Arti Yang Sesungguhnya

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Anak, Cerpen Nasihat, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 22 March 2013

Pada suatu hari ada lima sahabat. Mereka slalu bersama. Mereka memang cantik-cantik, mapan (kaya) dan sangat populer di sekolahnya tapi sayangnya mereka sombong dan angkuh. Saat mereka pergi ke kantin mereka melihat anak yang sangat culun.
“Sila lihat anak culun itu, tempat itu kan milik kita!” kata Nita sambil melirik anak culun itu.
“Hei! anak culun!” bentak Sila
“Saya?!” heran Tasya (anak culun)
“Yaiyalah, memang siapa lagi kalau bukan loe, memang disini ada anak culun lain” bentak Sila
“Memangnya ada apa?” tanya Tasya
“Disitu tempat kita!” jawab Sila
“Oo…! kalau gitu tunggu dulu ya aku mau habisin makanan ku dulu, tenang aja tinggal dikit kok!” kata Tasya.
Huh…! nyebelin banget sih ni bocah, nyuruh gue berdiri nungguin dia makan! kata Sila dalam hati.
“Hah…! akhirnya kenyang juga. Oo… iya! aku sampai lupa kalau kalian ada disini, silakan duduk tuan putri” kata Tasya menyindir
“Huh… dasar, nyebelin banget tu bocah pengen gue hajar aja…!” kata Sheila
“Bener itu, bikin gue naik darah aja..” lanjut Nia
“Yaudahlah nggak usah di bahas lagi, mending kita makan aja yuk.. “ kata Nita
“Ya bener itu kata Nita…makan aja dulu, ngomelnya nanti “ kata Rani
“Yaudah yuk makan aja..” kata sila

Kring…kring… bel berbunyi tanda pulang sekolah, Tasya dan Tira (sahabat Tasya) berkemas kemas sebelum mereka pulang. Saat berada dijalan mereka melihat ayah Sila di kroyok oleh tiga orang pemuda yang berbadan kekar.
“Tira lihat itu!” kata Tasya
“Lho itu kan om Danu papanya Sila!” jawab Tira
“Ayo kita bantu om Danu!” kata Tasya
“Tapi bagaimana caranya, mereka itu badannya besar besar?!” jawab Tira
“Gimana kalau kita kumpulin warga buat bantu om Danu” saran Tasya
“Yaudah kalau gitu, ayo” ajak Tira.
“Tolong… tolong…!” teriak mereka bedua, banyak warga berdatangan.
“Ada apa?!” tanya seorang warga
“Ada orang yang dikroyok di dekat kebun” jelas Tasya
“Kalau gitu ayo kita kesana” ajak salah satu warga.

Mereka pun segera kesana. Setelah warga menolong om Danu, om Danu dilarikan ke R.S.U terdekat. Setelah om Danu ditangani oleh Dokter beberapa menit kemudian Sila datang
“Pasti kalian yang nyebapin bokab gue kayak gini kan!?!” bentak Sila
“Nggak kok Sil bukan kita justru kita yang nyelametin om Danu dari kroyokan orang orang” jelas Tasya
“Alah, gak usah alasan deh!” bentak Sila
“Gimana sih kamu, tanya terus di jawab eee… malah marah-marah gitu. Kalau kayak gini mending tdi gak usah kita tolngin aja om Danu. Udah di tolongin bukannya terimakasih tapi malah marah-marah nggak jelas gitu.!” kata Tira dengan nada yang tinggi
“Loe berani sama gue.. mau gue hajar, iya !” bentak Sila
Tiba-tiba dokter pun keluar.
“Diantara kalian siapa keluarga dari Pak Danu?” tanya Pak Dokter
“Saya dok, saya anaknya Pak Danu. Bagaimana kondisi Papa saya dok?” jawab Sila
“Begini, kondisi pak Danu tidak apa apa hanya luka sedikit saja!” jelas Pak Dokter
“Apa papa saya bisa langsung dibawa pulang dok?” tanya Sila
“Tentu saja bisa” jawab Dokter
“Terima kasih dok” kata Sila
“Sama sama, itu memang sudah tugas saya untuk menyelamatkan Pak Danu” kata Dokter.

Keesokan harinya saat Tasya berkumpul dengan semua teman temannya di halaman sekolah tiba tiba Sila, Nita, Sheila, Rani, dan Nia datang
“ehm…ehm…“ sindir Sila
“Ada apa Sil?” tanya Tasya
“Gue rasa itu tempat gue deh, ya gak sih!” kata Sila
“So! Pasti” kata Sheila
“Loe dengerkan! jadi lebih baik loe pergi sekarang juga!” kata Sila
“Kenapa kalian gak duduk bareng kita aja kan tempat duduknya masih luas dan cukup buat kalian berlima!” usul Tasya
“Makhsud loe! Gue duduk bareng kalian. Ogah banget deh, mending duduk sama kebo dari pada duduk bareng kalian!” cela Sila
“Eh jaga ya jaga ya mulut kamu, heran deh aku kenapa sih di dunia ini ada aja orang kayak kamu dan temen-temen kamu itu.. sejak kemarin bikin orang sebel aja” bentak Tira
“Loe berani bentak gue… lagian mau gue nyebelin atau gak itu bukan urusan loe.” jawab Sila
“Bener tu… lagian masalah buat gue, bokab gue, nyokab gue, keluarga gue.. enggakkan jadi gak usah sok deh loe..” Lanjut Rani
“Udah dong, kok malah berantem sih. Yaudah deh kalau gitu kamu boleh duduk disini, ayo temen-temen kita baca buku di perpus aja yuk!” ajak Tasya
“Tapi sya kita yang duluan duduk disini kenapa kita harus pergi harusnya mereka yang pergi!” bantah Tira
“Udahlah Ra kita ngalah aja dari pada urusannya tambah panjang mending kita ngalah!” jelas Tasya
“Eh denger ya, kali ini kalian menang tapi lain kali jangan harap!” cela Tira
“Sok banget sih dia!” cela Sheila
“Emang, tapi gue masih bingung kenapa si Tasya itu selalu ngalah sama kita?!” kata Sila
“Dia tu bukannya ngalah tapi takut sama kita, kitakan populer dan terkenal pasti mereka gak mau berdebat sama kita karena mereka takut kena hukuman dari kita!” jelas Sheila
“Betul itu mana ada sih anak sini yang gak tahu hukuman karena berurusan sama kita lagi pula dia pasti cuma mau cari muka didepan kita aja!” lanjut Nita
“Yaudah lah gak usah diurusin, gak penting tau gak!” kata Nia.

Saat Tasya dan Tira berjalan menuju perpustakaan
“Sya kenapa kamu tadi biarin mereka nempatin tempat duduk kita?” tanya Tira
“Ya seperti tujuanku!” jawab Tasya
“Maksud kamu?” Tanya Tira heran
“Aku cuma mau berteman sama mereka” jawab Tasya
“Terserah kamu deh!” cetus Tira
“Tapi kamu tenang aja karena kamu bakalan tetep jadi sahabat terbaik aku!” jelas Tasya
“OKE! Tapi kamu harus janji sama aku kalau kamu gak bakalan lupain aku!” kata Tira
“Aku janji deh sama kamu!” kata Tasya sambil memeluk Tira.

Setelah pulang Sila, Nita, Rani, dan Nia berkumpul di rumah Sheila, saat mereka menonton televisi tiba-tiba ada Papa Sila dan diberitakan bahwa Papanya berkorupsi di kantornya sendiri dan disaat itu juga Sila, Nita, Rani, Sheila, dan Nia kaget dan tak percaya itu semua
“Sil apa itu semua bener?” tanya Sheila
“Gak mungkin itu terjadi, bokab gue gak mungkin kayak gitu loe tahu sendirikan gimana bokab gue jadi gak mungkin bokab gue lakuin itu semua!” jawab Sila
“Tapi disini dikatakan beda, kalau bokab loe tukang korupsi!” kata Sheila
“Gue gak nyangka kalau bokab loe kayak gitu, mulai saat ini persahabatan kita putus gue gak mau temenan sama anak tukang korupsi kayak loe!” lanjut Nita
“Tapi, gak mungkin bokab gue kayak gitu kalian harus percaya sama gue!” jelas Sila pada teman-temannya yang meninggalkan dia sendiri.

Saat sampai di rumah Sila melihat Mamanya menangis dan Sila pun menghampiri Mamanya
“Mama kenapa, apa karena Papa?!” tanya Sila
“Jawab ma jangan diam aja!” lanjut Sila
“Papa kamu tadi di bawa ke kantor polisi!” jawab Mama Sila
“Tu iyakan ini semua pasti gara-gara Papa!” kata Sila
“Tapi ini bukan salah Papa kamu!” kata Mama Sila
“Terus, kalau bukan salah Papa salah siapa lagi, gara-gara Papa di tuduh korupsi semua temen-temen aku jauhin aku ma!” kata Sila dengan kesal
“Ya nak Mama tahu, tapi Mama yakin kalau Papa kamu itu nggak bersalah!” kata Mama Sila
“Tapi semua itu belum cukup buat bebasin Papa, bikin temen-temen aku percaya lagi sama aku dan bikin harga diri aku balik lagi!” kata Sila
“Ya nak maafin Mama dan Papa udah bikin kamu di juhin temen-temen kamu dan sudah bikin kamu malu!” kata Mama sambil meminta maaf pada Sila
“Yaudahlah gak usah di bahas lagi, buang-buang waktu!” kata Sila sambil meninggalkan Mamanya.

Keesokan harinya saat Sila berangkat ke sekolah semua orang yang ada di sekolah melihat Sila seperti orang asing yang tak di kenal dan ada juga yang berbisik-bisik melihat Sila, Ada apa ini, kenapa mereka sema melihatku seperti itu. Apa ini semua karena berita di televisi kemarin?! Fikir Sila dalam hati. Saat teman baik Sila lewat, Sila pun menyapa mereka berempat tetapi mereka tak menghiraukan Sila dan menganggap Sila tak ada dan saat itu pula Tasya pun datang menghampirti Sila
“Aku tahu perasaan kamu sekarang pasti sedih banget!” kata Tasya
“Loe…! Ngapain loe kesini?!” kata Sila
“Aku kemarin liat berita di televisi kalau papa kamu dituduh sebagai koruptor dikantornya sendiri!” jelas Tasya
“Terus apa hubungannya loe ada disini?” tanya Sila
“Ya, aku pikir pasti kamu bakalan di jauhin mereka berempat! jadi aku kesini buat nemenin kamu biar nggak kesepian!” jawab Tasya
“Sotoy banget sih loe, mereka bukannya jauhin gue tapi mereka lagi buru-buru jadi nggak sempet buat nyapa gue atau mungkin saking buru-burunya mereka gak liat gue lagian gue lagi nggak butuh temen karena gue lagi nggak kesepian!” jelas Sila
“Tapi aku lihat mereka biasa aja, nggak ada buru-burunya!” kata Tasya
“Terserah loe aja lah mau ngomong apa, gue nggak peduli, buang-buang waktu !” kata Sila sambil meninggalkan Tasya.
Pada waktu Sheila, Nia, Rani dan Nita makan di kantin Sila datang dan menghampiri mereka.
“Hai guys, gue boleh gabung nggak?!” tanya Sila pada teman-temannya yang sedang bercanda tawa
“Ngapain loe ke sini?” tanya Nia kembali
“Gue mau minta maaf sama kalian!” jelas Sila
“Soal apa?” tanya Sheila
“Ya soal berita kemarin!” kata Sila
“Emang harus? lagian berita yang mana?!” Kata Sheila
“Berita yang kemarin masak loe lupa sih atau loe pura-pura lupa?!” kata Sila dengan heran
“Kalau ya kenapa? loe mau marah, iya?!” tanya Sheila dengan keras
“Nggak, siapa bilang gue marah?! justru gue mau minta maaf sama loe semua!” jelas Sila pada teman-temannya
“Gue nggak butuh maaf dari loe, NGERTI!?” bentak Sheila pada Sila
“Gue mohon maafin gw!” mohon Sila
“Apa? maafin loe atas perbuatan dari bokab loe yang udah malu-mluin kita semua karena udah temenan bahkan sahabatan sama anak tukang korupsi kayak loe?! gue sama yang lain belum gila buat temenan sama anak tukang korupsi! kalau gue sama yang lain temenan sama loe, ntar malah loe porotin kita lagi!?” kata Sheila sambil menyindir Sila
“Kalau loe mau selamat mendingan loe pergi dari sini!” lanjut Nita sambil menyuruh Sila pergi.
Lalu Tasya pun datang menghampiri Sila dan yang lainnya
“Kalian itu kenapa sih sama temen sendiri kayak gitu?!” kata Tasya pada Sheila, Rani, Nia dan Nita
“Apa loe bilang tadi? temen? temen dari mana coba, orang yang namanya Sila itu sekarang bukan temen kita lagi!” Kata Sheila pada Tasya
“Tapi kalau kalian udah gak temenan sama Sila lagi bukan berarti kalian musuhin dia dong! ” tanya Tasya
“Ya terserah gue! Emang siapa loe pakek ikut campur lagi!” tanya Sheila kembali
“Karena aku temennya Sila!” jawab Tasya
“Ow, jadi habis putus persahabatan sama kita loe temenan sama anak culun ini? kasihan banget hidup loe!” kata Nita
“Jangan dengerin dia, dia itu cuma ngarang aja! loe apa-apaan sich ngomong kayak gitu?!” kata Sila
“Udah lah kita pergi aja yuk dari pada ribut sama orang nggak level gini!” kata Tasya menyindir Sheila dan yang lain
“Tapi…tapi…tapi…?!” Kata Sila menghentikan teman-temannya yang berjalan keluar
“Loe itu apa-apaan sih?! Pakek ngaku-ngaku jadi temen gue! mau loe apa ?!” tanya Sila sambil memarah-marahi Tasya
“Aku kasihan liat kamu di maki-maki sama temen kamu sendiri!” jawab Tasya
“Gue nggak butuh belas kasihan loe ! Gara-gara loe harga diri gue turun di hadapan mereka” Kata Sila
“Karena aku harga diri kamu turun!” tanya Tasya
“Yaiyalah gara-gara loe..” jawab Sila
“Sil kamu sadar nggak sih justru apa yang kamu lakuin tadi udah bikin harga diri kamu diinjek-injek sama mereka! sebenernya bagus kalau kamu minta maaf sama mereka, tapi kalau mereka memamg bener-bener sahabat sejati kamu pasti mereka bakal maafin kamu dan terima kamu apa adanya dengan keadaan kamu yang sekarang ini. Bukannya malah musuhin kamu, NGERTI” kata Tasya dengan nada suara yang tinggi
“Astagfirullah. Maaf aku dah bentak kamu, aku cuma pengen kamu sadar aja atas perbuatan kamu! sekali lagi aku minta maaf ya!?” Kata Tasya.
Air mata Sila pun mengalir dan raut mukanya seperti orang yang sedang kebingungan lalu Sila pergi meninggalkan Tasya sambil menangis.

Lalu pada malam hari Tasya menelfon Sila yang sedang mengerjakan tugas
“Hi… lagi apa nie?” kata Tasya pada waktu menyapa Sila di telefon
“Nie siapa ya, malem-malem telfon?” tanya Sila
“Masak lupa sih..! aku Tasya…!” jawab Tasya
“Ngapain loe telfon gue?” tanya Sila
“Ya cuma iseng aja, kamu lagi apa nie?” kata Tasya
“Mau tau aja urusan orang!” kata Sila dengan betek
“Kelihatannya betek buanget? pasti gara-gara tugasnya pak Karno (guru di sekolahnya)!?” kata Tasya sambil menebak-nebak
“Kalau ya kenapa? kalau gak kenapa?” kata Sila
“Kalau ya ntar aku bantuin, ya tapi kalau nggak ya udah!” kata Tasya
“Gue gak butuh bantuan loe!” kata Sila sambil membentak Tasya
“Yaudah kalau gak butuh, gak apa apa kok! ntar kalau ada yang susah telfon aja ya! met mengerjakan tugas!” kata Tasya.
Lalu Sila pun menutup telfonnya dan mengerjakan tugas kembali. Tak lama kemudian Sila kebingungan mengejakan tugasnya, lalu dia teringat perkataan Tasya pada saat di telfon Masak gue minta bantuannya si Tasya itu sih!? kata Sila dalam hati Tapi kalau gue minta bantuan ke si Tasya sama aja gue nurunin harga diri gue di depan dia, duh gimana ya?! kata Sila dalam hati Gak apa-apa deh dari pada gak ngumpulin terus dapet hukuman, mending gue minta bantuannya Tasya! kata Sila dalam hati. Lalu dy menelfon Tasya “Sya gue mau minta maaf, loe mau kan bantuin gue bikin tugas? please!?” Kata Sila sambil memohon pada Tasya untuk membantunya
“Ok, kamu tunggu aku ya bentar lagi aku datang!” kata Tasya
“Tank’s ya Sya?!” kata Sila
“Ocky docky!” kata Tasya.

Tak lama kemudian Tasya sampai di rumah Sila
“Udah dateng loe?!” kta Sila
“Seperti yang kamu liat sekarang! Ow…ya mana soal yang kamu bilang susah tadi?!” tanya Tasya
“Yang ini-ni!” jawab Sila
“Oww… yang ini, aku kasih contoh soal dan cara ngerjainnya dulu terus nanti kalau dah paham kamu bisa kerjain sendiri tanpa aku, OK?!” kata Tasya
“Terserah loe aja deh!” kata Sila
“Ok..! kalau gitu!” kata Tasya sambil mengajari Sila bagaimana cara mengerjakannya. Nie anak baik banget sich ma gue padahal gue tu dah jahat ma dia tapi dia selalu maafin gue dan gak pernah marah ma gue, andai aja Sheila, Rani, Nia dan Nita kayak Tasya…!? duh apa-apaan sih gue mikir kok aneh-aneh, Tasya ya Tasya dan mereka ya mereka kenapa aku harus banding- bandingin mereka?! Sila…Sila loe tu begok banget sih si Tasya jelasin cara ngerjain tugas ini malah mikir yang aneh-aneh kayak gini!? kata Sila dalam hati
“Gimana Sil dah paham pa belum?!” tanya Tasya pada Sila yang sedang melamun
“Sil…Sila!?” kata Tasya yang sedang menyadarkan Sila dari lamunannya
“Ya ada apa Sya?!” kata Sila dengan nada suara yang kaget
“Diajarin malah melamun! kamu dah paham apa belum?!” tanya Tasya
“Paham tentang apa?” tanya Sila kembali
“Ya ampun masa lupa sih? tentang tugas dari pak Karno tadi!” jelas Tasya
“Sorry gue lupa! loe mau kan ngajarin soal ini sekali lagi buat gue, please!?” kata Sila sambil memohon pada Tasya
“Yaudah aku ajarin lagi, tapi jangan melamun lagi!” kata Tasya
“Ok! siap bozz!” kata Sila dengan nada suara senang, lalu Tasya menjelaskan kembali bagaimana cara mengerjakannya.

Pada keesokan harinya Sila, Tasya dan Tira pergi ke kantin bersama-sama. Saat mereka makan di kanti Sheila dan ketiga temannya datang
“Hi guys kalian pernah denger apa nggak kalau di sekolah kita itu ada anak yang bokabnya tukang korupsi, pastinya kalian semua pernah donk…!” kata Sheila sambil menyindir Sila
“Duh hawanya panas banget sih kalian berdua ke panasan gak?!” kata Tira yang sedang menyindir Sheila dan ketiga temannya
“Ya nie panas banget! jadi gak nafsu makan nie! mending pergi ke perpus yuk dari pada disini hawanya jadi panas kayak deket-deket sama api yang berkobar! ya gk Sil?!” kata Tasya yang juga menyindir Sheila dan yang lainnya
“Sebenernya sih…!? emmmm… AW!?” kata Sila yang sedang bingung menjawab dan menahan sakit di kakinya karena diinjak oleh Tasya
“Tu ya kan, Sila tadi juga jawab ‘ya’!” kata Tasya yang sedang menginjak kaki Sila agar berhenti bicara
“Yaudah kita pergi yuk!” ajak Tira
“Ayo…ayo!” jawab Tasya yang sedang menarik Sila keluar kantin.
Lalu mereka bertiga keluar dari kantin

“Tadi ngapain loe injak kaki gue? Sakit tau nggak” Tanya Sila pada Tasya
“Sorry?! tadi aku injak kaki kamu biar kamu berhenti bicara!” jawab Tasya
“Tapi gue kan belum selesai ngomong!” kata Sila
“Justru itu sebabnya!” kata Tasya
“Maksud loe?” kata tasya dengan heran
“Sebelum aku jawab pertanyaan kamu aku mau tanya dulu ke kamu, kamu masih pengen temenan lagi sama merekakan? jawab aja yang jujur!” kata Tasya
“Jujur gue masih pengen temenan sama mereka!” kata Sila
“Tu ya kan, kamu pasti masih pengen temenan sama mereka!” kata Tira
“Trus apa hubungannya?” kata Sila heran
“Ya ada lah hubungannya! Ntar kalau kamu jawab ‘nggak’ sama aja kamu jatuhin harga diri kamu!?” kata Tasya
“Udahlah gak usah di bahas yang udah terjadi! Mending kita ke kelas atau ke perpus!” usul Tira
“Ke taman aja yuk!” ajak Sila.

Saat di perpus Tasya, Tira, Mira dan Laras sedang membahas tentang mading yang akan mereka buat. Tidak lama kemudian Sila datang menghampiri mereka berempat
“Hi, gue boleh gabung?” kata Sila
“Boleh kok!” kataTasya
“Lagi bahas apa?” tanya Sila
“Lagi bahas tentang mading!” jawab Laras
“Ooww…!?!” kata Sila.

Pada malam harinya, saat Sila menonton TV muncul sebuah berita bahwa papanya bebas dari penjara.
Pada kesokan harinya saat Sila datang di Sekolah Sheila, Nita, Nia dan Rani menghampiri Sila. Pada saat itu juga adalah hari pameran mading terbaik di sekolahan
“Gue yakin banget kalau Bokab loe itu gak bersalah” kata Sheila
“Gue juga nganggep gitu kok!” kata Rani
“Kita juga kok!” kata Nia dan Nita. Saat Sila dan keempat temannya berjalan bersama Tasya datang
“Hi Sil?!” sapa Tasya pada Sila
“Hi!” jawab Sila
“Sil loe ngapain jawab dia gak penting tau, pergi yuk!” kata Sheila sambil menarik Sila pergi dari hadapan Tasya.
Saat pameran maddin, karena acara ini mengambil Tema tentang pengalaman Sila diminta berpidato untuk menutup acara pameran mading.
“Assalamu’alaikum wr.wb” salam Sila
“Wa’alaikumsalam wr.wb” jawab para siswa dan siswi disitu
Sambil menghela nafas
“Selama saya disini banyak sekali pengalaman yang saya dapatkan. Dari pengalaman yang indah dan manis sampai pengalaman yang pahit. Dulu pernah saya mengalami sebuah musibah atau masalah yang mungkin membuat kepercayaan kalian pada saya menjadi hilang. Dan saat saya merasa di kucilkan disini, tanpa saya sadari ada seorang penolong yang baik hati dan selalu mempercayai saya. Orang yang selama ini pernah saya tindas dan saya musuhi, justru dia yang selalu ada untuk saya. Dan menganggap saya seperti sahabatnya sendiri dia adalah Tasya Novia dan Tira Adila. Mereka adalah orang-orang yang selalu ada untuk saya, saat yang lain menjauhi dan meninggalkan saya mereka adalah orang yang selalu ada disisi saya. Sebelum mengenal mereka saya sudah mempunyai sahabat yaitu Sheila, Nita, Nia dan Rani. Disinilah saya mengerti arti persahabatan yang sesungguhna. Kalian semua adalah sahabat terbaik diantara yang terbaik. Terimakasih…”
Saat Sila berpidato semua orang disitu luluh hatinya karena isi pidato itu menceritakan tentang kisahnya di tinggal oleh seorang sahabat dan akhirnya mendapat seorang sahabat sejati.

Karena Pidato Sila itulah Sheila, Rani, Nia dan Nita sekarang menjadi baik dan mau bergaul dengan siapa pun termasuk dengan Tasya dan Tira. Tanpa melihat materi tapi melihat dari hati.

-SELESAI-
Bila berteman dengan seseorang
jangan melihat dari fisik dan materi
tapi lihatlah dari hatinya.
Karena hati akan selamanya
berkata JUJUR & BENAR
sedangkan mulut tidak selamanya
berkata JUJUR & BENAR!

Cerpen Karangan: Salsabila Nakhwahul ‘Azizah
Facebook: Nakhwa Sabila

Cerpen Arti Yang Sesungguhnya merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sahabat Sejati Selamanya

Oleh:
“Alya!” ujar Lyssa, Flora dan Annie bersamaan. “Iya apa?” tanyaku. Eh iya! Kenalin namaku Alyandita Sandy Aulia. Panggil aku Alya. Aku kini bersekolah di General Elementary School (disingkat: GES)

Ini Hanya Fantasi

Oleh:
Pagi itu Bery sedang duduk santai di bangku taman dekat rumahnya, sambil menulis buku karangannya yang berjudul hanya fantasi, tak lama kemudian sesuatu yang aneh terjadi di balik semak

Tak Sadar Diri Tak Punya

Oleh:
Nama penuhku Raja Faizal Muslim bin Abdullah bin Raja Mustafa Muslim -nama yang cukup jarang didengar. Aku orang Melayu. Kampung lahirku bernama Teluk Kangkung, salah satu kampung terpencil di

Tantangan Nyonya Barti Koki

Oleh:
Suatu hari di pasar ada pengumuman “hmm baiklah di istana akan diadakan lomba memasak dan koki istana nyonya Barti akan menjadi tuan rumah yang ingin mendaftar silakan ke istana

Liburan ke Solo

Oleh:
Halo, namaku Fanny. Aku tinggal di Jakarta. Aku anak tunggal, dan aku mempunyai rambut keriting lebat atau disebut juga “Kribo”. Ayah dan ibuku mengatakan bahwa itu anugrah. Padahal, di

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *