Kisah Cinta Rahmatan Lil ‘Alamin

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Islami, Cerpen Nasihat, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 3 April 2018

Pada sore hari yang sunyi, Dani meratapi dan merenungi nasib yang terjadi padanya. Sesuatu yang direnungkannya tidak lain dan tidak bukan adalah Lia. Lia adalah anak yang baik hati, dia berada di lingkungan keluarga yang memberikan kasih sayang penuh terhadapnya. Berbeda dengan dani, dani suka sekali membangkan terhadap perintah orangtua. Karena dia memandang bahwa kehidupan itu akan datar saja ketika kita tidak berpetualang. Mereka berada di kelas yang sama di sekolah.

Seperti biasa, di pagi hari pada saat jam masuk sekolah, dani datang dan membuka pintu. Di saat itu pula Lia juga ingin keluar dari kelas untuk pergi ke toilet. “Selamat pagi Li” sapa dani sambil mengeluarkan senyuman mautnya. “Iya dan” jawab lia sambil membalas senyuman dari dani. Lalu dani duduk di bangku samping kanan lia.

Setiap kali pelajaran sekolah berlangsung, dani selalu melakukan curi-curi pandang ke Lia. Lia tidak mengetahui hal tersebut, karena Lia memiliki prinsip bahwa sekolah itu untuk mencari ilmu, bukan untuk hal yang lain. Apalagi sampai berpacaran, Lia sangat tidak suka dengan perilaku tersebut. Karena menurut Lia, berpacaran adalah perilaku yang bisa menghambat masa depan. Karena dengan kita berpacaran, kita akan fokus bagaimana bisa memberikan kasih sayang kepada pasangan kita. Padahal kita hidup di dunia ini tidak selamanya, sewaktu-waktu kita akan meninggal, dan akan mempertanggung jawabkan apa yang kita lakukan di dunia ini. Dan pada akhirnya, kehidupan abadi yang sebenarnya akan kita jalani antara surga atau neraka. Itulah prinsip yang dimiliki oleh Lia. Namun prinsip hidup yang dimiliki oleh dani berbeda, ia terbiasa dengan dunia luar. Ia tidak pernah sampai memikirkan sesuatu yang berhubungan dengan kematian. karena menurutnya, pada saat remaja kita perlu bersenang-senang. Persoalan memikirkan amal ibadah, itu nanti pada saat kita tua.

Pada suatu waktu, Dani duduk di samping Lia. Lalu dia berkata “Hai Li, aku mau tanya ke kamu boleh?”. Lia menjawab “Tanya apa dan?, kok jayaknya serius banget”. “Iya Li, kamu kok tak perhatiin gak pernah deket sama laki-laki sih Li?” sahut Dani sambil senyum-senyum. Lalu Lia menjawab pertanyaan Dani dengan bahasa Cerdasnya dan sambil senyum-senyum “seberapa penting pertanyaanmu itu dan?, emangnya kalau kamu tau jawabannya, dampaknya terhadap kamu apa?, hehehe”. “Penting banget Li, siapa tau nanti bisa daftar pertama” sahut dani. “Ih, kamu ini dan. Masih kecil kok sudah mikirin cinta-cinta’an. Sekolah dulu. Tuh liat nilaimu. Sampai-sampai peringkat satu dari bawah” jawab Lia dengan sedikit senyuman.

Lalu Dani menjelaskan isi perasaannya kepada Lia “hehehe, iya Li, setiap kali aku melihatmu di kelas, entah kenapa jantungku terasa berdegup kencang. Dan setiap kali kita pulang sekolah, aku selalu mikirkan bagaimana keadaanmu saat perjalanan, aku takut kamu kenapa-kenapa Li, apa mungkin ini yang namanya cinta?”. “Ya Ampun dan, padahal tadi sudah dijelaskan, hehehe” jawab Lia dengan nada bercanda. “Ini aku serius Li, bukan bercanda, ya walaupun dikit sih, hehehe” Jawab Dani dengan sedikit bercandaan juga. “Dan, aku punya pertanyaan ke kamu. Pernahkah kamu membayangkan, pulang sekolah ini kamu ngapain?” tanya Lia. Lalu Dani menjawab, “Pulang sekolah ini aku rencananya sih main sama temen-temen Li, emang kenapa?”. “Kalau misalnya kamu pulang nih, terus dalam perjalanan tiba-tiba kamu kecelakaan, dan masuk rumah sakit dalam kondisi kritis, bagaimana perasaanmu?” jawab Lia. “Naudzubillah, gak boleh ngomong gitu Li, gak baik” jawab polos Dani. “Ini seumpama Dan, kan kita tidak tau apa yang terjadi di masa depan, jadi peluangnya bisa saja terjadi dan bisa juga tidak. Dan kalaupun terjadi, apakah kamu sudah siap di kematian?, apakah amalmu sudah banyak?, sehingga kamu bisa santai-santai selagi hidup di dunia?. Coba kamu renungkan. Mungkin selama ini kita lupa, bahwa kita tidak tahu kapan kita meninggal, dan dalam keadaan apa kita meninggal. Padahal kita sudah tahu kan rasa sakit dari meninggal itu seperti apa”. Sedikit Penjelasan Lia ke Dani.

Lalu dani tiba-tiba diam seribu kata. Dia tidak menjawab pertanyaan dari Lia, dia tiba-tiba merenungkan pertanyaan dari Lia. Sampai-sampai ketika pulang sekolah, Dani masih terus memikirkannya. Di perjalanan ia pulang, dengan langkah kakinya, dani berkata dalam dirinya sendiri “Apakah amalku sudah banyak, sehingga aku bisa melakukan perbuatan-perbuatan dosa dengan bebas?. Ya Allah, maafkan hambamu ini, maafkan aku yang telah melupakan kenikmatan yang engkau berikan. Aku lupa bahwa nantinya aku akan meninggalkan dunia ini, dunia yang setiap orang kagumi. Dunia dimana sedikit kenikmatan yang Engkau berikan, mampu membuatku terlena.”

Lalu keesokan harinya pada saat di sekolah, Dani langsung menuju ke bangku sebelah Lia. Di situ juga ada Lia yang sedang membaca buku. Dani tiba-tiba datang dan menyela kegiatan dari Lia sambil berkata “Li, boleh ngobrol sebentar?”. Lalu Lia menjawab “lama juga gak papa kok dan, kan waktu masuk masih setengah jam lagi, hehehe”. “Aku minta maaf ya Li, kemarin sudah berkata aneh-aneh ke kamu, dan juga terima kasih telah menyadarkanku, berkatmu aku menjadi sadar bahwa kasih sayang Allah melebihi kasih sayang Ibu terhadap Anaknya.” jelas Dani. Lalu Lia menjawab sambil memberikan senyuman kepada Dani “Iya sama-sama Dan, Alhamdulillah”

Tahun demi tahun telah mereka lewati disekolah. Hingga pada akhirnya mereka lulus dan masuk dalam kuliah yang sama juga. Dani mengambil jurusan manajemen. Sedangkan Lia mengambil jurusan akuntansi.
Pada suatu waktu di taman perumahan, Lia sekedar duduk untuk membaca buku. Tak sengaja dani lewat di taman tersebut dengan langkah kakinya. Mengingat rumah dani dekat dengan taman tersebut. Lalu dengan sigap Dani langsung menghampiri Lia. “Li, lagi baca buku apa?” tanya Dani. “Daaaniiii, kok kamu di sini dan?” jawab kaget Lia. Lalu Dani menjawab “Iya lagi jalan-jalan nih, kebetulan lewat sini”. Akhirnya mereka ngobrol-ngobrol di taman tentang permasalahan belajar di kuliah. Dani yang sedari awal fokus belajar, tidak memperhatikan kondisi fisik dari Lia. Hingga pada akhirnya Dani bertanya ke Lia “Li, sekian lama gak bertemu, wajahmu kok kelihatan berubah ya”. “Kenapa, tambah cantik ya?, hehehe” gurau Lia. Lalu Dani membalas ejekan Lia “enggak, justru sebaliknya, hehehe peace”. “Ih Dani bisa aja, wajahku ya tetep seperti dulu kok Dan. Gak berubah kali” jelas Lia. Lalu dalam hati Dani berkata “kamu tambah cantik Li, beda dengan yang dulu. Ya Allah, aku sampai gak percaya punya teman secantik dan sebaik kamu”. Lalu dia sadar dengan apa yang diomongkannya “Astaghfirullah, sadar Dani, sadar.” Lalu Lia melambaikan tangannya ke wajah dani “Dan, kamu gak papa?, kenapa melamun?, nanti kesurupan lho, hehehe”.

Semenjak pertemuan mereka di taman, komunikasi antara Dani dan Lia semakin Intens. Bahkan sampai masalah personal masing-masing juga dibahas dalam komunikasi. Di kampus pun mereka sering ngobrol bersama di kantin sambil makan.
Hingga pada suatu ketika mereka makan di kantin dan memperbincangkan tentang sesuatu yang lebih filosofis.

“Li, menurutmu kalau Allah menciptakan manusia dengan perangkat perasaan. Tetapi pada kenyataannya dalam kita menjalani kehidupan, terkadang perasaan ini menghambat kegiatan kita. Misalnya kita makan, tapi karena kita trauma terhadap nasi, akhirnya kita gak bisa makan nasi. Berarti kan itu menghambat kita dalam beraktivitas. Kenapa ya Allah menciptakan perasaan tapi fungsinya malah menghambat kita dalam beraktivitas?” tanya Dani dengan bahasa filosofisnya. “Dani, jangan melihat suatu realitas dari sisi buruknya aja. Memang perasaan itu memiliki fungsi yang bisa dibilang memberikan efek negatif. Tetapi ada sisi baiknya.” jelas Lia. “Emang apa sisi baiknya Li?” Sahut Dani. Lalu Lia melanjutkan penjelasannya “misalnya kalau manusia semuanya tidak punya perasaan, ketika ibumu melahirkanmu, maka ibumu tidak akan merasakan senang melahirkanmu dan. Ibumu akan datar saja. Dan kamu pun tidak merasa senang memiliki orangtua seperti sekarang. Kamu tidak bisa merasakan enaknya makan bakso dan nasi goreng. Semua makanan akan sama.” “oh iya ya, bener juga Li.” sahut Dani. “Makanya kita harus bersyukur, Allah menciptakan perasaan agar hidup kita menjadi sempurna dan lebih indah.” jelas Lia. “Iya ya, kalau misalnya aku gak punya perasaan, ngelihatin Lia jadi biasa aja dong” Cletuk Dani. “Maksudnya Dan?” sahut Lia. “Enggak kok, gak papa. Hehehe” jelas Dani. Lalu Lia menjawab “beh, Dan-dan, kamu ini bercandaannya berlebihan. Hehehe”
Lalu mereka memutuskan untuk pulang bersama naik busway. Jarak antara kampus dengan halte lumayan dekat, sehingga mereka jalan kaki dari kampus ke halte. “Li, kamu gak capek jalan kaki?” tanya Dani. “Enggak lah, kan aku kuat, hehehe” jawab Lia

Tiba-tiba Dani mempertanyakan sesuatu yang berhubungan dengan Perasaannya terhadap Lia.
“Li, aku pernah berkhayal di masa yang akan datang. Ketika dewasa nanti, aku berharap memiliki Istri yang seperti kamu. Baik, pintar, dan peduli terhadap sesama. Sehingga keluargaku nanti akan menjadi keluarga yang bahagia. Hehehe.” jelas Dani. “Dan, aku bukan perempuan yang sempurna. Aku juga memiliki kelemahan. Masih banyak di luar sana perempuan-perempuan yang lebih baik dari aku Dan.” jawab Lia. “Iya Li, memang di luar sana banyak yang lebih baik. Tapi semua manusia itu memiliki keunikan sendiri-sendiri. Jadi pada hakekatnya tidak ada yang sama secara 100 persen. Bener kan?, hehehe” jelas dani menjawab pernyataan Lia. “Iya juga sih dan, tumben kata-katamu bener, wkwkwkwk” gurau Lia. Lalu Dani menjawab “Itu kamu yang ajarin. Hehehehe”.

Tiba-tiba obrolan sambil jalan tersebut terhenti. Dan mereka berdua juga tiba-tiba menghentikan langkah. Mereka berdua saling berhadapan. Lia menatap tajam mata Dani. Dan Dani pun juga menatap tajam mata Lia. Lalu Lia berkata “Dan, terima kasih ya sudah jadi sahabatku, berkatmu aku belajar banyak. Aku pun juga sama sepertimu, aku juga berharap punya Suami yang baik, sholeh, dan juga peduli terhadap sesama seperti kamu dan. Tapi untuk saat ini, aku pingin fokus ke perencanaan karirku, hingga nantinya ilmu yang kudapatkan ini, bisa bermanfaat untuk masyarakat. Dan aku yakin, kamu pun juga pasti memiliki pemikiran seperti itu. Jadi, seandainya perkataanmu itu benar. Kamu jaga perasaan itu ya, aku pun juga akan mempertahankan perasaan ini. Nanti setelah kita sukses di karir kita. Baru kita bisa masuk ke jenjang berikutnya. Yaitu jenjang berkeluarga. Bagaimana?”. “Iya Li, aku tau kok kamu pasti akan berkata seperti ini, hehehehe. Aku akan menjaga perasaan ini kok. Maaf ya, aku harus jujur pada perasaan ini, karena kalau aku gak mengungkapkannya. Belajarku gak akan fokus, karena keinget kamu terus. Hehehe.” Jelas Dani. “Ya udah, sekarang jangan mikirin aku lagi ya, aku baik-baik saja kok. Kan ketemu terus di kampus. Kamu pikirkan tentang masa depanmu aja. Nanti akan ada saatnya kita bertemu lagi dan membahas tentang pernikahan. Gimana setuju?, hehehe” jelas Lia sambil bergurau. Lalu Dani menjawab “Iya Li, setuju. makasih ya”.

Hari demi hari mereka lewati. Dan akhirnya mereka lulus dalam menjalani kuliah. Lia mendapatkan nilai terbaik satu kampus. Sedangkan Dani berada di peringkat 2 setelah Lia. Mereka mendapatkan predikat cumlaude di kampusnya.
Dan pada akhirnya mereka menjalani karir masing-masing. Dani menjadi manajer di salah satu perusahaan BUMN di surabaya. Sedangkan Lia mendirikan usaha restoran sendiri di surabaya. Semenjak percakapan pulang kuliah, Dani dan Lia tidak pernah berkomunikasi. Mereka benar-benar fokus dalam belajarnya. Dan sampai menjalani karir pun mereka juga fokus. Dan mayoritas gaji mereka diberikan kepada lembaga-lembaga sosial di surabaya. Karena di surabaya masih banyak sekali kemiskinan yang melanda masyarakatnya. Karena Dani dan Lia memiliki kepedulian sosial tinggi, mereka sangat suka membantu sesama.

Lalu pada suatu ketika, Dani makan diwarung dan tak sengaja melihat Lia juga makan di sana dengan teman perempuannya. Dani yang menyadari hal tersebut langsung menyapa Lia. “Lia” sapa Dani. “Lho, Daaaniii. Apa kabar dan?” jawab Lia. “Baik kok Li, aku boleh gabung gak?, tempatnya penuh nih.” pinta Dani. “Iya boleh, duduk aja” jawab Lia. Akhirnya dani duduk di meja makan yang Lia tempati. Sehingga di meja makan tersebut ada 3 orang. Tiba-tiba Ratna (teman Lia) pamit kepada Lia, karena ia lupa bahwa ia punya janji. “Li, aku pulang dulu ya, aku lupa kalau sekarang aku ada janji.” pinta teman Lia. “Oh, iya rat, hati-hati ya di jalan” jawab Lia. Teman Lia memberikan jempol yang menandakan kata “oke” kepada Lia. Akhirnya di meja tersebut hanya tersisa Lia dan Dani. Obrolan pertama dilontarkan oleh Dani “Li, gimana pekerjaanmu?”. Lalu Lia menjawab “iya beginilah dan, dari pagi sampai malam fokus kerja. Kadang sampai lupa orangtua. Hehehe. Kamu gimana kerjaanmu?”. “Lancar kok Li” jawab Dani. Lalu dani teringat dengan obrolan pulang kuliah dulu dan ia memberanikan diri berkata kepada Lia. “Li, kamu…”. “kenapa dan?, kamu gak papa?, atau salah minum obat?. Hehehe” gurau Lia. “Tiba-tiba kok aku jadi gugup gini ya, hehehe” Kata Dani.”Oh, gugup kenapa dan?, tenang, aku gak gigit kok” lanjut Lia dengan gurauan. “Wkwkwk, kamu tetep aja Li, gak pernah berubah. Padahal sudah lama gak ketemu”. “Iyalah Dan, mau berubah jadi apa?, kyuubi ekor 9?, ya aku tetap begini lah” sahut Lia.

Dan akhirnya Dani memberanikan diri untuk bertanya yang seharusnya kepada Lia “Li, kamu sudah berkeluarga?”. “Eeeaaaa, akhirnya pertanyaan itu muncul. Hehehe” Gurau Lia. “Ih, Serius Li, Dasar.” Sambil Dani memberikan senyuman kecil ke Lia. “kebetulan belum dan, masih sendiri. Tapi ibu nyuruh cepet nikah. Ibu pingin menggendong anak soalnya” jelas Lia. “Li, masih ingat dengan janji kita?” tanya Dani dengan senyum-senyum kecil. “Janji yang mana, emang kita pernah janjian Dan. Kayaknya aku lupa. Hehehe” jawab Lia dengan gurauan. “yaelah, yang dulu Li, waktu kuliah” jelas Dani sambil memberikan kedipan-kedipan sebagai tanda. “iya-iya dan, aku masih ingat kok. Kamu itu ingatnya ituuu mulu.” jawab Lia. “tapi ada syaratnya dan.” Lanjut Lia. “oh ada syaratnya, apa Li?” tanya Dani. “Syaratnya adalah kamu datang langsung ke orangtuaku. Langsung ngomong ke mereka. Gimana?, berani gak?.” tantang Lia. “Insya Allah, berani kok. Ya walaupun pasti ada gugup-gugupnya. Hehehehe” Jawab Dani.

Akhirnya mereka berdua datang ke rumah Lia. Dan Dani meminta izin ke orangtua Lia untuk meminang Lia menjadi Istrinya. Orangtua Lia akhirnya menyetujui pernikahan mereka berdua. Hingga akhirnya Allah SWT memberikan mereka keluarga yang sakinah, mawadah, warohmah.

Terkadang kita saat SMA atau Kuliah. Sering kali membahas tentang urusan pacaran. Apalagi abg-abg sekarang bahkan lebih sibuk memikirkan pacarannya daripada sekolah. Padahal kalau kita lihat kedudukan kita sebagai pelajar, kita adalah siswa yang belajar menuntut ilmu di sekolah. Yang mana nantinya hasil dari ilmu tersebut akan kita gunakan dalam dunia berkarir/bekerja. Kalau kita sibuk berpacaran di saat kita SMA. Terus ilmu apa yang kita pakai di dunia kerja?.

Jadi temen-temen, ada waktunya sendiri ketika kita sudah dewasa nanti, kita akan memikirkan tentang pasangan. So, jangan lupa belajar ya …

Cerpen Karangan: Fikri Ramadhani
Facebook: fikri.jackson

Cerpen Kisah Cinta Rahmatan Lil ‘Alamin merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Papper and Friendship

Oleh:
“Bung, kamu lihat kertas putih di mejaku nggak?” Tanya Dinda, sahabatku saat pulang sekolah, aku hanya menggeleng tanda tidak tau “duh, dimana sih tu kertas?” Dinda masih mencari-cari kertas

Jarak Takkan Memisahkan Kita

Oleh:
“Kamu tahu hewan kecoak?” “Iya tahu.” “Apa menurut kamu tenteng binatang itu?” “Dia adalah hewan yang hebat. Dia mampu hidup meski kelaparan dan dia tak memiliki leher.” Rasanya aku

Famous itu

Oleh:
Ini minggu ke dua aku bersekolah di sekolah baruku. Pukul 06.00 WIB aku sudah pergi ke sekolah seperti anak anak pada umumnya. Aku pun mengikuti pelajaran seperti biasa. Waktu

Surat Misteri

Oleh:
Suatu pagi yang mendung, seorang perempuan cantik yang bernama Bella melangkah kakinya untuk pergi ke luar rumah, ia berangkat sekolah di SMK Negeri 1 Tg. Selor. Bella adalah anak

Because Of You (Part 2)

Oleh:
Aku duduk di antara kekosongan tempat ini. Ya tidak ada bangku atau sejenisnya di sini, hanya berupa ruangan kosong, tapi masih bersih, hanya saja tak pernah ditempati. Aku menyebutnya

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *