Robohkan Tembok Itu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Motivasi, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 27 June 2018

Riuh tepuk tangan menandakan berakhirnya pertunjukan drama yang dibawakan oleh beberapa anak dari kelas IX E untuk mewakili kelasnya dalam rangka berpartisipasi untuk perlombaan drama untuk mengisi acara Dies Natalis di sekolahnya. Mata Ariana nampak berbinar melihat teman-temannya berhasil membawakan perannya masing-masing dalam drama dengan sangat menganggumkan. Ini juga pertama kalinya karyanya dapat dilihat banyak orang, sebelum ini karya-karyanya hanya bisa memenuhi hardisk laptopnya saja.

Seseorang menepuk pundak Ariana, Ariana pun menoleh lalu tersenyum mendapati seseorang yang menepuk pundaknya tadi. “Sudah kubilang, drama karanganmu itu keren.” Puji Rahayu sambil mengacungkan kedua jempol tangannya. “Ah, tidak akan sekeren ini jika teman-teman tidak memerankannya dengan baik.” Jawab Ariana. “Baiklah, aku tahu kamu memang rendah hati. Ayo kita ke belakang pangungg untuk menghampiri teman-teman.” Ajak Rahayu kepada Ariana. Mereka pun berjalan menuju belakang panggung untuk menghampiri teman-teman mereka.

Sesampainya di belakang panggung mereka pun disambut oleh teman-teman mereka yang baru saja menyelesaikan drama. Ariana berterimakasih kepada teman-temannya yang sudah memerankan drama dengan baik, teman-teman Ariana itu pun juga berterimakasih kepada Ariana karena sudah mengarang drama yang keren. “Semoga kita nanti bisa jadi juara.” Kata Aditya salah satu pemeran drama, anak-anak lainnya pun mengaminkan perkataan Aditya.

Di tengah-tengah keramaian dan kesibukan di belakang panggung, Ariana teringat peristiwa 2 minggu yang lalu. Hari ini tidak akan terjadi tanpa adanya peristiwa 2 minggu yang lalu. Saat itu Ariana sedang berdebat hebat dengan sahabatnya, Rahayu.

“Ariana, kamu nggak bisa terus-terusan begini. Kamu tidak bisa hanya memendam bakatmu yang luar biasa ini.” Kata Rahayu. Ariana tidak menjawab, dia hanya berusaha mengambil beberapa lembar kertas yang dibawa oleh Rahayu. “Rahayu, apa kamu masih belum bisa mengerti? Mereka tidak akan mau menerima drama karanganku ini karena karanganku jelek, lagi pula aku tuh tidak pernah dianggap ada oleh mereka.” Kata Ariana. Rahayu pun segera meletakkan kertas-kertas itu di atas lemari kelas yang cukup tinggi sehingga Rahayu yang bertubuh mungil itu tidak bisa mengambilnya. “Cukup, Ariana. Buang ekspektasi burukmu tentang karyamu ini atau pun tentang mereka. Robohkan tembok itu! robohkan batasan itu!” Kata Rahayu.

Ariana pun terdiam, ia memikirkan apa yang dikatakan Rahayu tadi. Mungkin apa yang Rahayu katakan itu benar, dia terlalu berpikiran negatif sehingga ia menjadi pesimis untuk mempublikasikan karyanya. “Bagaimana jika kamu saja yang memberikan naskah drama ini kepada mereka dan katakan kalau ini karyamu?” Tanya Ariana. Rahayu nampak berpikir sejenak kemudian wajahnya berubah cerah karena mendapat sebuah ide. “Baiklah.” Jawab Rahayu singkat lalu ia mengambil lembaran-lembaran kertas itu dan memasukkannya ke dalam tas. Meski sedikit curiga dengan sikap sahabatnya itu namun Ariana berusaha mempercayainya.

Keesokan harinya, ketika Ariana baru saja sampai di kelasnya ia langsung dihampiri oleh Aditya. “Hey, ternyata kamu berbakat menulis naskah drama ya. Naskah ini keren lho.” Kata Aditya sambil menunjukkan lembaran naskah drama. Ariana langsung mengambil naskah itu dengan cepat dan itu membuat Aditya terkejut. “Kok kamu tahu aku penulisnya? Oh, pasti dari Rahayu, kan?” Tanya Ariana. “Iya, dari aku.” Sahut Rahayu yang tiba-tiba muncul dari belakang Aditya. “Kok kamu gitu sih?” Tanya Ariana “Memangnya kenapa? Justru hal yang aku lakukan ini tepat kan? Aku nggak mau jadi plagiat.” Jawab Rahayu dengan tegas. “Tenang aja Ariana, kita nggak akan kasih tahu ke pantia atau penonton nanti siapa penulis naskah dramanya. Ngomong-ngomong kenapa kamu nggak yakin kalau naskah dramamu ini keren?” Kata Aditya. “Itu bukan urusanmu.” Jawab Ariana singkat lalu masuk ke kelas sementara Aditya dan Rahayu hanya diam menatap Ariana yang berjalan ke bangkunya.

“Kamu tahu nggak, sebenarnya yang nggak peduli tuh kamu bukan mereka.” Kata Rahayu, Ariana pun menoleh. “Kamu yang diam saja, kamu nggak bisa terus-menerus menuntut orang untuk memperhatikanmu jika kamu tidak menunjukkan kepada mereka kalau kamu tuh bisa.” Kata Rahayu, Ariana hanya diam mencerna perkataan Rahayu. “Ya, Ariana. Kami yakin kalau karyamulah yang terbaik dan kami akan mementaskankannya nanti.” Sahut Vera teman sekelas Ariana. Ariana pun tersenyum, “Terimakasih karena kalian sudah mempercayaiku, dan maaf kalau selama ini aku hanya diam saja. Baiklah kalau begitu, kita mulai latihan dramanya. Aku sutradaranya, kan?” Kata Ariana, anak-anak pun tersenyum bahagia mendengar perkataan Ariana lalu memulai persiapan untuk drama.

Tibalah saatnya untuk pengumuman juara lomba drama. Semua anak kelas IX-E terlihat tegang menunggu pengumuman juara, apalagi setelah disebutkan harapan 3 sampai juara 3 belum juga mereka mendengar nama kelas mereka disebut. “Juara ke-2 drama adalah…” Kata MC “Kelas IX-F”. Sebagian anak kelas IX-E pun langsung lemas termasuk Ariana namun tidak dengan Rahayu. “Kita pasti juara 1” Kata Rahyu dengan penuh keyakinan. “Mana mungkin?” Tanya Ariana, Rahayu pun menoleh pada Ariana. “Sudah kubilang robohkan tembok pikiran negatifmu itu supaya kamu optimis.” Kata Rahayu. “Juara 1 drama kali ini adalah kelas…” MC memberi jeda yang cukup panjang “IX-E”. Beberapa detik berlalu tidak ada sorakan sampai akhirnya “Yeeeay, kita memang.” Sorak Rahayu tiba-tiba kemudian diikuti teman-teman dari kelas IX-E lainnya kecuali Ariana yang hanya tersenyum melihat tingkah sahabatnya. “Ariana, kita menang.” Kata Rahayu. “Iya, aku tahu.” Arina pun memeluk sahabatnya itu sambil berbisik ia mengatakan “Terimakasih sudah membantuku merobohkan tembok itu.” Lalu ia melepas pelukannya, “Itulah gunanya diriku, sahabat.” Jawab Rahayu sambil tersenyum.

TAMAT

Cerpen Karangan: Anggakara

Cerpen Robohkan Tembok Itu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Bianglala

Oleh:
Ketika hati berkata iya maka tidak mungkin mulut berkata tidak. Seperti katamu padaku “ Hati itu tak bisa dibohongi, jangan menyakiti perasaanmu sendiri. Katakan apa yang ingin dikatakan hatimu.

Hanya Memberi

Oleh:
Perkenalkan, namaku Renata Syavira atau Rina. Aku bersekolah di salah satu sekolah favorit di daerah Boyolali. Sekarang aku duduk di kelas 3 SMP. Sebentar lagi lulus. Aku belum terlalu

Ajal

Oleh:
“Apa? Loe gak bohong kan, Sya?” ujar gua. “gak Kar… gua gak bohong!” jawab Syara. “Loe yang sabar ya, Sya. Loe jangan percaya omongan dokter, dokter itu bukan Tuhan

Evening Momment

Oleh:
Wajahnya seram, anak-anak akan lari tunggang langgang jika kebetulan lewat di dekatnya. Wajah datar nya sangat mengintimidasi. Kulitnya sawo matang, rambut botak, badan tegap berisi. Dia adalah satpam kompleks

Unconditional (Part 3)

Oleh:
Sesunggunya, yang paling menyakitkan dari sebuah perpisahan adalah karena kehilangan yang tiba-tiba. Seperti halnya seorang perok*k yang dipaksa berpisah dengan rok*knya. Atau pecandu nark*ba yang suplainya dihentikan tiba-tiba oleh

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *