Lebah dan Bunga

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Nasihat, Cerpen Pengorbanan
Lolos moderasi pada: 18 May 2013

Langit sore yang begitu indah. Di pinggir trotoar, tepat di depan toko bunga tertanam berbagai jenis bunga. Apalagi dengan datangnya semilir angin dan kelap-kelip lampu menambah suasana sore yang indah. Sungguh sangat indah bayangan itu jika aku dapat melihatnya kembali, namun kenyataan berkata lain. Aku buta untuk selamanya.
“Tersenyumlah indah dengan senyumanmu yang membuatku akan bahagia. Menunggu senyum janjimu, kau pergi, namun malaikat dan bidadari berada di sampingku menemaniku sebagai pengganti janjimu.”

Aku hanya bisa membayangkan dengan berdiri di depan pintu dengan pandangan gelap gulita. Tiba–tiba ku dengar ada orang membuka pintu, aku mengira itu adalah janji yang kutunggu, namun itu hanya pembeli bunga.
“Mir, sudahlah, mungkin dia tidak akan datang, lebih baik kita tutup tokonya ya.” Sura itu berasal dari seorang teman yang bernama Wira.
“bisakah kita menunggu sebentar?” ujar Miranda dengan suara lembutnya.
Wira mengiyakan permintaanku tanpa kata-kata yang membujukku untuk mendengarkannya. Wira adalah sahabatku di saat senang dan duka, ia selalu berada disampingku saat aku membutuhkannya. Kami sudah bersama selama 10 tahun dan toko ini adalah hasil kami berdua.

Beberapa menit kemudian, terdengar pintu terbuka dan muncullah pemuda tampan dengan gaya jas yang gagah. Aku berusaha mencium bau parfumnya, baunya sangat ku kenal dan langkah kakinya seperti orang yang sedang kutunggu, sampai tebakanku kurasa benar saat pria itu tiba-tiba mencium keningku dan berkata, “selamat sore bungaku!” itu adalah suara Dammar, orang yang sengaja membuatku menunggu. “chieeeee… Ada hati yang berbunga-bunga nih…!” goda Wira yang sengaja membuatku malu didepan Dammar.
“Wir, aku pinjam dulu sahabatmu ini ya. Kau tutup saja tokonya.”
“ok deh… jaga shoulmateku yang satu ini ya.”

Hari itu kegundahan, keresahan, seakan terobati dengan janji yang sudah terpenuhi. Dammar mengajakku ke luar dengan lingkungan yang sekarang merasa asing buatku setelah kebutaanku. Tapi Dammar seakan menuntunku kembali ke masa aku pernah ada untuk dunia asing ini.
“Mir, sekarang kamu tebak, kita ada di mana?”
Aku merasakan udara yang berhembus dengan sejuknya,” ini tempat apa?”
“ini tempat kenangan di mana kamu pernah mengenalkanku dunia yang belum pernah aku kenal, tempat di mana kamu selalu membuatku merasa aku bisa melihat sesuatu di sini. Kau bagaikan bunga indah yang menerima apa adanya lebah yang ada disekelilingmu.”
Air mataku tiba-tiba menetes, aku merasakan suatu hal yang berbeda dari kata-kata itu, “bunga yang menerima apa adanya lebah berada.” Aku meraba wajah Dammar dan berkata, “bukan… Bunga ini sekarang bukan bunga yang indah lagi, bunga ini adalah bunga yang cacat tak dapat melihat seindah madu yang ia punya. Ia tidak lagi dapat mellihat lebahnya yang selalu mengelilinginya.”
Tiba–tiba Dammar memelukku dengan erat dan terdengar desah isak tangis Dammar ditelingaku. Aku meraba wajahnya, aku menemukan air mata telah membasah wajahnya. “Dammar, ada apa? Kenapa kamu menangis?” bingungku dengan keadaan Dammar. Dammar tetap diam tak mau bicara apapun, tiba-tiba ia berlutut di hadapanku meminta maaf padaku, aku tetap bingung apa maksudnya.
“maaf untuk apa, aku mohon bangunlah jangan seperti ini!”
“jangan pernah memaafkan aku Mira, kesalahanku sangat besar padamu.” Isak tangisnya dengan memohon ampun pada Miranda. Sampai suatu kata terlontar sangat jelas dari mulut Dammar yang membuat aku tahu kesalahan apa yang diperbuatnya padaku, “aku tak pernah sakit, dan itu membuatmu harus kehilangan matamu, maafkan atas keegoisanku,” kata-kata itu membuatku sangat terpukul, sakit dan sesak di dada serasa aku tak dapat bernapas saat itu, tak kuasa aku ingin jatuh tubuhku serasa sangat lemas sekejab.
“aku tak pernah mencintaimu, aku mendekatimu hanya untuk mata darimu, cintaku palsu padamu Mira, aku telah menipumu tentang penyakit itu agar kau mau menolongku.”
“sebelum kamu melakukan itu, kamu tidak memikirkan perasaanku, aku tulus memberikan itu tapi kau menghianati ketulusanku. Kenapa kau begitu jahat…!” air mataku saat itu tak terbendung, aku terus menangis sampai dadaku terasa sesak.
“aku bosan dengan keadaanku, aku ingin melihat… aku ingin!”
“seekor lebah tidak akan pernah menyakiti bunga hanya untuk egonya, karena keharuman yang dimiliki bunga ia tidak akan pernah mau merusaknya, kau dengar itu!” aku berusaha berdiri dan inginku pergi tak ingin mendengar suara yang sudah menghancurkan keyakinanku, sebelum itu, “kau tahu, mata yang kuberikan padamu itu adalah mata ibuku, mata ketulusan ibuku. Dan aku telah membuangnya untuk orang munafik sepertimu.” Kesedihanku memuncak, aku berlari sekencang-kencangnya, aku tak peduli lagi aku buta atau apa, aku hanya ingin jauh dari Dammar, lebah yang busuk hatinya. Aku sudah merasa gagal, gagal akan keyakinan diriku, aku hanya bisa menyerah untuk hidupku ini. Kebutaanku ini adalah hasil dari kepercayaan yang tak bisa kupegang dengan kuat hanya berakhir oleh permainan seekor lebah.

“kadang pengorbanan akan berakhir kebahagiaan, tapi justru banyak yang merasakan pengorbanan akan berakhir sia-sia. Jangan terlalu setia dan menaruh cinta yang berlebihan pada sisi yang akan membuatmu jatuh.” (NAHAPRA)

Cerpen Karangan: Nadia Hayu
Facebook: Nadya Zazky

Cerpen Lebah dan Bunga merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Love You Till The End

Oleh:
Dua minggu aku merasakan hari hari tanpamu seakan aku kehilangan mu. Yah… Aku yang selalu merasakan itu dan mungkin kamu tidak. Dua hari sebelum masuk sekolah aku merasakan yang

Game Over

Oleh:
Semuanya udah selesei.. Rasa yang aku berikan sama kamu, sudah game over Praya membanting Hapenya di depan Mega, seketika Mega menjerit karena kaget. “Kalo eloh sudah enggak butuh gue

Eunoia

Oleh:
Aku tersadar dengan enggan ketika merasakan ada tangan yang mengusap rambutku dengan pelan. Aku mencium aroma tubuh seseorang yang sekarang sedang duduk di samping ranjangku. Aku belum membuka mata.

Tentang Jen

Oleh:
Pagi ini awan berarak hitam pekat, sesekali turun gerimis yang sesaat berhenti memberi jeda, lalu turun kembali secara beraturan. Hal itu membuatku enggan ke luar dari selimut yang kurasa

Kau Membunuh Cintaku

Oleh:
Drrrriing… dring… dring Bunyi jam Alaram di kamarku yang selalu setia membangunkanku, setelah kepergian kekasihku bekerja beberapa bulan yang lalu, nama pacarku adalah rendi iya sering kali menelponku di

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *