Sosok Masa Lalu Dari Semarang

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Galau, Cerpen Motivasi, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 8 January 2018

Sekarang aku mengerti rasanya jauh dari orang yang kusayangi. Aku juga mengerti bagaimana caranya menghadapinya. Aku juga mengerti aku pergi namun bukan berarti aku lari. Aku mengerti mungkin bagimu ini tidak berarti. Namun bagiku ini semua sungguh menyakiti. Walau kau mungkin tak peduli. Namun aku akan selalu di sini.

Perkenalkan aku Sara. Siswa dari SMA Nusa Bangsa. Sekarang aku duduk di bangku kelas 11. Banyak yang bilang kelas 11 itu masa-masa yang paling enak. Kenapa? Karena saat itu adalah saat dimana kita bisa menjadi senakal-nakalnya anak SMA. Bebas melakukan apa saja. Katanya sih gitu. Dan memang biasanya kejadian kaya gitu.

Aku bukan asli sini. Yap! Aku anak rantau dari Semarang. Jauh-jauh dari Semarang untuk sekolah di sini. Walaupun sebenernya agak nyesel ya masuk ini sekolah, but it’s okay nikmati aja. Sudah 1,5 tahun aku di sini. Belajar, pergi bareng teman, cari pengalaman pokoknya seru deh. Di sini aku tinggal bareng sama budhe. Budhe itu orangnya baik banget.

Sebenernya kenapa aku jauh-jauh sekolah?. Aku pengen merasakan jauh dari rumah, dari orangtua, dari Kota Semarang pokoknya. Merasakan kehidupan baru di kota baru serta berbaur dengan lingkungan baru. Dan nggak lupa pengen lihat orang baru.

Selama sekolah di sini aku nggak pernah suka atau apa gitu sama seseorang. Ya memang aneh sih rasanya. Tujuanku ke sini itu salah satunya pengen dapat seseorang yang baru. Karena bisa dikatakan nih kalo sekarang itu aku belum bisa beralih dari yang lama.

Jadi gini ceritanya dulu waktu aku SMP aku punya pacar. Ya memang sih masih kecil udah pacaran. Nggak baik ya jangan ditiru. Aku punya pacar namanya Nanta. Aku pacaran sama dia sejak kelas 8. Apapun itu kegiatan entah itu pramuka, osis, musik pokoknya all ekstra, aku akan selalu bareng sama dia. Bahkan selama aku sekolah dulu dia itu termasuk moodbosterku banget. Aku bener-bener seneng banget kalo deket sama dia.

Dan akhirnya kelulusan. Aku memutuskan untuk merantau ke Yogya sedangkan dia tetap di Semarang. Rasanya sedih banget. Aku jadi nggak bisa bareng-bareng lagi sama dia. Dan aku yakin nanti di SMA barunya dia bakal ketemu sama cewek lain yang mungkin bakal jadi tambatan hatinya.

Selama 1,5 tahun ini aku berusaha move on. Berusaha banget sampe capek rasanya. Karena kenangan yang dia kasih ke aku itu bener-bener membekas dan susah untuk hilang. Bahkan dapat dikatakan kenapa aku nggak bisa deket sama cowok di SMAku karena aku belum mau melepas Nanta. Bahkan memang nggak mau. Tapi itu harus aku lakukan, kenapa karena aku bakal susah sendiri kalau aku selalu mikirin Nanta yang jauh di sana. Sedangkan mungkin saat ini dia udah punya orang lain.

“Ajeng kantin yuk?” Tanyaku sama salah satu sahabatku.
“yuk..” jawabnya.

Pas perjalanan menuju kantin tiba-tiba aku merasa ada yang aneh. Akku merasa kaya pernah lihat itu orang tapi siapa ya. Dari belakang kelihatan mirip banget sama seseorang yang aku sama sekali nggak asing. Siapa sih? Pikirku.
“eh Jeng, itu siapa sih?” Tanya ku penasaran.
“yang mana sih?” balas Ajeng.
“itu lho cowok yang lagi bawa buku” tunjukku pada Ajeng
“oalah itu. Itu namanya Zaki kenapa?” Tanya Ajeng
“oh gak papa kok, kok aku baru lihat aja ya. Baru tahu malah satu angkatan ada anak namanya Zaki” jawabku agak gugup

Jujur nih pertama lihat Zaki aku kaget setengah mati. Kenapa? Dari perawakannya, dari punggungnya, dan dari caranya dia jalan dia itu sangat mirip sama Nanta. Bahkan pertama aku lihat dia aku merasa bangunan sekolahku ini berubah jadi bangunan sekolah SMP ku dulu. Semua terasa seperti terulang kembali. Dan tadinya aku pengen move on jadi susah karena ternyata aku mendapatkan sosok baru yang mirip sama Nanta. Terus aku harus gimana?

Dan kejadian ini nggak cuma kejadian sekali atau dua kali. Tapi berulang kali. Ternyata aku sama Zaki itu kelasnya sebelah dan aku juga baru tahu sih. Pasti setiap istirahat, mau masuk kelas ataupun mau pulang sekolah. Disetiap detik aku melihat Zaki aku pasti melihat Nanta SMP ku. Yang bener-bener aku kagumi. Aku nggak bisa lari dari ini semua.

Di setiap detik aku melihat Zaki. Maka rasanya jantung ini berdetak sama kaya aku melihat Nanta dulu. Aku jadi senyum-senyum sendiri inget wajah jenakanya Nanta. Dan ini buat aku jadi salah tingkah nggak karuan. Aku nggak pengen kaya gini. Tapi kenapa disaat aku sudah mulai melupakan Nanta datang sosok yang mirip sama Nanta. Aku jadi tambah susah buat move on.

Awalnya Zaki nggak kenal sama aku. Tapi ada saat dimana aku harus ketemu sama dia. Di SMA ku aku ikut ekstra musik. Dan ternyata dia pun juga ikut musik. Awalnya sih aku kaya nggak kenal sama dia dan memang berusaha supaya nggak kenal. Tapi mau nggak mau pasti akan ada pembicaraan di antara kita. Iyakan? nggak mungkin kalo nggak ada.

“kamu Sara bukan? Nih absen dulu” kata Zaki ke aku
“oh iya iya” jawab ku kaget dan gugup.
Ya siapa yang kaget tiba-tiba ngomong “kamu Sara bukan?” dan ngomongnya tiba-tiba lagi.
“udah nih” kataku
“ok” jawabnya singkat.
Oh my God rasanya aku pengen peluk dia sambil bilang “Nanta aku kangen banget sama kamu”. Tapi sayangnya Nanta yang asli hanya seperti bayangan yang jauh di Semarang sana. Dan yang aku hadapi ini bukanlah Nanta melainkan orang lain.

Karena pertemuan kita yang semakin lama semakin intensif. Jadi mau nggak mau aku jadi sering melakukan percakapan entah itu sekata atau dua kata. Dan ini berimbas pula ke aku. Aku merasa semakin sakit. Entah sakit kenapa padahal nggak berdarah tapi bisa menimbulkan rasa sakit yang amat teramat. Aku pengen melupakan Nanta. Tapi datang Zaki yang mirip Nanta.

Aku tahu ini salah. Seharusnya aku tetap bersikap professional Nanta ya Nanta dan Zaki ya Zaki. Mereka itu beda. Salah satu alasan kenapa aku juga belum dapat cowok baru. Karena aku selalu menekankan sama hatiku bahwa yang lama itu lebih baik. Yang lama itu lebih baik dari yang di sini. Dan itu menyebabkan aku seperti terpenjara dengan masa laluku. Aku nggak bisa keluar dari situ. Mungkin memang benar sekarang aku udah di Yogya. Tapi hatiku ketinggalan di Semarang. Ketinggalan di Nanta.

“eh Jeng kamu pernah nggak sih merasa suka banget sama seseorang?” Tanyaku waktu istirahat.
“pernah. Aku pernah kaya gitu sampek rasanya susah banget mau melupakan itu orang” jawabnya
“terus apa yang kamu lakuin?” Tanyaku lagi
“aku berhenti mikirin dia. Aku berusaha untuk nggak lagi mikirin dia, Karena memang saat itu dia udah punya yang lain. Tapi tetep aku menjalin hubungan yang baik sama dia. Bukan berarti aku memutus tali silahturahmi juga. Aku nggak mau kaya gitu” jawabnya santai
“aku bingung Jeng. Aku nggak bisa move on dari yang lama. Sedangkan di sekolah kita ini ada sosok yang mirip sama dia. Dan itu buat aku jadi tambah sulit untuk move on. So aku harus gimana?” Tanyaku bingung.
“kamu harus bisa Sar. Kamu harus bisa ubah sudut pandang. Kamu harus keluar dari zona dulu waktu di SMP. Inget kita ini bukan anak kemarin sore lagi. Kita udah SMA dan sekarang waktunya belajar bagaimana bisa jadi pribadi yang lebih dewasa lagi dari sebelumnya. Gunain waktu berharga kamu selama di sini. Jauh-jauh kamu merantau ke sini dan yang kamu dapet Cuma embel-embel nggak bisa move on. Itu bullsh*t Sar. Kamu harus inget gimana perjuangan kamu dan orangtuamu dulu waktu kamu masuk sekolah di sini. Itu yang harus kamu inget.”
“iya Jeng, aku tau. Memang nggak seharusnya aku kaya gini. Bener katamu aku harus berubah aku nggak bisa kaya gini terus. Karena jujur perasaan ini bener-bener nggak enak sama sekali nggak enak”
“iya aku tau perasaan yang kamu hadapi itu memang nggak enak sekarang. Tapi aku yakin Sar kamu pasti bisa. Because I know you are a strong girl. So I believe you can do it. Yes! You can do it Sar”
“thanks ya Jeng. Kamu udah ngertiin aku. Dan nggak bosen-bosennya kasih masukkan ke aku”

And now saatnya aku berubah aku nggak boleh terus-terusan di zona dimana aku selalu terpenjara dengan perasaanku ke Nanta. Aku bukan cewek lemah. Aku harus bisa keluar dari belenggu ini. nggak ada lagi mikir-mikir tentang Nanta lagi. Dan nggak ada lagi membayangkan sosok Nanta di sosoknya Zaki.

Inget perjuanganmu merantau ini untuk apa dan untuk siapa. Inget itu selalu, nggak akan aku sia-siain waktuku selama di sini. Karena di sinilah saatnya aku belajar banyak. Cari pengalaman berharga yang nggak akan aku lupakan. Belajar arti kehidupan dan maknanya yang tersembunyi.

Kemudian…
“eh Sar, tunggu dulu. Besok bisa ikut acaranya kan? Kita butuh tambahan panitia nih” Tanya Zaki
“oh bisa kok. Kamu tinggal kasih tau jadwal sama mekanisme acaranya gimana aja ok”
“oh ok. Btw thanks ya udah mau berpartisipasi”
“iya sama-sama. Selagi aku bisa bantu pasti aku bantu kok”
“ok sekali lagi thanks banget ya. Aku pergi dulu ya, banyak yang harus diurus nih”
“ok ati-ati ya”
“eh Sar?”
“iya kenapa?”
“em… malam minggu kamu ada acara nggak?”
“emm… kayanya sih nggak ada. Ada apa?”
“emmm… Di bioskop ada film baru tuh. Katanya sih bagus, tapi film horror gitu. Kamu mau nonton nggak?”
“oh film hantu? Aku kayanya tau deh. Belum pernah nonton juga sih. Ok deh boleh. Nanti kabari aku aja ya”
“oh ok sip. Pergi dulu ya bye”
“ok bye”

Ternyata Zaki ngajak aku nonton. Film horror lagi. Tapi nggak masalah. Untung semua udah selesai nggak ada lagi sosok masa lalu Nanta. nggak ada lagi deg-deg an kaya dulu. Nanta ya Nanta dan Zaki ya Zaki.

Rasanya seneng bisa melihat Zaki dengan sosoknya sendiri sebagai Zaki. Dan mulai sekarang aku udah anggap dia sebagai Zaki bukan Nanta lagi. Bahkan waktu dia ngajak aku nonton. nggak ada perasaan lain selain biasa aja. Karena aku udah membuat tameng sama diriku bahwa aku di sini itu bukan untuk mencari cowok. Kalo untuk jadi temen nggak masalah tapi kalo pacar? Emmm… iya nggak ya?

Tamat

Cerpen Karangan: Sekar Jatiningrum
Blog: sekarjatiningrum.blogspot.com

Cerpen Sosok Masa Lalu Dari Semarang merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Mawar dan Kekosongan

Oleh:
Let me tell you something. Tentang cinta, rasa takut, dan juga, tentang kekosongan. Kekosongan atas diri manusia. Pada dasarnya manusia itu sama saja. Sama-sama lemah dengan perasaan. Tidak ada

Kesedihan, Rasa Sakit, Persahabatan

Oleh:
Mentari pagi bersinar cerah hari ini menyilaukan mataku seakan memaksaku untuk bangun dan melakukan aktivitas yang paling kubenci, apalagi kalau bukan sekolah. Aku menarik selimut dengan malas dan segera

Vitamin C++ (Part 2)

Oleh:
Tak terasa, pelajaran pertama pun usai kami lewati, kini pelajaran kedua yang tak lain pelajaran Biologi. Biologi merupakan pelajaran yang sangat aku sukai dan bisa dibilang aku cukup mahir

Siapa Yang Salah

Oleh:
Sebenernya kamu tidak salah, hanya saja aku yang bodoh melepaskan kekasihku demi dirimu. Kamu tidak salah, hanya saja aku yang bodoh terlena kata kata manismu. Kamu tidak salah, hanya

Filosofi

Oleh:
Ada sebuah perkumpulan di dekat rumah, yang mana aku adalah pembimbingnya. Perkumpulan itu berisikan orang-orang cacat fisik di kampung tempatku tinggal dan sekitarnya. Sejauh ini, anggotanya berjumlah sepuluh orang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

2 responses to “Sosok Masa Lalu Dari Semarang”

  1. Firman says:

    Jadi inget lagunya zona nyaman Wkwkwk
    Btw ga jadIan sekalian *ehh

  2. Sekar Jatiningrum says:

    Waduh penulisnya aja bingung kelanjutannya apa hehe. Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca. Mohon saran dan kritik yang membangun ya ^_^

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *