Tak Ada Yang Sempurna (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Motivasi, Cerpen Persahabatan, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 4 July 2014

Siang ini, Chrisa hanya sendirian di dalam kamar dengan ditemani sebuah novel yang dibacanya, sedangkan Pak Ferdi sedang ada urusan dengan kantornya. Karena merasa jenuh, Chrisa memutuskan untuk pergi ke taman. Chrisa pun memencet bel supaya suster dapat mengantarnya ke taman. Setelah sampai taman, Chrisa menyuruh suster tersebut untuk meninggalkannya. Saat ini ia tengah melihat beberapa anak yang sedang bermain. Sesekali Chrisa tersenyum melihat tingkah mereka yang lucu.

“Hahaha… mereka terlihat sangat gembira, tak sepertiku dulu. Mereka beruntung karena memiliki kaki yang sempurna” Ucap Chrisa.
“Hallo, Kak” Sapa seorang gadis cilik.
“Hai, loh kok kamu ada di sini? Kenapa kamu gak bergabung dengan teman-temanmu yang lain?”
“Tadi aku lihat Kakak sendirian di sini, jadi aku pingin nemenin Kakak, gak boleh ya, Kak?” .
“Boleh kok, nama kamu siapa?”
“Nama aku Felly, kalau Kakak?”
“Nama Kakak Chrisa”
“Kakak kenapa sendirian di sini, orangtua Kakak mana?”
“Ibu Kakak udah meninggal, kalau ayah Kakak lagi kerja. Kamu sendiri?”
“Maaf, Kak. Orangtua aku udah meninggal 2 tahun yang lalu dan sekarang aku tinggal di Rumah Sakit ini bersama mereka” Ucap Felly sambil menunjuk sekelompok anak yang sedang bermain.
“Maaf ya, Kakak gak bermaksud buka luka lama” Ucap Chrisa merasa bersalah.
“Gak papa kok, Kak. Oh ya, Kakak sakit apa kok bisa sampai di rawat di sini?”
“Kakak jatuh dari tangga, hehehe” Jawab Chrisa berbohong,
“Makanya Kakak hati-hati dong”
“Kamu sendiri?”
“Aku kena kanker darah stadium akhir” Jawab Felly tersenyum.
“Kanker?” Kata Chrisa kaget.
“Iya”
“Tapi…” Ucap Chrisa terpotong.
“Aku gak kelihatan kaya orang sakit kan?” Ucap Felly menatap Chrisa.
“Iya, kamu terlihat sama seperti anak-anak yang lain, anak-anak yang sehat”
“Banyak yang bilang seperti itu. Tapi, baguslah aku tidak suka dikasihani apa lagi diperlakukan seperti anak yang sebentar lagi akan meninggal”
“Apa kamu pernah merasa putus asa?”
“Dulu, tapi sekarang aku sadar gak ada gunanya kita putus asa. Lagian aku capek, kalau terus nangis dan menyesali takdir ini. Hidup harus kita nikmati, selagi kita masih bisa menikmatinya” Jawab Felly menatap lurus ke depan.
“Kamu gak marah sama Tuhan?”
“Buat apa aku marah? Tuhan sudah menentukan jalan kita masing-masing dan kita sebagai umatnya, harus ikhlas menjalaninya”
“Nona Chrisa, saatnya minum obat” Pinta seorang suster.
“Iya, Sus”
“Maaf ya, Fell. Kakak harus minum obat dulu. Dadah Felly” Pamit Chrisa.
“Dadah Kak Chrisa” Balas Felly sambil melambai-lambaikan tangannya.

Sudah 3 hari berlalu, kini Chrisa sudah diperbolehkan untuk pulang. Sebelum ia pulang, ia menemui Felly di taman Rumah Sakit. Sejak perkenalannya dengan Felly tiga hari yang lalu, Chrisa dan Felly menjadi akrab. Bahkan, sudah seperti kakak-adik.
Hari ini, Chrisa berniat untuk berpamitan pada Felly. Dengan kursi rodanya, perlahan ia memasuki kamar Felly.

“Hai, Felly” Sapa Chrisa sambil mendorong kursi rodanya menuju pinggir tempat tidur Felly.
“Hai, Kak Chrisa” Balas Felly.
“Sini Kakak bantuin sisirin rambut kamu” Tawar Chrisa.
“Gak usah Kak, lagian udah selesai kok”
“Itu semua rambut kamu?” Tanya Chrisa sambil menunjuk kumpulan rambut yang ada di sela-sela sisir.
“Hehehe, iya Kak. Biasalah Kak, kalau orang habis kemoteraphy pasti kaya gini” Jawab Felly tersenyum.
“Eum.. Fel, hari ini Kakak mau pulang. Tapi Kakak janji kok, Kakak akan sering jenguk kamu di sini”
“Iya, Kak Chrisa. Kalau jenguk ke sini, jangan lupa bawain es krim rasa coklat ya, Kak. Hehehe”
“Sip”
“Ya udah, Kakak pamit dulu ya. Bye”
“Bye, Kak Chrisa”

Hari ini, Anisa sudah mulai sekolah. Anisa berjalan menyusuri setiap lorong sekolahnya dengan tongkat yang menopang tubuhnya. Saat Anisa sampai di taman ia dicegat oleh segerombolan cewek, siapa lagi kalau bukan Brenda cs.

“Masih berani loe sekolah di sini?” Ucap Zia, salah satu anggota dari Brenda cs.
“Ada alasan kenapa aku gak berani sekolah di sini?”
“Udah mulai ngelunjak ya loe” Balas Brenda sambil mengangkat dagu Chrisa.
“Lepasin” Pekik Chrisa sambil menangkis tangan Brenda dengan kasar.
“Wah wah wah.. hebat loe! Guys.. kayanya dia butuh pelajaran nih” Ucap Brenda kepada genknya.
“Iya, kalau enggak bisa nambah ngelujak dia” Balas Gea.
“Aku gak takut sama kalian!” Ucap Chrisa lantang.
“Okey. Come on, Guys!” Perintah Brenda.

Zia langsung mengambil kedua tongkat Chrisa, sedangkan Gea dan Brenda memegangi kedua tangan Chrisa.

“Mau apa kalian?” Tanya Chrisa yang berusaha melawan.
“Udah, gak usah banyak omong loe!” Jawab Brenda.

Brenda cs membawa Chrisa ke halaman belakang sekolah. Dengan kasar, Brenda mendorong tubuh Chrisa ke tanah. Brenda menginjak kaki Chrisa begitu kuat, sedangkan Gea menjambak rambut Chrisa hingga Chrisa meringis kesakitan.

“Ampun, Bren. Ampun” Rintih Chrisa.
“Gak ada ampun buat loe” Ucap Brenda yang semakin kuat menginjak kaki Chrisa.
“Awwww!!” Teriak Chrisa kesakitan.
“Bren, udah lah. Kasihan dia” Ucap Zia yang iba melihat Chrisa yang kesakitan.
“Iya, Bren. Lagian nanti kalau kita ketahuan bisa gawat” Tambah Gea.
“Bener juga loe” Ucap Brenda.
“Urusan kita belum selesai” Ucap Brenda pada Chrisa.
“Yuk guys kita cabut” Perintah Brenda. Dan tanpa sepengetahuan Brenda, Zia melemparkan kedua tongkat Chrisa di sebelah kanan tempat Chrisa terjatuh. Chrisa tersenyum pada Zia, namun tak dibalas oleh Zia.
“Hiks hiks hiks.. aku gak mungkin sekolah dengan keadaan yang seperti ini, pasti Rachel dan Bima akan curiga. Lebih baik aku pulang” Ucap Chrisa sambil berusaha untuk berdiri dengan di bantu kedua tongkatnya. Dengan perlahan, Chrisa meninggalkan halaman belakang sekolah. Setelah sampai di depan gerbang, Chrisa segera menyetop taksi.

Terlihat seorang gadis sedang mengobati kakinya yang sudah berubah warna menjadi biru di beberapa bagian. Sesekali dia mengigit ujung bibirnya.

“Awww” Rintihnya.
“Chrisa, ngapain kamu di situ?” Tanya seorang laki-laki paruh baya sambil mendekati seorang gadis yang ia panggil, Chrisa.
“Gak papa kok, Pah”
“Kaki kamu kenapa?! Siapa yang melakukan ini?” Tanya Pak Ferdi kaget.
“Tadi Chrisa jatuh di taman sekolah, Pah” Dusta Chrisa.
“Gak mungkin! Kalau kamu jatuh di taman sekolah, gak akan sampai lebam seperti ini”
“Chrisa gak bohong kok, Pah”
“Chrisa, Papah mohon, kasih tahu Papah, siapa yang ngelakuin ini semua sama kamu?”
“Gak ada, Pah”
“Jangan bohong!! Siapa yang ngelakuin ini Chrisa??!!! Bilang sama Papah”
“Gak ada, Pah. Anisa memang jatuh di taman belakang sekolah”
“Oke, Papah percaya sama kamu. Tapi, kalau Papah sampai tahu kamu kaya gini bukan karena jatuh, Papah akan buat perhitungan sama orang yang udah buat kamu kaya gini” Chrisa mengangguk.
“Ya sudah. Papah ke kamar duluan ya, kamu jangan tidur terlalu malam. Besok kamu sekolah”
“Iya, Pah”

Keesokan harinya, di kantin sekolah. Chrisa baru teringat, jika ia mempunyai janji pada Felly.

“Astaghfirulloh.. aku lupa” Gumam Chrisa sambil berdiri dengan kedua tongkatnya.
“Mau kemana, Chris?” Tanya Rachel.
“Aku mau ke rumah sakit” Jawab Chrisa beranjak pergi dari kantin.
“Mau ngapain?” Tanya Bima.
“Aku mau ketemu sama Felly”
“Aku ikut” Teriak Rachel dan berlari mengikuti Chrisa.
“Tunggu” Ucap Bima sambil berlari.

Chrisa, Rachel dan Bima telah sampai di rumah sakit. Dengan langkah yang tergesa-gesa, Chrisa masuk ke ruangan Felly. Namun, ia tak menemukan Felly di ruangannya.

“Sus, pasien yang bernama Felly, yang di rawat di ruangan ini dimana ya?” Tanya Chrisa pada seorang suster yang kebetulan lewat di depan ruang rawat Felly.
“Oh, pasien yang bernama Felly sudah meninggal 2 hari yang lalu”

Deg.. jantung Chrisa terasa berhenti, es krim coklat yang ia bawa untuk Felly pun tumpah. Air matanya mulai mengalir deras.

“Sus, di mana Felly dimakamkan?”
“Di Pemakaman dekat rumah sakit ini”

Tanpa ba bi bu, Chrisa langsung menuju makam yang di maksud suster tersebut.

“Felly, kenapa kamu pergi secepat ini? Maaf, Kakak baru bisa jenguk kamu sekarang. Dan lihat! Kakak udah nepatin janji Kakak, Kakak bawain kamu es krim rasa coklat. Tapi, kamu bangun ya, Fel. Hiks hiks hiks” Ucap Chrisa di depan sebuah nisan.
“Udah, Chris. Biarkan Felly tenang di sana” Kata Rachel berusaha menenangkan Chrisa.
“Maaf, apakah anda yang bernama, Chrisa?” Tanya seorang suster.
“Betul, anda siapa ya?” Jawab dan tanya Chrisa yang masih sesenggukan.
“Saya suster yang merawat Felly, dan ini ada titipan surat untuk anda” Jawab suster sambil menyerahkan surat pada Chrisa.
“Kalau begitu, saya permisi dulu”
“Terima kasih, Sus”

Dengan perlahan Chrisa membuka surat dari Felly tersebut.

To : Kak Chrisa

Hallo Kak Chrisa yang cantik, yang manis, yang bawel! Gimana nih kabarnya? Sehat dong? Mungkin kalau Kakak udah baca surat ini, aku udah ada di surga, ketemu papah dan mamahku. Dan yang pasti aku gak akan ngerasa kesakitan dan kesepian lagi. walaupun aku baru kenal Kakak, tapi aku udah sayang banget sama Kakak. Kakak udah Felly anggap Kakak kandung Felly sendiri. Oh ya, Kakak jangan suka sedih lagi ya, ingat! kalau Tuhan pasti berikan yang terbaik untuk hambanya. Kakak harus semangat!! Jangan pernah putus asa!!. Sampai ketemu di Surga.. Dadah Kakak, aku sayang Kakak.

“Kakak juga sayang sama kamu, Fel. Kakak beruntung bisa kenal orang yang berhati malaikat seperti kamu. Kamu adalah anak yang kuat. Semoga kamu tenang ya di sana. Kakak akan selalu ingat sama kamu sampai kapanpun. Sampai ketemu di surga” Ucap Chrisa sambil memeluk surat tersebut.

Seminggu kemudian,
Terlihat dua orang gadis dan satu orang laki-laki sedang mengobrol sambil sesekali bercanda di kantin sekolah.
“Malam ini loe mau nyanyi apa, Chris?” Tanya Rachel.
“Nyanyi apa yah?” Goda Chrisa.
“Iihh.. gue tanya beneran nih” Balas Rachel kesal.
“Ada deh” Jawab Chrisa.
“Gue tahu, pasti nanti lagu yang loe nyanyiin buat gue” Ucap Bima PD.
“Idih.. PD gila loe” Celetuk Rachel.
“Udah-udah.. kita ke kelas aja yuk, udah mau masuk nih” Ajak Chrisa sebelum kedua sahabatnya itu bertengkar lagi.
“Ya udah yuk” Jawab Rachel dan Bima.

Malam ini, Chrisa tampak sangat anggun dengan gaun berwarna putih selutut dan rambut yang dibiarkan terurai.

“Siap?” Tanya Bima.
“InsyaAllah” Jawab Chrisa.
“Loe udah dipanggil tuh, Chris” Ucap Rachel.

Chrisa segera naik ke atas panggung, dengan tongkat kesayangannya. Ditatapnya para hadirin yang datang ke acara itu. Pandangannya terhenti pada sosok seorang gadis yang memakai gaun putih seperti bidadari. Dia mengacungkan ke dua jempolnya sambil tersenyum. “Felly” Gumam Chrisa. Ya, sosok gadis bergaun putih itu adalah Felly. Kini, Chrisa sudah siap menampilkan performa terbaiknya.

“Lagu ini saya persembahkan untuk orang-orang yang memiliki kekurangan seperti saya, manusia tak ada yang sempurna” Ucap Chrisa.

Dengan penuh perasaan, Chrisa mulai memetik gitar.

Tak ada manusia
Yang terlahir sempurna
Jangan kau sesali
Segala yang telah terjadi
Kita pasti pernah
Dapatkan cobaan yang berat
Seakan hidup ini
Tak ada artinya lagi
Syukuri apa yang ada
Hidup adalah anugerah
Tetap jalani hidup ini
Melakukan yang terbaik (Jangan Menyerah-D’Masiv)

Prok.. prok.. prok (suara tepuk tangan penonton)
“Terima kasih” Ucap Chrisa dan meninggalkan panggung.
“Penampilan loe keren banget, Chris. Kita bangga banget punya sahabat kaya loe” Ucap Rachel.
“Iya Chris, liat tuh si Rachel ampe nangis” Ledek Bima.
“Ih, terharu tau” Balas Rachel sambil menghapus air matanya.
“Terima kasih ya, karena kalian udah support aku selama ini. Kalian memang sahabat terbaik ku”
“Sama-sama, Chrisa” Balas kedua sahabat Chrisa.

Tiba-tiba Brenda Cs menghampiri Chrisa, Rachel dan Bima.

“Penampilan loe tadi hebat banget, Chris” Ucap Brenda menghampiri Chrisa.
“Maaf, selama ini gue udah kasar sama loe” Lanjutnya
“Makasih ya, Bren. Iya, aku udah maafin kamu kok, malah sebelum kamu minta maaf sama aku” Balas Chrisa.
“Makasih ya, Chris” Ucap Brenda sambil memeluk Chrisa.
“Sama-sama”

Chrisa P.O.V
Kini aku yakin, jika tak ada manusia yang sempurna. Tuhan telah menciptakan kita dengan kelebihannya masing-masing. Dan percayalah, Tuhan telah menentukan jalan yang terbaik untuk hambanya. Kebahagiaan akan datang jika sudah tiba waktunya.

TAMAT

Cerpen Karangan: Syarah Wardayanti
Facebook: Syarah Twibi-InsomNisa FromBruno
Nama saya Syarah, ini cerpen saya yang ke dua yang saya kirim di sini…

Cerpen Tak Ada Yang Sempurna (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Balikan Yuk

Oleh:
“kriing.. kriing.. kring..” Bel sekolah tiga kali berbunyi, tanda dari kegiatan belajar mengajar telah usai, seperti biasa aku dan teman temanku yang lain tidak langsung bergegas pulang ke rumah,

Cinta Terpendam

Oleh:
Di malam yang dingin dan gelap sepi benakku melayang pada kisah cintaku, kisah cinta yang tak pernah ku tahu akhirnya. Ku sampaikan semua kegalauan hatiku lagu-lagu yang ku rasa

7.12

Oleh:
Senin pagi, di sebuah stasiun kereta sebut saja stasiun Cilebut. Sekolah gua libur karena ada rapat guru. gua hendak berangkat ke Kota Jakarta. Untuk apa?, nggak usah kepo deh

Sahabat Jadi Cinta

Oleh:
“Tunggu Yu…” Tian memanggilku dari kejauhan. “Ayo cepet, nanti telat” jawabku sambil nafas terengah engah Karena berlarian. “untung aja kurang 2 menit kita udah ada di sekolahan.” Kata Tian

Hubungan Antara Kau Dan Aku

Oleh:
Suasana malam yang sangat indah dan juga hening. Bentuk sang rembulan yang sempurna, tidak terhalang awan hitam sedikit pun, cahayanya pun terlihat sangat cerah dari jendela kamarku. Aku duduk

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *