Tak Ada Yang Sempurna (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Motivasi, Cerpen Persahabatan, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 4 July 2014

Aku dilahirkan dari rahim seorang ibu, seperti anak-anak yang lain. Aku terlahir dengan jalan yang normal. Tapi kenapa? Kenapa aku tak seperti mereka? Mereka yang mempunyai kaki sempurna. Mereka yang bebas berlari dan berjalan tanpa tongkat. Kenapa mereka memanggilku dengan sebutan “Si Pincang”, Si Pincang yang tak bisa apa-apa?. Hati ku sakit setiap kali mereka memanggilku dengan sebutan itu. Tapi, mereka memang benar. Aku memang si pincang yang selalu menyusahkan orang lain. Yang tak bisa berbuat apa-apa tanpa tongkat.

Hai.. Perkenalkan namaku Chrisa Putri Cahaya. Aku tinggal bersama Papahku karena ibuku telah lama meninggal. Walaupun aku hanya tinggal bersama Papah tapi aku bahagia karena Papah sangat menyayangiku. Aku juga mempunyai dua sahabat Bima dan Rachel. Mereka adalah sahabat ku dari kecil. Mereka mau menerima ku apa adanya. Huem, udah dulu ya perkenalannya.

“Pagi, Pah” Sapaku saat sampai di meja makan.
“Pagi juga, sayang”
“Oh ya, Pah. Nanti aku pulangnya agak telat ya, Pah. Soalnya aku mau ke toko buku dulu sama Bima dan Rachel”
“Iya, tapi jangan sampai malam ya” Pesan papahku.
“Oke, Pah” Balasku mengacungkan jempol.

Tin.. Tin.. Tin {Suara Klakson mobil}
“Pah, Chrisa berangkat dulu ya. Assalamu’alaikum” Pamitku sambil mencium tangan papah.
“Wa’alaikumsalam” Balas papah.

“Sorry jemputnya telat. Biasa tuh si Rachel bangunnya telat” Kata Bima.
“Ea elah, baru aja 3 kali gue telat bangun”
“3 kali loe bilang baru. dasar kebo” Ledek Bima.
“Dari pada loe cungkring” Balas Rachel yang tak mau kalah.
“Udah-udah, kalau kalian berdebat terus kapan kita berangkatnya” Leraiku.
“Dia dulu yang mulai, Cha” Tuding Rachel pada Bima.
“Enak aja loe, loe dulu tu yang mulai” Jawab Bima yang tak mau kalah.
“Loe”
“Loe”
“Loe”
“Stoop” Teriakku.
“Kalian mau berangkat gak sih? Kalau gak biar kau bareng sama mang Ujang aja” Ucapku meninggalkan mereka {Rachel dan Bima}.
“Eh..ee…eee.., Yah ngambek, jangan ngambek dong Cha” Bujuk Bima.
“Habis, kalian tuh berantem mulu. Kaya kucing sama tikus tau gak”
“Ya maaf” Pinta mereka.
“Ya udah ayo berangkat, nanti telat lagi” Ucapku dengan perasaan yang masih kesal.

Di sepanjang perjalanan kami hanya diam, tak ada satu patah kata pun yang terucap dari mulut kami. Kalau aku jelas diam, karena aku masih kesal sama mereka. Tapi kalau mereka? Apa mungkin mereka masih merasa bersalah soal tadi. Huh, entahlah.

“Chel, Ma, aku mau ke toilet dulu ya” Pamitku pada kedua sahabatku.
“I.. iya” Jawab mereka gugup.

Author P.O.V.
“Tuh kan gara-gara loe sih, Chrisa jadi marah deh” Tuduh Rachel.
“Lah.. kok gue”
“Ya gara-gara loe lah. Udah ah.. gue mau ke kelas aja” Ucap Rachel meninggalkan Bima.
“Ih.. dasar! Cewek emang egois” Ucap Bima yang masih dapat didengar oleh Rachel.
“Gue denger ya” Jawab Rachel dengan muka geram.
“Hehehehe…. kabooorrr!” Teriak Bima.
“Biiimaaaaa” Teriak Rachel mengejar Bima.

Sementara itu, terlihat segerombolan cewek yang menghadang Chrisa di depan gudang dekat toilet. Chrisa ingin melewati segerombolan cewek tersebut, namun dia tak bisa. Mereka menghalangi jalan Chrisa.

“Eh guys, kasih jalan. Kasihan tuh si Pincang mau lewat” Ucap salah satu gadis itu.
“Emmm, kasih gak ya?” Balas gadis yang lain.
“Jangan! Kan sayang kalau kita lepasin, mending kita…” Ucap Brenda selaku ketua genk tersebut dengan senyum devilnya.
“Kalian mau apa?” Tanya Chrisa ketakukan karena gerombolan cewek itu mendekatinya.
“Balikin tongkat aku, aku gak bisa jalan tanpa tongkat itu” Pinta Chrisa.
“Loe mau tongkat ini, ambil tuh!” Jawab Brenda sambil melempar tongkat Chrisa.
“Kenapa sih kalian selalu menggangguku? Apa salah aku sama kalian?” Tanya Chrisa dengan air mata yang membasahi pelupuk matanya.
“Loe mau tau salah loe apa? Salah loe itu, banyak. Pertama loe salah karena loe udah masuk sekolah ini, kedua karena loe udah rebut posisi gue sebagai murid terpintar dan yang ketiga gara-gara loe, gue dikeluarin dari ekskul nyanyi” Jawab Brenda.
“Aku gak pernah ngambil posisi kamu sebagai murid terpintar dan kamu dikeluarin dari ekskul nyanyi karena kamu sering gak berangkat ekskul”
“Alah, dasar muna!!” Ucap Brenda menjambak rambut Chrisa.
“Aww.. sakit Bren, pliss lepasin” Pinta Chrisa merintih kesakitan.
“Loe mau gue ngelepasin jambakan gue? gak akan!” Jawab Brenda yang semakin erat menjambak Chrisa.
“Aww.. ampun Bren, ampun” Rengek Chrisa.

Akhirnya, Brenda melepaskan jambakannya. Setelah itu, Brenda membawa Chrisa ke gudang sekolah yang tak pernah disinggahi oleh siapapun. Brenda mendorong Chrisa ke dalam gudang, hingga kepala Chrisa membentur tembok dan melemparkan tongkat milik Chrisa ke dalam gudang, agar tak ada yang curiga, jika Chrisa berada di dalam. Kening Chrisa berdarah, namun Brenda tak memperdulikannya. Dia malah pergi meninggalkan Chrisa yang tengah merintih kesakitan dan mengunci pintu gudang tersebut.

Chrisa berusaha untuk meraih tongkat yang berada di dekat pintu gudang. Ia tidak peduli dengan luka di keningnya, namun semuanya sia-sia. Kakinya sangat sulit untuk digerakkan.

“Argh, Kaki gak berguna!! Kenapa aku dilahirkan dengan kaki yang seperti ini? Kenapa? Ini semua gak adil buat aku!” Teriak Chrisa sambil memukul-mukul kakinya.

Bel pulang telah berbunyi. Siswa-siswi SMA GLOBAL SUN telah berhamburan keluar kelas. Terlihat seorang gadis sedang berjalan dengan perasaan yang gelisah sembari melihat ke kanan dan ke kiri. Tiba-tiba dari arah belakang ada seorang lelaki yang menabraknya.

“Eh, sorry-sorry gue gak sengaja” Ucap laki-laki tersebut.
“Aw.. sakit tau” Rengek gadis itu.
“Lah Rachel, gue kira siapa” Ucap laki-laki tersebut.
“Bima, ngeselin banget sih loe. Gak pagi, gak siang, gak sore, gak malam selalu bikin gara-gara sama gue” Balas gadis itu, yang ternyata Rachel.
“Lebay loe. Ngomong-ngomong Chrisa mana? Kok gue gak liat dari tadi?” Tanya Bima. Bima memang tak sekelas dengan Chrisa dan Rachel.
“Itu dia, tadi waktu dia pamit sama kita ke toilet, dia gak balik-balik lagi. Gue takut terjadi apa-apa sama Chrisa”
“Apa loe udah cari dia?”
“Udahlah. Gue udah cari dia kemana-mana tapi tetep gak ketemu. Apa kita telpon Om Ferdi aja?”
“Jangan! Mending kita cari Chrisa dulu sampe nanti sore. Kalau masih belum ketemu juga, baru kita telpon Om Ferdi”
“Ya udah deh”

Hari sudah semakin sore, namun tetap saja mereka tidak menemukan Chrisa. Hingga akhirnya mereka sampai di sebuah ruangan yang tak terpakai, ya! Gudang tempat Chrisa dikurung.

“Udah sore ni, gue capek” Keluh Rachel.
“Sama, gue juga capek. Kita udah cari Chrisa kemana-mana tapi nihil. Tinggal satu ruangan yang belum kita jamah”
Mereka tampak berfikir. “Gudang” Pekik mereka berdua.
“Ya, gudang itu yang belum kita jamah” Tunjuk Bima ke gudang dan berlari ke arah gudang diikuti oleh Rachel.
“Tapi, apa mungkin Chrisa di sini?” Tanya Rachel ragu.
“Maybe, lagian gak ada salahnya kan kita coba”
“Tapi, gimana caranya kita masuk? Pintunya kan ke kunci?”
“Kita dobrak”
“Hah” Teriak Rachel.
“Gila ya loe” Tambah Rachel.
“Mau bantu gak nih?” Tanya Bima yang menghiraukan perkataan Rachel.
“Ya udah deh, iya-iya” Jawab Rachel mengalah.

Braakk braakk braakk…
Setelah tiga kali mereka mencoba, akhirnya pintu itu berhasil mereka buka. Kaget! Itulah yang mereka rasakan ketika melihat Chrisa tersungkur dengan darah segar yang mengalir dari keningnya. Dengan sigap Bima dan Rachel membawa Chrisa ke rumah sakit dan segera menelpon Pak Ferdi ayah Chrisa.

Beberapa saat kemudian, Pak Ferdi datang.
“Bima, Rachel, kenapa Chrisa?” Tanya Pak Ferdi.
“Kami juga gak tau Om, tadi kami menemukan Chrisa di gudang yang terkunci” Jawab Bima.
“Bagaimana keadaan Chrisa, Dok?” Tanya Pak Ferdi kepada dokter yang telah selesai memeriksa Chrisa.
“Saat ini, keadaan Chrisa masih sangat lemah. Dan sebaiknya, jangan terlalu banyak diajak bicara” Jelas Dokter.
“Baik, Dok” Jawab Pak Ferdi.
“Kalau begitu, saya permisi dulu” Pamit dokter.
“Terima kasih, Dok” Balas Pak Ferdi.

Terlihat seorang gadis sedang terbaring di atas ranjang dengan infus yang menghiasi punggung tangannya, selain itu wajah gadis itu terlihat pucat dengan perban yang membelit kepalanya. Dia adalah Chrisa. Dia hanya ditemani oleh seorang laki-laki yang memakai kacamata, karena Bima dan Rachel, sahabatnya, sudah pulang sejak tadi. Laki-laki itu terus menggenggam tangan Chrisa sambil terus berdo’a, agar Chrisa cepat siuman.

“Dimana ini?” Tanya Chrisa pada dirinya sendiri.
“Wah.. indah banget danaunya” Lanjut Chrisa sambil berputar-putar mengelilingi taman yang berada di pinggir danau.
“Kamu suka?” Tanya seorang wanita yang mirip seperti bidadari.
“Aku suka ba..” Jawab Chrisa terpotong karena kaget dengan wanita yang ada di belakangnya tersebut.
“Mamah” Panggil Chrisa.
“Iya ini Mamah, Mamah kangen sekali sama kamu, Nak” Jawab wanita itu yang ternyata adalah mamah dari Chrisa.
“Chrisa juga kangen banget sama, Mamah” Balas Chrisa sembari memeluk mamahnya.
“Mamah tepatin janji Mamah kan? Mamah bawa kamu ke danau yang luas” Ucap mamah Chrisa melepas pelukan Chrisa.
“Iya, Mah. Makasih ya, Mah”
“Iya sayang. Kalau begitu kita jalan-jalan yuk” Ajak mamah Chrisa dan Chrisa membalas dengan anggukan.

Mereka pun menyusuri tepi danau sambil berbincang-bincang.

“Mah, Mamah kembali ya sama Chrisa dan papah. Biar kita bisa berkumpul lagi kaya dulu” Pinta Chrisa di sela-sela pembicarannya dengan sang mamah.
“Itu gak mungkin sayang, kehidupan Mamah dan kamu sekarang berbeda”
“Kalau begitu Chrisa ikut Mamah aja ya, Mah. Chrisa capek, Mah, teman-teman Chrisa selalu mengejek Chrisa, karena Chrisa gak sempurna”
“Chrisa, di dunia ini gak ada yang sempurna”
“Tapi buktinya, semua teman Chrisa sempurna mereka memiliki kaki yang normal”
“Tuhan menciptakan manusia dengan kelebihannya masing-masing. Mungkin kamu memang memiliki kaki yang tidak sempurna tapi kamu memiliki hati yang sempurna belum tentu orang yang kakinya normal memiliki hati seperti kamu. Kamu adalah anak yang tegar, Mamah yakin kamu pasti bisa melewati ini semua”
“Makasih ya Mah, Chrisa janji Chrisa akan jadi anak yang tegar” Tekad Chrisa.
“Nah gitu dong, itu baru anak Mamah. Maaf ya Nak, Mamah tidak bisa menemani kamu lebih lama lagi, Mamah harus pergi dan jaga Papahmu baik-baik ya. Mamah sayang sama kamu” Pamit mamah Chrisa sambil mencium kening Chrisa.
“Tapi Mah, Chrisa masih kangen”
“Ingat Chrisa, Mamah akan selalu ada di hati kamu. Selamat tinggal” Ucap mamah Chrisa makin menghilang.
“Maaammmaaahhh” Teriak Chrisa.
“Chrisa, kamu kenapa?” Tanya Pak Ferdi pada Chrisa.
“Papah” Pekik Chrisa yang langsung memeluk Papahnya, tanpa peduli dengan selang infus yang menempel di punggung tanganya
“Chrisa, kamu kenapa sayang?” Tanya Pak Ferdi kembali.
“Chrisa gak papa kok, Pah. Chrisa sayang Papah”
“Papah juga sayang sekali sama kamu, Nak”

Malam ini, Chrisa lebih memilih menikmati dinginnya angin malam yang membelai lembut jaket yang ia pakai. Ia kini sedang berada di taman rumah sakit.

“Pah, apa Papah pernah merasa menyesal punya anak yang cacat kaya Chrisa?”
“Kenapa kamu tanya seperti itu?” Tanya balik Pak Ferdi.
“Ya mungkin aja Papah menyesal, karena seharusnya anak seusia Chrisa udah bisa ngelakuin semuanya sendiri, tapi Chrisa?” Jawab Chrisa tertunduk lesu.
“Chrisa, gak pernah sedikitpun terlintas di fikiran Papah kalau Papah menyesal punya anak seperti kamu. Papah malah bangga, punya anak seperti kamu, kamu adalah anugerah terindah yang sudah Tuhan titipkan sama Papah” Jelas Pak Ferdi sembari membelai lembut rambut anaknya itu.
“Tapi Chrisa selalu menyusahkan Papah, Chrisa gak bisa sekuat anak-anak yang lain, bahkan Chrisa gak bisa jaga diri Chrisa sendiri”
“Chrisa dengarkan Papah, kekuatan yang ada dalam diri seseorang itu bukan dilihat dari bagaimana ia bisa mengalahkan atau memenangkan sesuatu, tapi dari seberapa kuatkah dia dalam menghadapi cobaan yang ada. Dan jadikan perbedaan yang kamu miliki itu sebagai penyemangat dalam hidupmu”
“Terima kasih Pah, karena Papah udah jadi ayah sekaligus ibu buat Chrisa. Chrisa gak bisa bayangin kalau di dunia ini gak ada Papah. Chrisa sayang banget sama Papah, Papah adalah sumber dari detak jantung ini” Balas Chrisa memeluk Pak Ferdi.
“Sama-sama sayang. Papah juga sayang banget sama Chrisa” jawab Pak Ferdi membalas pelukan Chrisa.
“Ya udah sekarang kamu istirahat aja ya, katanya kamu mau cepat-cepat pulang?”
“Siap, Pah” Jawab Chrisa bersemangat.

Cerpen Karangan: Syarah Wardayanti
Facebook: Syarah Twibi-InsomNisa FromBruno
Nama saya Syarah, ini cerpen saya yang ke dua yang saya kirim di sini…

Cerpen Tak Ada Yang Sempurna (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Liburan Berharga Bersama Chocho

Oleh:
Ramadan kali ini Blue hanya merenung di rumah, ayah dan ibunya ditugaskan masih harus bekerja meski banyak orang di luar sana yang sudah berlibur bersama sekeluarga. “Menyebalkan” Gumam Blue

Mimpi Buruk Aron

Oleh:
Tidakkah seorang sahabat itu akan melakukan apapun untuk sahabatnya sendiri? “kamu mimpi ya? bisa-bisanya kamu bermimpi hal seperti itu hahaha” Vellon tertawa getir. “tapi itu tidak seperti mimpi, sama

Impian Angsa Kecil

Oleh:
Di sekolah harapan bangsa ada seorang siswi yang bernamana Hilda, Jurusan Ilmu pengetahuan Alam. sekarang dia sudah kelas Tiga SMA. Pada hari senin, tepatnya pada jam istirahat di sekolah

Terima Kasih Sahabat Ku

Oleh:
Punya teman adalah hal yang biasa, tapi menjadikannya seorang sahabat itu luar biasa. Sahabat adalah keperluan jiwa, yang mesti dipenuhi. Dialah ladang hati, yang ditaburi dengan kasih dan dituai

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *