The Artist

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Motivasi, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 28 April 2015

Sudah beberapa bulan aku disini. Setelah pindah rumah, aku menjadi lebih percaya diri karena mempunyai sahabat-sahabat yang begitu baik padaku. Dulu aku adalah orang yang pemalu. Karena sahabatku, Ian orang pertama yang kukenal disini, dan Ina orang pertama yang ku kenal di kelas dan juga sebagai teman sebangku ku, mereka telah membuatku lebih percaya diri, dan selalu optimis akan bakat senimanku. Karena itu, Kami membuat sebuah Club yang bernama ‘The Artist’, karena kami memiliki bakat seniman tapi tak semua anggota di club kami memiliki bakat seniman. Tapi sayangnya, anggotanya baru 3 orang. Tentu saja aku, Ian dan Ina saja. Club ini sudah berdiri sejak 2 minggu lalu. Sebenarnya, kami ingin membuat pengumuman di sekolah tentang club ini. Tapi ada satu masalah.

Papa adalah seorang pelukis profesional. Tentu saja aku mengikuti jejak Papa sebagai seorang pelukis. Dan itulah bakat senimanku. Aku selalu melukis di halaman rumahku. Lukisan pertama yang kubuat disini adalah lukisan rumah Ian. Rumah kita saling berhadapan. Jadi, aku dengan mudahnya melukis rumahnya sebagai objek lukisanku.

Lalu ada Ina. Perempuan ini sangat hobi bernyanyi. Hadseat juga selalu melekat di telinganya. Terkadang, kami kami merasa terganggu karena ia selalu saja bernyanyi saat kami sedang di ruangan khusus club ‘The artist’ ini. Ya, kami mempunyai ruangan khusus yang berada di belakang rumahku. Disana ada banyak hasil lukisanku yang tertata dengan rapi. Selain itu, disana juga ada microphone yang digunakan untuk menyanyi. Walaupun cukup sederhana, tapi kami senang bisa mempunyai ruangan sendiri. Biasanya kami kumpul-kumpul disana setelah sekolah.

Tapi ada satu masalah. Ketua kami, Ian. Ia tak mempunyai bakat seniman. Tapi kami juga tak tau. Apakah Ian belum menemukan bakatnya, atau memang tak mempunyai bakat seniman. Tapi kita tetap menerimanya dengan senang hati. Karena Ian juga sahabat kita. Kami juga tak membuat pengumuman karena kami sama sekali belum menemukan bakat seniman Ian. Jika saja kami membuat pengumuman dan banyak orang ingin bergabung, pasti mereka akan berkata hal-hal aneh tentang Ian yang tak mempunyai bakat seniman, dan bisa menjadi ketua club kita.

Suatu hari, Ian terlihat begitu bingung dan gelisah. Aku dan Ina juga bingung saat melihat Ian begitu gelisah. “Sudahlah, gak usah kayak gitu, lo pasti punya bakat seperti kita” ujar Ina seakan tau apa yang dipikirkan Ian. “Tapi ini kan club buat orang-orang yang memiliki bakat seniman. Sedangkan gua…” Ian mengeluh. Kami mencoba membuat Ian lebih bersemangat. Tapi semua itu sia-sia. Ian masih saja seperti itu.
“Lebih baik gua keluar aja! Gua juga gak layak buat jadi ketua disini” Ian mulai putus asa. “Tapi lo tegas. Suatu hari nanti, lo pasti nemuin bakat lo” ucapku menasihati. Ian hanya terdiam. Tapi dilihat dari mimik wajahnya, Ian sepertinya masih merasa putus asa.

Keesokan harinya di sekolah.

Pada jam istirahat, aku dan Ina tanpa sengaja melihat Ian yang berada di taman sekolah. “Eitss… tunggu! Liat tuh, si Ian lagi ngapain ya?” tanya Ina sambil menarik tanganku. “Iya, samperin yuk!” ajak ku. Tapi tiba-tiba Ina mencegahku untuk menghampiri Ian yang sepertinya asyik memotret lingkungan di sekitar taman dengan menggunakan Camera Digitalnya. Ian memang sering seperti itu, kalau tidak ada kerjaan, pasti memotret sesuatu

“Emang kenapa?” tanya ku kepada Ina. “Ah, biarin aja! Yuk kita ke kantin!” ajak Ina sambil menarik tanganku menuju kantin. Tapi mataku masih tertuju kepada Ian, sampai akhirnya Ian menghilang dari pandanganku.

Seperti biasa, Kita bertiga pulang bersama-sama.
“An, pinjem kamera lo dong!” Ina membuka pembicaraan. Ian pun langsung melepaskan tali camera yang tergantung di antara lehernya dan diberikan kepada Ina. Aku yang berjalan tepat di samping Ina sesekali melirik kamera Ian yang sedang dipakai oleh Ina. Aku penasaran dengan apa yang dilakukan oleh Ina.
“Eh Mita, liat nih!” ujar Ina dengan nada sedikit berbisik. Aku pun langsung menoleh. Ternyata Ina sedang mencari foto-foto yang diambil oleh Ian pada saat istirahat tadi. Dan juga foto-foto lainnya. Gambar yang diambil Ian sangat bagus. Ian seperti photographer saja, saat aku melihat foto-foto yang diambilnya. Efek, kontras, warna semuanya dalam gambar itu sangat bagus. Dan tentu saja, semuanya diatur oleh Ian. Mungkin Ian juga menggunakan teknik lain untuk memotret. Aku dan Ina saling bertatapan dan tersenyum. Sepertinya pikiran kami sama.

Akhirnya Ina sampai di rumahnya. Ia pun menitipkan kamera digital Ian padaku, lalu ku kembalikan pada Ian. Aku dan Ian berjalan bersama. Tapi tak seperti biasanya. Suasana saat ini begitu canggung. Tak lama kemudian, akhirnya kita sampai. “Em… nanti kumpul ya!” kata ku kepada Ian. Ian hanya mengangguk tanpa berkata apa-apa.

Tepat pukul 14.00 aku dan Ina kumpul di ruangan club ‘The Artist’ Tapi Ian belum datang. Setelah beberapa menit, Ian belum juga datang. Akhirnya aku mempunyai ide agar kita tak bosan menunggu dan menunggu.
“In, gimana kalo kita tempel foto-foto yang diambil Ian. Kita cetak yuk!” Ujar ku. Ina pun mengangguk sambil tersenyum padaku. Beruntung, aku mempunyai alat pencetakan foto. Dan hasilnya juga cukup bagus.

Setelah mencetak cukup banyak foto, kita menempelkannya di dinding yang di atasnya kutulis ‘Pictures’, dan kita tutupi dengan kain yang cukup lebar berwarna merah. Tak lama kemudian Ian datang. “Sorry, gua terlambat!” ujar Ian. Aku dan Ina hanya diam. Kita pura-pura ngambek kepada Ian. Setelah cukup lama saling bertatapan, aku pun berdiri, dan membuka dinding yang dipenuhi oleh foto-foto yang diambil oleh Ian.

Ian mulai tersenyum. “Kalian telah mencuri!” canda Ian. “Ya, kami telah mencuri!” jawabku sambil tertawa. “Eh An, kita udah dapetin bakat seniman lo. Jadi, bakat seniman lo adalah jadi photographer,” ucap Ina sambil menepuk pundak Ian. “Tapi, photographer itu seniman ya?” tanya Ian sedikit menyangkal. “Menurut gua sih, gitu. Hm… tunggu dulu!” Aku pun segera mengambil ponsel ku yang ada di dalam saku celanaku. Aku mencoba mencari arti kata ‘seniman’ di KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia). Setelah mendapatkan artinya, Aku pun membacanya, “Nah, menurut KBBI, seniman itu orang yang mempunyai bakat seni dan berhasil menciptakan dan menggelarkan karya seni. Kalo lo kan udah berhasil nyiptain karya seni. Yaitu berupa sebuah foto. Menurut kita sih, gitu.”

“An, bakat lo itu jangan lo sia-siain! Malah harus lo kembangin!” nasihat Ina.
“Gua bener-bener berterima kasih pada kalian berdua. Kalian emang sahabat terbaik gua!” kata Ian sambil tersenyum.
“Sahabat kan emang harus kayak gitu! Oh, iya. Gimana kalo kita nyanyi? Trus, ngelukis, terus foto-fotoan?” usul Ina.
Aku dan Ian sangat setuju dengan ide Ina itu. Di dalam ruangan, kita bernyanyi. Ina mengajari kami. Tapi tetap saja suara kami tak sebagus Ina. Begitu pula pada saat kami melukis dan mengambil gambar. Sebuah bakat itu langka. Tidak semua orang mempunyai bakat seperti kita. Jadi, kita harus mensyukuri bakat kita. Bakat apapun itu.

Dan pada akhirnya, Ian menemukan bakat senimannya. Ia berbakat sebagai photographer.

Akhirnya kami membuat pengumuman secara tertulis di sekolah. Dan sepertinya adik kelas VII dan VIII banyak yang tertarik. Banyak adik kelas, maupun siswa seangkatan kita, mendaftar ke club kami.

Pada saat pulang dari sekolah, Papa begitu senang mendengar ceritaku tentang club ‘The Artist’ dan berniat untuk membuat ruangan ‘The Artist’ lebih luas dan besar, dan mengganti dekorasinya. Aku menjadi begitu senang, sampai-sampai aku meloncat-loncat kegirangan. Begitu juga dengan sang ketua club, Ian dan penyanyi kami, Ina.

Cerpen Karangan: Ni Made Tasyarani
Facebook: Tasyarani Aca

Cerpen The Artist merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Untukmu

Oleh:
Rumah Cahaya, sebuah rumah dan juga rumah sakit yang berisi anak-anak dengan penyakit mereka, yang tidak mempunyai rumah dan orangtua. Di sini mereka tertawa, bermain dan belajar. Berjuang dan

Friendship Never Dies

Oleh:
Hai aku Magdalena. Aku senang sekali bisa bersahabat dengan Euniqe, Edenlya, Maria, Zefanya, Vorenza, dan Agnesia. Mereka sangat baik padaku. Aku bersahabat dengan mereka sejak kelas 1 SD. Saat

IIIRRRAAAHHH

Oleh:
“Sahabat” satu kata yang punya banyak arti, tempatmu mencurahkan segala yang kau rasakan, sedih, senang, susah, galau, suka dan duka. Tertawa bersama, menangis bersama dan melakukan banyak hal bersama-sama.

Arloji Pemberi Teman

Oleh:
Feby dan Via sedang bermain di pantai yang kebetulan dekat dengan rumah mereka. ya, mereka adalah anak nelayan yang tinggal di pinggir pantai. desa mereka bernama “Ikan Makmur”. memang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *