ruang kelasku, Sahabatku Reza telah menyambutku di depan pintu.
“Yon, gue dah tau semuanya, tak penting itu dari siapa, tapi sekarang gue dah tau semua tentang keadaan lo, lebih baik lo ikut gue sekarang.”

Reza mengajak ku ke sebuah lapang yang biasa kami gunakan untuk olahraga baseball dan berdiri tanpa ada sebatang pohon pun yang mengahalangi pertemuan kami dengan sang matahari.
“Yon lo liat ke atas.” Ucap Reza sambil menunjuk matahari. “Lo perhatiin dia Yon, pernah gak lo liat dia sedih, murung, atau hingga menuruti nafsunya tuk berhenti menyinari semesta ini, pernah gak Yon?.” sambil menunjuk teriknya sinar matahari.
“Gak pernah Man, wajar saja karena memang dia diciptakan untuk tidak menuruti hawa nafsunya,” jawab ku.
“Lantas apakah kamu diciptakan untuk menuruti hawa nafsumu?, liat Yon dia selalu sendiri bahkan rembulan dan bintang pun enggan bersamanya,”
Aku hanya diam dan menunduk dengan tanpa sepatah kata pun kulontarkan.
“Lu masih ingin seperti ini Yon? Masih ingin menuruti kebodohanmu? Masih ingin menyerah pada keadaan? Liat Yon, bagaimana pun keadaannya, kabut, mendung atau badai sekalipun, ia akan tetap mencoba bersinar, tak pernah ia sedih bahkan hingga terpuruk oleh keadaan.”
Aku hanya diam dan mencoba menahan air yang mengendap di kelopakku agar tak keluar membasahi keringnya tanah lapangan.
“Dah Yon, hentikan semua keterpurukanmu, ayo bangkit jangan menjadi seorang yang mati oleh keadaan, ayo Yon bangkit,” ujar Rahman sambil mengulurkan tangannya padaku.
Aku sedikit tersenyum dan menatap wajah sahabatku sambil kembali kugenggam tangannya.

“Ayo Man temani aku.” Ucapku.
“Kemana Yon?” tanya Rahman.
“Temani aku membersihkan sisa-sisa kebodohanku, hehehe.” Ucapku sambil tersenyum.
“Hahaha ayo Yon.” Sambil membalikan badanya seraya meninggalkan keringannya tanah lapangan.

END.

Cerpen Karangan: Syahrul Fauzan
Facebook: Syahrull Fauzan
Karya cerpen pertama dari seorang yang berasal dari kota Banjar, Jawa barat, yang kini menginjak 16 tahun umurnya, dan kini sedang duduk disebuah sekolah negeri di Jawa Barat, tepatnya SMKN 2 Banjar.

Cerpen Perbudakkan Nafsu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Menolong Adalah Kesalahan

Oleh:
“Ahhhhhhh” Kakinya sontak berhenti mendengar suara teriakan itu, iya membalikkan badanya, kakinya melangka pelan dengan rasa penasaran dan takut “tolong” Suara itu semakin jelas dari mana asalnya, suara itu

Si Dogol

Oleh:
Dogol adalah anak semata wayang dari pasangan ibu tuti yang hanya sebagai ibu rumah tangga dan bapak rahmat hanya seorang petani. sebenar nya dia adalah anak yang pandai hanya

Ini Kisahku

Oleh:
Tak! Seorang gadis berambut sebahu menendang kaleng bekas minuman dengan amarah menggebu-gebu. Entah apa yang membuat hatinya panas. Tetapi yang jelas dia benar-benar kesal dengan ucapan anak laki-laki yang

Pucuk Harapan

Oleh:
Siang hari langit teduh dan tampak kebiruan. Matahari bersinar terang tanpa segumpal awan pun yang menghalangi rerimbunan rumpun pohon bambu. Sejuk angin yang berhembus dari celah rerimbunan pepohonan yang

Cantikmu, Hatimu

Oleh:
Pelan. Selangkah demi selangkah kakiku berjalan. Ku kontrol sekali agar kedatanganku tidak diketahuinya. Tangan kiriku membawa kue kecil. Sedangkan tangan kananku siaga menghalau angin agar tidak membunuh api lilin

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *