Love Hour (Part 3)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam), Cerpen Nasihat, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 20 November 2015

“Tiga, dua, satu!”

Agung memberi aba-aba dan tepat setelah jingle radio ini berakhir, suaraku pun mengudara.
“Selamat malam, best pals! Kembali lagi di gelarannya Love Hour dan kali ini bersama saya, Ariana. Mungkin best pals bingung kenapa Love Hour malam ini ditemani sama Ariana. Hmm.. Well, karena alasan kesehatan Nova yang biasa menemani kamu di Love Hour nggak bisa siaran. Tapi jangan khawatir, selama dua jam ke depan Ariana akan tetap menemani best pals semua yang mungkin ingin berbagi cerita, atau sekedar request lagu dan titip salam. Satu lagu pembuka dari Ariana untuk malam ini, Ten2Five dengan Love Is You”

Lagu pertama untuk sesi malam ini ku putar, dan sembari menunggu aku melanjutkan kembali To Kill A Mockingbird yang sempat ku baca saat aku berada di taksi. Pintu kaca diketuk oleh seseorang dari luar -Agung melambaikan tangannya, dengan satu tangannya menggenggam segelas kopi. Aku menganggukkan kepalaku dan rekan operatorku itu pun masuk.
“Buat mbak Ariana supaya nggak ngantuk,” ujar Agung seraya menaruh segelas kopi Starbucks di atas mejaku.
“Terima kasih, Gung,” ujarku, “Seperti biasanya tagihannya–”
“Agung yang traktir, mbak. Tenang aja,” potongnya.

Aku tersenyum kecil.
“Terima kasih ya, Gung,” ujarku.
“Sama-sama,” balasnya, “Semangat ya mbak siarannya”

Ku tutup novelku lalu kembali ku kenakan headphone dan ku nyalakan mikrofonku, bersiap untuk kembali mengudara.
“Tadi adalah tembang akustik manis dari Ten2Five yang berjudul Love Is You. Well, judul lagunya sama dengan judul lagu yang dibawakan oleh Cherrybelle, ya. Hahahaha.. sepertinya ada coincidence atau.. Yah, yang penting kedua lagu itu punya ciri khasnya masing-masing. Oke, request yang masuk sudah banyak nih rupanya dan akan Ariana bacakan dulu sepuluh request pertama. Yang pertama datang dari Mira di Kopo”

Sembari membacakan request yang telah masuk, aku pun mengatur playlist lagu yang akan ku putar, sembari sesekali mengirim pesan pada Agung melalui messenger di komputerku untuk mencarikan beberapa lagu yang tak bisa ku temukan di komputerku. Saat aku membacakan request ke-tujuh, Agung memberi isyarat bahwa ada penelepon yang masuk.
“Ah, rupanya sudah ada penelepon pertama untuk Love Hour di malam Minggu ini. Langsung akan Ariana sapa penelepon pertama kita. Halo! Selamat malam!”
“Malaaaam!”

Aku tertawa kecil mendengar respon penelepon pertama di malam ini.
“Baik, dengan siapa dan dimana?”
“Na! Ini aku, Lauren!”
“Astaga! Lauren!”
“Na! Aku penelepon pertama, kan? Wah, keren banget!”
Aku dan Lauren tertawa untuk sejenak.

“Aduh, maaf best pals, rupanya sahabat Ariana yang satu ini memang kerjanya menghantui Ariana kapanpun dan dimanapun, bahkan saat Ariana sedang siaran,” ujarku, “Oke deh kalau begitu, Lauren malam ini mau curhat atau request lagu?”
“Mau gangguin Ariana dong!” jawab Lauren dengan suara riangnya.
“Aduh.. Ganggunya nanti lagi aja di kelas ya. Oh ya, kamu nggak malam mingguan?”
“Nggak. Malam ini aku mau jadi anak baik, diam di rumah dan ngerjain tugas Literary Theories”
“Hahahaha! Tumben rajin!”
“Harus dong!”

Aku terkikik pelan.
“Oke. Lauren mau request lagu apa? Jangan request lagu dangdut ya”
“Nggaklah! Lady Antebellum yang Need You Now dong”
“Hmm.. Oke. Ada pesan-pesan atau mungkin ingin berkirim salam?”
“Buat Ariana aja. Semangat ya siarannya!”
“Terima kasih banyak. Kamu juga, Lauren, semoga sukses dengan tugasnya”
“Beres siaran langsung nugas ya!”
“Ya deh, terserah Lauren. Hahahaha!”

Penelepon pertama pun akhirnya mengakhiri percakapannya. Tak berapa lama, Agung kembali memberi isyarat bahwa ada penelepon kedua yang sudah masuk.
“Hmm.. Nampaknya sudah ada penelepon kedua. Ah, semoga kali ini bukan sahabat Ariana yang sama hebohnya dengan Lauren ya. Halo, selamat malam! Dengan siapa dan dimana?”
Tak ada jawaban yang ku dengar dari penelpon kedua di malam ini, meskipun aku masih bisa mendengar suara napasnya. Aku menatap Agung dan mengangkat kedua bahuku. Agung pun nampak kebingungan.

“Halo, selamat malam! Dengan siapa dan dimana?”
Aku sampai harus menaikkan volume suara headphone-ku agar aku dapat mendengar suara penelepon keduaku lebih jelas. Tak lama, penelepon kedua itu pun memberikan jawaban.
“Deva,” jawabnya pelan.
Aku tertegun sejenak. Astaga, nama itu…

“Oke. Deva dimana?”
“Bandung”
Aku meringis pelan, sepelan mungkin agar tak sampai terdengar mengudara. Saat aku bertanya tentang lokasi, yang ku inginkan adalah jawaban yang lebih spesifik. Bandung, memangnya kota ini sekecil apa?

“Oke, Deva. Malam ini–”
“Boleh aku cerita?” potongnya.
“Hmm.. Oke. Silahkan,” jawabku.
“Apa kamu pernah merasa menyesal karena tak sempat mengutarakan perasaan kamu yang sebenarnya kepada orang yang kamu sayang?” tanyanya.

Aku mengernyitkan dahiku.
“Sejauh ini belum. Atau lebih tepatnya, Ariana nggak mau hal itu sampai terjadi. Tapi kalau berbicara secara umum, hal seperti itu memang umum terjadi dan penyesalan pasti muncul setelahnya,” jawabku.
Terdengar isak pelan dari peneleponku.

“Apa yang harus Deva lakukan sekarang?”
Aku terkejut. Penelepon keduaku menangis, dan ini membuat suasana di studio malam ini menjadi berbeda. Melalui jendela kaca, ku lihat orang-orang yang ada di studio melirik ke arah speaker di dinding dan menunjukkan ekspresi terkejut, sekaligus bingung, bahkan beberapa tersenyum kecil.

“Memangnya apa yang terjadi sama kamu? Kalau kamu mau, kamu boleh cerita sama saya,” ujarku yang secara refleks mengubah cara bicaraku.
“Selama ini Deva sering bersikap kasar dan belum bisa jadi sosok yang menyenangkan buat orang yang Deva sayang. Deva sayang dia, tapi Deva nggak tahu bagaimana Deva harus menunjukkan rasa sayang itu. Terkadang Deva nggak bisa mengatur emosi Deva dan dia pasti selalu jadi korban pelampiasan emosi Deva,” tuturnya.
“Saat kamu marah atau bersikap kasar, bagaimana respon dia?”

“Sering kali pada akhirnya kita bertengkar. Terkadang kita sampai mengucapkan kata-kata yang nggak seharusnya diucapkan. Deva menyesal”
“Apa dia tahu tentang kamu, bahwa kamu selama ini sayang sama dia tetapi kamu nggak tahu cara untuk menunjukkan hal itu?”
“Entahlah, tapi Deva rasa dia tahu. Deva juga merasa bersalah karena terkadang Deva selalu meminta hal-hal yang terlalu besar dan sulit untuk dia berikan. Deva selama ini sudah jadi sosok yang egois dan jahat”
Aku terus mendengarkan ceritanya sembari sesekali meneguk kopiku. Semakin lama, aku semakin terlarut dalam ceritanya dan emosiku pun mulai terlibat.

“Deva bersikap terlalu dingin pada orang lain. Deva juga bisa dibilang sosok yang penyendiri, dan karena itu Deva hanya punya beberapa teman-teman dekat aja. Saat Deva ingat tentang orang yang Deva sayang, seringkali Deva jadi murung dan sedih. Deva tahu Deva nggak punya banyak waktu, dan Deva sadar Deva belum bisa berbuat banyak hal untuk orang yang Deva sayang. Deva kecewa sama diri Deva sendiri”
“Hmm.. Berkaitan dengan orang yang kamu sayang, sebelumnya kamu tanya apakah saya pernah mengalami penyesalan karena nggak sempat menyatakan perasaan saya yang sebenarnya pada orang yang saya suka. Kalau saya boleh tahu, mengapa kamu merasa menyesal atau.. apa yang terjadi dengan orang yang kamu sayangi itu?”
Deva tak bicara, dan aku mulai merasa bahwa apa yang ia ucapkan akan membuatku merasa semakin iba pada sosok pria ini.

“Dia akan pergi jauh. Deva hanya punya waktu sedikit dan Deva rasa Deva nggak akan sempat untuk berbuat banyak hal untuk dia”
“Kalau gitu, kenapa kamu nggak mulai lakukan sesuatu dari sekarang atau sekarang juga beritahu orang yang kamu sayang bahwa kamu sayang sama dia”
“Tapi waktu Deva benar-benar sedikit lagi”
“Setidaknya kamu masih punya waktu, entah itu banyak atau sedikit. Kasih tahu perasaan kamu yang sebenarnya sebelum kamu benar-benar menyesali itu. Deva, kamu harus ingat bahwa penyesalan itu hukuman batin yang bisa menghantui kamu sampai kamu tua nanti. Kamu ingin dihantui oleh rasa menyesal? Nggak, kan?”
Deva mulai tersedu, dan aku merasa semakin iba. Inilah salah satu alasannya mengapa aku tak begitu suka untuk membawakan acara Love Hour. Jika penyiar ikut menangis tersedu-sedu, bukankah itu akan terdengar konyol? Bagaimana penyiar itu akan menyelesaikan acara yang ia bawakan jika ia sendiri terlarut dalam emosinya?

“Dia terlalu baik. Dia selalu sabar menghadapi Deva walaupun Deva selama ini belum bisa benar-benar bersikap baik. Bahkan di saat Deva sedang sedih, dia setidaknya nanya apa yang terjadi dan berharap supaya Deva bisa kembali ceria lagi”
“Kalau begitu, orang yang kamu sayangi itu menyayangi kamu juga”
“Deva tahu, dan Deva yakin bahwa dia juga sayang sama Deva”
“Kalau gitu sekarang lakukan apa yang saya sudah katakan sama kamu”

“Kalau kamu ada di posisi Deva, apa yang akan kamu lakukan sekarang?”
“Hmm.. Kalau saya berada di posisi kamu, karena saya tahu bahwa saya hanya punya sedikit waktu untuk menyatakan perasaan saya pada orang yang saya suka sebelum orang tersebut pergi, saya akan langsung datangi dia, nggak peduli berapa jauh jarak yang harus saya tempuh, dan saya akan beritahu dia perasaan saya yang sebenarnya. Jadi, saat orang tersebut pergi dan mungkin nggak kembali lagi, setidaknya saya sudah buat dia tahu bahwa saya sayang sama dia. Kalau dia juga menyayangi kamu, dia pasti pergi dengan tenang karena dia tahu orang yang dia sayangi menyayangi dia juga”

Untuk sekitar dua menit berikutnya, yang ku dengar darinya hanyalah isakan pelan, dan aku hanya bisa mencoba menghiburnya, menyemangatinya. Pada akhirnya, penelepon bernama Deva ini pun mengatakan sesuatu.
“Terima kasih banyak, Na. Deva nggak tahu harus gimana kalau Deva nggak cerita sama kamu. Setidaknya sekarang Deva lega setelah bisa keluarkan beban yang Deva emban selama ini”
“Sama-sama. Kamu tetap semangat, ya”
“Ariana juga, ya. Salam buat Nova. Semoga cepat sembuh”
“Ya, nanti saya sampaikan”

Dan itulah akhir dari percakapan antara aku dan penelepon keduaku yang bernama Deva. Ku putar sebuah lagu lalu aku kembali menikmati kopiku dan membaca novelku. Belum lama aku membaca, Agung tiba-tiba saja masuk ke ruangan.
“Mbak Ariana, orang yang barusan telepon lagi dan titip pesan sama Agung buat menyampaikan terima kasihnya untuk mbak Ariana,” ujar Agung.
“Yang barusan? Yang mana? Penelepon kedua?” tanyaku.
“Ya. Yang namanya Deva itu. Kayaknya orangnya sedang depresi deh, mbak. Agung takut orangnya mau bunuh diri”

“Hus! Agung, nggak boleh bicara kayak gitu”
“Tapi kedengarannya gitu, mbak. Mungkin kecengannya mau pergi ke luar kota atau ke luar negeri untuk waktu yang lama”
“Kecengan?”
“Entahlah. Agung asal tebak”
Aku tertegun sejenak. Jika penelepon kedua tadi adalah Deva yang ku kenal, apa mungkin selama ini ia telah menyukai seseorang yang lain? Tiba-tiba saja aku merasa sangat gugup.

“Mbak Ariana kenapa?” tanya Agung mengejutkanku.
“Ah, nggak apa-apa, Gung,” jawabku.
Ku sembunyikan wajahku di balik novelku. Ya Tuhan, semoga saja pikiranku salah.

Bersambung

Cerpen Karangan: Klaus Rachman
Blog: rocklafeller.blogspot.com
Nama: Klaus Rachman
Twitter: @rocklafeller

Cerpen Love Hour (Part 3) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sempurnalah Lukaku

Oleh:
Pelajaran Bahasa Inggris hari ini berakhir seiring berderingnya bel istirahat. Penghuni kelas berhamburan ke luar tidak sabar, khawatir akan antrean panjang di kantin. “Van, lo sakit?” Vanka terenyak dari

Tentang Wisnu Anak Kelas Satu

Oleh:
“Krincing… krincing… krincing…” Itu suara uang logam beradu satu dengan yang lain di dalam saku. Saku itu punya Wisnu anak sekolah kelas satu di SD Negeri Kosong Satu di

Kenangan Terindah

Oleh:
Aku dapat merasakan mata semua orang ke arahku. Aku tidak perlu menengok ataupun memutar tubuhku untuk mengetahuinya, perasaan di hatiku sudah dapat menebak dengan benar apa yang sedang terjadi

Karena Cinta

Oleh:
Akhir-akhir ini aku menyukai Bagas teman sekelasku. Aku heran kenapa aku harus jatuh cinta kepada orang yang tidak mencintaiku, padahal masih banyak pria yang menungguku tapi aku hanya tertarik

Pulang Sekolah

Oleh:
“Pulang sekolah” adalah sebuah kata yang menyenang untuk didengar, diucapkan, bahkan untuk dilakukan. Selama masih berstatus pelajar “pulang sekolah” merupakan tujuan akhir bagi semua pelajar saat masuk sekolah, bagiku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *