Love is Silent

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Islami, Cerpen Nasihat
Lolos moderasi pada: 22 May 2013

Suasana tempat itu lenggang. Hampir semua remaja sudah meninggalkan masjid itu sejak satu jam yang lalu. Namun tampaknya, ada sepasang remaja yang masih berdiam diri untuk berdiskusi bersama. Naira dan Farah. Dua orang sahabat itu tampak sibuk dengan pembicaran mereka seperti biasanya.

“Kak, ehm… ada yang ingin aku tanyakan nih. Tapi, aku malu,” celetuk Naira tiba-tiba. Ia mengatur desah nafasnya yang tertahankan. Entah mengapa, gadis itu selalu grogi jika berhadapan dengan Farah, kakak kelasnya.

“Malu? Kamu ini aneh, dek. Belum tanya kok sudah malu. Kenapa harus malu?”

Naira tersenyum simpul. Hanya dalam hitungan detik, ia menggeleng pelan dan berkata, “habis, eng.. ntar pasti bakalan kakak ketawain.”

Farah memperhatikan adik kelasnya. “Mana bisa kakak ketawa, orang masalahnya apa saja kakak ga tahu? Udah buruan, jelasin tanya apa.”

“Tapi beneran yaa, janji ga bakalan ngetawain aku,” ancam Naira cemberut. Perempuan berjilbab itu mengangguk pelan dan berikrar, setidaknya untuk melegakan.

“Engg, kakak pernah jatuh cinta ga? Eng.. sama seorang laki-laki.”

Farah menyeringatkan dahi. Tawanya meledak perlahan sembari menatap Naira yang ada dihadapannya. Ia dapat menebak apa yang sedang dipikirkan adik kelasnya itu. “Jadi ceritanya kamu lagi jatuh cinta nih? Hayoo sama siapa?”

“Ihh, kakak.. Tuh kan diketawain. Enggak.. aku kan cuma tanya.”

“Ah, yang bener? Habis kamu lucu sih.”

“Apanya yang lucu? Ini beneran kak. Aku tanya serius.”

“Ehm, mau jawaban yang bohong apa yang enggak?” kak Farah mulai menggoda.

“Yee, kak Farah,” gadis itu kembali cemberut, merengek dan memanyunkan wajahnya untuk kesekian kalinya.

“Iya deh kakak ngaku pernah. Kakak memang pernah jatuh cinta. Dan itu normal, bukan? Lagipula semua orang juga pernah mengalami itu.”

“Terus gimana? Eng.. maksud aku, gimana sikap kakak dalam menanggapi permasalahan itu? Apakah orang yang kakak cintai itu tahu perasaan kakak sebenarnya?”

“Entahlah. Kakak tidak tahu. Bisa jadi dia sama sekali tidak tahu akan hal itu.”

Naira terdiam. Ia memandang lamat-lamat wajah kakaknya yang teduh. Pikirannya masih melayang untuk mencari jawaban atas apa yang Farah sampaikan.

“Kenapa kakak tidak berusaha mengungkapkan kebenaran dari rasa yang ada?” tanya gadis kecil itu kemudian.

Farah tersenyum simpul menanggapinya. Ia dapat menebak dengan jelas keingintahuannya itu.

“Harus begitukah? Untuk apa? Kakak pikir rasa itu tidak perlu di umbar atau disebarkan, karena cukup untuk disimpan dalam hati.”

Naira mematut. Ia mendengarkan dengan jelas penuturan kakak kelasnya.

“Perlu kamu tahu, Nai, perasaan itu sederhana. Rasa cinta memang bukanlah substansi yang di larang atau ditakutkan terjadi. Rasa tersebut adalah sebuah proses kemanusiaan yang wajar. Tak bisa dibuat-buat, kadang muncul dengan tiba-tiba tanpa dipaksakan. Yang menjadi masalahnya adalah pelampiasan rasa cinta itu sendiri. Bila rasa itu dilampiaskan dalam koridor yang dilegalan oleh syariat maka akan berbuah kebaikan sekaligus berakhir dengan indah. Namun, sebaliknya, jika rasa cinta tersebut dilampiaskan pada jalur-jalur larangan, maka itulah yang akan menumbuhkan dosa dan murka pada Allah, seperti halnya dengan mengumbar perasaan kita kepada orang lain. Bisa jadi tindakan seperti itu memungkinkan untuk terjadinya fitnah yang tidak kita inginkan.”

“Lalu bagaimana sebaiknya kita mensikapinya, kak?”

“Berdiamlah dan simpan rapat-rapat rasa itu. Love is silent, karena cinta adalah diam. Akhir dari sebuah cinta yang hakiki sebenarnya adalah pernikahan. Itulah solusi terbaik yang dapat dilakukan. Bagaimanapun juga, pernikahan adalah satu satunya jalan terbaik yang ada. Namun bila pada akhirnya kesempatan dan kondisi belum memungkinkan maka solusinya adalah bersabar. Kita harus berusaha untuk menekan rasa itu agar tidak meluap pada hal-hal yang diharamkan oleh Allah. Tentu saja ada usaha yang kita lakukan untuk menanganinya, seperti menyibukkan diri dengan ibadah, perbanyak puasa sunnah, dan melakukan aktivitas-aktivitas duniawi lain yang bermanfaat, hingga seluruh pikiran kita sampai tidak punya celah untuk menerawang dan melambungkan masalah cinta.”

“Apakah itu usaha yang kakak lakukan untuk menepiskan perasaan kakak? Mungkinkah aku bisa melakukannya?”

“Bisa. Kamu pasti bisa melakukannya. Meskipun awalnya sulit, tapi lama-kelamaan kamu akan terbiasa, seperti halnya apa yang kakak lakukan. Jika semua diniatkan untuk kebaikan, pasti akan selalu ada jalan. Jangan terlalu risau untuk masalah ini. Anggaplah sebagai ujian untuk sebuah keimanan, namun kakak menyarankan agar kamu tetap mempertimbangkan berbagai faktor jika memang kamu menyukai seseorang sosok pribadi yang kamu sukai itu. Untuk mencari kebenaran apakah ia sosok ideal yang layak menjadi pendamping kamu kelak, lebih baik di tinjau lebih dalam, apakah orang tersebut punya agama yang baik dan akhlak yang mulia? Atau minimalnya, dia tengah berusaha untuk menjadi pribadi pendamping yang ideal. Kamu bisa lihat dari cara bergaulnya, ibadahnya, adab-adabnya sehari-hari dan segala yang terkait dengan agama dan akhlak. Bila ternyata dia tidak memiliki kepribadian yang baik atau minimalnya dia tidak melakukan usaha untuk memperbaiki diri maka apa yang kamu harapkan darinya? Kebahagiaan macam mana yang kamu harapkan dari seseorang yang tidak paham cara meraih kebahagiaan yang hakiki dan cara bergaul dengan orang yang ia cintai sesuai dengan syariat islam?”

Untuk kesekian kalinya Naira tertegun. Ia memikirkan kembali apa yang disampaikan oleh Farah. Dalam hati ia bercak kagum dengan pengetahuan dan keteguhan hatinya yang luar biasa.

“Tidak perlu risau masalah jodoh, Nai. Allah sudah menuliskan masing-masing dari mereka untuk kita. Mau jauh atau dekat hubungan, lama atau singkat jalinan, kalaupun tidak berjodoh, kan sama saja. Bukankah diam adalah satu-satunya cara terbaik yang Dia anjurkan untuk kita?”

Naira tersenyum simpul. Ia mengangguk pelan dan mulai mengerti apa yang Farah sampaikan. Ada kebenaran dari apa yang ia yakini. Bukan hal yang sulit untuk tetap menyimpannya, hingga tiba waktu yang ditentukan.

***

Ini cerita hasil diskusi dengan hati, hehe. Ngambang, absurd dan ga jelas endingnya. Maklum proses pembuatannya hanya mengandalkan waktu luang saja, jadi ceritanya pun seadanya. Idenya pun cuma dar status teman di fb saja. Bingung bagaimana mau melanjutkan, haha.

Cerpen Karangan: Dewi Apriani
Facebook: Dewi Apriani

Cerpen Love is Silent merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kejutan Di Hari Raya

Oleh:
Ketika aku telah menyelesaikan pendidikanku di bangku Sekolah Menengah Atas. Aku pun melanjutkan ke Universitas Islam Indonesia. Aku masuk UII tersebut tanpa test, karena aku telah menghafalkan Kitabullah. Hari

Persahabatan Chintya dan Sisca

Oleh:
Siang yang panas, sepanjang perjalanan pulang ramai kendaraan berlalu lalang. Chintya segera merapat ke punggung mamanya yang sedang menyetir sepeda motor. Namun hawa panas masih terasa menyengat tubuh Chintya.

Mentari Hati

Oleh:
“Kau harus terima pertunangan ini Andi!” Ucap seorang bapak paruh baya, yang duduk di hadapan anaknya bernama Andi… Anak itu terlihat menatap lantai keramik dengan tatapan kosong, hati kecilnya

Putra Sang Dekan (Part 2)

Oleh:
Bulan berlalu, daun berguguran, burung-burung berkicau (hubungannya? kagak ada sih) Reva akhirnya tiba pada sesi sidang keduanya. Wacana perjodohan kak ikwan dan nunung lenyap bak ditelan bak mandi. Nunung

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

2 responses to “Love is Silent”

  1. irza says:

    makasi atas cerpennya,,,mengena bangets

  2. katulistiwa says:

    harus masuk bookmarks neh !
    keren !!!

Leave a Reply to irza Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *