Endik And The Myth

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Lucu (Humor), Cerpen Nasihat
Lolos moderasi pada: 4 February 2018

Endik berjalan sempoyongan, mukanya kusut bak kain lapnya mpok suti. Badannya kian kurus tiap hari, gak mau makan katanya. BAHH. Manja.

“le, kok nggak pulang?”
“nggak mbak, aku nggak mau pulang, tiap pulang pasti bawaannya baper terus,”
“welha, ngapa? kok baper sih, laki kok baperan. Dasar!,”
“mbak nggak tahu sih rasanya jadi aku, semenjak Sheila meninggal, aku cuman kayak butiran debu mbak, percuma aku hidup kalau nggak ada dia, separuh hiduku tuh!,”

“Wela… bocah dasar!! Ayam mati kelindes aja, kok dikasih nama sheila, bah!! Sinting,”
Astuti berlalu begitu saja.
“dasar perawan tua!,” cela endik.

Berhari-hari endik tidur di pos ronda. Mamak si endik sudah pasrah, sama itu kelakuan. Sesal di hatinya, kenapa tidak menyekolahkan anaknya sampai SMP atau kalo bisa SMA. Perkara duwit itu sih ada, tapi emang dasar endiknya bodoh. Ngitung dua tambah dua aja nggak bisa apalagi kalau disekolahin Sampai SMA. Bisa-bisa mamak endik jadi dipanggil BK tiap hari, gergara endik nggak ngerti apa itu limit sama trigonometri. Duh. Perasaan sudah ngidam burger sama pizza yang belinya aja di singapura, biar anaknya besok jadi calon pengusaha eh malah njebrolnya calon penghuni rumah sakit jiwa. Sabar mak.

“Sheila sayangku, maafin aku ya, gergara aku makan nggak kuhabisin, kamu jadi kecelakaan, aku emang bodoh, nggak bisa jagain kamu, tapi kelak di surga nanti bila kita berjodoh aku nggak akan ninggalin kamu, barang sedetikpun. Jadi please, maafin aku ya, aku takut banget kamu di atas sana nggak tenang. Kalau gitu aku pergi dulu ya. Bye,”

Pagi ini raut muka endik tampak segar, ia telah menemukan sebuah gagasan baru bahwa seorang jodi alias jomblo ditinggal mati itu nggak membuat hidup itu stuck sampai situ aja. Kita harus move on, karena hidup masih panjang. Kita harus memanfaatkannya ke yang lebih bermanfaat. patah hati bukan harga mati. Begitulah gagasan endik saat ini. Endik memang cuman lulusan SD, but don’t judge by cover. Dia adalah pencetus kalimat bijak paling baik sekecamatan. Bahkan pak camat saja terkagum-kagum tak bisa bicara mendengar kalimat bijaknya. Entah karena benar merasa endik itu cerdas, atau malah saking nggak ngertinya dengan apa yang dibicarakan oleh endik.

“buk, ndak mau aku buk, nanti aja. Aku sudah kenyang ini” kata seorang anak kecil, mulutnya belepotan kecap di mana-mana. Menimbulkan kesan bahwa dia makan dengan lahap, tapi pada nyatanya setengah piring pun tak habis. Endik melihat itu langsung muncul jiwa bijaknya.
“hayo! Makan itu dihabisin, Nanti kalo nggak makan ayam kamu mati lho dek,”
“tuh dengerin, masnya ngomong. Ngeyel sih mas ini anak,”

“bohong buk! Masak gergara, makan gak habis si Jago bakalan mati. Ibuk sama mas bohong,” anak kecil ini menuding-nuding pada endik. Sorot matanya menatap penuh selidik.
“kamu pikir mas bohong? Memang di raut muka mas ada tanda tanda kebohongan? Enak saja kau ini dek,” saut endik sambil terus merapikan rambutnya yang jabrik itu.
Anak kecil ini terus mengamati perilaku endik. Orang gila kali ya, batinnya.

“kenapa ngeliatin terus?”
“nggak papa, habis mas-nya aneh banget mukanya,”
“mau denger sebuah kisah enggak?” tanpa menghiraukan ledekan si bocah. endik mulai bercerita tentang kisahnya.
“jadi pada waktu itu—” tanpa menunggu si bocah itu, mau mendengarkan atau tidak.

“MAK, sudah kenyang aku ini, endak mau makan lagi, aku mau nenggok sheila dulu,”
“walah walah le, kamu ini gimana sih, sudah besar makan nggak pernah dihabisin, nanti kalau makan gak dihabisin ayam kamu mati lho le,”
“alah mamak ini gimana, itu mah mitos, segala percaya aja sama yang gituan,”

“hus kamu ini, mitos apa enggak kan kita tak tahu, kita mah menjalankan saja, ini sudah tradisi kalau makan itu ya dihabiskan, kalau kata pepatah jawa, kalau makan nggak habis itu ora ilok,”
“heleh, ndak percaya aku mak, sudah lah tak tengong sheilaku dulu, bye mamak,”
Syalalalala…

“sheila sayangku di mana ya,” endik menengok ke kanan dan kiri. Matanya memincing tajam. Mencoba mencari sheila, ayamnya yang tersayang.

CKITTT…. BRUKKK… PETOK PETOK…
Kepala endik berputar 90 derajat mencari sumber suara. Saat ia menoleh. Itu juga yang menghancurkan dunianya. Memori tentang wiwik induk dari sheila yang dibawa almarhum bapaknya. Yang menetaskan sheila di dunia yang kejam ini. Setiap pagi endik menjemur nasi basi supaya keras lagi, lalu setelah keras mencampurkannya dengan dedak atau debu gilingan padi. Hanya demi sheila selalu kecukupan gizi. Merawat menjaga dan mengorbankan seluruh hidup, mencurahkan hanya demi sheila. Namun kini di depan matanya sendiri, ia melihat sheila lemah tak berdaya, ditabrak bemo berwarna biru berplat B 09*1 OZ. sungguh ironi yang mengenaskan.

“eh mas.. kamu tau ini ayam siapa enggak? mati nih, kira kira yang punya marah enggak ya? di dekat sini ada kali nggak mas? ayam ini harus segera dibuang nanti jadi busuk nih. Wah apes banget saya nabrak ayam. Untung bemo saya gak apa-apa,”

Endik hanya mematung. Melihat si supir bemo mengangkat tinggi dengan satu tangan, kekasih hatinya. Jika membunuh ayam ada pasal berlapisnya. Ia akan berteriak, dan menatap penuh intimidasi lalu menyeret si supir ke kantor polisi. Kalau perlu mengikat tangan si supir sekalian. Namun khayalan hanyalah khayalan. Semua terjadi begitu cepat dan teragis. Kekasih hatinya hancur kepala dan sayapnya. Ia menunduk, berbalik lalu berlari menjauh.

Hiks… hiks…
“Sheilaku sayang, hiks … kenapa hidup ku jadi seperti ini,” seketika omongan mamak sebelum kejadian naas ini terpatri dalam otaknya.

Lima detik kemudian.
“APA, TIDAK INI TIDAK MUNGKIN. Ngawur. Ini hanya mitos! Nggak nggak ini salah” suara endik naik satu oktaf, membuat orang orang memandang aneh ke endik. Dasar orang gila. Begitu mereka mengira.

“jadi maksud mas, kalau aku ndak makan aku kena karma gitu, ayam aku mati gitu? jangan nyama nyamain dong mas. Paling itu kebetulan gitu. Iklaskan saja. Cobaan di dunia emang sulit, memang gitu,” anak kecil ini menerangkan, menirukan bu suketi, guru bahasa indonesianya.
“seprul! Diomongin malah ganti ceramah, tahu apa kamu anak kecil. Dasar!,”
“hus.. ayo dek kita pulang. Sudah sore” ibu si anak merasa bahwa endik aneh bin ajaib. Membuatnya memutuskan untuk pergi saja, berurusan dengan orang setengah gila hanya akan membuat pusing. Pikirnya.

“Eh… tunggu, tunggu” seru endik namun ibu dan si anak itu malah kian menjauh.
“dasar ibu dan anak gila. Diberitahu malah ngilang, awas aja itu bocah kalau besok nangis nangis gegara ayamnya mati, hahaha… rasain,” endik mendumel tidak karuhan.

Mulai saat itu juga endik mulai menemukan tujuan hidupnya. Ia berceramah ke kampung kampung yang banyak anak kecilnya. Ia bercerita bahwa mitos itu benar adanya. Anggapan bahwa makan harus dihabiskan, kalau tidak ayam atau perliharaannya akan mati. Namun pikirannya mulai berubah sekian waktu.

Dua tahun, satu bulan, dua belas hari kemudian.
Endik menemukan suatu pemikiran logis, yang ia petik dari sebuah buku kusam yang ia temukan di dekat tong sampah taman komplek sebelah. Bahwa kita harus lebih menghargai makanan. Misalnya nasi. Nasi walau cuman sepele, namun perjuangannya susah. Dari mulai membibit, menanam, mempupuk, mengaliri air, menanti sampai waktu tiba dengan membuat lonceng dan orang sawah supaya burung-burung yang hendak hinggap tak berani mendekat. Lalu menjemur padi, terus menggilingnya. Menanak. Lalu menjadi sebuah nasi. Sangat sayang bila kita makan tak menghabiskannya. Ini adalah sebuah pepatah jawa tentang ra ilok. namun maksud di dalamnya. Adalah kita harus lebih menghargai makanan yang disediakan untuk kita. Masih banyak orang-orang tidak mampu, yang kelaparan tak bisa makan.

TAMAT

Cerpen Karangan: Pelemmadu
telah mengikuti banyak lomba penulisan, selalu mencoba berusaha untuk memperbaiki diri lebih baik setiap harinya.
salam kenal

Cerpen Endik And The Myth merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Peringkat 1 (Part 2)

Oleh:
Hari Minggu. Tidak ada hari yang lebih baik selain hari minggu yang cerah di musim penghujan. Sebuah pemandangan biru terhampar luas di atas kepalaku. Awan-awan saling menunjukkan bentuk pola

Antara Ayah, Anak, dan Burung Gagak

Oleh:
Pada suatu petang seorang tua bersama anak mudanya yang baru menamatkan pendidikan tinggi duduk berbincang-bincang di halaman sambil memperhatikan suasana di sekitar mereka. Tiba-tiba seekor burung gagak hinggap di

Habis Galau Terbitlah Move On

Oleh:
“Rara… BANGUN…, udah siang ini weh lu kagak bangun ape?, lu mau gantian ama Mami jaga warung hah?” Mami teriak-teriak nggak jelas di kamar gue. “Berisik! 10 menit lagi

Dimana Kolor Gue?

Oleh:
Gue tertidur pulas dalam alunan gelap malam di bawah genteng rumah yang sebentar lagi rubuh. Genteng rumah itu udah tua banget. Sampai-sampai gue merasa angker setiap kali ingin tidur.

Jahe

Oleh:
JAHE ! Kata itu yang sampai saat ini masih terngiang-ngiang di otak gw.. kenapa?Loe bakal tau jawabanya… tapi sebelumnya marilah kita panjatkan puji syukur akan kehadirat ketua RT maupun

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *