Satu Kontemplasi

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Motivasi, Cerpen Slice Of Life
Lolos moderasi pada: 12 August 2019

Langit kini bermandikan warna hitam kelam bertiraikan bintang-gemintang. Dalam senyap malam, pria itu membanting tubuhnya ke pulau kapuk. Di pikirannya, telah terancang berjuta rencana yang akan ia lakukannya malam itu. Rencananya asak dalam otak, mengepul berbuih-buih. Bertalu-talu, lalu bergenderang. Memaksa system motorik dalam tubuh agar cepat-cepat melakukannya; bukan hanya sebuah rencana yang terbersit saja.

Pria itu menutup matanya serta merta menarik napas dalam-dalam. Menghirup sepersekian partikel oksigen yang berkeliaran. Tak lama, tepat setelah ia menghembuskan sebuah molekul karbondioksida, ia tertidur. Matanya benar-benar tertutup. Lantas dalam kecepatan cahaya, ia sudah tenggelam di alam bawah sadarnya. Ia sudah memeluk erat mimpinya.
Satu hal yang pasti sekarang selain ia tertidur lelap secara tidak sengaja, ialah; berjuta rencananya tidak terealisasikan satu pun.

Pria itu terbangun di sepertiga malam.
Waktu yang acapkali manusia gunakan untuk melimpahkan semua keluh-kesahnya, mengumandangkan do’a-do’anya, dan bersimpuh pada Maha Kuasa di atas bentangan lembaran sajadah.
Pria itu mengerjap-ngerjapkan matanya, di sepertiga malam.
Waktu yang dijanjikan Tuhan untuk mengabulkan do’a hamba-hamba-Nya.
Pria itu melihat sekeliling—seisi kamarnya. Kemudian ia ingat, kemarin ia telah lupa menyulap banyak rencana di otaknya menjadi tindakan nyata. Pria itu menyesal. Ia merutuki dirinya sendiri, bahkan merutuki dunia. Mulutnya terus bergumam mempertanyakan mengapa dirinya bisa tertidur kemarin malam.
Tapi, setan berbisik.
Membuat mulut pria itu mengatup dan senantiasa berpikir ah masa bodoh, lupakan saja.
Satu detik, dua detik. Pria itu kembali menutup matanya dan kembali tenggelam dalam mimpinya. Terbuai oleh kehangatan pulau kapuk yang tiada tandingannya.

Payah.
Aku benci suara-suara itu.
Suara-suara itu, menggangguku.
Merobek segala kebahagiaan dalam mimpiku.
Mengusik gendang telingaku.

Seorang wanita berwajah teduh tak bosan membangunkan anaknya. Walau anaknya sudah berumur dua dekade lebih lima tahun, namun ia tetap menganggap anaknya seperti seorang balita. Begitulah sejatinya seorang Ibu, setiap hari selalu memancarkan kasih sayang yang tiada henti-hentinya mengalir.
“Nak, bangun nak.” Wanita itu membangunkan anaknya dari luar kamar.
Tapi, nihil. Tidak ada hasil setelah berpuluh-puluh kali wanita itu membangunkannya. Jika beberapa menit lalu wanita itu membangunkannya dengan suara lembut seraya mengetuk pintu, kini wanita itu membangunkannya dengan volume berintensitas tinggi.

Di dalam kamarnya, seorang pria —anak dari wanita yang tengah giat membangunkannya— menelungkupkan selimut dalam-dalam. Tangannya menutupi daun telinganya, berharap agar suara ibunya tak terdengar lagi.

“Nak, ayo bangun.” Kemudian, seorang wnaita itu menyerah. Napasnya tersengal-sengal akibat dari berteriak tidak keruan membangunkan anaknya.
Sembari tertunduk, ia kembali menjalani aktivitasnya dan meninggalkan kamar anaknya. Tapi tetap, dalam hati ia masih berharap kuat agar anaknya sesegera mungkin bangun. Pasalnya, meskipun hari ini anaknya tidak ada kerja, tapi dia belum melaksanakan kewajibannya: shalat.
Ia tidak mau, anaknya menyepelekan sebuah kewajiban dari sang Maha Kuasa.
Ia tidak mau, anaknya dijebloskan ke neraka karena lalai dalam Shalat.

Wanita itu pun akhirnya kembali memijaki dapur. Berkutat dengan seisi dapur. Memasak, mencuci piring. Sedikit-sedikit, wanita itu kembali menuju kamar anaknya untuk membangunkannya lagi. Bahkan ia tak keberatan berbolak-balik ke sana ke mari seperti cacing kepanasan.

Sementara itu, di dalam kamar pria itu selalu membuka mata sekejap ketika ada suara Ibunya membangunkan. Namun, kemudian terlelap kembali. Selalu begitu, tidak pernah absen.
Hingga akhirnya, pada pukul tujuh ia benar-benar terjaga saat Ibunya membangunkan dengan volume superkeras.
Sebenarnya, bukan masalah kerasnya yang sukses membangunkan pria itu. Akan tetapi, mendengar kata ‘sekarang sudah pukul 7’ dirinya menjadi terjaga. Bangkit dari pulau kapuknya dan berjalan menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu.

Usai Shalat Shubuh –yang sebenarnya tidak cocok untuk dikatakan Shalat Shubuh karena dilaksanakan pukul tujuh— pria itu mengempaskan dirinya ke pulau kapuk. Merasakan sensasi berleha-leha yang kentara.
Beruntunglah hari ini hari Sabtu. Sebab, dirinya tak ada jadwal di kantornya. Tidak ada pula acara-acara lain yang memaksanya untuk harus meninggalkan istana tercintanya.

Kemudian, pria itu mengambil handphonenya. Sebentar saja, ia sudah abai dalam sekelilingnya. Ia asyik menyelami dunia handphone yang canggih. Berbagai social media ia hinggapi, beberapa games ia mainkan, dan lain sebagainya ia lakukan di handphone pintarnya tersebut.
Pria itu benar-benar merasakan kebahagiaan setelah selama 5 hari mengantor. Sibuk beraktivitas, sibuk dijejali berbagai masalah dan pekerjaan.

Saat sedang menyelami dunia handphone, sang Ibu dari pria tersebut mengajaknya makan. Setelah beberapa kali dibujuk dan setelah beberapa kali pria itu berujar “Nanti saja, tanggung Ma.” , pria itu pun dengan amat sangat terpaksa harus makan. Memasukkan makanan hasil masakan Ibu yang lezatnya tiada terkalahkan. Dan acara makan itu diakhiri dengan disesapnya teh hangat oleh pria itu.
Lantas, setelah tetes terakhir teh hangat telah masuk ke mulut pria itu, pria itu pun kembali ke kamarnya. Kembali jari jemarinya lincah menari di layar handphonenya.

Hingga tak terasa, saat ia baru mengeclose aplikasi youtube, ia menghela napas panjang. Matanya melirik jam dinding. Alangkah kagetnya ia ketika tahu, bahwa jam telah menunjukkan pukul 3.
Pukul 15.00.
Di mana jarum jam pendek telah bertengger di angka 3 dan jarum jam panjangnya di angka 12.
Mulut pria itu membentuk huruf O saking terkejutnya. Betapa tidak, bukankah tadi baru pukul 7? Tapi mengapa sekarang sudah pukul 3?
Dan… selama beberapa jam ini, ia tidak melakukan hal yang sama sekali tidak bermanfaat.
Kemudian ia tersadar. Ia menyesal. Semuanya berkelindan di benaknya.

Sesal seribu sesal menggerogoti diriku. Betapa tidak? Hari Sabtu ini, benar-benar sia-sia bukan main.
Bahkan kemarin pun kurasa sia-sia. Padahal, aku bisa mengerjakan banyak hal saat kemarin malam dan sekarang. Tapi semua kesmepatan itu aku hempaskan jauh-jauh secara percuma.

Di pikiranku, banyak sekali rencana yang ingin aku perbuat. Sudah aku susun sedemikian rupa, agar aku maju. Tapi, rasa malas itu mengonsolidasi diriku menjadi melupakan semua rencana itu dan menggantinya dengan berbuat hal-hal yang tidak penting.
Aku baru tersadar, saat pukul 3 tadi.
Aku baru tersadar, bahwa sudah banyak jam aku menyia-nyiakan. Aku baru tersadar, dengan begini aku memutus masa depan cerahku.

Kalau saja aku tidak bermalas-malasan, aku sudah bisa lima puluh langkah dari diriku yang sekarang. Dan kalau saja aku tidak bermalas-malasan, mungkin beberapa ahri kemudian aku merasakan manisnya.

Oh Tuhan, aku menyesal. Menyesal telah menyia-nyiakan waktu yang diberikan dari-Mu. Bukankah padahal waktumu sangat mahal? Bahkan banyak orang yang menginginkan diberikan sebuah waktu walau hanya beberapa detik. Sungguh, aku merasa menyesal sekarang.

9-10-2016 // 5:09 sore
Alfauzi

Pria bernama Alfauzi itu menengadahkan kepalanya ke langit-langit. Wajahnya tertimpa cahaya matahari di ufuk barat. Matanya menatap tanpa kedip arakan awan yang tengah berarak di sebuah langit berwarna lembayung yang asak.
Senja itu, ia berkontemplasi.
Relung-relung hatinya memarahi dirinya sendiri, perihal dirinya telah menyia-nyiakan waktu.
Senja itu, ia berkontemplasi. Tangannya menggenggam sebuah kertas berisi luapan hatinya.
Dan untuk pertama kalinya, senja belajar sesuatu dari seorang pria yang bernama Alfauzi itu. Bahwa waktu ada bukan untuk disia-siakan. Bahwa waktu seharusnya diisi dengan sebaik-baik mungkin, karena apa yang kita lakukan detik ini akan menentukan guratan masa depan.

Bandung, 9 September 2017.

Cerpen Karangan: Creafids
Creafids adalah nama pena dari seorang remaja yang sangat mencintai dunia tulis-menulis. Berbagai tulisannya sudah dimuat di beberapa koran seperti Media Indonesia dan Pikiran Rakyat serta di beberapa majalah. Kini, sedang berusaha merampungkan novel remaja yang mengangkat tema thriller. Ia memiliki jutaan impian, namun mimpi yang saat ini sangat ia ingin capai adalah : menjadi Akademia Akademi Remaja Kreatif Indonesia 2017 dan menjuarainya serta meraih NEM tertinggi di Ujian Nasional 2018.
Jika ingin melihat potret kehidupannya, boleh mengunjungi akun instagramnya : mrnr_18 .

Cerpen Satu Kontemplasi merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Pasti Ada Jalan

Oleh:
Biaya pendidikan di Negara kita sangatlah mahal. Apalagi biaya untuk melanjutkan ke perguruan tinggi. Banyak pemuda pemuda yang tidak melanjutkan ke perguruan tinggi setelah tamat dari SMA ataupun yang

Hampa

Oleh:
Ku rebahkan tubuhku di atas kasur sambil meraih handphone-ku yang berdering nada panggilan dari Ari –sahabatku- sambil menghela nafas panjang aku menekan tombol hijau dan meletakkannya di telinga sebelah

Aku Yang Ingin Jadi Bagian Mereka

Oleh:
Saat jam istirahat tiba, aku lebih memilih duduk sendirian di taman belakang sekolah. Aku duduk di bawah pohon sambil menatap siswa siswa lain yang sedang asyik bergembira bersama sohib-sohibnya.

Tuhan Membawamu Kembali

Oleh:
Dentingan halus suara piano mengalun indah. Menggelayut semu di telinga, hati dan otak Mary. Seorang lelaki yang memakai seragam putih abu-abu, membiarkan jemarinya menari di atas piano putih itu.

Antara Aku dan 2 Dimensi

Oleh:
Angin berhembus sembari berjalan melalui celah-celah gedung perkantoran di kotaku. Sejuknya angin dan cerahnya mentari membangunkanku dengan lembutnya. Suara kendaraan yang mulai berlalu lalang di depan rumahku seakan-akan memaksaku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *