Percaya

Judul Cerpen Percaya
Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Motivasi, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 19 December 2016

Adakah yang bisa kulakukan?
Kalimat yang selalu kufikirkan sejak dahulu. Banyak hal yang sudah kulewati hingga saat ini, tetapi tidak banyak yang sudah kuperbuat. “Pemalas” mungkin itu julukan yang cocok untukku, mungkin juga tidak. Aku hanya suka bermain dan bermain, tetapi disaat ku sedang bermain, aku tidak pernah bermain-main.

Dari kecil aku sudah diajarkan untuk tidak bersikap bodoh, tetapi banyak hal yang telah membuatku terlihat bodoh. Mengapa aku berkata demikian, contoh ketika aku sedang terpojok, aku selalu berbohong dan itu membuatku terlihat bodoh di hadapan Tuhan. Aku sangat ingin menggapai banyak hal, walaupun hal tersebut bahkan tidak mungkin untuk kuraih, tetapi aku suka dengan istilah “Tidak dapat diraih”, karena disitulah semua orang dapat melihatku ketika aku meraihnya.

Aku lebih mudah tersinggung dengan omongan orang lain dari pada dengan perbuatan orang lain. Karena ada istilah “Mulutmu adalah harimaumu” dan juga “Lidah lebih tajam dari pada pedang”. Contoh ketika ku kecil ketika aku sering dikucilkan, aku tak pernah membalasnya secara langsung. Tetapi aku akan menunjukan kepada mereka apa yang telah kuperoleh disaat mereka mengucilkanku. Aku tidak merasa sendiri ketika itu. Malah ketika aku seoang diri, aku menemukan hal yang aku sukai. Hal tersebut adalah “Bermain Game”.

Kuberanikan diri untuk memasuki warung internet atau biasa disebut “warnet”. “Mas Main 1 jam di pc 3” kataku kepada penjaga warnet. Kukeluarkan uang Rp 3.000.00,-. Itu adalah kali pertama ku mengenal Game. Tak jarang orang-orang melihatku ketika sedang bermain game di warnet, mungkin disanalah tempatku tidak merasa sendiri. Tetapi tak jarang aku dimarahi oleh orangtuaku karena keasyikan bermain game dan lupa waktu.

Orangtuaku sangat tegas dengan agama terutama “sholat”. Tetapi karena hal itu aku mulai sadar akan hobbyku sering membuat aku lupa dengan kewajibanku. Akhirnya ketika orangtuaku melihatku sangat senang saat ku bermain game, orangtuaku memutuskan untuk membelikanku seperangkat PC. Tidak hanya untukku, tetapi juga untuk kakak kakakku.

Aku lahir dengan 3 bersaudara dan aku anak terakhir. Semua kakakku perempuan, hanya aku yang laki-laki. Mungkin karena ketika ku kecil aku jarang bermain seperti kebanyakan anak laki-laki lainnya, dan menghabiskan banyak waktu hanya untuk bermain game. Jadi fisikku tidak terlalu baik atau gampang capek ketika ku melakukan hal hal berat seperti berlari dan sebagainya.
Tetapi hal itu tidak itu tidak membuatku sedih. Masih banyak hal yang bisa kulakukan. Seperti belajar, bermain dan sebagainya. Tetapi dahulu aku mencoba untuk bergaul dengan anak di sekitar rumahku. Kuberanikan diri untuk bergaul, dan untungnya mereka baik baik, malahan mereka selalu mengajakku bermain ketika sore hari. Banyak permainan yang membuatku bahagia melebihi perasaanku terhadap game, dan hal tersebut tidak dapat kujelaskan dengan kata-kata.

Pada suatu ketika saat malam hari, ayahku seperti biasa mengajakku untuk sholat berjamaah di masjid di dekat rumahku. Namun pada saat aku sedang berjalan ke masjid, aku melihat teman-temanku sedang asyik bermain di lapangan. Dan aku sangat ingin bermain bersama mereka, dan aku putuskan untuk bermain bersama teman-temanku di lapangan dan meninggalkan sholat. Beberapa menit kemudian (kurang lebih 40 menit) ayahku pulang dari masjid dan melihat aku sedang asyik bermain di lapangan bersama teman-temanku. Dan langsung menghampiriku. Hatiku pada saat itu sangat ketakutan dan menyesal akan hal yang sudah kuperbuat.

Ketika aku sampai di rumah aku dimarahi habis habisan oleh kedua orangtuaku. Sedangkan kakak kakakku membujuk orangtuaku agar tidak memarahiku lagi. Sejak kejadian hari itu, aku jarang bertemu dan bermain dengan teman-temanku dan kembali bermain Game. Tetapi ketika aku dengan keluargaku berkunjung ke tempat saudaraku, dan tidak kusangka saudaraku juga menyukai game seperti halnya diriku. Mulai saat itu aku langsung dekat dan sering bermain game bersama, banyak game yang sudah kami mainkan. Tak jarang juga kami mendapat peringkat di game yang kami mainkan.
Hingga saat aku lulus dari sekolah dasar (SD). Kami memulai untuk bermain suatu Game yang bernama “Lost Saga”. Saudaraku merekomendasikan aku untuk memainkan game tersebut. Dan alhasil kamu pun sering bermain game tersebut pada saat apapun. ketika sekolah, ketika pulang sekolah, ketika makan, dan yang lainnya. Kami sangat menyukai game tersebut hingga saat ini.

Hingga pada suatu saat serikat kami meraih peringkat 1 di game online tersebut dan banyak teman sekolahku mulai bertanya kepadaku akan game tersebut. Dan mereka pun mulai mencoba memainkannya. Tak mudah untuk menjadi peringkat 1 di game tersebut. Tenaga, uang, waktu kami korbankan untuk game tersebut. Sudah banyak dana yang sudah kukeluarkan untuk game tersebut. Tetapi aku tak menyesal akan hal itu.

Dan akhirnya ketika aku berada di kelas 3 SMP, dan kurang lebih 2 bulan menjelang Ujian Nasional. Aku berhenti bermain game tersebut bahkan tidak tertarik untuk memainkannya lagi. Aku benar benar belajar dan belajar agar bisa menunjukan kepada orangtuaku, walaupun aku selalu bermain game, tetapi aku bisa mendapatkan nilai yang bagus. Aku belajar terus menurus. Pagi, siang dan malam kuhabiskan untuk belajar.

Dan Ujian Nasional pun terlaksana, pada hari pertama pelajaran Bahasa Indonesia. Aku mengerjakan dengan tenang dan percaya diri, hingga soal terakhir kukerjakan dan aku kumpulkan ke depan kemeja guru. Begitu juga hari-hari selanjutnya. Dan ketika Ujian Nasional selesai kukerjakan aku berbicara kepada ibuku, “Mahh, doain Aldi ya semoga nilainya bagus”, dan Ibuku pun menjawab “Nakk, kamu udah belajar dan mengerjakannya sebisa dan semampu kamu”. Dan aku pun memeluk ibuku.

Ketika dimana hari pembagian hasil nilai Ujian Nasional dibagikan. Dan aku melihat nilaiku, dan ternyata nilaiku lumayan bagus daripada teman temanku yang lainnya. aku mendapatkan peringkat ke 6 di kelasku. Dan ibuku pun berbicara kepadaku “Nakk, mamah bangga sama kamu” kata ibuku. Dan kakakku pun menyarankanku untuk masuk ke salah satu sekolah favorit di daerahku.

Tidak sedikit tes yang harus kujalankan agar dapat masuk ke sekolah tersebut. Seluruh keluargaku, yaitu orangtuaku dan kakakku sangat mendukung aku untuk masuk ke sekolah tersebut. Kucari informasi tentang sekolah tersebut. Dan aku menyarankan temanku untuk mencoba masuk ke sekolah tersebut. Tetapi tidak aku sangka-sangka ketika ku melaksanakan tes keempat (tes tertulis) aku bertemu dengan teman perempuanku dulu ketika aku berada di kelas 8 SMP.

Banyak hal yang kami ceritakan, hingga tiba disaat tes terakhir (jalur online). Aku melihat namaku terdapat di dalam peringkat ke-38 dari 64 orang yang akan diterima. Aku terus berdoa kepada Allah SWT agar aku diterima di sekolah tersebut. dan pada akhirnya pada hari terakhir tes terakhir. Aku diterima dengan urutan 55 dari 64 orang. Dan aku sangat bersyukur pada waktu itu. Aku benar benar senang doaku terkabul.

Tetapi perjuanganku tidak sampai disitu, bahkan perjuanganku baru akan dimulai. Ketika aku masuk di sekolah tersebut, banyak pengetahuan baru yang aku peroleh. Disana aku menemukan teman teman baru yang menurutku cocok dengan diriku. Dan disinilah perjuanganku dimulai.

Pada saat aku berada di kelas 10 atau kelas 1 SMA. Cara belajar ketika di sekolah tersebut sangat berbeda dengan cara belajar dulu aku ketika SMP. Disini saya dituntut untuk tahu apa yang tidak saya ketahui, namun disinilah saya menemukan apa arti dari kata “Belajar”. Banyak masalah yang saya hadapi ketika saya dalam proses pembelajaran, seperti contoh. Ketika saya harus berbagi komputer dengan kakak kakakku. Disaat saya banyak tugas saya harus mengerjakannya dengan cermat. Agar tugas saya selesai dan kakak saya juga bisa mengerjakan tugasnya. Hal itu tidaklah mudah. Apalagi ketika saya menemukan masalah yang saya tidak ketahui dan saya harus tahu sedangkan kakak saya juga ingin memakai komputernya. Oleh karena itu disinilah saya harus cermat ketika sedang belajar.

Aku sudah sering meminta agar dibelikan komputer hanya untukku. Tetapi aku juga mengerti kondisi keuangan keluargaku yang tidak begitu banyak dan juga kakak kakakku juga sedang banyak banyaknya membutuhkan uang untuk biaya kuliah. Apa yang harus kulakukan sekarang?. Cara satu satunya adalah bertahan dan belajar dengan cermat. Terkadang aku iri dengan teman temanku yang dapat fasilitas yang memadai oleh keluarganya. Namun aku sadar dengan kondisiku. Orangtuaku sudah rela berkorban apapun demi anak-anaknya. Sedangkan aku?, apa yang sudah kuberikan kepada orangtua ku?

Aku terkadang berfikir, apa guna aku di keluarga ini? aku seperti “benalu” di keluarga ini. Aku sangat malu dengan diriku. Ingin rasanya aku cepat mendapatkan pekerjaan dan memberi sedikit dari jerih payahku. Tetapi apadaya aku hanya seorang pelajar yang “malas”. Aku tidak sepintar yang lainnya. Dan kelemahanku ketika sedang belajar adalah disaat aku meremehkan tugas dan ternyata tugas itu berat. Itu juga diibaratkan dalam game seperti ada seorang semut yang mendapat kekuatan dan menjadi semut raksasa.

Sering aku mencoba mendapatkan uang dari kegemaran aku bermain game, dan sudah beberapa kali aku mendapatkan uang dari hasil aku bermain game. Tetapi aku tidak bisa terus terusan bermain game, karena jika aku melakukannya maka tugasku akan munumpuk. Jadi memainkan game untuk refresing saja menurutku sekarang. Disaat aku sedang mengerjakan tugas dan menemukan masalah/problem aku bermain game. Agar tidak membuatku pusing. Tetapi orangtuaku selalu saja menuduhku disaat aku memegang komputer, mereka menuduhku selalu bermain game dan tidak pernah mengerjakan tugas. Aku bingung untuk menjelaskannya. Aku tidak bisa terus menerus, karena proses pembelajaran di sekolah ini tidak seperti dulu aku SMP. Selalu saja ada masalah ketika aku mengerjakan tugas, disaat itulah aku membutuhkan hiburan, dan satu satunya hal yang dapat membuatku senang pada saat itu adalah bermain game. Berulang kali aku menjelaskannya kepada orangtuaku, tetapi alhasil mereka tidak mempercayaiku. Oleh karena itu aku selalu berusaha menjadi yang terbaik dan membuat orangtuaku dapat membanggakan diriku. Aku selalu belajar sekuat dan semampuku, walaupun terkadang aku sedang benar benar malas untuk belajar.

Akan kutunjukan kepada mereka yang sudah meremehkanku, akan kutunjukan apa yang bisa kuraih nanti, dan akan kucapai semua harapanku yang menurut orang lain tidak dapat tercapai. Akan kugapai impian itu. Percayalah padaku. Percayalahh…

Cerpen Karangan: Muhammad Satria Aldino
Blog: dinosaurusgede.blospot.com
Kelas: X TKJ B
No Absen: 22
SMK Negeri 1 Kota Bekasi

Cerita Percaya merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Miss Gosip

Oleh:
Namaku Lydia. Aku hanya gadis remaja SMA biasa sama seperti kalian semua. Entah kenapa mereka memanggilku miss gosip. Bukannya aku keberatan sih atau peduli apa kata mereka. Ibuku selalu

Ombak Di Masa Lalu (Part 1)

Oleh:
– Pertama Kali Desiran angin menghantam raga sekaligus jiwa ini, tepat di senja sore sekitar jam 5 di hari sabtu, aku yang mengantar Soffi pulang ke rumahnya sehabis berjalan-jalan

Misteri Kelas Baru

Oleh:
Namaku Ulfah aku sekolah di SMP di desaku kelas 7/1. Tapi sekolahku kekurangan kelas, oleh karena itu kepala sekolah memutuskan untuk membangun kelas baru. Semester 2 murid kelas 7

Bonjour, Arma

Oleh:
Lucu juga bila ditanya alasan mengapa aku tetap ingin menjadi ‘Secret Admirer’nya. Hingga saat ini, bahkan hingga detik ini aku tak bisa melepas hatiku ke orang lain. Sengaja ku

Setelah Setahun Dua Bulan

Oleh:
Tok, tok, tok. Ketukan kuat pun terdengar di pintu kamar, suara Kak Sifa pun terdengar dari balik pintu. “Caa, buka pintunya, ayo ke sini, ayo keluar, lihat Papa sebentar,”

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *