Bumi Pertiwi (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Lingkungan, Cerpen Nasihat, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 10 June 2014

Waktu yang sudah dijanjikan pun tiba. Tiga bulan sudah mereka berjuang untuk pergi menikmati liburan bersama-sama, dan tepat hari ini mereka berempat telah menginjakan kaki di Bandara Soekarno-Hatta untuk pergi ke Bukittinggi yang berada di Sumatra Barat. Mereka telah mengambil paket liburan untuk 4 hari 3 malam. Jaka yang sudah lebih dulu tiba di bandara sejak pukul 07.00 WIB tadi lebih memilih menunggu ketiga temannya di Starbucks coffe yang berada di terminal 1A. Tak berselang lama Bumi pun datang dan langsung menghampiri Jaka yang tampak sedang asik sendirian bermain dengan tabnya. Mereka pun duduk bersama dan saling berbagi cerita pagi itu sembari menunggu kedua temannya yang belum terlihat sedikitpun batang hidungnya. Beberapa saat kemudian muncullah Rini dan kemudian Pertiwi yang mengikuti di belakangnya. Lengkap sudah jumlah mereka yang ingin pergi berlibur kali ini. Mereka terlihat sangat antusias pagi itu. Senyum dan tawa terlihat menghiasi wajah mereka berempat. Rasa lelah setelah berusaha mencari pundi-pundi rupiah untuk berlibur seperti sudah terhapus dari wajah mereka begitu saja. Yang tersisa hanyalah wajah penuh kebahagiaan karena kini mereka akan pergi bersama untuk berlibur.

Pukul 08.15 WIB waktu keberangkatan pun tiba. Mereka pun menaiki maskapai penerbangan Lion Air dengan rute keberangkatan Jakarta-Padang. Perjalanan yang cukup singkat hanya sekitar satu setengah jam itu mereka gunakan untuk beristirahat di dalam pesawat karena setibanya di kota tujuan mereka akan langsung berpetualang mengunjungi tempat-tempat yang ada di sekitar Bukittinggi. Sekitar pukul 09.35 WIB pesawat mendarat di Bandara Internasional Minangkabau dengan ditemani rintik hujan yang membuat landasan terlihat basah pagi itu. Setibanya di sana empat serangkai ini langsung disambut oleh perwakilan dari biro perjalanan yang memberikan paket liburan untuk mereka berempat. Di bawah awan yang terlihat abu-abu dan rintik hujan yang sudah membasahi aspal jalanan pagi itu, mereka pun langsung pergi menuju ke Lembah Anai sebagai lokasi pertama yang akan mereka kunjungi dengan menggunakan sebuah mobil travel yang telah disediakan tentunya.

Selama perjalanan menuju Lembah Anai, Rini dan Pertiwi sudah disibukan dengan sesi foto-foto di dalam mobil travel. Layaknya perempuan-perempuan pada umumnya, mereka seperti ingin eksis tak terkecuali sedang berada di dalam mobil sekalipun. Sementara itu Jaka dan Bumi yang kebetulan duduk di belakang mereka berdua hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah dua cewek yang hanya bermodalkan kamera smartphone itu sedang mencoba eksis dengan berbagai pose di ruang yang terbilang seadanya.

Tak terasa mereka pun tiba di Lembah Anai dengan ditemani sang mentari yang dengan gagahnya menunjukan jati dirinya sebagai penguasa langit. Awan mendung pun tak lagi terlihat di bawah langit biru kota Padang pagi itu. Hanya langit biru dan awan putih yang bergerak lambat menjadi teman sang mentari. Perhatian empat serangkai ini langsung teralihkan begitu mendengar suara deruh air yang begitu derasnya berjatuhan menghantam bebatuan di bawahnya yang terdengar begitu dekat ke telinga mereka. Jelas saja, ternyata air terjun itu berada tepat di sebelah jalan yang menghubungkan kota Padang dengan Bukittinggi. Bumi yang melihat ribuan liter air tumpah dari ketinggian sekitar 35 meter yang menghantam air dan bebatuan di bawahnya dengan cekatan langsung mengambil kamera Canon 650D miliknya untuk mengabadikannya dalam sebuah gambar. Begitu mobil terparkir mereka berempat langsung turun dari mobil dan berlari melewati beberapa anak tangga dan beberapa gazebo sebelum akhirnya mereka berada tepat di bawah air terjun yang berada di Lembah Anai tersebut.

Pemandangan indah langsung tersaji di hadapan mereka saat itu. Sebuah air terjun yang dikelilingi oleh lebatnya hutan di sekitar membuat suasana masih terasa begitu asri dan alami, meskipun lokasi air terjun ini berada di pinggir jalan sekalipun. Tak jauh dari sana juga terlihat perlintasan kereta api yang membentang dengan gagahnya berada tepat di atas jalan yang menghubungkan Kota Padang dengan Bukittinggi tersebut. Kereta yang terlihat melintasi jalur tersebut seolah-olah seperti muncul dari balik rindangnya pepohonan dan kemudian menghilang kembali ditelan oleh ribuan pepohonan yang membentang di sekitar lembah. Sungguh sebuah pemandangan yang belum pernah dijumpai sebelumnya oleh keempat anak manusia ini. Air terjun yang berada di Lembah Anai ini layaknya sebuah ucapan selamat datang yang diberikan Kota Padang kepada mereka yang baru saja tiba pagi ini.

Sudah puas mereka bersenang-senang di air terjun Lembah Anai dan mengabadikan berbagai moment dengan kamera, mereka pun melanjutkan perjalanan ke Minang Village dan Desa Pandai Sikek. Inilah tujuan mereka selanjutnya, mempelajari dan mencari informasi tentang budaya Minang di Minang Village dan belajar kerajinan tangan yang terkenal dengan tenun songketnya di Desa Pandai Sikek. Berlibur bukan berarti hanya menghabiskan waktu dengan menikmati indahnya pemandangan di tempat tujuan, tapi juga mempelajari kebudayaan dan kerajinan tangan masyarakat sekitar guna menambah wawasan akan ragam kebudayaan di negeri tercinta ini. Lalu, sesuai jadwal setelah mereka selesai mereka pun beristirahat untuk menikmati makan siang di sebuah restoran. Menikmati air terjun, mempelajari budaya serta kerajinan tangan, dan sekarang menikmati makan siang bersama sahabat, rasanya liburan ini sudah begitu membekas di benak keempat anak manusia yang sedang melakukan petualangan ini. Bayangan tentang kesenangan yang akan mereka lalui bersama sudah tergambar di kepala mereka masing-masing saat mereka menikmati sajian makan siang kala itu. Dan mereka mulai tak sabar untuk segera melanjutkan perjalanan mereka ke Bukittinggi.

Selesai menikmati sajian makan siang dan selesai beristirahat sejenak mereka pun kemudian melanjutkan perjalanan ke Danau Maninjau. Sebuah bayangan tentang danau itu langsung terbayang di benak mereka saat mendengar informasi mengenai pemandangan yang disuguhkan oleh Danau Maninjau dari tour guide mereka. Rasanya empat serangkai ini tak sabar lagi ingin melihat seperti apa panorama yang akan disuguhkan oleh danau tersebut. Apakah akan seindah bayangan mereka atau mungkin akan lebih indah dibandingkan dengan sebuah gambaran yang diciptakan oleh imajinasi mereka sendiri.

Jernihnya air yang membentang luas memantulkan warna biru langit dan putihnya awan yang tercampur indah membaur menjadi satu dapat terlihat di permukaan Danau Maninjau siang itu. Sang mentari yang tertutup awan cukup tebal membuat suasana siang itu sangatlah sejuk. Panorama langit biru yang membentang luas ditemani awan putih yang tebal terlihat seperti sedang memutari Danau Maninjau sehingga membentuk layaknya sebuah lingkaran biru raksasa tepat di atas Danau Maninjau kala itu, menjadikan sebuah pemandangan yang begitu langka untuk dilihat oleh mata. Bukit-bukit nan hijau yang membentang mengitari sepanjang Danau Maninjau juga ikut ambil andil dalam memberikan pertunjukan alam yang mempesona. Panorama-panorama indah ini tak pernah luput dari lensa kamera milik Bumi untuk diabadikan olehnya. Kemahirannya melihat suatu objek dari berbagai sudut pandang membuatnya bergerak kesana-kemari untuk mengabadikan objek yang dilihatnya ke dalam sebuah gambar. Sungguh sebuah keagungan Tuhan yang telah menciptakan alam seindah ini.

Hari semakin sore dan waktu mereka berempat untuk mengagumi keindahan ini harus berhenti sejenak karena mereka harus segera menuju ke hotel yang telah disiapkan di Bukittinggi sebagai tempat mereka beristirahat. Sepanjang perjalanan menuju hotel mereka berempat masih disibukan dengan perbincangan tentang hal-hal yang baru saja mereka lewati bersama. Nuansa bahagia serta rasa lelah seperti tercampur aduk menjadi satu dengan tawa di wajah mereka berempat. Rasanya perjalanan ini akan menjadi sebuah memori bahagia di kala mereka tua nanti dan tak lagi sanggup untuk berdiri.

28 September 2013. Perjalanan mereka kini sudah memasuki hari ketiga dan romansa perselisihan antara Pertiwi dan Bumi mulai terasa kembali. Pertiwi mulai membanding-bandingkan keindahan alam yang dia dapat selama perjalanan ini dengan tempat-tempat yang memberikan panorama yang jauh lebih indah yang pernah dia kunjungi sebelumnya. Bagi Jaka dan Rini itu adalah hal yang sudah biasa mereka dengar dan sudah bisa mereka terima dari seorang Pertiwi, tapi tentu tidak bagi Bumi. Tentu saja hal itu membuat Bumi merasa geram ketika mendengarnya. Bumi yang sudah terlanjur kesal langsung melontarkan perkataan-perkataan yang memaki dan menghardik Pertiwi. Tentu saja hal itu tak bisa diterima begitu saja oleh Pertiwi. Adu mulut pun tak dapat terelakan. Mereka berdua saling memaki yang membuat pesona alam Danau Singkarak tak lagi berarti bagi mereka berdua siang itu.

“Elo tuh emang siapa gue hah?! Hidup, hidup gue! Yang ngatur ya gue! Hak gue dong buat bilang kalo tempat ini emang nggak ada bagus-bagusnya!” Pertiwi berteriak keras ke arah Bumi.
Bumi menatap Pertiwi tajam. Tangannya mengepal kencang hingga kukunya terasa menusuk kulit. “Elo denger ya! Sikap lo yang kayak gini nggak akan bisa diterima sama orang banyak! Harusnya lo tuh sadar wi! Nggak semua orang bisa kayak temen-temen lo ini! Bisa nerima lo yang suka ngebanding-bandingin segala sesuatu hal!!” Bumi mengecam hingga urat lehernya terlihat jelas menyembul di balik kulit coklatnya. Jika saja tubuhnya tak sedang ditahan oleh Jaka yang memeganginya, mungkin saja dia sudah menampar Pertiwi sejak tadi.
Pertiwi yang juga sudah terlanjur kesal dengan Bumi mulai meronta-ronta berusaha melepaskan lengan kirinya yang sejak tadi sudah digenggam erat oleh Rini. Namun karena tubuh Rini yang memang lebih berisi dibandingkan Pertiwi membuatnya tak bisa melepaskan genggaman itu dan hanya bisa meronta-ronta. “Heh! Elo denger ya!” sambar Pertiwi dengan mata yang melotot sembari menunjuk wajah Bumi. “Gue nggak pernah minta elo untuk jadi temen gue! Dan gue juga nggak pernah minta kalian semua untuk jadi temen gue!” lanjutnya dengan suara yang begitu lantang. “Elo semua tuh payah tau nggak! Payah!!!” teriaknya hingga suaranya benar-benar terdengar meninggi.
Mendengar ucapan Pertiwi barusan membuat Jaka dan Rini seperti ditusuk tepat di jantung. Sakit! Rini pun melepaskan genggamannya dan membiarkan Pertiwi melangkah pergi meninggalkan mereka bertiga.
“Pergi aja lo yang jauh! Pergi sana ke laut kalo perlu! Ikan Hiu juga nggak bakal mau makan daging lo yang kotor!” maki Bumi dengan lantangnya hingga suaranya terdengar menggelegar. Pertiwi terus melangkahkan kakinya, pergi membelakangi mereka bertiga sambil mengacungkan jari tengahnya tanpa menoleh sedikitpun kepada ketiga temannya. Bumi yang sudah terlanjur tersulut emosi sempat meludah ke tanah sebagai luapan terhadap sikap Pertiwi hari itu. Rini dan Jaka hanya bisa merangkul Bumi dan mencoba menenangkannya dari luapan emosi berlebih yang sudah merasukinya.
“Udahlah men… Mungkin aja moodnya Tiwi lagi jelek, makannya dia bisa ngomong gitu…” ucap Jaka seraya menepuk-nepuk pundak Bumi.
“Iya. Nanti juga dia bakal baikan sendiri kok. Lo yang sabar ya…” Rini pun ikut menenangkan Bumi.
Bumi pun mulai mencoba mengontrol emosinya dan berusaha mengatur kembali napasnya yang sempat terengah-engah karena luapan emosinya barusan. “Gue cuma nggak nyangka aja bisa kenal sama orang kayak gitu…” ujarnya seraya mencoba menenangkan dirinya sendiri.

Ketenangan Danau Singkarak siang itu harus terganggu dengan pertengkaran dua anak Adam dan Hawa yang sudah terlanjur saling bermandikan makian dan hujatan. Rumput dan daun yang menari bersama angin telah menjadi saksi pertengkaran dua sahabat di tepian jernihnya air Danau Singkarak yang terlihat begitu tenang. Liburan mereka pun harus berakhir dengan sebuah perselisihan. Bukan sebuah liburan yang di idam-idamkan tentunya. Sebuah kesan memang telah didapatkan oleh Pertiwi dari liburan ini, tapi kesan yang buruk pastinya. Dan sebuah pertengkaran juga telah menjadi guru dalam sebuah pelajaran hidup bagi Bumi. Sebuah pelajaran yang sangat berharga tentunya.

Sejak kejadian itu empat serangkai ini tak lagi saling berkomunikasi. Sebuah tembok seperti telah menjadi pembatas di antara mereka berempat. Ini bukan hanya tentang pertengkaran Bumi dan Pertiwi, tapi juga tentang pertemanan yang selama ini telah mereka berempat jalani dan telah mereka bentuk yang dengan mudahnya tercerai-berai begitu saja hanya karena sebuah hal.

Hampir tiga minggu sudah mereka berempat tak saling berkomunikasi. Hanya kenangan-kenangan pada sebuah memori yang tersisa dari keempat anak ini untuk mengobati rasa rindu mereka. Pertengkaran memang pernah terjadi di antara mereka, tapi sebuah ikatan kuat pertemanan tentunya tak akan mudah terputus begitu saja.

Cerpen Karangan: Rahardian Shandy
Blog: komedi-romantis.blogspot.com
Facebook: Rahardian Shandy

Thanks yang udah mau baca 🙂
mampir-mampir ke blog gue ya! komedi-romantis.blogspot.com

Cerpen Bumi Pertiwi (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


My Bestfriend And Boyfriend

Oleh:
“Rea!!!” Teriak seorang gadis di ujung lorong sekolah yang memang sudah sepi karena bel sekolah sudah berdering dari lima menit yang lalu. Gadis yang dipanggil Rea hanya membalikkan badan

Benarkah Facebook Yang Mempertemukan Kita?

Oleh:
Hey sobat, perkenalkan namaku Dwi. Seorang pelajar membosankan yang tinggal di kota kecil, di Malang. Aku bukanlah orang yang menarik di mata teman-temanku. Baik teman sekelas ataupun teman bermain.

Kejutan Untuk Lya

Oleh:
Hai, kenalkan, namaku Resha Farradina. kalian bisa memanggilku Echa. Hari ini, ada temanku yang ulang tahun. Namanya Cassie Aulya Fitriani, atau Lya. Aku dan sahabatku, mau memgadakan surprise untuknya.

Sepenggal Pesan

Oleh:
Di sudut kota ini dia tinggal, kota yang cukup besar. Selalu terlihat asri terkenal dengan budayanya. Namun, dia tak pernah bisa merasakan bagaimana rasanya asri? Seperti apakah budaya yang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *