Percayalah

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Motivasi, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 25 December 2015

Langit mendung. Tapi belum ada setetes pun air kehidupan yang turun dari langit. Rasanya, hujan itu masih menggantung enggan untuk turun. Awan itu muram. Mungkin menahan tetesan air agar tak membasahi bumi. Atau sengaja menutupkan sang surya dari pandang. Tapi apakah awan muram itu pernah bersumpah tidak membuka celah sedikit pun untuk mentari bersinar? Aku pun tak tahu. Yang ku tahu adalah rumah Andin yang tak jauh lagi.

Di siang yang redup dan dingin begini. Aku ingin sekali menemui Andin, aku sudah berjanji untuk mengunjunginya siang ini. Entah mengapa ada sesuatu dalam hatiku yang seolah mendorongku untuk menemuinya, melihat kemilau di matanya setiap kali ia tersenyum, atau mendengar ia bercerita, karena menurutku ceritanya sungguh berharga? Pertanyaan itu begitu sering muncul dan menguasai isi kepalaku. Ku lihat kembali langit sekali lagi. Masih belum berubah. Redup. Dan angin dingin menyusup ke arah sela-sela jemari dan rambutku, menambah kerisauan dan kegundahanku siang ini.

Kini, di hadapanku, rumah yang di dalamnya tinggal seorang anak yang sedari tadi ingin ku temui. Ku harap, dengan menemui Andin bisa menghilangkan sesuatu yang mengganjal dalam hatiku. Ku ketuk pintu rumahnya, diselingi dengan salam, dan ku sahut namanya. Tak lama, seorang gadis kecil 3 tahun lebih muda dariku muncul dari balik pintu. Dia Andin. Aku tersenyum dan ia mempersilakanku duduk di bangku luar dekat pintu. Kemudian, dia menampilkan diri. Sederhana. Dia gadis kecil tegar yang tinggal di sebuah rumah sempit dan di lingkungan berisik seperti ini.

Aku menatapnya. Bajunya kusut dan basah, aku tahu dia pasti sedang membantu ibunya mencuci baju. Dia anak mandiri, kecil-kecil sudah pekerja keras. Sejak 2 tahun yang lalu, ia ditinggalkan sosok ayah dalam hidupnya. Baru tamat SD, baru bergembira menyambut kelulusan, dan pada saat itu, di hari yang sama, ia harus mengerti, ayahnya baru saja tamat hidupnya, baru saja menghembuskan napasnya yang terakhir karena sakit yang tak pernah dirasa. Mungkin banyak anak yang terpukul, dan putus asa menerima takdir yang telah terjadi. Andin juga terpukul, tapi ia bangkit. Ia sayang ayanhnya, sehingga ia tak akan mengecewakannya.

Di tangan kecilnya, terusaplah air mata di wajahnya, di wajah ibu dan adik-adiknya. Seolah, menegarkan. Kemudian mereka hidup dengan seadanya. Tinggal dari kontrakan ke kontrakan lainnya, hingga 6 bulan terakhir menetap di rumah sempit ini. Tak kenal panas, tak tahu penat. Ia menyingsingkan lengan, menyongsong hidup ibu dan adik-adik tercinta. Setiap siang, sepulang sekolah, dengan berbekal senampan kue dan tekad, ia memulai mengembang layar kembali, menyambung hidup, melipur lara dan duka atas kepergian ayah. Ia selalu percaya tak akan ada kebahagiaan dalam hidup ini tanpa ada perjuangan dan goncangan yang akan menguatkan kita sendiri. Jadi, tak akan ada keringat dan air mata yamg sia-sia. Dan dari situlah aku mengenalnya, dari jejak hidup gadis kecil yang menggores siapa pun yang memiliki nurani.

“Kak aku punya cerita nih.” ia mengerling.
Wajahnya membuat aku penasaran. Ia tampak gembira. Senyumnya melebar tak biasa. Pasti ini adalah cerita menarik yang kesekian kalinya.
“coba ceritain!” ku jawab, dengan senyuman tanda sedia mendengarkan.

Ia mulai bercerita. Selang beberapa hari yang lalu ia menang dalam sebuah lomba menulis cerpen di sekolahnya. Dari wajahnya, aku bisa lihat betapa bahagianya dia, kemenangannya dalam lomba itu sungguh luar biasa, menunjukkan bahwa Andin memang bukan anak biasa. Dia nampak antusias bercerita. Ceritanya semakin seru. Hadiah atas kemenangannya membuat ia semakin bangga, apalagi, lomba itu berlanjut hingga tingkat kabupaten atau kota. Dengan pengalaman perjuangan hidupnya yang berkesan memang selalu bagus dijadikan cerita, aku sudah tahu mungkin itu yang membuatnya menang.

Tak terasa, senja sudah waktunya. Tapi tak ada matahari di ufuk barat atau mega merah di dinding langit. Hanya awan hitam, dan langit redup yang tak jua angkat kaki. Aku bosan memandangi langit yang tak juga cerah. Masih mendung yang terlihat dari pagi hingga petang. Bahkan di senja ini langit semakin gelap. Aku bergegas. Aku merasakan hujan akan segera turun. Angin menepis kulit lenganku, menyapa dingin. Ku lihat ke atas kembali, mungkin aku harus mempercepat langkah. Suasana semakin sunyi, tak ada bocah-bocah kecil bermain sepak bola, mereka tahu tak baik bermain di saat hujan akan segera turun membasahi.

Semua orang di sekitar jalan ini masuk ke dalam rumah masing-masing, sepanjang jalan sepi, hanya suara got di tepian jalan yang terus beriak dan berbuih. Di ujung jalan, rumahku sudah terlihat. Ada ibu yang menunggu di depan pintu, mungkin risau karena anaknya belum pulang di kala hujan sudah berstatus siaga. Suara petir dan kilatan cahaya terlukis di langit muram dan seketika hujan deras mengguyur. Untung aku sudah menginjakkan kaki di teras rumah sesaat sebelum dibasahi hujan.

Rasa lelah menghampiri, aku baru menyadari, bahwa berjalan kaki dari rumahku ke rumah Andin atau sebaliknya adalah sama dengan berlari satu lintasan maraton, selain jauh, juga jalannya tak datar, melainkan semakin menurun ke dalam gang, jadi bila aku berjalan dari rumah Andin ke rumahku tentu aku akan menjumpai jalanan yang menanjak juga becek karena air got yang meluap dan membasahi badan jalan.

Menyadari itu, membuatku kembali mengingat Andin. Hari ini ia telah memberikan aku sesuatu yang tak bisa ku pahami tanpa keyakinan, bahwa hidup tentang bagaimana kau menjalani dan kemudian menikamati hasilnya. Ia memberikanku bukti nyata yang bisa ku perkuat. Dari usaha dan kerja keras tak akan ada setetes pun keringat yang hanya sekedar membasahi pelupuk. Semua akan berarti.

Aku melihat ada 4 bintang. Bintang berwarna merah, jingga, kuning, dan biru. Bintang merah paling besar dan paling tua, sinarnya sudah hampir habis. Bintang ini dikelilingi bintang kuning, jingga, dan biru. Di angkasa raya, setiap bintang mengalami suatu reaksi fusi yang menjadikan mereka bercahaya dan menghasilkan energi. Bintang jingga, kuning, dan biru berukuran lebih kecil dari bintang merah, sehingga tertarik oleh gravitasi bintang merah.

Bintang merah semakin tua. Dengan semakin tua dan rapuh suatu bintang, lambat laun dia akan kehabisan bahan bakar dan materi penyusunnya, sehingga cahayanya meredup. Dan akan mengalami kematian yang mengerikan. Ukuran bintang merah semakin membesar seiring dengan cahayanya yang semakin meredup. Warnanya yang semula terang seperti bintang biru menjadi merah tua, dan lapisan luarnya mendingin. Seolah ia bukan lagi bintang. Semua akan menghampa dan berbeda.

Bintang kecil biru, kuning, dan jingga semakin rapat mendekati bintang merah yang akan segera mati. Semakin membesar bintang merah, pertanda akan segera datang ajal itu, dan semakin bintang-bintang kecil itu mendekatinya, seolah tak mau kehilangan. Lapisan bintang merah telah mendingin. Ia berubah menjadi raksasa merah, reaksi nuklir telah terhenti. Seketika inti bintang runtuh, telah datang akhirnya, dan ledakan dahsyat terjadi. Ledakan yang menewaskan bintang merah, seluruh bagiannya tertolak ke angkasa, bintang-bintang kecil di sekelilingnya tertarik dan seketika terlempar jauh mengangkasa raya.

DDDUUARRRR!!!

Petir menyambar dan cahaya flash terlihat dari jendela, saat aku terbangun dari tidur. Keringat dingin menjalar, suara petir barusan sungguh nyaring memekik telinga. Petir itu terasa dekat menyambar sesuatu. Tarik napas dalam-dalam dan hembuskan perlahan. Refleks aku melakukannya berulang-ulang. Mimpi dan sambaran petir itu membuat aku tak bisa bernapas dengan irama yang tepat. Semua itu berlangsung cepat dan bersamaan. Aku menjulurkan kaki ke lantai. Dingin terasa menembus kulit.

Lampu rumah mati. Gelap, tak bisa ku lihat apapun. Tiba-tiba suara sirene mobil dari luar terdengar kuat, tapi selang waktu kemudian menghilang, bersamaan dengan jeritan orang-orang dari luar. Membuatku lari ke pintu depan. Pintu depan tak terkunci, ku buka dan air menggenang dari teras ke jalan setapak. Hujan deras masih awet mengguyur dari senja tadi. Pukul 23.00 orang-orang seisi rumah entah di mana, air mulai naik terasa membasahi telapak kaki, sedang hujan semakin deras, dan petir semakin tanpa henti menyambar.

Ku lihat orang-orang berlarian berteriak seolah memaksaku untuk mengikuti. Teriakan mereka sangat kuat memanggil. Air dingin sudah terasa sampai ke mata kaki. Aku berlari mengikuti ke mana orang-orang tadi berlari. Salah seorang dari mereka menunjuk ke ujung jalan yang lebih tinggi, ada tenda-tenda kecil yang penuh dengan keramaian. Wajah dan seluruh badanku basah kuyup, diguyur air dari atas, dan digenang air dari bawah.

Pukul satu dini hari, warga seluruhnya ditempatkan di tenda-tenda posko banjir. Sudah 8 jam hujan belum berhenti. Mendung di siang hari, badai di malam. Suara kerumunan dari luar menyisip dan memekik dalam tempat yang sesak ini. Kerumunan itu ramai. Aku menyipitkan mata, ada sesosok anak kecil yang ku kenal di antara keramaian. Itu Andin. Berdiri dengan air yang terus menetes dari tubuhnya yang basah. Aku berlari manghampirinya. Memegang pundaknya. Ku lihat wajahnya yang hampa. Tiba-tiba ia memelukku dan menangis dalam dekapanku. Aku tak tahu apa-apa. Tapi, segera ku mencari tahu. Di antara keramaian itu ada wanita setengah baya yang ku rasa aku mengenalnya.

“Ibumu, Andin!” pekikku tak percaya, ku lihat dia sudah terkulai lemah di tandu para petugas siaga bencana.

Darah mengucur dari kepalanya ke pelupuknya, dan juga membanjiri dari lubang hidungnya. Tangisan Andin semakin keras. Aku mengangkat kepalanya. Mukanya tampak tak berarti. Air mata menjadikan ia tampak memprihatinkan. Bayang-bayang mayat wanita tua itu muncul tiba-tiba saat ku tatap kedua bola mata Andin. Aku telah mengerti apa yang telah terjadi. Aku memeluknya kembali dengan erat. “Bersabarlah.” ku bisikan itu tepat di sela-sela telinganya. Ia hanya menangis tanpa henti.

Matahari telah mengeluarkan kemuningnya dari langit timur. Menyudahkan derai hujan deras semalaman. Banjir menggenang hingga sebatas paha di atas jalan penghubung gang. Dan semakin tinggi di ujung gang yang tanahnya menurun. Aku melihatnya dari kamera pemantau di posko. Rumahku terendam hingga sebatas dengkul, tetapi di sekitar rumah Andin sudah mencapai atap. Siapapun yang terjebak di dalam rumah itu tak akan selamat.

Aku bergeming. Sesaat tak jauh dari hadapanku keranda jenazah telah diangkat, diiringi oleh tangis dan kehampaan. Ibunya Andin telah meninggal. Ia tertimpa pohon yang tersambar petir dari badai semalam begitu mengenaskan bagai kematian raksasa merah di antariksa, seperti dalam mimpiku. Dan di atas langit timur, mentari telah menyinari hati gadis kecil hingga telah terhenti sudah tangisannya. Ia mendekap adiknya, mereka masih kecil untuk kehilangan orang tercinta yang kedua kalinya, walau sebisa mungkin mereka mencoba untuk tegar.

Ku berjalan menghampiri mereka. Seiring langkahku yang mendekat, semakin ku percaya padanya. Andin, Ku pegang tangannya. “Andin, usaplah segala tangis dan sedih di bawah pelupuk matamu. Percayalah, bahwa apa yang kau hadapi adalah sesuatu yang akan menguatkan dirimu sendiri. Percayalah, bahwa kau adalah bintang biru yang bersinar paling terang dan bersahaja mengeluarkan energi positif paling kuat. Percayalah, bahwa segala kesedihan akan terangkat dari dasar hati. Dan percayalah, kau adalah dirimu yang kuat dan tegar yang selama ini ku kenal.”

Ia tak berkata apapun. Ia hanya tersenyum. Bola matanya berkilau, memancarkan sinar bintang biru yang ingin ku lihat.

Cerpen Karangan: Elmira Fay
Blog: elmirafairuz26.blogdetik.com
Bernama lengkap Elmira Fairuz Khilda Machfud memiliki kegemaran menulis. Baginya, menulis adalah ativitas sunyi yang penuh fantasi. Baca dan terhiburlah dengan beberapa karyanya.

Cerpen Percayalah merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Bayangan Matahari

Oleh:
Bayangan Matahari Hitam.. Pantulan atau cerminan? Mereka bermakna dalam, Mereka bayangan.. Matahari harusnya berbayang Jadi, ‘kan kuberi satu Cukup untuk keberadaanmu Satu yang lebih darimu Aku tertegun membaca secarik

Surat Terakhir

Oleh:
“dian” sapaku kepadanya saat aku melihat dia berlari-lari dari depan pintu perpustakaan, ia menoleh ke arahku namun tak menghiraukanku dan terlihat airmata telah keluar dari mata indahnya itu. kenapa

Ceritaku

Oleh:
“Umar!” seruku memanggil seseorang yang dari tadi kucari-cari. Kuteriakkan sekali lagi. Akhirnya, aku pun menemukan dia sedang berada di masjid. “iya, ada apa, Khalid?. Tak usah teriak-teriak, semua orang

Temuilah, Hanya Untuk Bertemu

Oleh:
“Kamu dari mana?” “Dari sana, bu.” “Dari mana Nak? Ibu tidak pernah mengajari kamu berbohong.” “Hm, aku dari rumah Ayah.” Suasana menjadi hening. Sebelum akhirnya ibu menunduk dan terisak.

Maafkan Aku Ibu

Oleh:
Pada tanggal, 5 Mei 2012. Aku dan seluruh teman sekelas ku yakni kelas 6, kami sangat gembira sekaligus kami gugup, karena 2 hari lagi akan diadakan UJIAN NASiONAL. Guru–guru

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *