Terima Kasih, Rahman

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Motivasi, Cerpen Pengalaman Pribadi
Lolos moderasi pada: 16 September 2018

Baru saja aku melihat wajah malaikat. Wajah tanpa beban yang selalu tersenyum. Wajah seorang anak yang masih mengenakan seragam kebesarannya yang sudah tampak kumal. Mungkin dulu milik sang kakak. Berjalan tenang dengan langkah-langkah kecilnya. Memperhatikan teman seperjalannya yang sedang bercerita. Bibirnya masih melengkung, dan matanya menatap sang teman dalam.

Ingatanku kembali terbang. Mencoba memperjelas gambar-gambar yang telah pudar. Merangkai kembali peristiwa dengan seorang teman di masa lalu. Mencoba mengingatnya, dan membuat rasa syukur kembali meluap melalui air mata yang memberontak keluar.

Rahman. Bocah SD teman sekelasku beberapa tahun lalu. Entah bagaimana dan di mana dia sekarang. Satu yang membekas tentang Rahman di ingatanku. Rasa syukurnya, dan kehangatan keluarga.

Kala itu kenaikan kelas. Para orangtua datang untuk mengambil rapor anak-anaknya, termasuk ibu Rahman. Bapaknya menunggu di luar pagar sekolah. Entah kenapa enggan untuk masuk.
Tentu saja rasa bangga menyeruak dalam hati ketika memiliki anak yang cerdas dan berkelakuan baik. Tapi itu bukan Rahman. Ia bukan anak yang memiliki dua sifat itu. Bahkan beberapa kali ia dipanggil kepala sekolah kami karena prestasinya memang tak dapat diandalkan. Ditambah kelakuannya yang sangat usil padaku dan juga teman-teman.

Tapi hari itu aku melihat sesuatu yang lain dalam dirinya. Rahman naik kelas dan orangtuanya bangga. Cukup naik kelas. Saat anak lain dimarahi karena nilainya hanya 70, Rahman hanya perlu naik kelas. Cukup naik kelas. Terlihat betapa orangtuanya beritu menyayanginya. Saat ditanya apa yang diinginkannya sebagai hadiah untuk kenaikan kelas ini, ia hanya berkata, “buk, aku pengen es teh.” (Buk, aku ingin es teh). Ya hanya itu yang diinginkannya. Anak lain pasti sudah meminta tamiya seri tradager-X, setumpuk kartu yugi oh, Barbie terbaru, tamagochi, atau mainan lain yang memang sedang tren saat itu. Rahman cukup senang dengan satu plastik es teh. Kulihat ayahnya tersenyum dan ibunya mengelus lembut kepala Rahman yang asyik dengan es teh plastik di tangannya.

Tiap pulang sekolah memang Rahman terbiasa ikut tetangganya mengamen. Mungkin karena keadaan ekonomi keluarganya memang tidak memungkinkan. Mungkin itu juga yang membuat prestasi, gaya bicara dan tingkah lakunya di sekolah tak sebaik teman-teman yang lain.
Tapi saat itu aku mengerti. Rahman anak yang baik. Ia anak yang berbakti.

Dan dari Rahman dan satu kantong plastik es teh nya, aku belajar menerima keadaan, berjuang dengan gigih dan bersyukur.

Terima kasih telah memberiku kesempatan melihat secuil kebahagiaan dengan hal yang sederhana.

Cerpen Karangan: R. Kararia
Blog: rkararia.tumblr.com

Cerpen Terima Kasih, Rahman merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Hikmah di Balik Musibah

Oleh:
Sabtu, 20 Juli 2013 seperti biasanya aku bangun pagi karena akan berangkat bekerja. Tapi hari itu lain dari biasanya, aku lebih bersemangat untuk bangun pagi. Rasanya ingin cepat-cepat sampai

Embunku di Atas Karya Tuhan

Oleh:
Sudut ini membuatku sempit untuk melakukan gerakan-gerakan indahku, “arrrgh, kenapa, hanya aku Tuhan…! Hanya aku yang berbeda dengan mereka, lincah, tanpa sadar mereka sekarang berbicara seenaknya di depanku, aku

Seragam Kucel Warisan Kakak (Part 1)

Oleh:
Ini adalah hari pertamaku masuk Sekolah Dasar (SD). Ya… berbekal seragam merah putih yang sudah kucel warisan dari kakak pertamaku Wahyu, serta satu buah seragam baru yang dibelikan orangtuaku,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Terima Kasih, Rahman”

  1. Fitri mawardah says:

    Suka banget

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *