Yang Kau Sebut, Teman

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Motivasi, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 18 April 2016

Bak sebuah langgam lama. Bukan hilang dan pudar termakan usia. Melainkan makin mempesona klasiknya. Layaknya kenangan yang begitu indah terpatri, masa dahulu begitu indah terlewati. Semakin dalam menggurat kesan dalam hati. Ah, tapi apalah dayaku ini, yang hanya dapat mengenang kembali, tanpa pernah bisa datang pada saat itu lagi.
Fajar hari ini malu-malu berangkat dari naungannya. Dingin menusuk melambatkan tugas wajibnya. Sang embun pun enggan meninggalkan pucuk daun yang tengah kembang. Hujan semalam membuat riang para tumbuhan. Pagar besi tua belum juga terbuka, dan lampu bundar yang bercokol pada puncak gapuranya juga masih menyala.

– Ezra POV
Suasana begitu hening saat kayuhan pedal sepedaku berhenti di depan pagar sekolah. Hari masih begitu pagi. Bahkan Pak Nyoto, satpam sekolah, belum terlihat di pos-nya.
Aku menyandarkan sepeda pada salah satu tembok pagar. Duduk di kursi semen yang agak basah terdampak hujan semalam, juga embun yang begitu bersemangat menebar sejuknya. Dari kejauhan terlihat seorang bapak tua berseragam satpam. Berjalan dengan gagahnya, meski setengah abad sudah usia memakan tegap tubuh mantan prajurit negara itu. Pak Nyoto. Begitu ia biasa disapa oleh seluruh warga sekolah. Satpam tua yang nyentrik, juga begitu tegas menegakkan peraturan. Mungkin karena itu jugalah ia ditakuti sekaligus paling dianggap menjengkelkan, terutama oleh para siswa.

“Assalamualaikum, Pak,” sapaku saat beliau sudah cukup dekat.
“Waalaikumsalam. Sudah lama ya Mbak, datangnya?”
“Lumayan, Pak.” Dengan cekatan beliau membuka gembok pagar. Urat-urat tuanya menonjol pada punggung tangan yang kurus dan sudah terlihat keriput.
Ah, Pak Nyoto. Dirimu adalah simbol ketegasan, juga derita pejuang pada hari tua.

Jalan kenangan. Begitulah jalan itu disebut. Jalan yang menghubungkan area halaman, menuju berbagai tempat di area sekolah. Ya, jalan kenangan. Memang begitu banyak siswa, dan mantan siswa yang mempunyai kenangan pada jalan itu. Entah kenangan indah maupun yang tidak begitu indah. Kenangan saat bercakap-cakap sambil berjalan menyusuri jalan itu pun, sanggup mengukir kenangan. Ah, ingatanku tentu saja pada saat tiap hari menuntun sepeda melewati jalan ini menuju tempat parkir sepeda. Tahun ini, aku duduk di bangku kelas sepuluh di sebuah madrasah aliyah negeri di kotaku.

Madrasah tercinta, madrasah favorit, yang jadi impian setiap siswa yang akan melanjutkan pendidikan pada jenjang pendidikan menengah atas. Bisa bersekolah di sini bukanlah perkara mudah. Bayangkan saja, bila di sekolah lain hanya akan dilihat nilai akhirnya sebagai syarat penerimaan, di sekolah ini para calon siswa harus melewati tes masuk yang cukup berat. 125 soal dengan model bilingual test siap menanti siapa saja yang berani menguji kualitas dirinya dengan cara mendaftar di sekolah ini. Begitu indah dan manis mengenang berbagai perjuangan berat yang telah terlalui.

“Ezra!” sebuah suara membuyarkan lamunanku.
Seorang pemuda tanggung datang dengan kuda besinya. Kuda besi yang terkena busung lapar lebih tepatnya. Ia datang dengan menuntun sepedanya, menuju ke arahku. “Hai, tumben dateng pagi,” kataku memulai percakapan. Ia hanya tersenyum simpul sambil meletakkan sepedanya di samping sepedaku.
“Hari ini ada piket kelas. Tumben nggak bareng Oni sama Nila?”
“Iya, hari ini aku duluan. Lagi pengen menikmati udara kota yang sejuk.”

Jelal adalah teman sekelasku. Pribadinya menyenangkan, juga termasuk cerdas. Menurutku dia teman yang baik, meski kami jarang melakukan komunikasi di kelas. Maklumlah, aku ini termasuk pendiam di kelas. Meski begitu, kebiasaan diam itu sedikit demi sedikit mulai berubah ke arah yang lebih baik sejak aku masuk sekolah menengah atas. Mungkin karena usia dan kesadaran akan tanggung jawab jugalah yang mengubahku. Tapi, tak mengapa bila perubahan itu mengarah pada hal yang lebih baik. Aku bahagia.

“Ra, kamu udah ngerjain tugas kimia?”
“Aduh, aku lupa. Kan tadi berangkat pagi buat ngerjain tugas,” dengan penuh sesal, aku merutuki diriku sendiri. Dasar pikun. “Untung kamu ingetin. Yuk buruan ke kelas!” Aku memberi isyarat pada Jelal untuk mempercepat langkah. Namun, entah mengapa dia hanya mematung di tempatnya berdiri.
“Duluan deh. Aku mau ke toilet bentar.” Dengan nyengir ia berlari menuju toilet.
Aku hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan cowok satu ini.

Kegiatan di sekolah kami dimulai dengan doa dan kemudian mengaji bersama di masing-masing kelas, dengan dipandu seorang siswa yang bertugas membaca Al Qur-an pakai pengeras suara. Indah memang suasana pagi di sekolah kami. Tenang, tenteram, selalu ku rindu setiap waktu. Rindu waktu berserah yang begitu lumrah. Waktu religius yang hampir tidak terdapat di sekolah umum. Baru setelah lima belas menit mengaji, kami akan masuk jam pertama.

Yang juga menjadi adat kebiasaan, para guru yang memulai pelajaran dengan salam kemudian dijawab dan ditambah bacaan basmallah sebagai tanda mulai belajar. Saat pelajaran berakhir, setelah guru salam, kembali diteruskan dengan alhamdulillah. Pada jam istirahat, banyak siswa yang berjalan beriring ke masjid untuk menunaikan salat dhuha. Kemudian pada waktu duhur, kami shalat berjama’ah dengan seluruh warga sekolah. Indah. Begitulah rutinitas itu terus berjalan setiap hari, berputar dan menjadi adat yang selalu kami bawa hingga kapan pun juga.

Jam istirahat datang. Semua siswa dengan terburu-buru melenggang ke kantin. Anak-anak manusia yang kelaparan, yang sejak pagi harus memeras otak demi setitik ilmu. Aku sedang malas berdesak-desakkan dengan manusia kelaparan tersebut. Jadi ku putuskan untuk berdiam di kelas dan menuliskan beberapa bait puisi. Di balkon agak ke kiri dari ruang kelasku ada sebuah sudut yang begitu sejuk dan menjadi salah satu tempat favoritku saat menulis. Bila kalian berdiri dan menghadap ke arah timur laut, kalian akan mendapat pemandangan sawah yang begitu hijau, bila musim padi. Atau hamparan padang kuning bila tanaman padi siap panen.

Terkadang tanaman jagung, atau bahkan tebu yang akan kalian lihat. Entah mengapa dari hal-hal itu aku merasakan ketenangan yang amat sangat, kemudian aku dapat menulis dengan begitu bersemangat. Berdiam diri di tempat itu merupakan satu ritual yang tak boleh dilewatkan. Selain memandang hamparan sawah, dari sini bila kalian memandang lurus ke depan, akan terlihat langit biru dan awan berarak ditambah udara sejuk yang sepoi-sepoi menggoyang dedaunan. Ah, indahnya dunia kecilku bernama sekolah.

“Hayo, Ezra lagi ngapain? Bengong aja.”
“Ah, hehehe, nggak lagi ngapa-ngapain.”
“Duh, nggak jago deh buat bohong. Nulis lagi, ya?”
“Em,”

Seperti yang telah diketahui khalayak ramai, menulis puisi dan cerpen adalah hobi yang juga banyak disebut orang, sebagai bakatku. Entahlah. Semua mengalir begitu saja. Kata-kata bernada indah, berima, berirama, penuh dengan diksi. Aku tidak perlu menjawab berbagai pertanyaan yang muncul di kala aku menulis. Toh, kalian bisa melihat sendiri. Aku mungkin hanya dapat menulis. Kadang, banyak yang berkomentar bahwa aku aneh dengan kebiasaan menyendiri, berdiam, mengurung diri, serta lebih banyak menatap dan menghayati apa yang digelarkan oleh alam, di hadapanku. Aku bahagia dengan semua itu. Tapi, kegelisahan menghampiriku pagi menjelang siang ini. Sabtu ini aku harus mengikuti lomba menulis esai, artikel, juga karya tulis. Oleh karenanya hari ini aku serius untuk belajar menulis, yang tidak dari khayalan. Sulit juga ternyata.

“Bukan puisi, Ra?” Alma berkomentar saat dia menatap kertas yang sedari tadi masih kosong dengan main tittle, yang sengaja ku tulis, esai.
Aku hanya menggeleng. “Semangat, Ra. Ini new challenge buat kamu. Nggak usah dibuat beban.”
“Maunya juga kayak gitu, tapi ini demi nama sekolah. Aku takut.” Yah, beban berat sedang ku pikul sekian hari belakangan. Berawal dari keisengan Jelal, si ketua kelas, yang mendaftarkan namaku sebagai perwakilan kelas untuk lomba menulis esai. “Yah, udah terlanjur kedaftar, Ra. Udah, ikutin aja, ya. Lagian nggak ada salahnya juga. Oke!”

Seleksi tingkat sekolah hanya sebatas uji kemampuan penggunaan kata baku dan kalimat efektif. So, pada akhirnya akulah yang mewakili sekolah bersama dua orang kakak kelas. Rasanya aku ingin mundur saja dari lomba ini. Aku nggak mau bikin malu sekolah. “Ma, apa mundur aja, ya? kan masih banyak yang lebih bisa.”
“Hush, jangan. Kamu juga belum pernah nyoba, kan? Selama ini kamu belum pernah sama sekali nguji kemampuan menulis di area lain. Kamu masih di zona nyaman. Kapan kamu mau berkembang kalau masih di zona nyaman?”

– Author POV
“Duh, habis beban banget sih, Ma. Kalau bawa namaku doang sih, aku cuek aja. Tapi ini menyangkut harga diri sekolah kita, Ma.”
“Berat amat sih Neng omongannya.”
Tiba-tiba Jelal sudah berdiri di ambang pintu. Kini dengan sempurna menghadap Ezra dan Alma.
“Kenapa?” tanyanya retoris. Ezra yakin sejak tadi Jelal telah mendengar segala yang ia bicarakan dengan Alma.
“Nih orang masih nanya, udah tahu semua ini terjadi gara-gara dia.” Ezra hanya diam dan memasang tatapan seakan hendak mencaci-maki Jelal.

“Em, Ra. Aku ngantin dulu, ya. Dah.” Alma ngacir dari hadapan dua manusia itu. Alarm-nya mengatakan ia harus segera meninggalkan pra perang dunia. Ezra kembali mencoba memfokuskan diri pada kertas yang nangkring di pangkuannya. Tanpa menghiraukan Jelal yang telah berpindah duduk di sebelahnya. Dari sudut matanya, Ezra dapat melihat sekilas bahwa Jelal sedang serius menatapnya.

“Apa?” tanyanya ketus. Jelal menghela napas dalam-dalam.
“Niatku baik, Ra. Aku nggak asal aja waktu daftarin nama kamu. Aku nggak sekedar iseng. Aku serius karena aku yakin kamu mampu.” Jelal berbicara tanpa menatap Ezra.
Pandangannya lurus pada gugusan awan yang sedang berarak indah di langit.
“Maafin aku, Ra. Kalau tindakanku bikin kamu marah. Bikin kamu menderita dengan kegiatan tulis menulis itu.”
Jelal diam lama. Kembali fokusnya beralih pada Ezra. Yang jadi bahan tatapan kini sedang serius menggores pena. Sibuk dan bahkan tak mendengar tadi Jelal berkata apa. Saat itu juga Jelal ingin tertawa lepas. Tak mengerti serta gemas pada sikap Ezra. Akhirnya, hanya senyumlah yang berhasil tercetak pada wajah dan matanya.

“Lal, tadi ngomong apa?” tanyanya polos ketika selesai menulis satu folio penuh.
Yang ditanya hanya mengedikkan bahu. “Nggak apa-apa. Udah selesai nulisnya?”
“Udah sih, tapi nanti mau dikoreksi dulu EYD-nya. Takut nanti kena semprot parah kalau langsung dikasih pembina. Hehehe.” Ezra memamerkan senyum manisnya. Ezra sendiri selalu bingung dengan dirinya. Terkadang ia merasa begitu mampu melakukan sesuatu. Namun di sisi lain ia lebih banyak ragu pada kemampuannya sendiri bahkan tidak percaya diri. Entahlah itu penyakit datang dari mana.

Hari yang dtunggu tiba. Lomba menulis esai diadakan di gedung balai kota. Ratusan siswa SMA sederajat sejak pagi telah memenuhi aula balai kota. Ada yang duduk santai, ada pula yang tegang bukan main seperti Ezra. “Heh, ngapain sih mondar-mandir kaya setrikaan?” Lila yang sejak tadi memperhatikan tingkah laku Ezra jadi gemas sendiri dibuatnya. “Duh, nggak usah tegang kali, Ra. Lomba biasa juga. Kayak nggak pernah ikut lomba ginian aja.” Komentar Sinta.

Keduanya merupakan kakak tingkat Ezra. Yang terkenal nyablak dan selalu terang-terangan mengomentari suatu hal. Mereka memang terkenal di sekolah karena prestasi dalam bidang tulis menulis. Sedangkan Ezra. Iya, ini pengalaman pertamanya mengikuti lomba tulis menulis. Khususnya lomba esai. Sebelumnya ia hanya pernah mengikuti lomba menulis cerpen dan puisi, itu pun diadakan secara online.

“Ini emang pengalaman pertama, Kak.” Katanya polos.
“What? Sumpah lo?” keduanya serentak melongo.
“Beneran. Suer dah.” Keduanya geleng-geleng kepala.
“Makanya kemarin gue ngerasa aneh sama lo. Ternyata lo baru pertama. Ya udah sih, bawa santai aja. Anggep latihan. Jadi selama ini lo suka nulis yang kayak gimana? Yang santai gitu-gitu ya pasti?” tebak Sinta.

Ezra hanya mengangguk. Tak lama, terdengar pengumuman bahwa semua peserta harus memasuki ruangan untuk mengambil nomor dan lomba akan segera dimulai. Ezra mendapat nomor 15. Sinta dan Lila masing-masing mendapat nomor 35 dan 40. Sistem lomba tersebut adalah sekolah mengirim esai dari siswanya untuk diseleksi. Kemudian bila dinyatakan lolos, siswa harus datang ke balai kota. Di sini para peserta akan menulis esai 2000 kata secara spontan, dengan tema yang akan diberikan panitia saat itu juga. Waktu yang diberikan untuk menulis adalah 60 menit. Setelah sambutan dan sebagainya, lomba pun dimulai. Para peserta kini telah sibuk dengan pena dan kertas di meja masing-masing. Di mejanya keringat dingin Ezra mengucur deras. Ia mendapat tema, “Kebhinekaan dan Kearifan Lokal sebagai Tonggak Kemajuan Bangsa”. Tema yang sejatinya sudah ia bahas beberapa hari yang lalu dengan Jelal, sewaktu pelajaran Pendidikan Kewargnegaraan. Otaknya terasa buntu. Entah apa yang harus ia tulis.

“Aku mesti nulis apa? Otak kenapa tiba-tiba buntu gini sih?” runtuknya dalam hati.
Waktu telah berjalan 10 menit. Berarti 10 menit yang begitu berarti telah ia buang percuma.

“Ayo mikir.” Ia mencoba kembali fokus. Perlahan ia goreskan pena. Tapi sia-sia saja. Yang terbentuk hanyalah sebuah titik kecil. Di sebelahnya, seorang gadis berambut pendek sedang serius dengan kertasnya yang kini sudah sampai lembar kedua. Gadis itu menulis seperti tanpa beban dan sesekali menggerakkan kepala ke kanan dan kiri. Lama Ezra menatap gadis itu. “Kamu mah suka gitu, Ra. Nggak yakin sama diri sendiri. Pede aja kenapa sih? Apa-apa dibawa beban. Dikit-dikit mikir sampe baper. Kapan kamu mau maju, he? Santai aja kenapa sih? Cepet tua tau kebanyakan serius.”

Deg. Gadis itu seketika mengingatkannya dengan kata-kata Jelal. Dia selalu protes jika Ezra terlalu serius menghadapi suatu hal. Tidak bisa diajak santai. Dan beginilah dirinya saat ini. Terlalu merasa lomba ini adalah beban. Pelan-pelan senyum tipis terbit dari bibirnya. Dengan semangat yang pelan-pelan menyala, ia mulai menulis. Apa saja yang ia pikirkan. Ia tidak mau menulis dengan kalimat-kalimat yang kaku. Sebaliknya, ia sedang membayangkan menulis cerpen setengah serius. Jadilah 6 lembar penuh kini sudah bertengger manis di depannya. Tepat satu menit sebelum bel tanda berakhirnya lomba.

“Fiuh, lumayan pegel juga tangan gue. Lo gimana, Ra? Kayaknya cengar-cengir aja. Yakin juara nih kayaknya?” Sindir Lila. “Hehe nggak tahu juga, Kak Lil. Tadi bener-bener aku anggep santai nggak kayak lomba. Entahlah hasilnya. Aku bener-bener ngerasa puas banget tadi.” Ezra begitu ceria menceritakan pengalamannya di ruangan tadi.
“Syukur deh. Gue tadi udah cemas kalau lo mau nyerah. Habis ini kan pengumuman, dapet hadiah kan. Jadi, yang hari ini dapet juara harus teraktir bakso kantin gimana? Setuju?” Sinta dengan antusias mengajukan perjanjian.

“Tahu deh yang yakin banget bisa menang.” Protes Lila.
“Berani nggak?” Sinta melirik jail pada Ezra dan Lila.
“Oke. Aku setuju.” Ezra antusias.
“Apaan sih lo, Ra. Nggak ah. Kalau gue menang duitnya mau gue pake sendiri.”
“Ah elo nggak asyik Lil.” Sinta dengan sewot menimpali.

Pengumuman pemenang akan segera dimulai. Setelah ishoma, semua peserta berkumpul kembali di aula. Semua harap-harap cemas. Satu per satu nama pemenang disebutkan. Mulai dari juara harapan 3. Ezra berhasil menjadi juara harapan kedua. Rasa haru memenuhi dadanya. Sedangkan Sinta harus puas hanya memperoleh juara 3, dan Lila hanya mendapat juara dalam kategori judul paling menarik. Ya, akhirnya mereka bertiga sepakat untuk menyisihkan sebagian uang hadiah untuk disumbangkan, dan tidak jadi melaksanakan acara traktir-mentraktir karena ketiganya sama-sama mendapat juara.

“Cie, yang dapet juara mengharap.” Jelal menggoda Ezra yang sedang makan di kantin bersama Amel.
“Udah puas-puasin deh ngejeknya. Hari ini aku bakal dengan ikhlas diem dan dengerin.” Katanya mengacungkan jarinya hingga membentuk V sign.
“Ahahaha… Aku seneng kamu kemarin menang.” Jelal berkata dengan tulus.
“Ini juga berkat kamu yang udah dengan seenak semaunya daftarin. Makasih ya, Jelal. Udah sekarang kamu pesen makanan gih. Aku yang bayarin. Anggep aja sebagai syukuran dan terima kasih.” Ezra berkata tulus. Jelal hanya tersenyum sekilas.

“Nggak perlu. Aku ngelihat kamu seneng aja udah cukup. Nggak perlu pake nraktir segala. Lagian aku nggak pernah ngarep apa-apa dari kamu. Udah, pokoknya kamu harus terus semangat, pede, dan santai. Inget, santai. Serius boleh, tapi santai juga perlu. Udah anggep aja dengan kamu selalu percaya diri dan yakin bisa, adalah balasan buat buat aku. Ok! Eh, udah ye aku mau ke lapangan basket dulu. Bye. Baik-baik lo.” Jelal beranjak pergi dan melambai pada Amel dan Ezra.
Ezra dan Amel masih melongo. Terpaku dan terpukau oleh kata-kata Jelal.
“Ra, temen dia itu nggak lagi kesambet, kan? Tumben omongannya bening kayak begitu. Wah, bener-bener sahabat sejati itu orang.” Gumam Amel.
“Sahabat.. sejati?” batin Ezra.

Cerpen Karangan: Ashfi Raihan
Blog: toknowthefuture.blogspot.com

Cerpen Yang Kau Sebut, Teman merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Love The Hiking

Oleh:
Andi adalah anak sekolah asal SMP 4 Tanjung Raya. Hari itu di SMP-nya saat hendak pembagian raport yaitu ada kegiatan hiking. Andi ditunjuk jadi ketua regu oleh teman-temannya karena

Love Crazy

Oleh:
Teriknya sinar matahari siang ini menambahkan stres untuk siswa SMA yang sedang ulangan kimia dengan guru killer yang sedang mengawasi siswa-siswinya. Vany dan teman sebangkunya yang sedang menyontek di

Dia Sosok Yang Hebat

Oleh:
Ketika teman, sahabat bahkan orangtua sedang tidak mempedulikanku. Dia, orang yang selalu ada menyemangatiku bahkan membiarkanku menangis untuk mengeluarkan semua keluh kesahku. Mengenalnya bagiku adalah sebuah kado terindah dalam

Cinta Yang Tak Terbalas

Oleh:
Namaku Nayla Cantika Maulana.. kalian bisa memanggilku nay. Aku bersekolah di sekolah Swasta, sekolah itu baru memiliki 8 angakatan yaa bisa dibilang sekolah baru. Di sekolah aku Duduk di

Kesedihan, Rasa Sakit, Persahabatan

Oleh:
Mentari pagi bersinar cerah hari ini menyilaukan mataku seakan memaksaku untuk bangun dan melakukan aktivitas yang paling kubenci, apalagi kalau bukan sekolah. Aku menarik selimut dengan malas dan segera

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *