Terimakasih Motivatorku

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Motivasi, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 25 December 2013

“Besok aku berangkat” ucapku seraya menundukkan kepala, “Kapan kamu kembali?” ucap Irma sahabatku sambil menepuk bahuku yang lesu, “Mungkin 6 tahun lagi” jawabku pelan “Lama ya, bukannya saat itu kita udah lulus SMA?” ucapnya dengan senyum maksa, kubalas ia dengan anggukan.

Malam ini adalah malam terakhir buatku dan sahabatku untuk tidur sekamar, ini adalah ritual kita setiap satu minggu sekali, Kadang di rumahku, kadang juga di rumahnya. Tapi malam ini aku sengaja tidur di rumahnya. Hampir semalam penuh aku nggak bisa tidur, kutatap jam dinding yang menghitung detik demi detik, kuambil nafas panjag setiap satu menit berlalu, kupeluk tubuh temanku yang tertidur pulas di sampingku. Hingga pukul 03.00 aku mulai tertidur.

Pukul 06.00 orangtuaku menjemputku, tampaknya mereka sudah siap berangkat, Sebelum aku masuk ke mobil kuberi sahabatku sebuah kalung yang couple denganku, “Kuharap, kamu bisa menjaga kalung ini… setidaknya sampai aku kembali” ucapku menahan tetesan air mata “Aku akan menjaganya seperti menjaga persahabatan kita yang melebihi nyawaku, sampai kapanpun” jawabnya mengharukan. Kami tak tahan lagi, air mata kamu berjatuhan tak terbendung. Dia pun mengantarku menuju pintu mobil, dia juga yang menutupkan pintu mobil untukku, padahal aku tau kalau dia tidak suka aroma mobil. Aku sangat terharu dengan perpisahan yang manis ini. Ketika mobil masih berjalan pelan dan tidak terlalu jauh dia menjerit “Kamu harus berjanji ke aku kalau kamu kembali kesini dalam keadaan sukses” Aku cukup tercengang dengan kata-katanya, begitu juga orangtuaku yang mendengarnya, tapi tetap saja kubalas jeritannya “Aku janji” jawabku lantang.

Selama di perjalanan aku masih memikirkan apakah aku bisa tinggal di kota, aku suka di desa… Apalagi teman-temanku di desa kan baik-baik. Nggak bayangin nanti gimana aku bisa beradaptasi di lingkungan baruku, semoga ada yang mau berteman denganku.

Akhirnya sampai juga di rumah baruku. Rumahnya bagus, lebih besar dari rumahku yang di desa, tapi tetep aja, di luar bising, banyak kendaraan berkeliaran, aku aja takut mau keluar. Ibuku mulai mengatur tata ruang, mulai dari ruang tamu, ruang keluarga, ruang makan, dapur, kamar utama dan lainnya. Kamarku ada di atas, dengan barang-barang yang sepertinya memang sudah dipersiapkan, aku tinggal mengisi semua dengan barang-barangku. Selesai bersih-bersih, tiba-tiba ibuku menengok kamarku “Bagus, Emm… sayang, soal teman jangan khawatir, di rumah sebelah ada gadis seusia kamu, cepet kenalan ya. Ini, alat dan seragam sekolah kamu. Semoga kamu senang disini”

Hari pertama ke sekolah, “fiiuuuhh…” kulangkahkan kakiku melewati gerbang sekolah baruku ini, kucoba untuk selalu tersenyum untuk menjaga image-ku sebagai anak baru. Tapi ternyata, sedikit tercengang dan malu aku melihat semua ini “Nggak ada satu pun yang membalas senyumku… Ya Allah, apa sih yang mereka pikirin? Jaga wibawa? Dasar pelit” gerutuku. Tapi tetap kulanjutkan senyumku, sambil mencari dimana ruang guru.

RUANG GURU. Tulisan yang terbaca jelas untukku, karena aku tidak buta huruf. Untuk guru pertama yang aku temui adalah wali kelasku, namanya Bapak Saiful Rizal. Beliau orangnya ramah, lucu dan pengertian, nggak kayak orang kota deh pokoknya. Tapi inget, jangan seneng dulu, kan belum punya temen.

Aku terpukau dengan bangunan sekolah ini yang berbeda dengan sekolah yang ada di desaku. Disini besar, bersih, dan lain-lain deh pokoknya. Puas rasanya aku diajak jalan-jalan sama wali kelasku, tapi ketika sampai di lapangan basket, ada sesosok bola yang menuju ke arahku. Dan… Gelap…

Aku terbangun dari tidurku yang tak kusengaja ini, dan “Hah?” tiba-tiba ada sesosok pria sebayaku berdiri di sampingku sambil bergegas mengambilkan minum untukku, aku bingung dengan apa yang dia lakukan, tapi aku nggak bisa ngomong apa-apa, masih lemes rasanya. Lalu dia mengulurkan tangannya “Ilham?” aku terpukau sama kebaikannya, ganteng lagi… “Hei…” dia membuyarkan lamunanku. “e, Ilma” jawabku malu-malu “Maaf tadi aku nggak sengaja ngelempar bola ke kamu” “Iya, nggak papa kok” Aku mulai bercakap-cakap sama dia, sampai dia nganterin aku ke kelas. Tapi di tengah perjalanan ke kelas “Ilham, ngapain kamu deket-deket sama anak baru? Ihh..” ucap seorang wanita sinis. Tak kuhiraukan sinisnya malah aku balas dengan senyuman dan uluran tangan. Sepertinya dia malu dengan sikapnya padaku yang sia-sia, sehingga dia langsung menggeret Ilham untuk pergi. Terpaksa aku melanjutkan perjalanan sendiri, untunglah cepat kutemukan kelasku. Kelas 8a.

Anak baru, status yang masih aku sandang, aku belum punya temen, tapi… “Hai, aku Reta, kamu anak baru yang dari Bogor itu ya?” ucap seseorang sambil mengulurkan tangannya “Iya, kenalin… Aku Ilma” aku menjabat tangannya, “Duduk sama aku aja ya” tawarannya menyelamatkanku.
Pulang sekolah, aku dijemput ibuku dan di belakangku ada Silvi, temen baru yang kayaknya nggak bisa diajak bersahabat. Tapi kok… “Ilma, Silvi diajak juga ya, daripada naik angkot” ucap ibuku “Emm, iya” jawabku “Silvi, ayo…” ajak ibuku Silvi kebingungan, tapi tetep aja masuk mobil. Di dalam mobil ibu cerita kalau Silvi ini tetangga yang mau ibu kenalin ke aku. “Tapi kayaknya rencana ibu gagal” pikirku dalam hati. “Sampai di rumah cepet sholat, makan dan ganti baju, kita mau ke kantor ayah” ajak ibuku. Selama diperjalanan Silvi kelihatan nggak bersahabat, dan ketika sampai di depan rumah Silvi aku baru tau kalau Silvi anak orang yang… bisa dibilang kurang mampu. Sampai di depan rumah aku lihat kotak posku terbuka, mungkin ada surat, “Aku turun disini aja buk” kulihat isinya, Ya… bener, ada surat, dari Irma. Sahabatku… “Alhamdulillah” “Hei” ucap seseorang mengagetkanku “Ilham” ucapku lega “Ilma, ini rumahmu, berarti kita tetanggaan, rumahku disitu (sambil nunjuk rumahnya) duluan ya” ucapnya keren…

Sudah malam, aku baru pulang dari jalan-jalan sama Ayah dan Ibu, aku naik ke kamar, aku ambil surat dari Irma, disana Irma menuliskan kalau dia turut gembira atas keadaanku yang baik-baik saja disini dan dia berpesan aku harus sukses demi dia. Puas membaca surat aku keluar lihat bintang, tapi yang aku temui malah Ilham di seberang sana “Ilham…” sapaku “Hei, suka bintang juga?” tanyanya “tentu” jawabku enteng “Besok, habis sholat Isya’ mampir ke rumah lihat bintang sama aku” ajaknya seraya masuk ke rumahnya “Cool banget sih” pikirku sambil senyum-senyum sendiri.

Malam ini aku menepati janjiku, aku diajak lihat bintang pakai teropong sama dia. Emm, seneng rasanya walaupun aku nggak begitu ngerti ilmu bintang. “Cari bintang kesukaanmu!” perintahnya seraya duduk menyandingku “Itu” sambil kutunjukkan padanya lewat teropongnya “Pilihan yang bagus” komentarnya dengan senyum manisnya. Setelah aku lihat jam 20.00 malam tiba, aku izin pulang, Ilham mengantarku turun, saat di depan pintu dia bilang “Ilma, kamu adalah bintang yang tak bisa lepas dari bulan yang bernama Ilham” lalu dia menutup pintunya. Aku pulang dengan pikiran janggal, rasanya itu sebuah pernyataan dari Ilham, tapi aku nggak berani mempercayainya.

Nggak kerasa sudah mau lulusan, aku berhasil melampaui waktu disini dengan Ilham. Hari ini hari perpisahan “Kita satu SMA lagi ma, seneng rasanya” Ilham mengagetkanku “Iya, ke aula yuk” ajakku. Acara perpisahan selesai, aku menunggu jemputan dari ibuku seperti biasanya, tapi entah kenapa ibu lama banget nggak datang, sampai-sampai Ilham nemenin aku. Tiba-tiba telefonku berdering, telefon dari Ayah “Ilma, cepet ke RS Harapan Bangsa, Ibu koma” aku tersentak, Ilham yang mengetahui hal ini langsung menyeretku dan memboncengku menuju rumah sakit.

“Ibu kecelakaan di perjalanan menjemputmu, jangan sedih… dokter akan berusaha” kata ayah menenangkanku. Aku teringat Ilham yang berjasa atas hal ini, dia di sampingku, keringatnya bercucuran, kuambil sapu tanganku kuusap keringatnya, dia tersenyum dan menghapus air mataku. Moment yang indah untukku.

Hari ini MOS, Ilham berusaha menyenangkanku yang masih galau. Dia perhatian banget sama aku, Reta juga gitu, mereka berdua saabat yang baik. Hari terakhir MOS aku dapat surat dari Irma, dia tahu keadaanku sekarang gimana. Dia bilang “Kamu harus kuat, karena nggak lama lagi ibu kamu akan sembuh” katanya menguatkanku.

Benar saja, seminggu setelah MOS ibuku bisa pulang “makasih Ya Allah” syukurku. Ilham datang ke rumah dengan keluarganya membawa sate buatan ibunya untuk merayakan pulangnya ibuku.

Hari ke hari aku sama Ilham makin dekat, ditambah mak comblangnya Reta. Cinta pertama yang mengagumkan. Sampailah kita di hari kelulusan, hari ini Ilham kelihatan beda, kayaknya dia lebih perhatian dari biasanya. Pulang sekoah ibu nggak bisa jemput aku, malah nyuruh aku pulang sama Ilham aja. Di jalan, Ilham tegang, padahal dia kan sudah biasa pegang motor. Dia ajak aku ke taman. Seperti biasa, dia beliin aku ice cream coklat. “Il, umur kita kan udah lumayan, ini moment yang aku tunggu-tunggu sejak SMP, gimana kalau kita lanjutin hubungan kita?” Aku memalingkan pandangan ke arahnya, belum sampai aku bicara dia udah melanjutkan penjelasannya lagi “Aku janji nggak akan ngerusak persahabatan kita, kamu boleh nggak jawab sekarang, tapi seminggu lagi, beri jawabannya ke aku” ucapnya lalu pergi.

Aku pengen Tanya ke ibuku apa aku boleh pacaran, tapi aku takut. Hari ini udah hari ke-7 dari penantian Ilham, dia bener-bener nunggu. Dan seminggu ini aku makin kepo tentang dia. Aku berangkat ke taman sesuai janjiku sama Ilham, aku nunggu dia sejak jam 07.00 – 09.00. Tiga ice cream udah aku telan, tapi mana Ilham? Telefonku berderin “B. Handani” ibu Ilham telefon “Ilham tertabrak mobil dalam perjalanan menemui kamu, jenazahnya masih ada di rumah sakit” ucap Ibu Ilham tersedu-sedu. Aku teringat waktu ibuku di rumah sakit, “Ilham, Ya Allah… teganya Engkau mengambil cinta pertamaku sebelum kukatakan aku mencintainya” pikirku dengan perasaan marah, tapi bagaimana lagi? Inilah takdirnya, di rumah sakit ibu Ilham memberiku sebuah kalung dari Ilham dan Ilham mengatakan pada ibunya kalau aku cinta pertama dan terakhirnya.

Seminggu setelah kepergian kamu ham, aku hampa… aku selalu ingin menangis. Tapi surat Irma datang lagi, dan kamu tau ham, surat Irma sedikit menguatkanku yang masih kehilangan. Lalu kuputuskan untuk menutup diaryku tentang kamu. Tapi, aku ingin semua orang tau kalau aku menyayangimu. Aku ingin minta saran Irma. Makanya aku pulang ke desa, tapi apa yang aku dapat? Hanyalah sebuah nisan yang berkalung persahabatanku dan Irma, Irma tewas hanya karena menyelamatkan kalung itu dari lindasan mobil seminggu setelah kepergianku. Lantas, siapa yang mengirim surat kepadaku? Ternyata ayahku, dia ingin agar aku lebih kuat lagi, dan surat dari Irma, hanya satu, dan baru kubaca tadi. Kata-kata yang kuteladani adalah “Kamu harus sukses bagaimanapun caranya, aku akan melihatmu bahagia” Aku tak tau harus apa, aku hanya punya satu dokumen dalam laptopku tentang cerita panjangku dan kamu ham, tapi aku tak berani mempublikasikannya.

Aku kembali ke kota dengan tangan kosong, aku tak mendapat apapun dari Irma sahabat motivatorku kecuali… surat, ya surat. Pasti surat itu punya maksud, kubaca lagi surat itu kuteladani kata-katanya, dan yap… “Bagaimanapun caranya” aku harus percaya diri, jadi… kuberanikan ketempat seorang penerbit. Dan sepertinya beliau suka karyaku.

Tiga bulan kemudian, aku bukanlah sekedar Ilma Larasati, tapi aku Ilma Larasati sang penulis. Terimakasih Irma sahabatku, kamu motivator terbaikku, dan Ilham, terimakasih… karena kamu telah membubuhi hidupku dengan sederet cerita baru.

The End…

Cerpen Karangan: Fitri Melani
Facebook: https://www.facebook.com/fitri.aiu.3

Cerpen Terimakasih Motivatorku merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Aku dan Pelangiku

Oleh:
Ku ingin jumpa dia, berjumpa dengan mereka sahabat kecilku. Mereka bagaikan pelangi dengan lima warna yang berbeda, tapi perbedaan itu seperti saling melengkapi, aku sangat senang jika dapat bertemu

Pertemuan Singkat

Oleh:
Namaku Danisa Putri, panggil saja namaku ica. Kini, aku sekolah kelas 2 SMA di salah satu SMA di Kota Bandung. Aku tinggal di keluarga yang sederhana. Aku anak kedua

Love

Oleh:
Namaku remy laura, tapi sering dipanggil blossom. Aku bersekolah di smpk sang timur. Hari ini, hujan mengguyur kota ini. Aku memperhatikan bagaimana secercah butiran yang sengaja diturunkan ke muka

Happy Birthday Fay

Oleh:
Sabtu 11 desember, Jarum jam menunjukkan tepat pukul 11 malam, tapi belum juga ku lihat tanda kehadiran Fay dan Nabil, padahal pada waktu itu aku, tante Lina dan Om

Mantanku Pacar Sahabatku

Oleh:
Tepatnya pagi ini aku dibangunkan dengan ingatan yang begitu menyakitkan, menyesakan dada seketika. Rasanya aku ingin memberontak dengan keadaan semacam ini, keadaan yang harusnya bukan aku yang merasakan dan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Terimakasih Motivatorku”

  1. Sefira Gustina Pusvita Putri says:

    Saya sampe menangis ;( membaca cerpen ini .
    Benar² WOW 😮
    .
    Saya berpikiran bahwa,,cerpen ini
    merupakan kisah nyata
    .
    Saya siswi SMP di SMP Negri 1 Katingan Tengah -Kalimantan Tengah,,
    sekarang saya duduk di kls.9 (3)
    umur saya 14 tahun.
    .. Cerpen ini benar² cocok dengan saya 🙂 saya sangat² menyukainya (y)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *