This Is Me

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Motivasi
Lolos moderasi pada: 22 November 2014

Begitu banyak ujian dalam hidupku, semakin lama semakin berat. Itu yang aku rasakan. Beberapa minggu sebelumnya ibuku menyusul kepergian ayahku ke sisi Tuhan. Sekarang aku harus ikhlas kehilangan kedua kakiku, dan… kehilangan orang yang akan menjadi pendamping hidupku.
Dia tidak ke sisi Tuhan, dia hanya berpaling ke sisi perempuan lain yang jauh lebih sempurna daripada aku. Aku tidak menyalahkannya, tidak menyalahkan keluarganya juga. Mereka berhak menolakku, karena keluarga terpandang seperti mereka tidak akan mau punya menantu cacat sepertiku. Satu yang aku sesalkan, kenapa hal ini terjadi padaku. Aku merasa seperti sedang diberi hukuman bertubi-tubi.

“Jangan melamun terus” suara itu membuyarkan lamunanku.
“Eh Putra, bukan melamun. Aku hanya rindu pada orangtuaku. Aku juga rindu padanya”
“Sabar yah. Uuum…”
“Kenapa Tra? Terus itu undangan apa?” Aku pun langsung mengambil undangan yang ada di tangan Putra, kakak sepupuku. Air mataku langsung berlinang melihat foto pasangan yang akan menikah itu. Di bagian depannya ada foto pre wedding yang sangat manis. Laki-laki yang menggandeng si perempuan dengan sepeda fixie dihiasi tawa natural dari keduanya.
“Dulu aku juga ingin melakukannya. Tapi karena kecerobohanku, aku harus tertabrak mobil dan semuanya berakhir” ucapku.
“Relakanlah dia. Kita diundang ke acara resepsi pernikahan Andy. Kamu bisa?”
“Ya. Walaupun dia membuangku, tapi dia orang yang pernah sayang sama aku. Kita hampir menikah”. Aku berusaha tersenyum. Karena tidak ada gunanya aku menangis lagi. Toh Andy tidak akan kembali padaku.

Aku melihat dekorasi tempat acara resepesi pernikahan mantan tunanganku. Acaranya bertema warna biru. Warna kesukaanku. Seandainya saja saat itu aku tidak kecelakaan, kakiku tidak akan diamputasi. Sesi foto prawedding itu akan berjalan lancar dan aku pasti sudah menikah. Hari ini mungkin aku tidak akan sesedih ini.

“Saya kira kamu tidak akan datang kemari” suara dengan nada angkuh itu sangat aku kenal.
“Jika kita diundang, maka kita harus datang. Itu yang disebut menghormati dan menghargai. Bukan begitu Ibu Jessi?” balasku dengan tatapan dingin.
Dia mendelik, kehabisan kata-kata dan langsung pergi berlalu.
Dulu Ibu Jessi, Ibunya Andy, sangat ramah padaku. Tapi saat dia tahu kakiku diamputasi, dia orang pertama yang membatalkan acara pernikahanku dengan Andy. Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Untuk kesekian kalinya aku harus merelakan orang yang ku sayangi pergi dariku. Di kejauhan aku melihat Andy menggandeng pasangannya berjalan mendekatiku.
“Bagaimana kabarmu Via?” sapa Andy dengan senyum hangatnya.
“Baik. Selamat atas pernikahan kalian. Semoga kalian selalu berbahagia” Kata-kata klise itu muncul dari bibirku. Aku berusaha menahan agar air mataku tidak jatuh. Mereka tampak sangat serasi. Pasangan yang sempurna.
“Terimakasih sudah datang ke acara ini. Semoga kamu menikmatinya ya” ucap pasangan Andy yang diiringi senyum lebar.
Mereka berlalu, membaur dengan tamu lainnya. Aku pergi dari acara itu, tanpa pamit pada mereka. Semua kebahagiaan mereka membuat hatiku hancur…

Minggu pagi aku sudah berada di pantai. Suara ombak dan hangatnya matahari membuat perasaanku damai. Disana aku melihat seorang lelaki dan perempuan sedang bertengkar. Tapi kata-kata dari si lelaki membuatku terpaku.
“Jika dia memang tulus mencintaimu dia tidak akan meninggalkanmu dalam keadaan apapun!! Dia harusnya menerima kamu apa adanya. Cinta itu masalah hati, bukan fisik. Kamu tidak gendut, kamu cantik. Kenapa kamu menyiksa diri agar menjadi seperti yang dia inginkan?!?”
Perempuan itu hanya menangis, dia sangat kurus, sepertinya dia melakukan diet yang terlalu ketat sehingga tubuhnya terlihat rapuh.

“Seandainya kecelakaan itu menimpaku setelah aku menikah, apa yang akan terjadi. Seandainya dia membuangku pada saat itu, bagaimana nasibku sekarang” batinku. Aku tidak menangis, aku tersenyum. Benar yang dikatakan lelaki itu. Jika tulus, harus bisa menerima pasangan apa adanya. Jika dia meninggalkanmu hanya karena fisikmu berubah, itu berarti dia mencintaimu dengan matanya, bukan mata hatinya.

“Aku mungkin tidak seperti dulu yang memiliki kaki jenjang. Tapi setidaknya aku masih bisa berjalan dengan kaki palsuku ini. Aku mungkin tidak jadi menikah tapi nanti aku yakin bisa mendapatkan yang terbaik. Inilah aku, dengan semua kekuranganku. Berharap bisa bahagia bersama jodohku kelak” batinku.

TAMAT

Cerpen Karangan: Ni Luh Juni Arini
Facebook: juniarini95[-at-]yahoo.com
Yes!! cerpen ketiga 😀

Cerpen This Is Me merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Tanjung Kamal

Oleh:
Sungguh. Kamal telah membulatkan tekadnya sendiri untuk memilih angkat kaki dari rumahnya. Hatinya lebih memilih meninggalkan ayahnya dan pergi bersama laki-laki yang ia cintai. Cinta Kamal pada kekasihnya sudah

Dream In My Life

Oleh:
Banyak manusia yang ingin dirinya selalu merasakan kesuksesan, tapi kenyataannya mereka hanya berbicara tanpa melakukannya. Aku putri. Hidup yang selalu bergantungan dengan mimpi. Selalu berkhayal untuk memiliki kehidupan sesuai

Luka Perjuangan

Oleh:
Mengapa memberiku alasan perpisahan? Bahkan di awalpun kau tak memberiku pertanyaan “Mengapa kau memilihku”. Coba ingat, berapa puluh kilo meter kita berjalan di atas kaktus? Berdiri dalam deras badai?.

Cincin Kenangan

Oleh:
Pagi ini Dira dibuat tertawa ria oleh Ririn, sahabatnya. Ia bercerita tentang banyak hal, tentang Mas Hendra yang udah gede tapi takut sama gelap, tentang Mini mouse lucu miliknya

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *