Hidup Si Lumut

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Anak, Cerpen Nasihat
Lolos moderasi pada: 27 November 2017

Di sebuah halaman belakang, di sekolah yang kecil, terdapat sepetak paving dengan lumut di atasnya. Setiap istirahat tiba, selalu ada dua anak yang mengamati lumut tersebut. Anak yang pertama bernama Atul, dan anak yang kedua bernama Isma.

Atul adalah seorang anak dari keluarga pekebun dan Isma berasal dari keluarga Islami. Setiap hari, ketika mereka mengamati lumut itu, mereka selalu berdebat.
“Lumut seperti ini harus dibasmi! Mereka selalu mengganggu tanaman-tanaman bapakku. Mengotori tembok pembatas kebun, dan membuat halaman belakang rumahku menjadi kotor dan licin” kata Atul berapi-api seraya hendak mencabutnya. “Jangan!! Lumut ini adalah makhluk ciptaan Allah SWT. Kita tidak boleh mengganggunya. Mereka juga berhak hidup” kata Isma mencegah perbuatan Atul.
“Tapi aku melihat Bapakku selalu membasminya. Kata bapakku seperti ini harus dihilangkan kalau kita tak ingin dirugikan” Atul tetap bersikekeuh dengan pendapatnya. Tak ayal lagi, mereka mulai terlibat dalam pertengkaran kecil.

Untunglah, sebelum pertengkaran mereka membesar, pak Abdi, guru mereka datang menghampiri. Mereka meminta pendapat kepada beliau. Atul pun menceritakan permasalahan mereka kepada pak Abdi. Setelah mendengar permasalahan mereka, pak Abdi pun diam sejenak. Beliau menatap kedua muridnya yang sedang berselisih tersebut.

“Anak-anak…” pak Abdi mulai angkat bicara.
“Allah SWT menciptakan bermacam-macam makhluk di dunia ini. Ada makhluk hidup dan makhluk mati. Setiap makhluk hidup berhak untuk hidup, namun ada temaptnya sendiri-sendiri. Lumut yang ada di rumah Atul jelas mengganggu, maka boleh dibersihkan. Tapi apakah lumut ini mengganggu kalian?” tanya pak Abdi kepada Atul dan Isma. Atul dan Isma diam memikirkan pertanyaan pak Abdi. Setelah beberapa saat kemudian, mereka menjawab bersamaan.
“Tidak, pak. Lumut ini tidak mengganggu kami”
Pak Abdi pun tersenyum. “Berarti lumut ini tak perlu dibasmi sementara ini, Karena mereka berhak untuk hidup. Namun bila lumut ini mulai mengganggu dan mengotori halaman belakang sekolah kita, kita harus membersihkannya” jelas pak Abdi. Mereka pun mengangguk faham.

“Nah, sekarang tak perlu ada yang diperdebatkan lagi. Kalian harus bermaaf-maafan dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Kita harus hidup secara damai dengan sesama” kata pak Abdi mengakhiri nasehat beliau.

Sejak saat itu, Atul dan Isma tetap mengamati lumut yang ada di paving belakang sekolah itu. Namun tak pernah terdengar lagi perdebatan di antara mereka.

END

Cerpen Karangan: Nurul Istiqomah
Facebook: Nurul Istiqomah
Santri Pondok Pesantren Nahdlatussubban

Cerpen Hidup Si Lumut merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Bodyguard Cantik

Oleh:
Halo.. namaku Handini.. hobiku biasanya ke pasar, tapi bukan seperti perempuan yang hobi belanja aksesoris, tapi aku ke pasar mencari pencopet yang beraksi. Tapi belakangan ini aku belum mendapat

Sahabat Terbaik

Oleh:
Hay guys perkenalkan namaku adalah Avril. aku akan menceritakan tentang sahabat baikku. Orang di dunia ini pasti mempunyai sahabat. Bila orang di dunia ini tidak mempunyai sahabat. pasti hidupnya

Ibu, Aku Minta Waktumu Sedikit Saja

Oleh:
Bercerita seorang anak, yang sedang bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah. Namanya Mayltha Farsha. Biasa dipanggil May. Ia tinggal memakai sepatu, dan segera ia berangkat sambil berjalan kaki. Sesampainya di

Why Did You Leave Me?

Oleh:
Hai, namaku Milaya Amalia Zakila. Aku bisa dipanggil oleh keluarga, dan teman-temanku Kila. Aku tinggal di Bogor, Jawa Barat. Aku bersekolah di SD At-Taufiq. Aku punya 4 sahabat. Mereka

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *