Beneran Dajavu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Nasihat, Cerpen Slice Of Life
Lolos moderasi pada: 17 November 2016

Pagi hari yang sangat dingin. Kurebahkan tubuhku di kasur yang empuk. Rasanya malas sekali unuk bergerak. Untuk menyapa mentari saja lewat jendela kamar rasanya sangat enggan. Aahhh aku hanya ingin menarik selimut tebal ini dan kembali ke alam mimpi.

Drrrttt drrttt. hpku bergetar sepertinya ada sms masuk. Haaahhh, mataku langsung membelalak seketika. Kaget dengan isi sms barusan yang mengatakan bahwa perkuliahan akan dimulai 5 menit lagi. Aku baru teringat hari ini ada jam tambahan mata kuliah psikologi.

Aku bergegas bangun dan hanya gosok gigi serta cuci muka. Waktunya tak cukup jika dipakai untuk mandi. Apalagi dosen psikologi terkenal sangat killer. Kuambil baju yang bisa langsung dipakai yang tak harus disetrika, rambut kukuncir kuda, tas selempang tangan langsung kusampirkan di lengan kiri, buku tebal psikologi kuambil dengan tergesa-gesa di rak buku dan sepatuku, aduuh sepatuku gak ada, di mana ini, waktu udah mepet sepatu ngilang sendiri, hanya ada sepatu sandalku yang model crocs, padahal jika masuk perkuliahan ini tak boleh menggunakan crocs. Aaahh tanpa pikir panjang, daripada aku terlambat, langsung saja kukenakan sepatu itu dan berlari menuju kampus.

Kulirik jam tanganku, waktu tinggal satu menit lagi. Kupercepat langkah kakiku. Tak berapa lama aku sudah sampai ke depan kelas. Tapi aneh kenapa kelas ini rasanya sangat sepi, tak terdengar adanya suara perkuliahan yang sedang berlangsung, karena kupikir aku sudah telat 2 menit. Kucoba ketuk pintu kelas itu tapi nggak ada jawaban. Kubuka pintu itu perlahan-lahan takut kalau-kalau sudah ada dosen psikologi tersebut.

“permisi…”. Ucapku sembari membuka pintu yang berwarna coklat tersebut. Kelas tersebut sangat gelap saat aku masuk ke dalamnya. Aku berpikir kenapa lampunya nggak dinyalain, dan kenapa sepertinya suasana sangat sepi. Tiba-tiba “braaaak” terdengar pintu yang ditutup dengan sangat keras sampai-sampai dindingnya ikut bergetar. Aku menggigil ketakutan. Kuraih hpku yang berada di dalam tas karena bergetar seperti ada sms yang masuk. Kubuka sms tersebut dan
“woiiii bangun woii… udah siang nih. Kamu nggak kuliah? Ini ada jam tambahan pak dirman loh perkuliahan psikologi”. Seru seseorang membangunkan dan menggoyang-nggoyangkan tubuhku. Aahhh kubuka mataku ternyata aku masih berada di kamar kos-kosan. Kuambil hp jadulku dan kulihat sudah jam 8.35. sedangkan perkuliahan akan dimulai pada jam 8.40. aku segera bergegas bangun dan kulihat teman yang tadi membangunkanku sudah rapi berpakain dan hendak berangkat.

“din kamu berangkat sekarang?” ucapku pada dinda, teman satu kamarku.
“ya iyalah rara sayang. Kamu nggak lihat tuh udah jam berapa, Aku berangkat duluan yah. Takut telat. Bye.” Ucapnya sembari meninggalkanku yang masih duduk di kasur. Aku segera tersadar dan menuju kamar mandi, kugosok gigi dan cuci muka, mengambil pakain yang tanpa harus disetrika, serta mengambil tas hingga memakai sepatu crocs. Kejadian ini seperti dalam mimpi. Dejavu. Teriakku dalam hati. Kejadian sampai di kampus persis seperti apa yang sudah kualami dalam mimpi. Dan “braakkk” terdengar suara pintu.
“rara lu ngapain bengong aja di situ. Katanya ada jam tambahan.” Ucap bintang, tetangga kamarku yang kebetulan lewat ke depan kamarku dan melihatku sedang melamun. Aku terbelalak kaget. “loh, bukanya aku udah di kampus yah?”. Tanyaku bingung. “di kampus apaan? Tadi si dinda udah berangkat duluan katanya lu lelet.” Jelasnya.
Aku menggaruk-nggaruk kepalaku yang tak gatal. Kulirik arloji pinkku dan sudah jam 09.30. what??? Aku kaget dan langsung terlonjak bangun dan berjalan mondar-mandir bingung.

“lu kenapa ra?” Tanya bintang dengan penasaran.
“ini bi liat jam Aku”. Jawabku sembari menunjukan arlojiku ke bintang.
“ea, arloji lu kenapa?”. Tanya bintang dengan menatap heran ke arahku. “aaaa… mati aku”. Teriakku histeris sambil memegang kepalaku dengan kedua tangan. “heiii sadar lu ra… lu kenapa tiba-tiba gitu? Lu kesurupan?”
“Aku telat bintang, perkuliahan udah dimulai, mana ini perkuliahan psikologi lagi, aduuuhhh”. Teriakku pada bintang, dan bintang menatapku heran serta menahan tawa dan tawa bintang meledak juga. “hahahhaha… lu kebanyakan ngelamun and ngekhayal nggak jelas, makanya jadi gitu.” Teriak bintang sembari berlalu ke luar kamar meninggalkanku yang lagi bingung dan menangis sedih.

Aku terduduk lemas di kasur, karena jika berangkat kulah sudah nggak memungkinkan, karena telat banyak, dan jika nggak masuk kuliah akan dapat 1 poin yang berdampak pada pengurangan nilai. aaaahhh.

Pesan buat pembaca semuanya, jangan suka mengkhayal yang nggak jelas, nanti jadinya kaya aku ini, nggak masuk kuliah gara-gara kebanyakan ngekhayal. Kita harus selalu memikirkan hal-hal yang nyata aja yaaahhh…

Cerpen Karangan: Atie Dandelion
Facebook: Athirotul Wardah
orang awam yang masih belajar menulis

Cerpen Beneran Dajavu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


1 Cinta di Antara 3 Pilihan

Oleh:
Memilih? Memilih adalah salah satu hal yang paling sulit untuk aku lakukan. Aku mencintainya, dia dan dirinya. Aku merasa bahwa aku terlalu serakah apabila aku tidak bisa memilih satu

Tatapan Pertama, Benarkah?

Oleh:
Hujan turun membasahi pelataran. Udara dingin dari tadi terus menusuk. Menembus kulit. Aku menikmati hujan sore ini di depan toko, berteduh di sana. Aku baru saja pulang dari kantor

Sunset Indrayanti

Oleh:
Jingga mulai tampak menggelayut pada langit sore itu. Pantai semakin ramai pengunjung. Banyak muda-mudi maupun bapak-ibu yang datang. Mereka ingin menyaksikan sekaligus mengabadikan sunset, terlihat sibuk menyiapkan kamera dan

Maafkan Aku Sahabatku

Oleh:
Hari itu, hari waktu dimana aku, pristi dan Rani (Sahabatku) memulangkan buku perpustakaan di sekolah Kami. Tetapi, Pristi telah memulangkan buka lebih dulu. “pris lo udah balikin buku perpus”

Sang Romeo Salma

Oleh:
Siang itu, hujan turun begitu deras. Sederas air mata yang jatuh dari pelupuk mataku, sepuluh menit lalu, mungkin? …hhh, dengan tegar, aku menarik napas dalam-dalam sambil memejamkan mata. Kunikmati

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *