Perjuangan Sang Srikandi

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Motivasi, Cerpen Olahraga, Cerpen Perjuangan
Lolos moderasi pada: 20 October 2017

Aku terpaku memandang air laut yang bergejolak, anganku melayang pada keluargaku di Pulau Sumatera. Rasa bersalah terus menyelimuti benakku, namun Aku mencoba menghapus semua bayang-bayang itu.
“Ibu, Bapak, maafkan Aku yang pergi meninggalkan kalian walaupun kalian tidak memberi restu sepenuhnya kepadaku, tapi aku janji! Aku akan pulang dengan membawa bendera kebanggan untuk kalian, aku tidak akan pulang dengan tangan hampa, Ibu, Bapak do’akan anakmu di sini,” kata-kata itu terus terucap dalam hatiku.

Dinginnya angin laut menusuk kulitku yang sedari tadi duduk sendirian di atas kapal. Kryuuk! Perutku terdengar berbunyi, tapi aku mencoba menahannya, karena Aku hanya membawa uang pas-pasan.
“Permisi mbak, boleh Saya duduk di sini?” Tanya seorang pemuda yang tidak ku kenal kepadaku.
Aku tersenyum dan menganggukkan kepala, ia membalas senyumku dan duduk di sampingku. Aku melihat Dia memakan mie instan dengan lahapnya, aroma yang keluar dari mangkuknya membuat perutku kembali berbunyi.

“Mbak mau mie? kebetulan saya membawa lebih” dia memberikan semangkuk mie kepadaku.
Aku tidak mau langsung menerima pemberian orang yang tidak kukenal, yah walaupun artinya aku berprasangka buruk terhadap orang lain.
“Ah terimakasih, tapi maaf saya sudah kenyang,” Kryuuk! Baru saja Aku selesai bicara, tiba-tiba perutku sudah berbunyi, dan kali ini didengar olehnya.
Wajahku langsung memerah, betapa malunya Aku. Dia tersenyum lalu kembali memberikan semangkuk mie itu.
“Sudah tidak apa-apa mbak makan saja, saya ikhlas saya tidak berniat jahat kok,” Dia mencoba meyakinkanku.
Aku tidak enak hati mendengar perkataannya, seolah-olah Dia tahu kalau aku sudah berburuk sangka kepadanya. Aku mengambil mie itu lalu mengucapkan terimakasih, ia juga memberiku sebotol air mineral.

“Mbak mau ke mana?” ia kembali membuka pembicaraan.
“Ke Bogor,” Aku hanya menjawab dengan singkat karena sedang menikmati mie instan yang diberinya tadi.
“Wah sama, Saya juga mau ke Bogor, ke Institut Pertanian Bogor,” Dia menceritakan tujuannya walaupun Aku tidak menanyakannya.
Aku sedikit terkejut mendengar perkataannya, karena sebenarnya Aku juga akan pergi ke Institut Pertanian Bogor atau yang lebih dikenal dengan sebutan IPB.
“Kamu mahasiswa di sana?” Rasa penasaranpun akhirnya tumbuh di dalam benakku.
“Iya, Saya mahasiswa semester delapan di IPB,” jawabnya dengan tersenyum. Aku semakin terkejut, ternyata dia kakak tingkatku.

“Mbak sendiri ke Bogor mau ke mana? Ke tempat keluarga atau hanya jalan-jalan saja?” Kali ini pertanyaannya tidak langsung Aku jawab.
Jujur? Atau tidak? Pertanyaan itu menyelimuti benakku, apakah aku harus jujur?
“Atau mbak mahasiswi IPB ya?” pertanyaannya hampir membuatku tersedak.
Apakah dia bisa membaca pikiran orang lain? Aku memandangnya dengan tatapan aneh. Dia mengerutkan keningnya tanda tak mengerti dengan tatapanku.
“Mbak?” tanyanya sekali lagi membuatku tersadar dan langsung mengalihkan pandangan.
“Emm, sebenarnya saya mau ke IPB juga, saya mahasiswa baru di IPB,” jawabku dengan malu.
Ya aku malu karena sudah merepotkan orang lain yang ternyata adalah seniorku. Aku melihat raut wajahnya berubah ketika mendengar jawabanku, ia tampak seperti sedang bertemu dengan keluarganya.
Hemm orang yang ramah

“Wah ternyata kamu mahasiswi IPB, perkenalkan nama Saya Arya, Saya dari departemen Budidaya Perairan,” Kak Arya mengulurkan tangannya ke arahku.
Aku menyambut tangannya dan memperkenalkan diriku juga.
“Nama Saya Dewi dari departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perairan, salam kenal Kak,” Aku tersenyum dan mencoba bersikap ramah kepada Kak Arya.

Tanpa Kami sadari ternyata kapal yang kami naiki telah sampai di Pelabuhan Merak, kami segera menuju bus dan melanjutkan perjalanan melalui jalur darat. Lima jam kemudian kami akhirnya sampai di IPB. Aku merasa sangat lega, akhirnya aku bisa mengakhiri perjalananku yang sangat melelahkan. Jam menunjukkan pukul 07.00 WIB, sementara aku melakukan wawancara pukul 09.00 WIB. Aku duduk di halte Fakultas Pertanian, Aku masih bingung harus ke mana, IPB masih terlihat sangat asing bagiku. Aku melihat ke sekeililingku.
Di mana Kak Arya?
Tiba-tiba saja Kak Arya menghilang tanpa pamit. Padahal aku berharap dia menemaniku sampai aku selesai wawancara. Tapi itu tidak mungkin, dia punya kesibukan lain. Aku? Aku hanya orang yang baru dikenalnya beberapa jam lalu, tidak mungkin dia lebih mementingkan Aku.

“Dewi, nih Kakak belikan minum, kamu pasti haus kan?”
Aku langsung menoleh ke arah suara yang memanggilku. Kak Arya berdiri di sampingku sambil mengulurkan tangannya yang menggenggam sebotol minuman.
Huh sudah berapa kali aku berburuk sangka kepada Kak Arya.
Aku mengambil minuman yang diberikannya kepadaku, Aku membuka minuman itu dan langsung meminumnya sampai habis.
“Huwaa, hahaha ternyata kamu sangat haus ya Wi,” Kak Arya tertawa, kemudian ia duduk di sampingku.
“Kamu mau menginap di mana?” Tanya Kak Arya kepadaku.
Aku hanya menggelengkan kepala. Aku tidak tahu harus tinggal di mana, tujuanku dari awal hanya kampus IPB, Aku tidak memikirkan tempatku tinggal di mana. Seandainya Aku harus tinggal di masjid, maka Aku akan tidur di masjid. Tekadku sudah bulat untuk menuntut ilmu di sini, Aku tidak takut dengan kemungkinan yang ada.

“Wi jangan bilang kamu mau tinggal di masjid.”
“Hah!” Aku langsung menoleh ke arah Kak Arya dengan tatapan aneh.
Kakak satu ini benar-benar bisa membaca pikiran orang lain.
“Kok tatapannya begitu sih? Jangan-jangan benar ya kamu mau tinggal di masjid,” Kini Kak Arya balik menatapku dengan tatapan tajam.
Aku langsung memalingkan wajahku.
“Ya mau bagaimana lagi, aku tidak punya keluarga di sini, dan aku tidak kenal kakak tingkat satupun,” Aku mencoba berkata jujur.
Aku memang anak yang pendiam di SMA dulu, sampai kakak kelas pun tidak ada yang kukenal.

“Kamu tinggal di tempat teman Kakak saja dulu, Kakak sudah bilang ke dia kalau ada adik kakak yang ingin menginap di rumahnya, dan dia sudah mengizinkan, jadi kamu tidak perlu tidur di masjid,” Kak Arya menjelaskan seolah tidak ada masalah sama sekali.
“Kok Kakak mengambil keputusan tanpa bicara dengan orang yang bersangkutan dulu sih, bagaimana kalau orangnya nanti tidak setuju atau tidak mau,” Aku sedikit kesal juga dengan sikap Kak Arya yang seenaknya saja.
“Kamu marah? Maaf, Kakak tidak bermaksud lancang, niat Kakak hanya ingin membantu saja.”
Aku menatap Kak Arya, matanya terlihat benar-benar tulus ingin membantu. Kini aku yang semakin penasaran dengan Kak Arya.
“Kok Kakak tau sih kalau aku tidak punya tempat tinggal,” Aku bertanya dengan penuh selidik.
“Hahaha, kamu itu mudah sekali ditebak Dewi, di keningmu sudah ada tulisan saya tidak punya tempat tinggal, hahaha,” Kak Arya tertawa terbahak-bahak seolah sedang menonton film komedi.
Aku yang ditertawakan hanya diam dan menatapnya dengan tatapan sinis, tapi Kak Arya semakin tertawa melihat ekspresiku.

Setelah puas tertawa, Kak Arya mengantarku ke rumah temannya. Temannya sangat baik, ia mau menampungku di sana, memberikan aku makan dan tempat istirahat. Ternyata Tuhan memang sangat baik, Dia mempertemukan aku dengan orang-orang yang berhati mulia.

Hari terus berganti, tak terasa sudah hampir satu semester Aku di IPB. Sekarang Aku sudah tinggal di asrama dan tidak menumpang lagi. Banyak hal yang aku lalui di sini, dari saat MPKMB sampai kegagalan-kegagalan yang terjadi berulang kali, misalnya saat mendaftar suatu organisasi Aku selalu gagal di seleksi wawancara. Sifatku yang introvert menjadi kendala utamaku di sini. Aku tidak ingin terus gagal, aku akan berusaha menjadi yang terbaik. Saat wawancara BIDIKMISI aku sudah berjanji akan menjadi yang terbaik dan memberikan yang terbaik. Aku tidak akan menyerah hanya karena suatu kegagalan. Gagal bukan berarti tidak mampu, tapi kegagalan memberikan kita pelajaran melalui pengalaman. Dengan kegagalan kita tahu kesalahan kita sehingga kita bisa memperbaikinya di kemudian hari.

Salah satu keinginan yang ingin kuraih adalah menjadi atlet panahan. Aku merasa cocok dengan olahraga satu ini, karena panahan adalah olahraga yang membutuhkan ketenangan dan kekuatan. Setiap hari Selasa dan Sabtu aku berlatih panahan, mulai dari latihan fisik hingga tehnik memanah. Semua memang butuh proses dan perjuangan, tidak semudah yang kita bayangkan.

Bulan depan tepatnya bulan Januari akan diadakan pertandingan panahan antar Provinsi. Aku mencoba memulai pengalamanku dengan mengikuti pertandingan tersebut. Peserta yang mengikuti seleksi pertandingan tersebut tidaklah sedikit, jadi Aku harus berjuang keras agar bisa menjadi salah satu peserta yang ikut bertanding.

Satu bulan sebelum bertanding kami sudah mulai berlatih rutin setiap hari. Kami latihan mulai dari pukul 16.00 sampai 20.30 malam. Setelah seminggu latihan, karena kelelahan Aku sempat tidak bisa mengikuti latihan.
“Dewi, Kamu yakin masih ingin mengikuti seleksi ini?” Tanya Kak Fajar selaku ketua panahan di IPB.
Kak Fajar tidak ingin ada anggota panahan yang sampai masuk rumah sakit gara-gara memaksakan diri mengikuti seleksi. Tapi sudah sejauh ini Aku melangkah, Aku tidak ingin menyerah begitu saja.
“Besok saya pasti sudah baikan Kak, Saya hanya sedikit lelah saja, Saya tidak mau menyerah di tengah jalan,”
Kak Fajar tersenyum mendengar ucapanku, Dia tahu bagaimana besarnya keinginanku untuk menjadi atlet panahan. Aku tidak ingin gagal untuk kesekian kalinya, Aku harus bisa merubah diriku menjadi lebih baik.

Kak Arya juga selalu mendukungku, Dia memang tidak selalu di sampingku tapi dia terus mengawasiku dari jauh. Dia sudah seperti Kakakku sendiri, Dia selalu menasehatiku agar tidak lupa memberi kabar kepada orangtuaku.
Aku juga mempunyai teman yang selalu mendukungku, yang selalu ada dalam keadaan susah maupun senang, Mereka adalah Wanda dan Kiky. Mereka teman satu kamarku di asrama, Wanda ikut panahan juga, sedangkan Kiky ikut agriaswara.

Setelah cukup beristirahat akhirnya Aku bisa kembali mengikuti panahan. Setelah melewati beberapa seleksi akhirnya aku terpilih menjadi salah satu atlet yang akan bertanding nanti. Aku sempat ragu lagi untuk mengikuti pertandingan ini, karena hari pertandingan bersamaan dengan hari dilaksanakannya Wisuda Kak Arya. Aku ingin hadir di acara Wisuda Kak Arya, namun sekali lagi hatiku menegaskan Aku tidak akan berhenti di tengah jalan dalam menggapai apa yang Aku inginkan.

“Wi kamu serius tidak mau datang ke wisuda Kak Arya? Dia sudah seperti Kakakmu sendiri loh, rasanya terlalu jahat kalau kamu tidak hadir di Wisudanya,” Wanda merasa tidak setuju dengan keputusanku memilih mengikuti pertandingan.
“Tapi Wan, Dewi sudah lama berjuang untuk menggapai mimpinya ini, tidak mungkin dia mundur ketika selangkah lagi dia bisa menggapainya,” Kiky mencoba membelaku.
“Ki acara wisuda ini sangat berharga bagi Kak Arya,”
“Wanda, Kiky sudah jangan berdebat, oke nanti Aku akan pikirkan lagi,” Aku tidak ingin salah mengambil keputusan, karena keduanya sangat penting bagiku.

Malamnya Aku melaksanakan shalat istikharah. Setelah berhari-hari, Aku semakin yakin dengan keputusanku untuk mengikuti pertandingan. Akhirnya Aku memutuskan untuk tetap pada pilihan awalku.
“Kak Arya, Aku minta maaf karena tidak bisa hadir di acara wisuda Kakak, bukannya Aku menganggap Kakak tidak penting, tapi Aku ingin mewujudkan mimpiku kali ini, Aku tidak ingin gagal untuk kesekian kalinya,” Aku mencoba menjelaskan kepada Kak Arya.
Kak Arya tersenyum lalu menatap ke arahku.
“Dewi, kejar mimpimu itu jika kamu memang yakin,” jawaban Kak Arya seolah memberi semangat kepadaku.
“Terimakasih Kak, Dewi akan berusaha sebaik mungkin,” Aku semakin yakin untuk melangkah ke depan.
Izin dari Kak Arya sudah cukup menghilangkan rasa raguku. Selain dukungan dari orang-orang terdekatku disini, Aku juga meminta restu kepada kedua orangtuaku. Tanpa restu dari mereka Aku merasa apa yang kulakukan tidak sempurna.

Hari terus berganti, hari pertandingan pun telah tiba. Perasaan senang bercampur cemas menjadi satu dalam benakku. Saat menatap arena lomba ada rasa bangga tersendiri dalam hatiku. Di kejauhan ku lihat Kiky dan Wanda melambaikan tangan berteriak memanggil namaku.
“Dewii Ganbatte!!”
Aku berdiri di samping Kak Fajar selaku penanggung jawabku. Aku menerawang kedepan membayangkan wajah mereka, wajah orang-orang yang Aku sayangi.
Tuhan bantu Aku mewujudkan mimpiku, Aku tidak ingin mengecewakan mereka, Aku ingin membuat mereka bangga, Bismillahirrohmanirrohim Aku berserah diri kepadamu ya Allah.

Pertandingan dimulai, skor yang didapat peserta sangat bagus, sementara Aku dua kali memanah berada di skor 8. Aku mulai cemas, satu kali lagi nilai yang menentukan kedudukanku.
“Dewi ayo berjuang! Kamu pasti bisa, kami mendukungmu!”
Suara seseorang yang tidak asing terdengar meneriakkan semangat untukku. Aku melihat di sana berdiri orang-orang yang tak mungkin kulupakan.
Ibu, Bapak, Kak Arya, Wanda, Kiky
Jantungku berdetak melihat mereka, rasanya Aku ingin menangis. Aku menatap tajam ke arah papan target, titik tengah itu adalah mimpiku, Aku harus bisa mencapainya. Senyum mereka, suara mereka, seolah memberikan kekuatan pada anak panah yang akan kurilis.

Anak panah itu meluncur deras ke arah papan target. Aku menatapnya dengan sejuta rasa yang berkecamuk dalam hatiku. Semua berteriak dan berdiri ketika anak panah itu mendarat di target, Aku terdiam tak percaya dengan yang kulihat. Anak panah itu tepat mendarat di tengah lingkaran di skor x, skor tertinggi dalam pertandingan.

Setelah penilaian selesai aku dipersilahkan mencabut anak panah itu, Aku berjalan menuju ke arah papan target dengan rasa tak percaya, semua seolah hanya mimpi. Aku mencabut anak panah itu dengan disaksikan berjuta orang di sana. Kulihat Kak Fajar tersenyum dengan mengangkat jempolnya dengan penuh rasa bangga.

Pengumuman pemenang dan pembagian medali pun selesai dilaksanakan. Aku mengangkat piala yang kudapat, Aku memandangi medali emas yang dikalungkan di leherku.
Medali emas pertamaku, medali emas yang kudapatkan dengan perjuangan yang sulit, medali emas yang membuat mereka tersenyum, Aku harus menjaganya sampai kapan pun.

Kak Arya dan keluarganya serta kedua orangtuaku datang menyambutku. Ibuku langsung memelukku dengan tangis bahagia, Bapakku ikut terharu. Baru kali ini Aku melihat Bapakku menitikkan air mata, padahal selama ini Aku mengenal Bapakku dengan sifatnya yang keras. Ternyata di dalam hatinya penuh dengan rasa sayang yang tak bisa digantikan oleh siapapun.

“Kita foto dulu yuk dengan srikandi kita dan sarjana kita,” Kak Fajar mengajak kami berfoto.
Kami berfoto bersama, Kak Arya masih memakai baju wisudanya lengkap, ia ingin Aku ikut berfoto di wisudanya. Kak Arya memberiku bunga Anggrek ungu kesukaanku, Wanda dan Kiky memberiku boneka Winnie the pooh, dan Kak Fajar memberiku sekotak cokelat.

“Kak maaf Aku tidak memberi hadiah untuk wisuda Kakak,” Aku merasa bersalah karena terlalu fokus dengan pertandingan hingga lupa membeli hadiah untuk Kak Arya.
“Kemenangan kamu ini adalah hadiah terbesar untuk Kakak,” Kak Arya tersenyum sambil menepuk pundakku.
Aku bahagia sekali hari ini.

Terimakasih Tuhan telah mewujudkan mimpiku, Aku janji akan meneruskan perjuanganku dan membuat Indonesia menjadi yang terbaik di mata dunia, Aku janji akan menjaga senyum mereka. Aku memang tidak bisa seperti mereka, tapi Aku bisa sukses dengan caraku sendiri, karena sesungguhnnya Tuhan telah memberikan kesuksesan tersendiri kepada kita, hanya kita saja yang harus berjuang bagaimana cara menggapai kesuksesan itu. Ingat! hasil tidak akan menghianati proses.

Cerpen Karangan: Feni Aprilia Dewi
Facebook: Feni Aprilia
Penulis adalah seorang mahasiswi di Institut Pertanian Bogor. ia lahir di Muaradua, 1 April 1998. Mengikuti Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Panahan.

Cerpen Perjuangan Sang Srikandi merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Langit itu

Oleh:
Entah apa yang langit pikirkan sekarang. Langit itu redup, diselimuti oleh awan tebal yang membuat matahari mulai hilang. Aku hanya bisa terdiam saat air-air jernih itu mulai turun darinya.

Semangat Juang Anak Cacat

Oleh:
Aku buka mata, kuhirup udara segar, dan ku dengar suara burung bersiul. Aku hanya anak cacat yang hanya bisa tidur di tempat tidur, ngak bisa beraktivitas seperti layaknya manusia.

Biola Sang Maestro

Oleh:
Yola Viola, seorang gadis desa berumur 17 tahun yang dianugerahi bakat bermain musik. Dari sekian banyak alat musik yang pernah dimainkannya, Yola lebih tertarik untuk bermain biola. Suara lembut

Semua Karena Kau

Oleh:
Aku duduk di bangku taman sekolah, dengan memandang matahari yang begitu terik aku mengusapkan keringat yang bercucuran di kening ini. Begitu lelahnya aku sampai aku tak menghiraukan beberapa siswa

Menjadi Yang Kuinginkan

Oleh:
“Siapa aku?” aku berucap tanpa mengeluarkan suara. Hanya gerak di bibir. Yang kutahu aku adalah seorang perempuan. Kuliah di universitas dan jurusan yang kuinginkan. Memiliki nilai di tiap semester

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Perjuangan Sang Srikandi”

  1. Dini says:

    Luar biasa bangetz.. terharu bacanya…
    Ada rasa berhayal juga…
    Ma kasih ya buat penulisnya.. dan teruslah berkarya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *