Bumi Pertiwi (Part 3)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Lingkungan, Cerpen Nasihat, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 10 June 2014

20 November 2013. Lensa kamera Bumi sudah sejak tadi sibuk mengejar objek yang ingin dia abadikan. Jemarinya sibuk memutari lensa kamera untuk mencari fokus yang diinginkan. Sebuah pemandangan yang bisa dilihat dari atas Candi Borobudur menjadi pilihan objek gambar yang ingin diambil oleh Bumi hari itu. Rasanya tak akan puas jika hanya mengambil satu atau dua gambar saja jika melihat pemandangan yang bisa didapat dari atas sini. Dia pun mulai berjalan memutari candi untuk mencari objek baru. Seorang anak yang dengan asiknya menjilati es krim di tengah ramainya kerumunan orang yang berjalan di sekitar candi tak luput dari bidikan kameranya. Seorang turis mancanegara dengan kulitnya yang putih, hidung yang mancung, dan postur tubuh yang menjulang tinggi sedang terduduk berusaha membetulkan sendal jepitnya yang terputus juga tak luput dari bidikan kameranya. Berbagai macam momen dan pemandangan telah diambil oleh kameranya, tapi rasanya hal itu belum dapat memuaskan dirinya. Seperti ada lubang di dalam hatinya yang terbuka lebar. Dan dia baru menyadari hal yang hilang itu ketika ada sekelompok remaja yang melintas di depannya sambil tertawa lepas dengan wajah yang bahagia mengiringi setiap langkah mereka. Ya, hal yang hilang itu adalah pertemanan. Dia rindu akan teman-temannya, dia rindu akan ide brilliant dari Jaka, dia juga rindu dengan pemikiran Rini yang aneh, bahkan dia juga rindu akan perdebatannya dengan Pertiwi.

Semilir angin yang membasuhi tubuhnya dengan sejuknya udara sore itu membuatnya kembali menyesali dengan apa yang telah terjadi padanya dan Pertiwi. Pertengkaran itu tak seharusnya terjadi jika saja dia lebih bisa mengontrol emosinya dan bisa menerima sikap dari Pertiwi seperti halnya Jaka dan Rini. Untuk mengubah sikap dan jalan pikir seseorang memang memiliki jalan dan metode pendekatan yang berbeda, dan hal itu lah yang seharusnya dia pikirkan terhadap Pertiwi bukan malah memakinya dan memaksakan ideologinya untuk diterima oleh Pertiwi.

Bumi kemudian menghela napas panjang sambil tersenyum kecil dan menggelengkan kepalanya ketika mengingat kembali kebodohan yang pernah dilakukannya itu. Hari sudah mulai sore dan sekiranya waktunya untuk meninggalkan tempat bersejarah ini sudah tiba, namun belum genap kakinya melangkah perhatiannya langsung teralihkan oleh banyaknya stupa-stupa yang mengitari candi. Dia teringat akan sebuah mitos jika seseorang dapat menyentuh arca buddha yang terdapat di dalam stupa dengan hati yang bersih maka keinginannya bisa tercapai. Dia pun kemudian melangkahkan kakinya mendekati salah satu stupa. Dia julurkan tangan kanannya ke dalam stupa hingga telapak tangannya dapat merasakan kasarnya permukaan batu yang berbentuk arca buddha di dalamnya. Sejenak dia pun memejamkan matanya dan kemudian mengatakan keinginan terbesarnya di dalam hatinya. Bayang-bayang ketiga temannya seketika memenuhi sanubarinya begitu dia pejamkan kedua matanya di antara stupa-stupa Borobudur.

22 November 2013. Dinginnya udara bercampur dengan menyengatnya aroma belerang yang menusuk hidung menjadikan Kawah Putih sebagai tempat yang memiliki kesan tersendiri bagi Pertiwi. Tanahnya yang tercampur belerang sehingga tampak berwarna putih, serta airnya yang berwarna putih kehijauan menjadikan tempat ini seolah-olah akan memberikan kesan mendalam bagi siapa saja yang pernah mengunjunginya. Ditemani tebalnya jaket yang dia kenakan saat itu, dia berjalan melewati beberapa anak tangga dengan banyaknya pedagang makanan dan oleh-oleh di sisi kanan dan kirinya. Sepanjang kakinya melangkah dia selalu melihat keceriaan dan tawa di wajah setiap orang yang berjalan beriringan yang tak sengaja berpapasan dengannya. Rasa rindu kembali mencuat di dalam hatinya. Kerinduan akan senyuman dan tawa yang diberikan oleh ketiga temannya, bijaknya Jaka, lucunya Rini, bahkan dia juga rindu dengan rasa jengkel yang selalu dibuat oleh Bumi. Rasa rindu yang dia rasakan layaknya saraf yang memenuhi otaknya, sulit untuk dihilangkan bahkan untuk dilupakan begitu saja. Dia pun sempat menyesali kebodohannya yang selalu membanding-bandingkan segala sesuatu hal, termasuk keindahan alam. Dia baru menyadari jika semua hal memang memiliki sebuah kesan tersendiri bagi seorang manusia, tak terkecuali keindahan yang alam berikan. Dia pun sempat membenarkan perkataan Bumi yang pernah ditujukan terhadapnya bahwa tak akan ada seorang pun yang bisa menerima dirinya jika dia selalu membanding-bandingkan segala sesuatu hal. Tuhan telah menciptakan hal yang berbeda-beda sesuai dengan porsinya sendiri-sendiri, maka wajar jika setiap hal selalu memiliki sebuah perbedaan. Beragamnya suku dan budaya di negeri ini adalah salah satu contoh dari sebuah perbedaan yang Tuhan berikan kepada alam semesta ini.

Bila mengingat kembali kebodohannya sendiri membuat Pertiwi selalu menarik napasnya dalam-dalam sebelum kemudian dia hembuskan kembali bersamaan dengan sebuah penyesalan. Sebuah penyesalan begitu tergambar dari matanya yang sayu dan sebuah keinginan untuk bertemu lagi dengan teman-temannya telah terucap di dalam hatinya.

1 Desember 2013. Siang ini Bumi baru saja menginjakan kakinya di Bandara Juanda, Surabaya. Dengan jaket levis dan tas ransel yang menempel di punggungnya membuatnya terlihat begitu bergaya di antara ribuan orang yang memadati bandara siang itu. Setelah berada di luar bandara dia terihat seperti sedang kebingungan. Kepalanya tak berhenti menoleh ke kanan dan ke kiri seperti sedang mencari seseorang.
“Bumi!” tiba-tiba saja dari kejauhan terdengar suara yang tak asing lagi di telinganya berteriak memanggil namanya. Dia pun langsung melihat ke arah suara itu berasal. Terlihat seorang cowok dengan rambut gondrong yang diikat ke belakang sedang berlari sembari melambaikan tangan ke arahnya.
“Woy, Jek!” teriak Bumi yang langsung menyambut temannya itu dengan sebuah pelukan hangat. “Gila! Apa kabar lo men? Kangen banget gue sama lo!”
Jaka tersenyum lebar. “Baik lah gue… gue juga kangen gila sama lo men!” jawabnya sembari menepuk pundak teman lamanya itu. Yap! Dia adalah Jaka. Seorang teman yang sangat dirindukan oleh Bumi. Bumi sengaja datang ke Surabaya karena seminggu yang lalu dia mendapatkan telpon dari Jaka yang mengajaknya pergi berlibur bersama di kampung halaman Jaka yang berada di Probolinggo. Bumi yang tak ingin melewatkan moment seperti ini tentu saja langsung menerima undangan tersebut dan terbang ke Surabaya.

Setelah mereka saling sapa dan saling meluapkan rasa rindu satu sama lainnya, mereka pun beranjak pergi dari Surabaya menuju Probolinggo dengan menggunakan sebuah mobil Jeep putih milik Jaka yang penuh dengan bercak-bercak tanah yang melekat di sekitar bodinya. Di sepanjang perjalanan mereka saling bercerita banyak, mengingat masa-masa dulu yang tak pernah bisa mereka lupakan. Cerita lama yang akan menjadi sebuah dongeng di masa tua mereka nanti.

Sesampainya di kediaman Jaka yang berada di Probolinggo mereka berdua langsung disambut oleh keluarga Jaka yang memang sudah lama menetap dan tinggal di sana.
“Bumiiii!!” tiba-tiba saja terdengar teriakan histeris yang menyambutnya ketika dia baru saja turun dan menginjakan kakinya ke tanah. Suara seorang perempuan yang tak asing lagi di telinganya. Seorang perempuan dengan tubuh yang berisi terlihat berlari menghampirinya. Seketika mata Bumi langsung terbuka lebar dan mulutnya ikut tersenyum lebar ketika melihat perempuan yang menghampirinya itu ternyata adalah teman yang juga dirindukannya.
“Riniii!!” teriaknya sembari memberikan pelukan hangatnya lagi untuk sahabat lamanya ini. Mereka pun saling meluapkan rasa rindu yang sempat menyesakan dada. Ternyata bukan hanya Bumi yang diundang oleh Jaka untuk berlibur bersama di kampung halamannya, tetapi Rini juga ikut diajak olehnya. Di saat Bumi dan Rini sedang terhanyut dalam nostalgia tiba-tiba saja muncul sosok perempuan yang berjalan lambat menghampirinya dari belakang Rini. Bumi sempat terpaku ketika melihat sosok perempuan yang sedang berjalan lambat ke arahnya itu.
“Tiwi?” panggilnya dengan suara yang pelan.
Pertiwi hanya tersenyum kecil saat berjumpa dengan Bumi. Tingkah mereka berdua seperti dua orang yang baru berkenalan. Serba salah dan terlihat kikuk. Jaka dan Rini yang sedang berada pada situasi tersebut merasa harus bertanggung jawab untuk membuat keduanya kembali seperti dulu.
Jaka yang berdiri di samping Bumi mendeham pelan. “Lo berdua udah nggak marahan lagi kan?” tanyanya mencoba memastikan keadaan mereka berdua yang sudah tak lagi saling menyimpan dendam. Namun mendengar pertanyaan Jaka barusan membuat Bumi dan Pertiwi hanya berada dalam kebisuan.
“Sstt!” bisik Rini sembari menyenggol lengan Pertiwi sebagai sebuah isyarat.
“Emm… enggak kok kita udah baikan kan ya?” saut Pertiwi yang tersenyum manis ke arah Bumi sembari mengacungkan kelingkingnya ke arah Bumi. Melihat sebuah senyuman yang dilontarkan padanya serta respon yang diberikan Pertiwi barusan membuat Bumi juga ikut tersenyum lebar. Bumi yang sempat terpaku sejenak kemudian ikut mengacungkan kelingkingnya dan mengaitkannya ke kelingking Pertiwi sebagai tanda jika mereka sudah baikan seperti dulu. Tatapan mereka sudah saling bertemu diiringi oleh senyuman yang saling membalas.

Sore itu, langit jingga menyapa ramah senja di Probolinggo layaknya dua anak manusia yang kembali dipertemukan dalam sebuah perdamaian. Sebuah konflik yang terjadi sepertinya baru saja terkikiskan oleh sebuah rasa rindu dari sebuah ikatan pertemanan.

2 Desember 2013. Suara tapal kuda yang beradu dengan lautan pasir Bromo yang membuat beberapa partikel debu terangkat dan terhembus oleh angin senja menjadikan sore itu sebagai saat-saat yang menyenangkan. Empat anak manusia yang saling berbagi keceriaan terus saja menopangkan diri di atas punggung kuda yang sedang menari-nari di atas lautan pasir Bromo. Berlatarkan gunung Semeru dengan kepulan asapnya yang memenuhi langit senja terlihat begitu mempesona memberikan sebuah kesan bagi mata yang memandanginya. Cahaya sang mentari yang menyilaukan mata di kala senja menjelang mengubah warna langit menjadi jingga seolah menjadi hal yang paling ditunggu-tunggu saat berada di tempat seperti ini. Indah… hanya itu kata yang bisa terucap begitu melihatnya.

3 Desember 2013. Pukul 03.00 WIB Jeep putih yang berisikan empat serangkai itu beranjak pergi menuju Penanjakan untuk menyaksikan sang penguasa langit menunjukan jati dirinya di kala fajar menjelang. Udara dingin yang terasa seperti menusuk kulit membuat empat anak manusia ini harus menggunakan jaket yang tebal untuk bisa bertahan di puncak Penanjakan demi melihat keindahan sang alam dari ketinggian. Pukul 04.30 WIB jaket tebal, kupluk kepala, dan sarung tangan seperti menjadi pelindung bagi tubuh mereka dari menusuknya udara dingin yang menerpa di puncak Penanjakan. Bersama teman menunggu kemunculan sang penguasa langit di antara keindahan panorama Gunung Bromo, Gunung Batok, dan Gunung Semeru yang membentuk sebuah kaldera raksasa terselimuti oleh tebalnya kabut layaknya sebuah samudra di atas awan. Sekitar pukul 05.00 WIB perlahan sang fajar mulai menunjukan jati dirinya. Pancaran cahaya dengan gradasi warna yang begitu tipis dan sempurna antara merah, jingga, dan kuning terlihat muncul dari balik kabut tebal dan gunung-gunung yang berdiri kokoh di depannya, mulai membentang menembus khatulistiwa. Sebuah sinar mulai membentuk garis-garis yang membentang menyinari hampir seluruh wilayah yang membentuk sebuah kaldera raksasa itu, memberikan isyarat jika sang penguasa langit telah bangkit. Di balik dekapan tebalnya jaket demi melindungi diri dari dinginnya udara pagi, menjadikan itu sebagai sebuah perjuangan yang tak akan pernaha sia-sia. Menusuknya udara dingin yang menembus kulit saat sang fajar menjelang seperti sudah terbayar begitu mudahnya setelah melihat sang lukisan alam tercipta dari puncak Penanjakan. Decak kagum, rasa syukur, dan merasa kecil di hadapan Tuhan, semua tercampur aduk menjadi satu saat Tuhan memperlihatkan lukisan alam nan indah dan elok di sepasang mata keempat anak manusia ini. Gejolak darah dalam tubuh mereka seakan bergetar membuat sekujur tubuh mereka seperti merinding saat menyaksikan sebuah keagungan Tuhan.

Mereka saling berdiri berdampingan, saling menatap, saling tersenyum, dan saling merangkul erat tubuh mereka sepanjang mentari memperlihatkan sisi keindahannya. Mereka merasa bersukur karena telah terlahir di tanah yang kaya ini. Di tanah yang memiliki banyak keragaman suku dan budaya. Di tanah yang memiliki ribuan jenis flora dan fauna. Di tanah yang memiliki ribuan panorama terindah yang disuguhkan oleh alam. Di tanah yang tertancapkan sebuah bendera yang dengan gagahnya berkibar di angkasa dengan warna merah dan putih sebagai simbol kebanggan. Di tanah yang selalu kita sebut dengan tanah air Indonesia.

Sebuah pelajaran hidup telah diambil dari kisah perjalanan yang mereka alami. Tak ada yang perlu dibanding-bandingkan karena semua telah diciptakan oleh Tuhan sesuai dengan porsinya. Mereka sadar betapa pentingnya rasa toleransi dalam sebuah hubungan manusia agar tak ada perpecahan yang terjadi di antara mereka. Mereka juga tersadar betapa pentingnya menghargai berbagai macam keindahan alam yang berpijak di negeri tercinta ini sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan yang telah menitipkannya pada kita. Sebuah keindahan bukan hanya soal sebuah pemandangan alam semata, tapi juga soal kehidupan yang rukun, saling berdampingan, dan saling mengasihi.

– Sekian –

Cerpen Karangan: Rahardian Shandy
Blog: komedi-romantis.blogspot.com
Facebook: Rahardian Shandy

Thanks yang udah mau baca 🙂
mampir-mampir ke blog gue ya! komedi-romantis.blogspot.com

Cerpen Bumi Pertiwi (Part 3) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Boyfriend and Best Friend

Oleh:
Namaku Marsya, aku terlahir dari keluarga yang kaya. Aku anak bungsu dari dua bersaudara. Kakakku bernama Carisya, ia sudah kuliah dan jarang pulang ke rumah. Orangtuaku sangat sibuk dengan

Selepas Hujan

Oleh:
Hujan adalah hal yang paling sederhana yang membuat orang merasa tenang dan damai. Menit yang sama seperti yang aku lalui sebelumnya, bersenderkan sebuah tiang ring di sebuah lapangan basket.

Mungkin Lupa

Oleh:
Entah mengapa akhir akhir ini aku merasa ada yang berbeda dengan salah satu teman pada masa Sekolahku, entah apa yang menyebabkan dia mendadak lupa ingatan. Sebenarnya tak ada yang

Teruntuk Sahabatku

Oleh:
Sejenak aku teringat dengan masa kanak-kanakku. Masa yang sangat indah dan mengesankan. Terlebih saat dimana aku merasakan hari pertamaku mengenyam bangku pendidikan. Aku pun sering tertawa sendiri karna dulu

Change My Self

Oleh:
Hello, namaku Keshylla Summer panggil saja Keshylla aku adalah anak yang sangat tomboy, langsung to the point saja ya. Pada suatu hari ketika aku hendak pergi ke sekolah, Aku:

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *