Bukti Kecantikan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Nasihat, Cerpen Persahabatan, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 10 April 2014

Siswa-siswi SMA Harapan 45 Surabaya berhamburan dari ruangan kelas yang berderet di setiap lorong bangunan. Jam pulang sekolah selalu dinanti oleh setiap siswa di dunia. Ada seribu satu rencana kegiatan siswa setelah melewati jam sekolah. Namun ada salah satu siswi masih berdiri sendiri di tempat parkir.

“Mbak, kenapa belum pulang?” tanya seorang bapak berseragam dengan mengenakan baju putih dan celana hitam panjang.
“Nggak apa-apa kok pak, ini saya mau pulang” jawab siswi berponi tersebut.
“Cepet pulang ya mbak, entar orangtuanya nyariin” lalu pak satpam berlalu.

Perempuan itu menghembuskan nafasnya dengan berat. Dia mengedarkan pandangannya ke seluruh tempat parkir. Wajahnya tertekuk lemas seperti baju kusut yang tak pernah disetrika. Setelah beberapa saat berpikir, ia memutuskan pulang.
Namun saat ia hendak menghidupkan motornya. Matanya melotot hingga mampu memecahkan kaca pada helm. Dia melihat sebuah pandangan yang tak menyenangkan. Ia menyaksikan sepasang kekasih yang berjalan dengan mesra menuju sebuah motor gede di sebelahnya.
“Cherryl, nungguin Siapa? Duluan ya?” tanya yang perempuan saat melewatinya.
Cherryl masih belum percaya dengan apa yang dilihatnya. Namun saat matanya menatap senyuman menawan yang mampu meluluhkan hatinya. Senyuman yang selalu dinantikannya, kini membuat dirinya merasakan hujan badai tornado menyerang ulu hatinya. Setelah sepasang kekasih itu berlalu, Cherryl masih memandangnya dan terlambat untuk mengatakan,”Iya”.

“Jadi Kak Andre dan Vanya udah jadian?” tanya perempuan berambut keriting sambil meletakkan 2 orange juice di meja ruang tamu.
“Kayaknya sih gitu” kata Cherryl lemas.
“Kamu sedih banget, pasti” ia mengelus pundak sahabatnya.
“Lili, aku ini nggak cantik ya?” menenggelamkan kepalanya di kedua lututnya.
“Cherryl…” bisik Lili prihatin
Terdengar isak tangis Cherryl yang menjawab panggilan Lili. Lili mengerti apa yang harus dilakukan yaitu membiarkan sahabatnya.

Lili dan Cherryl menuju salah satu mall di Jakarta. Lili merasakan pipinya memerah karena panas matahari menyerang. Saat motor Cherryl selesai diletakkan di tempat parkir, Lili segera berlari menuju bangunan dalam mall.
“Lili, ngapain lari sih?” tanya Cherryl berlari mengikuti sahabatnya.
“Wah… kebangetan Lu, temen udah kepanasan kayak kepiting rebus”.
Cherryl tertawa, “Tenang, aku akan beliin es buat kamu”.
“Beneran Lu? Bayar kos aje nunggak” cibir Lili.
“Nggak apa-apa, kan bu kosnya ibu kamu” kata Cherryl sambil merangkul bahu Lili.

Cherryl mengajak Lili membeli es krim di salah satu stand penjualan. Setelah membayar es krim, Cherryl dan Lili menuju sebuah toko yang menjual alat kosmetik di lantai 3.
“Ngapain kita ke sini?” tanya Lili keheranan.
“Menurut Loe?” Cherryl segera masuk ke dalam toko.
“Cherryl, sejak kapan elu demen ame barang ginian?”.
Cherryl hanya mengangkat kedua bahunya.
“Neng, gue bilangin ye? barang disini itu mehong”.
“Mehong?”.
“Mahal, lagian buat ape elu beli ginian?”.
Cherryl menatap Lili dan menghembuskan nafasnya dengan berat.

Belum sempat Cherryl menjawab pertanyaan Lili, seorang pegawai di toko kosmetik tersebut menawarkan produk maskara terbaru. Penawaran ini tak dilewatkan Cherryl begitu saja. Secara sukarela ia merelakan wajahnya dimake over. Setelah melewati beberapa menit, Cherryl melihat hasil riasan wajahnya.
“Sekarang kamu terlihat sangat cantik” puji pegawai tersebut.
“Benarkah? terima kasih ya mbak” Cherryl segera mengambil cermin dari tasnya.
“Bagaimana mbak?” tanya pegawai.
“Wow… amazing. Lili gimana dandananku?”.
“Biasa saja, dari kemarin kamu udah kayak gitu” kata Lili sambil melirik Cherryl.
“Jangan didengerin mbak. Emang temen saya ini orangnya suka sirik”.
“Wah… sekate-kate nih. Udah mendingan elu ngikut gue aje”.

Lili menarik tangan kiri Cherryl keluar dari toko kosmetik tersebut. Cherryl cemberut mengikuti sahabatnya. Namun sebelum tubuhnya tertarik keluar, Cherryl menarik kartu nama dari tangan pegawai cantik toko kosmetik tersebut.
“Lili, kita ini mau kemana?”.
“Udah… nurut aja” Lili tetap menarik tangan Cherryl.

“Aku kecewa, kalau lapar tuh ngomong. Nggak usah pake acara narik-narik”.
“Udah, elu ndiri juga lapar. Makan burgernya!” Lili melahap cheese burger.
“Kenapa kamu nggak dukung aku untuk tampil cantik”.
“Dukung? elu kate pemilihan presiden. Lagian dandanan kayak badut ancol aje dibilang cantik” sambil menyodorkan cermin ke wajah Cherryl.
“Apa kamu belum sadar? setelah dimake over mbak tadi, wajahku bercahaya”.
“Elu kate lampu petromak bercahaya? Hapus aja tuh make up. Bayar kosan aje masih nunggak, eh… elu mau beli beginian”.
“Aku bakal minta uang ke mama. Jadi jangan khawatir ya?” Cherryl mengedipkan matanya.
“Kagak usah sok manis lu, mending hapus make up”.
“Ngapain dihapus? Kalau aku udah kayak gini, dijamin 100% Kak Andre bakal ninggalin Vanya dan bisa jadian sama aku”.
“Cherryl…” Lili terkejut mendengar alasan sahabatnya.
“Aku nggak seberuntung kamu yang bisa jadian sama Rio, orang yang kamu suka” setelah lama diam, Cherryl membuka suara sambil menahan air matanya.
Lili menggenggam jemari Cherryl.
“Aku pengen bisa secantik Vanya”.
“Cherryl, kamu itu cantik. Cantiiik baaanget” kata Lili serius.
Cherryl tersenyum melihat mimik wajah Lili yang tidak seperti biasanya. Senyuman di wajahnya berubah menjadi tawa hingga perutnya terasa capek. Sementara Lili juga tertawa bersama. Namun tawanya bukan disebabkan tingkah dirinya sendiri melainkan rasa puas.

“Gitu dong senyum, jangan sedih terus” celetuk Lili.
“Seharusnya wajah kamu itu aku rekam, jarang-jarang ekspresi kamu kayak tadi”.
“Cherryl, semua perempuan di dunia ini terlahir cantik”
“Kata Justin Bieber juga gitu, tapi tetap saja aku jomblo” Cherryl teringat idolanya.
“Gimane Kak Andre bisa suka ame elu. Lo aja kabur kalau Kak Andre lewat”.
“Iya, juga ya?”.
“Jadi…” pancing Lili.
“Jadi selama aku belum jadi pacar Kak Andre artinya aku tidak cantik”.
Lili sedih melihat sahabatnya yang merasa dirinya tidak cantik.
“Andai aku ini orang Korea, pasti aku udah ngelakuin operasi plastik. Aku akan mancungin hidung, bibir dibikin seksi, mataku dipercantik, pokoknya kayak Barbie” sambil mengaduk-aduk minumannya.
“Operasi plastik? ngapain elu ngayal jauh-jauh ke Korea? Gue juga bisa ngelakuin operasi plastik pake ember” Lili kesal.
“Emangnya kamu pikir wajahku ini mainan?”.
“Tuh tau ndiri wajah elu ntu kagak mainan, terus ngapain elu ngayal oplas?”.
Cherryl diam sambil menghabiskan cheese burgernya yang tadi belum disentuhnya. Ia merasa Lili takkan memahami perasaannya.

Melihat Cherryl yang mendiamkannya, Lili mengeluarkan secarik kertas dan pulpen dari tasnya. Kemudian ia menuliskan sesuatu di kertas tersebut. Cherryl yang penasaran, berusaha mengintip tulisan Lili.
“Jangan nyontek!!!” Lili menutupi kertasnya dari Cherryl.
“Siapa yang mau nyontek?”.
“Gue saranin elu ke tempat-tempat yang tertulis di kertas ini” Lili menodorkan kertas tersebut kepada Cherryl.
“Haaaah… kamu suruh aku pergi ke panti jompo nenek kamu?”
“Oops.. salah” Lili segera membalik kertasnya.
“Aku harus pergi ke tiga tempat ini?” Cherryl lebih kaget daripada sebelumnya.
Lili mengangguk tersenyum.

Cherryl mengikuti saran Lili untuk pergi ke suatu tempat sesuai dengan urutan yang tertulis di kertas. Cherryl sangat penasaran pada tempat yang akan ditujunya. Dengan berbekal kertas dari Lili, sebuah tas yang berisi benda-benda berharga dan sejuta tekad, Cherryl berangkat ke tempat tersebut dengan naik taxi.
“Mbak ini beneran jadi ke alamat itu” tanya sopir taxi yang ke seratus lima.
“Bapak ini kok nanya terus, dibilangin saya mau ke tempat ini”.
“Mbak udah pernah ke tempat itu?”.
Pak sopir itu melihat dari kaca, Cherryl menggelengkan kepalanya.
“Anak zaman sekarang itu edan… edan…” omel sopir taxi tersebut.

Cherryl terkejut saat taxi berhenti. Dari dalam mobil, ia dapat melihat apa yang terjadi di luar. Di sepanjang jalan, gadis-gadis cantik nan seksi dengan pakaian minim berdiri. Mereka menghampiri setiap kendaraan yang berhenti. Cherryl tanpa sadar membuka mulutnya.
“Mbak nggak mau turun?” tanya sopir taxi berwarna biru tersebut.
Cherryl menggelengkan kepalanya dengan cepat, “Pak balik ke kos saya, cepat”.

Cherryl merasa jera untuk mengikuti saran Lili. Ia tidak ingin pergi ke tempat alamat kedua maupun ketiga. Selama tiga hari, Lili meyakinkan Cherryl bahwa kedua tempat ini berbeda dengan tempat yang pertama. Akhirnya Lili berhasil meyakinkan Cherryl dengan memenuhi satu syarat yang diminta Cherryl. Syaratnya adalah Lili bersedia membayar tagihan kosnya yang telat dua bulan.

Cherryl mengendarai motor menuju alamat kedua ini. Perempuan yang masih mengenakan seragam sekolah ini, tidak merasa kesulitan menemukan alamat ini. Ternyata alamat yang dituju adalah perumahan elite. Saat Cherryl berhenti di sebuah rumah mewah bergaya Classic California, ia merasa ragu untuk memencet belnya. Namun tiba-tiba gerbang rumah itu terbuka dan seorang ibu-ibu berpakaian dester kotak-kotak muncul.

“Ini mbak Cherryl ya?”
Cherryl mengangguk ragu, kok dia tau ya? aku udah datang.
“Monggo masuk mbak, biar sepedanya diatur Pak Tegar” katanya sambil menunjuk pak satpam yang berbadan ceking dan cukup berumur.

Cherryl mengikuti ibu-ibu itu masuk ke dalam rumah. Di depan pintu, ada seorang perempuan yang dikenalnya. Dia adalah Maria, teman sekelas Lili.
“Selamat siang, kemarin Lili bilang kalau kamu pengen belajar Fisika tentang Gaya Newton” terang perempuan berlesung pipi ini.
Cherryl hanya mengangguk, walaupun dia tidak mengerti skenario yang telah diciptakan Lili. Dia mengikuti Maria yang menggajaknya ke tempat duduk di samping kolam renang. Cherryl kagum dengan dekorasi penataan ruangnya. Makanan dan minuman telah disajikan di meja. Cherryl merasa yakin jika Lili telah memberitahukan kedatangannya pada Maria.

“Thanks udah ngajarin, sekarang aku sudah bisa menghitung kedudukan suatu benda” kata Cherryl saat meraka telah mengakhirinya.
“Nyantai aja sama aku. Kapanpun aku mau ngajarin kamu” Maria tersenyum.
“Kok kapanpun? Kalau nanti pacar kamu mendadak ngajak ketemuan, gimana?”.
Maria tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
“Kamu nggak punya pacar?” tanya Cherryl terkejut.
Maria tertawa terbaha-bahak merasa geli dengan pertanyaan yang keluar dari bibir Cherryl. Sementara Cherryl heran bukan kepalang.

“Hei, kenapa ke alamat ketiga ini kamu ikut?” tanya Cherryl saat dibonceng Lily.
“Kamu nurut aja nape?”.
“Nurut aja… nurut aja… motorku ini yang kamu pake”
“Diam!” perintah Lili.

Cherryl mengamati keadaan di sekelilingnya. Dia penasaran dengan tempat terahir ini. Sebenernnya aku mau diajak kemana? Kok trilili ikut?, katanya dalam hati.
“Akhirnya kita nyampe” kata Lili membuyarkan lamunan Cherryl.
Cherryl melihat sebuah rumah yang agak kecil dengan cat merah putih yang mendominasi. Di depan rumah, terdapat sebuah spanduk handmade dengan tulisan ‘One Heart for Indonesia’.
“Kamu udah pernah kesini?” saat melihat Lili mengetuk pintu.
Lili menggelengkan kepala.

Saat pintu terbuka, Cherryl dapat melihat sesorang di balik pintu tersebut. Perempuan yang sangat dibencinya di sekolah, Sasti.
“Kamu?” teriak Cherryl.
“Bukannya Lili bilang kalian mau bantu kami?” tanya Sasti keheranan.
“Eh.. iya, iya. Cherryl cuma kaget lihat kamu udah dateng duluan” kata Lili.
“Ok, silahkan masuk. Temen-temen udah ngumpul semua” kata Sasti sambil masuk ke dalam.
Ketika Lili hendak mengikuti Sasti, Cherryl menahannya.
“Kamu yakin ngajakin aku ke tempat Sasti?” bisik Cherryl.
“Buktinya?”
“Emangnya kamu lupa? Aku ini benci banget sama dia”.
“Untuk saat ini lupakan kebencianmu. Buktinya Sasti biasa aje ngeliat lu”.
Cherryl diam, hatinya membenarkan ucapan Lili.
“Udah… Jangan kebanyakan mikir. Mending ngikut aja” kata Lili sambil menarik tangan Cherryl.

Saat Cherryl dan Lili tiba di dalam ruang tersebut, terdapat dua belas orang yang menata berbagai makanan di kardus dan minuman di tremos besar. Mereka mengenakan kaos putih dengan bawahan bebas. Di kaos tersebut terdapat tulisan ‘We Care the Diamond World’. Sasti memberikan dua kaos pada Lili dan mempersilahkan mereka untuk mengganti bajunya di kamar mandi.
“Lili, kita ini mau ngapain sih?” tanya Cherryl saat tiba di kamar mandi.
“Jualan di taman” jawab Lili santai.
“APA?” teriak Cherryl membuat Lili menutup mulutnya.
“Biasa aja, kenapa sih? Gak usah lebay”.
“Lili, sebenarnya maksud kamu itu apa? Kenapa kamu bawa aku ke tiga tempat yang sama sekali tak kupahami?”.
“Jangan dipahami tapi dirasakan. Udah mending ganti baju” Lili masuk ke dalam kamar mandi.

Setelah berganti baju, Cherryl dibonceng oleh Lili mengikuti rombongan tersebut ke sebuah taman. Sesampainya di taman, Cherryl turut membantu mempersiapkan tempat untuk berjualan aneka gorengan dan kue basah serta berbagai minuman segar. Saat membantu memasang spanduk, Cherryl baru mengetahui bahwa hasil penjualan hari ini akan disumbangkan ke yayasan peduli kanker pada anak-anak.

Mereka terbagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama menunggu pembeli di tempat yang disediakan. Sedangkan kelompok kedua menjajakan makanan dan minuman keliling taman. Cherryl masuk ke dalam kelompok dua sedangkan Lili masuk ke dalam kelompok satu.
“Lili, tukeran ya?” pinta Cherryl.
“No… no… no…” Lili menghindar dan segera membantu kelompoknya melayani pembeli.
Cherryl menarik nafas panjang untuk mengumpulkan keberanian. Namun tetap saja ia merasa malu. Perempuan yang gemar menggunakan bando ini, melirik jam tangannya. Jarum jam menunjukkan pukul 15.00 itu artinya masih ada waktu tiga jam Cherryl berada di taman. Ia menundukkan kepalanya sambil berkeliling membawa nampan yang berisi 3 tiga macam kue dan gorengan serta dua gelas es teh. Sementara enam orang lainnya berteriak menjajakan bawaannya.
“Kalau kayak gini, mana bisa laku?” kata Sasti menghampiri Cherryl.
Cherryl hanya tersenyum masam. Saat ia melirik tangan Sasti, nampannya telah bersih.
“Ayo ikut aku, tapi aku mau ambil kue dan es dulu ya? Kamu tunggu di sini” Cherryl mengangguk.
Cherryl menunggu sambil duduk di kursi taman.
“Neng, ini kue lumpia harganya berapa?” tanya seorang laki-laki berkaos biru.
“Bapak mau beli?” tanya Cherryl kegirangan.
“Iya neng, harganya berapa?”.
“Dua ribu saja, pak. Bapak mau beli berapa?” Cherryl menyiapkan kotak plastik.
“Semua ya, neng? Lima” katanya sambil mengeluarkan uang kertas lima ribu dua lembar pada Cherryl.
“Terima kasih” sambil memberikan lumpia kepada bapak.

Saat lelaki itu sudah berlalu, Cherryl menatap uangnya. Ia merasa sangat senang.
“Ada yang beli?” tanya Sasti.
“Lihat… aku duduk aja, jualanku laku” Cherryl menyombongkan diri.
Sasti tersenyum, “Ayo ikut keliling”.
Cherryl segera berdiri ke samping Sasti.
“Mbak, mau kuenya?” tanya Sasti pada seorang perempuan yang duduk membaca buku di taman.
Perempuan itu menggelengkan kepalanya. Sasti dan Cherryl melanjutkan berkeliling taman.
“Adek, kue dan esnya. Seger lo… minum es sehabis main” tawar Sasti.
“Nggak” jawab seorang anak perempuan.
“Kalau kuenya gimana? Coba adek lihat deh siapa tau adek mau beli” Sasti mencoba merayu sementara Cherryl hanya diam.
“Ini apa kak?” tanya anak itu sambill menunjuk ke kue.
“Ini kue kukus rasa cokelat. Adek mau?”
Anak itu menganggukkan kepalanya, “Satu saja”.
Entah mengapa saat itu Cherryl tiba-tiba merasa kagum pada Sasti. Rasa bencinya hilang entah kemana. Dia tidak meyukai Sasti, karena menganggap Sasti adalah orang yang judes dan tidak bisa senyum. Namun anggapan itu terpatahkan di sore ini.

“Cherryl, gimana acara tadi?” tanya Lili saat mereka berdua makan bakso di salah satu kaki lima.
Cherryl masih mengunyah bakso, memberikan dua jempol pada Lili.
“Syukurlah, kalau lu seneng”.
“Lili, maksud kamu apa? Kenapa kamu menyuruh aku ketiga tempat?” tanya Cherryl penasaran.
“Begini, tujuanku adalah menunjukkan ke lu arti cantik sebenarnya”.
Cherryl memandang tak mengerti.
“Kan dua minggu yang lalu, lu sedih banget nglihat kak Andre jadian sama Vanya” Cherryl mengangguk.
“Apalagi elu frustasi dan kurang percaya diri karena merasa diri lu itu nggak cantik. Sehingga kak Andre gak nglirik elu”
“Jadi kamu pengen aku nggak sedih karena merasa nggak cantik” tebak Cherryl.
“Salah”.
“Salah?”.
“Gue pengen elu itu paham tentang makna cantik. Cara membuktikan kita cantik itu bukan dilihat dari berapa banyak cowok yang nempel sama kita. Kamu lihat kejadian di tempat pertama kan?” Lili meminum es tehnya.
“Terus…”
“Cantik itu be yourself, cantik itu dari otak sampe hati” kata Lili.
“Cantik dari dalam maksud kamu?”.
“Menurutmu?” tanya Lili balik.

Cherryl mengangguk tersenyum. Ia tak menyangka sahabatnya sangat peduli terhadap dirinya. Ia mulai memahami dari semua kejadian yang terjadi. Cherryl mendapatkan pelajaran baru dalam hidupnya yaitu tentang pembuktian kecantikan seseorang. Pembuktian yang dapat dilakukan dengan sederhana namun membutukan waktu yang cukup untuk memahaminya. Berapa lama? hanya kesadaran kita dalam memahami yang menjadi jawabannya.

SELESAI

Cerpen Karangan: Fariska Hurun In
Facebook: Fariska Hurun In

BIODATA PENULIS
Nama: Fariska Hurun In
Judul Cerpen: Bukti Cantik
Prodi: S1 Ilmu Keperawatan
Fakultas: Keperawatan
Universitas: Universitas Airlangga.
Facebook: Fariska Hurun In
Email: fariskahurunin[-at-]gmail.com

Cerpen Bukti Kecantikan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Tentang Aku dan Senpai

Oleh:
Minggu, 25 Agustus 2013 “iya aku berangkat, tunggu sebentar” Hari ini aku tidak mengikuti acara di sekolah karena jarak rumahku dengan sekolah sangat jauh. Tetapi aku masih mengikuti acara

Cinta Kasih

Oleh:
Hai gue helsyah, gue gak pernah nyangka kalau gue bakalan jumpa sama cowok yang super keren. Dia ganteng, baik, dia pinter, dan dia juga taat agama. Kurang apalagi coba,

Sahabat Sehidup Semati

Oleh:
Suatu hari di sebuah kelas dalam satu sekolah terdapat sepasang sahabat yang bernama Desi dan Wawan. Mereka selalu bersama dan terus bersama sepanjang waktu. Rumah mereka memang berbeda komplek.

Pelangi

Oleh:
‘Jangan kembali, jika untuk pergi lagi’ “Cha, ada kabar menarik!” Teriak Debby tepat di telingaku. “Aduuuh, apaan sih Deb. Lama lama aku pergi ke THT nih.” Gerutuku sambil memegangi

Puisi Terakhir

Oleh:
Aku kalah dalam sebuah pertaruhan. Pertaruhan konyol yang sudah diketahui pemenangnya. Gio. Bodohnya, aku tetap mengikuti keinginannya untuk bertaruh. Dan sebagai akibatnya, sekarang aku harus menuangkan isi pikiranku di

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *