Perjuangan Tanpa Pandang Bulu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Motivasi, Cerpen Pendidikan, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 23 April 2013

Memulai hari baru dengan sebuah senyum yang tersimpul dari bibir mungilnya. Tidak salah lagi senyuman yang ikhlas dari lubuk hatinya terpancarkan lagi setelah sepekan dia terbelenggu oleh perasaan bersalahnya kepada orang-orang terkasihnya. Asih, dialah yang memulai pagi hari ini dengan senyum itu berangkat menuju sekolahnya tercinta, untuk mengisi kembali amunisinya demi meraih cita-citanya. Dia sekarang telah duduk dibangku kelas tiga SMP Kusuma Bangsa, itu berarti sebentar lagi ia akan meninggalkan sekolah tercintanya untuk ke tingkatan yang lebih atas lagi yakni SMA.

Asih, remaja yang lugu dan patuh pada orangtuanya serta sayang dengan adik-adiknya. Namun, nasibnya tak seberuntung teman-temannya, dia terlahir dari keluarga yang sederhana bahkan semenjak ayahnya tak lagi bekerja di pabrik konveksi yang tak jauh dari rumahnya dan sekarang bekerja serabutan, dia harus membantu ibunya berjualan makanan demi tetap mengebulnya dapur mereka dan lancarnya sekolahnya juga adik pertamanya, Bimo. Tetapi dia tak pernah merasa malu ataupun mengeluh walaupun teman-temannya sering mengejeknya.

Asih merasa bersalah bukan karena mengecewakan orangtuanya yang tak mau lagi berjualan melainkan ia belum mampu memberikan hasil yang memuaskan selama latihan ujian yang diselenggarakan di sekolah terutama pada latihan ujian di tingkat Provinsi yang kata gurunya nilai yang diperoleh dari latihan ujian tersebut dapat menjadi gambaran bagaimana nilai asli yang akan diperoleh nantinya seperti pada tahun-tahun sebelumnya perkiraan itu tidak jauh beda. Hal inilah membuatnya sempat terjatuh dalam lubang kepesimisan.

Sebelum Asih meninggalkan rumah menuju sekolah setelah berpamitan, tiba-tiba ibunya menghentikan langkah Asih.
“Bentar nak, apa kamu yakin dengan keadaanmu sekarang?”, tanya ibu menyelidik.
“Tenang saja Bu. Lihat! Aku tidak apa-apa kan?”, kata Asih sambil menunjukkan ekspresi senangnya untuk meyakinkan ibunya.
“Tapi nak, Ibu tetap merasa kurang yakin. Apa gak sebaiknya kamu gak usah berjualan dulu supaya kamu lebih fokus belajarnya? Nanti biar Ibu saja yang berjualan”, kata Ibu menasihati.
“Tidak usah Bu, percayalah padaku. Asih minta maaf telah membuat ibu khawatir seperti ini. Kali ini akan Asih buktikan pada Ibu kalo putri Ibu ini bisa”. jelas Asih pada ibunya.
“Baiklah nak, Ibu dan Ayah di sini akan senantiasa mendoakanmu dan mendukungmu”, kata Ibu.
“Terimakasih Bu. Asih pamit. Assalamualaikum.”, kata Asih sambil melempar senyum pada ibunya.
“Walaikumussalam warrahmatullah. Sukses anakku!”, jawab Ibu setengah berteriak untuk menyemangati Asih yang berjalan menuju sekolah.

Tak berapa lama Asih pun sampai di depan gerbang, setelah menempuh perjalanannya dengan berjalan kaki. Sebelum dia benar-benar masuk di kawasan sekolahnya, dia menyempatkan diri untuk berikrar dalam hati untuk kali ini dia tak ingin menyia-nyiakan waktunya yang tersisa dan menyia-nyiakan kepercayaan orangtuanya sebelum Ujian Nasional benar berlangsung.
Setelah dirasa puas sambil meghirup udara pagi yang masih kaya akan oksigen dia pun melangkahkan kaki masuk ke kawasan sekolah.
“Selamat Pagi, Pak!”, sapa Asih kepada kedua satpam sekolahnya yang sedang ada di pos.
“Pagi juga, Sih!”, jawab kedua satpam dengan tersenyum.
Di sekolah memang Asih terkenal sebagai seorang teman yang baik dan mudah bergaul dari kacamata teman-temannya sedangkan sebagai seorang murid, dia adalah murid yang rajin dan berprestasi. Namun, keadaan itu tak membuatnya terlepas dari teman-temannya yang iri padanya tapi hal itu tak membuatnya menjadi tidak percaya diri atau malah pesimis.

Dia pun melanjutkan langkah kakinya menuju kelasnya yang berada disamping lapangan basket, tetapi saat dia tengah melewati lapangan basket, tiba-tiba bola melayang cukup kencang dari tendangan salah satu pemain tepat mengenai kepala Asih. Seketika Asih pun hilang keseimbangan kemudian terjatuhlah. Terkadang lapangan basket sekolahnya dapat beralih fungsi menjadi lapangan futsal. Pagi itu pun beberapa anak laki-laki seangkatannya tengah asyik bermain bola sebelum masuk waktu pendalaman materi. Pendalaman materi itu sudah merupakan program umum dari sekolah bagi siswa kelas tiga yang hendak menghadapi UN dengan harapan hasil yang diperoleh nantinya lebih maksimal.

Melihat Asih yang tergeletak, spontan anak-anak yang bermain sepakbola dan beberapa teman yang menonton futsal itu tadi menolong Asih.
“Aduh, siapa sih yang gak bisa nendang?”, gerutu Asih kesal sambil mengusap-ngusap kepalanya tapi ia tidak ingin menyalahkan temannya yang telah berbuat salah padanya karena dia merasa mungkin salahnya juga karena tidak menyadari kalau lapangannya sedang ada yang memakai.
“Kamu gakpapa? Ada yang sakit gak?”, tanya salah seorang temannya.
“Gakpapa kok, cuman agak sakit di sebelah sini.”, jawab Asih sambil menunjukkan kepalanya yang sakit.

Melihat ada kerumunan orang, Lissa yang dari kelas pun heran, dia pun segera menghampiri kerumunan itu. Tak disangka terlihat sahabatnya tengah kesakitan. Dia pun cemas dan segera menolong Asih.
“Ada apa ini? Kok kamu bisa kayak gini? Siapa yang berani giniin kamu?”, tanya Lissa menggebu-nggebu.
“Aku gakpapa kok Lis, kamu tenang, sekarang mending kamu bantuin aku bawain jualanku ini. Untung saja gak kenapa-napa kalo rusak bisa hari ini aku gak jualan.”, kata Asih menenangkan Lissa dengan menggenggam pergelangan tangan Lissa.
“Malah ngurusin jualanmu. Yaudah, nanti aku ambilin obat dari UKS ya. Kita sekarang ke kelas aja bentar lagi juga masuk. Awas nanti ya kalo aku tau sapa yang bikin bonyok Asih akan aku bikin perhitungan sama dia”, jelas Lissa dengan sedikit kesal.

Lissa pun membantu Asih dengan dibantu juga oleh beberapa teman lainnya. Sampai di kelas Asih mengucapkan terimakasih kepada teman-temannya atas bantuan mereka. Dimata Asih, Lissa adalah sesosok sahabat yang berarti sekali baginya karena dia selalu menjadi pelindung baginya dari keisengan teman-temannya dan terkadang juga bisa sebagai kakak bagi Asih, memang terkadang Lissa terlihat sedikit keras tapi itu hanya dia tujukan kepada orang-orang yang suka mengambil hak-hak orang lain ataupun yang suka berbuat jahat kepada orang lain. Sifat Lissalah yang membuat orang-orang segan terhadapnya bahkan guru yang bertindak sewenang-wenang pun bisa dibuat mati kutu oleh Lissa. Lissa tak pernah memakai fisik kalau tidak benar-benar terdesak.

Oleh karena itu, Lissa sering dikirim setiap ada lomba debat ataupun lomba-lomba yang bertemakan kemanusiaan. Dan tidak mengecewakan dia selalu meraih juara dalam setiap perlombaan yang dia ikuti. Lain halnya dengan Asih dia lebih berbakat dalam bidang keilmuan dan seni, mereka berdua sama-sama hebatnya. Walaupun Asih dan Lissa berbeda tetapi mereka saling melengkapi, mereka telah lama bersama dari kecil, hanya saja kondisi ekonomi keluarga Lissa lebih tercukupi dibanding Asih. Tetap hal itu tidak membuat persahabatan mereka pupus begitu saja. Lissa adalah orang yang manis dan pintar sehingga wajar saja banyak orang yang mengaguminya tapi karena sifatnya yang tidak begitu menghiraukan perasaan seseorang terhadapnya yang membuat Lissa susah untuk ditaklukan hatinya oleh seorang laki-laki sampai saat ini.

Setelah Asih mendapat pengobatan dari Lissa, terdengar bunyi bel masuk untuk pendalaman materi atau lebih sering disingkat PM. Ditengah pendalaman materi, sesekali mereka berbincang.
“Gimana dah mendingan kan?”, tanya Lissa.
“Udah kok, malahan udah gak terasa tadi juga gak begitu keras kok kenanya”, jawab Asih menjelaskan.
“Ya tapi tetep aja sakit kan? Gak bisa dibiarin hal kayak gini, ya untungnya kamu gakpapa kalo seumpama kamu tadi terus pingsan bakalan makin panjang urusannya. Awas kalo nanti aku tau siapa yang nendang bola tadi, aku suruh dia minta maaf ke kamu sampai kamu mau maafin dia terus janji buat lebih hati-hati lagi”, jelas Lissa pada Asih.
“Gak perlu, lagian salahku juga tadi yang gak sadar kalo lagi buat futsal. Udahlah lupain aja mending kita fokus aja buat ujian yang tinggal mengitung hari”, jawab Asih.
“Okedeh kalo itu maumu. Eh iya, ngomong-ngomong ini dah tinggal 49 hari lagi kita bener-bener UN, jadi inget drama korea yang tempo hari udah tamat aku tonton. Judulnya 49 hari, seru gak kalo kira-kira aku bikin 49 hari kita? Itung-itung buat bahan tulisanku”, tanya Lissa dengan semangat. “Tapi aku bakalan warnai hari-hariku itu dengan cerita-cerita indah menjalani UN bukan sebaliknya terus itu lebih asyik kalo sama kamu, gimana? Setuju gak?”, lanjutnya.
“Aku dukung aja ide-idemu yang terkadang gak tau dari mana datangnya”, jawab Asih dengan nada yang menyindir.
“Iih kok kamu bilang gitu sih. Tapi okedeh, makasi supportnya”, jawab Lissa dengan memeluk erat Asih. Teman-teman di belakang mereka pun melihat tingkah laku mereka dengan keheranan. Tetapi mereka tak menghiraukannya.

Suasana kelas pun kembali serius, murid-murid pun fokus mendengarkan penjelasan guru dan mengikuti pelajaran dengan baik sampai waktu istirahat tiba.
Murid-murid pun dengan sigap keluar untuk menikmati waktu istirahatnya yang dirasa sangat berarti dimasa-masa harus dihadapkan dengan soal-soal dan materi seperti ini. Asih dan Lissa pun bukan pergi ke kantin melainkan menjajakan jualannya Asih ke kelas-kelas terlebih dahulu. Ketika sampai di kelas 9A yang ada di pojok lorong terkuaklah kembali insiden pagi hari tadi.
“Kamu gakpapa kan, Sih? Maaf tadi aku gak liat kalo ada kamu disitu jadi aku terlalu semangat menendangnya.”, kata Arsad.
“Gakpapa kok, santai aja hanya saja aku sedikit kesal tadi pada orang yang menendang bola sembarangan, untuk itu aku juga minta maaf”, kata Asih.
“Oh begitu baiklah, berarti sekarang kita gak marahan lagi ya? Makasih juga atas pemberian maafmu. Oh ya ngomong-ngomong kamu jual apa?”, tanya Arsad pada Asih dengan perasaan lega.
Namun, sebelum sempat menjawab pertanyaan Arsad, Lissa pun sudah menghampiri mereka dan memberitahu info yang baru saja didapatkannya.
“Eh Sih, ini dia orang yang tadi nendang bolanya gak bener sampe kena kepala kamu tuh. Makanya kalo maen ati-ati dong!”, jelas Lissa bersulut-sulut sambil menunjuk ke arah Arsad.
“Iya Lis, aku udah tau. Lagian dia juga dah minta maaf ke aku kok. Aku juga udah minta maaf padanya, terus sekarang kita gak punya masalah lagi. Yaudah yuk mending kita keluar, bentar lagi juga mau bel”, jawab Asih malu dihadapan Arsad melihat tingkah Lissa yang terlihat masih kesal. Untuk itu Asih mengajak Lissa keluar supaya tidak terjadi hal yang tak diharapkannya.

Asih dan Lissa pun keluar dari kelas 9A sedangkan Arsad belum sempat mendapat jawaban dari Asih, mereka sudah keluar. Tetapi Arsad pun masih ingin mendapat jawaban dari Asih yang tertunda itu.
“Tapi Sih, dia harus dikasih pelajaran juga, aku belum puas mengeluarkan kejengkelanku padanya. Setelah aku tau kalo dia yang bikin kamu kayak gini makin sebel aku, kamu tau kan dia kayak gimana, sombongnya minta ampun mentang-mentang banyak fansnya gitu.”, jelas Lissa dengan kesal.
“Iya aku tau tapi kenapa sih harus diperpanjang lagian aku sama dia udah gak ada masalah. Udah inget katanya kamu mau bikin 49 hari kita berwarna terang kan? Masa cuman gara-gara kamu kesel sama dia terus ngrusak planning kita?”, kata Asih sambil menenagkan Lissa.
“Betul juga. Ayo kita bikin hari-hari kita yang tersisa ini lebih bewarna. Dan jangan lupa sama tujuan kita selama ini lulus dengan hasil yang memuaskan dan bersih”, kata Lissa kembali bersemangat.

Sejak hari itulah Asih memulai hari-harinya dengan lebih semangat dan jarang sekali dia memperlihatkan wajah murungnya lagi, ia telah bertekad untuk tidak lagi berlarut-larut dalam penyesalan karena semua itu tidak lepas dari usaha yang telah ia lakukan dan ridho Allah SWT. Dia selalu mengingat kata-kata dari guru mengajinya bahwa ‘Allah memberi ujian kepada hambanya tidak lain adalah untuk mengangkat derajat hambanya tersebut’ Untuk itu Asih tidak akan lagi berprasangka buruk kepada siapapun bahkan dia lebih percaya diri sekarang.

Tak lupa hari-hari menuju UN, Asih jalani dengan senyuman yang selalu merekah dari bibirnya. Lambat laun dia telah mampu membagi waktu dengan baik, dia tetap membantu ibunya berjualan tapi hal itu tidak menggannggu proses belajarnya. Ia lewati hari demi hari bersama Lissa sementara Asih mewarnai harinya dengan lebih banyak belajar soal dan membuat target-target yang ingin diraihnya lain halnya dengan Lissa, sahabatnya ini tetap menjalankan obsesinya yakni membuat karya tulisnya ’49 Days’ versi dirinya, memang Lissa punya cita-cita sampingan sebagai penulis selain sebagai anggota DPR yang bisa menyalurkan aspirasi rakyatnya kelak.

Sampai H-7 menuju UN tiba, saat itu Asih dan Lissa tengah serius belajar di perpustakaan seusai pulang sekolah. Arsad yang datang dari arah pintu masuk, menghampiri mereka.
“Permisi, apa aku boleh gabung sama kalian? Tempat lainnya penuh?”, tanya Arsad pada mereka.
Lissa pun merasa tidak senang dengan kehadiran Arsad, dia pun balik bertanya, “Eh mau ngapain kesini? Penuh gimana tuh meja deket penjaga perpus masih kosong?”
“Iya tapi disana kurang terang, lagian aku juga ingin belajar bersama kalian. Ada soal-soal yang ingin aku tanyakan, nih?”, jelas Arsad pada Lissa.
“Tapi ya tetep saja…”, kata Lissa, saat ia tengah bicara tiba-tiba Asih pun memotongnya.
“Sudahlah Lis, maksud dia baik kok lagian kita kan harus berbagi dengan orang lain, dia kan juga punya hak disini. Kamu lupa dengan misimu?”, tanya Asih menyudutkan.
“Baiklah, kamu boleh duduk disini asalkan kamu gak bikin kami gak bisa belajar. Awas kau!”, jelas Lissa sedikit mengancam.
“Siap boss!”, jawab Arsad dengan sikap hormat.

Diskusi pun berjalan dengan sendirinya. Mereka terlihat menikmati waktu belajar hari itu, tak ada hal-hal yang dikhawatirkan Lissa tadi terjadi. Sampai perpustakaan mau tutup pun mereka masih asyik membahas soal-soal yang masih perlu mereka pelajari. Sehingga penjaga perpustakaan pun sedikit ketus menyuruh mereka segera mengakhiri belajar bersama waktu itu karena hari semakin larut. Akhirnya mereka pun mau tak mau harus mengakhirinya sampai disitu dan mereka membuat jadwal untuk melakukan belajar bersama lagi sampai UN pun tiba.
“Yaudah, sampai jumpa besok ya. Oh ya makasih banyak untuk hari ini. Kalian memang baik, tak seperti sangkaan temen-temen lain. Eh iya makasih juga ya Lis, dah ngijinin aku gabung sama kalian. Entahlah kalo tadi aku gak minta ajar sama kalian, bisa mati berdiri aku dirumah karna gak tau cara nyelesain soal-soal tadi, kalo di tempat les lebih sering aku gunakan untuk tidur jadi ya percuma saja”, jelas Arsad panjang dan lebar.
“Iya sama-sama. Sori tadi aku sempet emosi sama kamu. Okelah kamu boleh gabung sama kita kapanpun kamu mau dengan syarat kamu bener-bener mau belajar bukan yang lain”, terang Lissa.
Akhirnya mereka pun berpisah di depan gerbang, pulang ke rumah masing-masing dengan saling melempar senyum. Mereka menjalani sepekan menuju UN dengan belajar bersama secara kondusif, dari situlah keakraban Asih dan Lissa dengan Arsad terjalin, sekarang Lissa pun perlahan-lahan menghilangkan prasangka buruknya terhadap Arsad dan mulai melihat sisi baik dari teman lelakinya itu.

Sampai saat yang ditunggu pun tiba. Ujian Nasional sekarang sudah di depan mata, mereka harus berperang melawan kepesimisan diri mereka masing-masing dan maju ke medan perang dengan segala amunisi yang telah mereka siapkan jauh-jauh hari. Asih tak lupa sebelum berangkat ke sekolah tadi meminta doa restu kepada orangtuanya terutama ibunya dan juga meminta doa dari adik-adiknya. Di sekolah pun semua guru dan karyawan beserta murid sebelumnya telah menyelenggarakan doa bersama dan sebelum UN dimulai, kepala sekolah menyempatkan untuk memberikan pidatonya.
Sebelum Asih dan Lissa memasuki ruang ujian, Arsad menghampiri mereka dan memberikan semangat kepada mereka begitu juga sebaliknya. Akhirnya mereka pun harus berjuang secara mandiri untuk menaklukkan UNnya kali ini.

Tak terasa empat hari Ujian Nasional telah mereka lewati, saat bunyi bel selesai ujian terdengar pada mata pelajaran terakhir, di tengah lapangan terdengar sorak-sorai dari murid-murid kelas tiga SMP yang meluapkan ekspresi kelegaannya telah menyelesaikan tugas akhirnya di SMP. Asih dan Lissa pun turut serta dalam keramaian tersebut.
Hari demi hari seusai UN pun mereka lewati sambil berharap-harap cemas akan hasil yang akan mereka peroleh. Setelah UN selesai, murid-murid kelas tiga dibebastugaskan hanya saja mereka tetap datang ke sekolah untuk mendapat info-info terbaru. Sedangkan Asih dan Lissa pun mengalami perbincangan yang cukup serius untuk menentukan SMA yang ingin mereka masuki. Ternyata Asih harus menerima kenyataan yang tak pernah dia harapkan, Lissa berencana untuk melanjutkan sekolahnya di luar kota karena mengikuti ayahnya yang dipindahtugaskan ke Jakarta. Mendengar cerita Lissa tak bisa dipungkiri Asih pun meneteskan air mata karena dia harus berpisah dengan sahabat karibnya. Selama ini mereka selalu bersama dimana pun mereka berada.

Semenjak hari dimana Lissa menceritakan kenyataan pahit pada Asih, mereka jadi jarang bertemu sekarang. Itu bukan karena mereka sedang berselisih melainkan Lissa dan keluarganya sedang sibuk mempersiapkan kepindahannya. Dan Asih pun sibuk mengurus beasiswa yang dia dapatkan dari sebuah lembaga yang memberikan beasiswa kepada siswa yang berprestasi.

Setelah menunggu kurang lebih sebulan, hari pengumuman kelulusan pun tiba. Semua murid kelas tiga ditempatkan di lapangan dengan harap-harap cemas. Sementara wali murid berada di aula untuk menerima hasil UN anaknya, satu per satu wali murid keluar dari aula menghampiri anaknya dan memperlihatkan hasil yang anaknya peroleh. Sebelumnya telah diumumkan terlebih dahulu kalau di SMP Kusuma Bangsa semua siswa lulus dan nilai tertinggi di sekolah hanya saja belum disebutkan siapa pemilik nilai tertinggi tersebut.

Di lapangan tersebut terlihat pemandangan yang penuh dengan macam-macam perasaan yang terekspresikan, ada yang menangis, senang, kalem, kecewa, dan sebagainya. Arsad pun telah memperoleh hasilnya, dia berbagi suka pada teman-temannya yang memperoleh hasil yang maksimal atas usaha mereka. Sedangkan, di sudut lapangan basket Lissa dan Asih masih dengan wajah tegang dan sedari tadi terus berkomat-kamit membaca doa menanti orangtuanya menghampiri mereka untuk menunjukkan hasil yang didapatkannya.

Arsad pun menghampiri Asih dan Lissa. Dia pun mengucapkan rasa terimakasihnya pada kedua sahabat ini yang telah membantunya berhasil meraih hasil yang bagus di UN itu. Dan, Arsad berharap hubungan diantara mereka masih dapat berjalan baik walaupun mereka sudah tidak akan satu sekolah lagi. Di tengah perbincangan hangat itu, terlihat orangtua Asih dan Lissa datang menghampiri mereka. Saat itu suasana menjadi terasa tegang kala Asih dan Lissa harus membuka sendiri hasil usaha mereka. Dan dengan perasaan yang campur aduk mereka berdua membuka amplop putih itu bersama-sama, tak lupa mereka mengucap bacaan basmallah dan pelan-pelan mereka membuka surat yang ada di dalamnya. Tiba-tiba perubahan ekspresi mereka terlihat dari wajahnya dan spontan mereka bersujud syukur. Yah, tak salah lagi mereka lulus dengan nilai terbaik yang mereka peroleh. Seketika, Lissa memeluk Asih tetapi disitu tangis kebahagiaan pun pecah. Mereka saling memeluk erat, sedangkan orangtua mereka dan Arsad hanya dapat memandang dengan wajah penuh senyuman.
Ditengah pelukan mereka, Asih setengah berbisik dan menahan isak tangisnya, “Lis, akhirnya aku dapat membuktikan pada diriku sendiri kalo aku masih mampu membanggakan orang-orang terkasihku. Alhamdulillah atas izin Allah Ta‘ala aku mampu menjadi yang terbaik. Aku tak menyangka dapat mematahkan anggapan orang-orang terhadapku selama ini. Terimakasih Lissa, sekali lagi terimakasih Lis atas bantuanmu padaku”, lanjutnya.
Disitu pun Lissa paham dengan maksud Asih, dia pun semakin erat memeluk Asih. Lissa pun lantas mengucapkan selamat pada Asih begitu pun Arsad dan teman-teman lainnya yang entah siapa yang mengomando, mereka datang mengerumini Asih. Asihlah peraih nilai tertinggi di sekolahnya itu berarti dia berhak mendapatkan beasiswa dari sekolahnya yang telah Kepala Sekolah janjikan sewaktu berpidato sebelum UN lalu. Namun, Lissa juga masuk dalam 5 besar peraih nilai UN terbaik dia pun juga mendapatkan hadiah pula ditambah ia juga mendapatkan hadiah dari lomba debatnya ditingkat provinsi lalu. Asih dan Lissa saling memberikan selamat dan kenang-kenangan terakhir baginya sebelum mereka akan jarang untuk betatap muka. Disitu pulalah mereka saling berjanji untuk tetap bertanya kabar melalui surat dan tidak akan melupakan kenangan indah yang mereka alami dan juga 49 hari yang mereka buat. Untuk itu karya tulis yang Lissa buatlah menjadi kenang-kenangan terakhir sebelum berpisah sedangkan Asih memberikan sebuah album foto yang dia buat sendiri yang isinya foto-foto dari mereka kecil dulu sampai sekarang.

Tak lupa Asih mengucapkan rasa terimakasihnya pada para guru dan karyawan yang selama ini telah berperan banyak dalam kesuksesan yang Asih raih saat ini. Asih pun menghampiri ibunya dengan wajah berseri-seri kemudian memeluk dan mencium pipi kanan ibunya.
“Terimakasih Bu, atas kepercayaan dan doa yang tiada pernah terputus untukku selama ini”, kata Asih dengan memeluk Ibunya.
“Sama-sama nak, Ayah pasti bangga mengetahui hal ini dan Ibu bangga sekali padamu. Semoga adikmu kelak juga dapat dimudahkan jalannya juga”, jawab ibunya.
“Iya Bu, Amin”, jawab Asih dengan senyum yang tersimpul dari bibirnya.
Hari pengumuman kelulusan itu sekaligus menjadi hari terakhir Asih bertatap muka dengan sahabat tercintanya, Lissa. Dan sejak itulah harapan baru di keluarga Asih terlahir kembali. Asih mampu melanjutkan sekolahnya ke SMA yang dia cita-citakan dengan beasiswa satu tahun penuh yang dia peroleh dari sebuah lembaga ditambah beasiswa dari SMPnya itu sehingga mampu meringankan tanggungan orangtuanya.

Cerpen Karangan: Sekar Arum Purbarani
Blog: sekar-soetopo.blogspot.com
Facebook: Sekar Arum Purbarani

Nama : Sekar Arum Purbarani
Asal : kampung cinta damai Sutodirjan, Yogyakarta
*Masih duduk dibangku SMA kelas X di SMAN 1 Teladan Yogyakarta
Hobi : menulis, bersepeda, dengerin musik, dll.

tolong ya kak cantumkan penulisnya terimakasih ^_^

Cerpen Perjuangan Tanpa Pandang Bulu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Dalam Genggaman

Oleh:
Deru mobil avanza berjam-jam tak membuatnya tertidur. Kantuk pun tak dirasakannya. Dia terus terjaga. Bahkan ketika semua terlelap. Kecuali 2 laki-laki yang terus bergantian mengemudi mobil. Dilihatnya, setiap inchi

Dengarkan

Oleh:
“Dengarkan…” “Tolong aku. Kumohon, siapapun tolong aku.” Jika saja aku diberi kesempatan untuk meminta sesuatu dari Tuhan yang bisa langsung terkabul, aku hanya akan meminta satu hal. Bukan untuk

Ibu Pahlawan Yang Tak Tergantikan

Oleh:
Berbicara mengenai sosok seorang Ibu memang tak akan pernah ada habisnya. Kepeduliannya, perhatiannya, kasih sayangnya yang juga tiada habisnya diberikan kepada anak-anaknya. Begitu mulianya seorang Ibu, ia tidak pernah

Sahabatku Kekuatanku

Oleh:
Pertemuan awal yang indah, Yang membuat aku merasakan dua hal yaitu kebahagiaan dan kesedihan Hujan yang lebat menguyur kota Jambi yang terkenal memiliki Sungai yang terpanjang di sumatera. Di

Mengejar Kita

Oleh:
‘teruslah berlari hingga garis finish. Karena tidak ada yang tahu apa yang ada di akhir. Percayalah, akhir lebih baik daripada berhenti dan menyerah di tengah-tengah.’ Rambutnya terjatuh menutupi sisi

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Perjuangan Tanpa Pandang Bulu”

  1. Yuliani Yusuf says:

    Sungguh menginspirasi, bagi yg suka nulis dapat menyalurkan bakat@ ato membaca cerpen2 karya sobat smua, tq……

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *