Belajar Menerima Nasihat Dan Pendapat

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Nasihat, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 19 July 2016

Di suatu malam yang sunyi terdengar suara seorang anak yang sedang berlatih bernyanyi untuk sebuah perlombaan.
“Randi… kamu belum tidur udah malam ini, loh” sahut sang ibu.
“Bentar lagi lah bu. perlombaanku tinggal 2 minggu lagi nih!!!”
Mereka terus membicarakan hal itu sampai-sampai terjadi keributan. Dan tanpa disangka ayah datang dan melihat Randi melawan ibunya
“Ada ribut-ribut apa ini?” tanya sang ayah
“Ini nih, yah… si Randi sampai-sampai dia lupa waktu” jawab ibu
Lalu sang ayah pun menasihati Randi. Tapi terlihat Randi acuh tak acuh dengan nasihat ayahnya.

Pagi harinya fia pergi ke sekolah, dia pun bertemu dengan sudirman. Dia pun hendak menceritakan semua hal yang terjadi semalam kepada Sudirman.
Man.. man… tahu nggak semalam aku dimarahi orangtuaku, nih!” kata Randi
“Kenapa bisa begitu, ya…?” tanya Sudirman.
“Begini Man… semalam itu aku dimarahin orangtuaku karena aku terlalu asyik ngafal sampai-sampai aku lupa membantu orangtuaku dan ngerjain pr” jawab Randi.
“O.. o… o… jadi begitu ceritanya, kamu juga sih kalau ingin tidak dimarahin orangtuamu lagi kamu harus menyeimbangi antara ngafal dan aktifitas yang lain” kata Sudirman menasehati Randi.
Selama mereka asyik membicarakan hal itu bel masuk pun berbunyi.

Pak Amir pun memanggil Randi ke kantor.
“Gimana, Ran…? udah siap?” tanya pak Amir.
“Yah… gimana ya pak. kemarin sih udah bisa tapi terlalu dipaksa jadi lupa lagi deh” jawab Randi.
“Makanya Ran, kalau latihan itu harus rileks, santai jangan dipaksa gitulah. Baiklah 2 hari lagi harus udah bisa yah…!” kata pak Amir.
Kemudian Randi pun masuk ke kelas. Randi mengikuti setiap mata pelajaran dengan rasa agak khawatir dan tak terasa bel pulang pun berbunyi.

Sampai di rumah Randi ingat kata ibunya, dia pun mengikuti kata ibunya.
“Ibu… ibu… betul loh kata ibu, aku lebih cepat ngafalin lirik dan notnya” kata Randi.
“Makanya, lain kali, kamu harus dengarin dong, pendapat orang lain” jawab ibu.

2 minggu berselang tak tarasa perlombaan pun akan dimulai. Tapi terlihat Randi merasa dialah yang paling hebat, sampai-sampai dia tidak mau mendengarin nasihat gurunya.
“Ah… aku pasti menang, lawan-lawanku kan kecil-kecil semua” kata Randi sombong.
“Kamu tidak boleh begitu Ran… walaupun kecil-kecil, siapa tahu kemampuannya hebat kan” kata pak Amir.

Tak lama kemudian giliran Randi pun tiba, dengan sikap yang sombong dia pun pergi ke panggung. Ternyata dia melakukan kesalahan hatinya pun menjadi dak-dik-duk.

“Yah… pak, aku tadi buat kesalahan. Aku pasti kalah lah ini” kata Randi gelisah.
“Tak apa-apa” kata pak Amir.
Pengumuman juara pun tiba, dan seperti yang dia perkirakan dia pun kalah. Dia sangat sedih dan mereka pulang dengan tangan kosong,

Sesampainya di rumah Randi terlihat diam di kamar.
“Gimana Ran…?, menang nggak?” tanya ibu
“Yah… bu, kalah. Tadi itu aku aku sombong meremehin lawanku” jawab Randi
“Ya, udah. tak apa-apa, tapi lain kali jangan sombong, ya…” kata ibu.

Hari berganti hari, tak terasa sebentar lagi akan ujian, tapi masih ada aja perlombaan.
“Ran… kamu nggak ikut lomba drama tingkat kecamatan? biasanya kan kamu yang paling heboh” tanya ibu
“Ikut dong…!!!, tapi ini lain bu, kali ini aku akan nerima nasihat dan pendapat dari orang lain” jawab Randi
Ibu pun tersenyum dan mengelus kepala Randi dan ibu pun pergi ke dapur.

2 hari kemudian Randi dan kawan-kawan berlatih drama di sekolah.
“Teman-teman, kita harus kompak dan jangan sombong” kata Randi
“Ok…” kata teman-teman yang lain

Hari berganti hari, waktu perlombaan pun tiba, mereka pun berusaha dengan penuh semangat mereka mengeluarkan semua yang telah mereka latih, dan ternyata mereka menang.
“Hore… kita menang” kata Randi beserta kawan-kawan
“Iya.. tapi kita tetap tidak boleh sombong ya.” kata pak Amir

Mereka pun pulang ke rumah masing-masing, Randi pun pulang dengan gembiranya.
“Bu… bu… kami menang bu…” kata Randi
“Iya… selamat ya, ibu bangga sama mu tapi ingat jangan sombong” jawab ibu
Mulai dari hari itu Randi menjadi anak yang menerima nasihat dan pendapat semua orang

Cerpen Karangan: Suha Aritonang
Facebook: Suha Aritonang

Cerpen Belajar Menerima Nasihat Dan Pendapat merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Semua Adalah Salahnya

Oleh:
Nuri, begitulah teman-temanku memanggilku. Berkulit putih, dengan rambut panjang yang berwarna agak kecokelatan, berkacamata dengan minus yang cukup tebal, berat serta tinggi badan yang tidak terlalu berlebihan, bersifat penyayang

Kantin Kejujuran

Oleh:
Tata Safira, adalah seorang ketua kelas di kelas 7-A. Selain seorang ketua kelas, Tata juga seorang juara kelas. Tata dikenal sebagai anak yang disiplin dan jujur. Tata mempunyai sahabat

Bunga Abadi

Oleh:
“Ra..” bisik lelaki dengan air mata yang mulai mengalir. Ia tak mampu lagi menahan rasa sakit karena ditinggalkan. Lelaki itu sangat mencintainya. Sangat. Bahkan, lelaki itu terus saja berbisik

Itu Kan Lukisan Wajahku

Oleh:
Boleh jadi aku dibilang kegeeran atau apalah… Tapi, aku yakin banget profil wajah yang dijadikan model dari puisi yang dipajang di majalah dinding itu adalah profil wajahku… Coba lihat

Matahariku

Oleh:
Namaku Mentari. Aku sekolah di Ame High School dan sekarang memasuki tahun ketiga. Ame High School adalah SMA yang berisikan 3 golongan pelajar. Golongan pertama, yaitu pelajar yang pandai

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *