Memahami dan Memaknai Kehidupan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Galau, Cerpen Motivasi, Cerpen Nasihat
Lolos moderasi pada: 15 June 2015

Sore itu ku nikmati langit jingga, menikmati hembusan angin yang memelukku erat! dingin, dingin memang! Tapi itu tak sebanding dengan apa yang ku hadapi saat ini, Begitu keras meluluh lantahkan pikiranku.. Kaku jiwaku, bisu bibirku, tak mampu mengurai satu kata pun. Bertahun–tahun lalu hingga beberapa bulan kebelakang, aku merasa kehidupan dunia ini datar-datar saja! tak ada yang istimewa dan layak ku syukuri, bagiku saat tidurlah kebahagiaan terindah.. Entahlah, aku begitu menyesali dengan apa yang ku miliki, dengan apa yang ku hadapi. Pekerjaan, orangtua, lingkungan sekitar, semua yang ku miliki sepertinya tak sesuai dengan apa yang kuharapkan. Aku selalu bertanya MENGAPA HIDUP SEPERTI INI? semakin kuat aku berusaha mengubah keadaan, yang aku terima hanya sebuah kekecewaan. Aku bingung harus memulai semua ini darimana, aku bingung dengan apa yang harus aku lakukan saat ini..

Aku terdiam, pandangan ku hanya tertuju pada satu arah, hening.. Hening sekali! tiba-tiba saja air mataku menetes, bukan sedih yang ku rasakan aku hanya bingung dengan apa yang ku hadapi, masalah datang silih berganti membuatku seakan enggan menjalani semua ini, membuatku ragu untuk bertindak. Bukan mengelak takdir Tuhan, aku hanya lelah dengan apa yang ku hadapi! Matahari mulai meredup, sinarnya berganti gelap. Aku bergegas pulang ke rumah, ku baringkan tubuhku di ranjang, ku tarik bantal dan bersandar bersamanya – aku masih terdiam menyatu dengan kesunyian, seketika airmataku menetes lagi, menetes dan semakin deras. Aku tak mengerti sebenarnya apa yang ku rasakan, entahlah bukan hal baru bagiku ini sering sekali terjadi saatku penat, saat pikiran ku kosong. Semua ini membuatku gila, mungkin aku jenuh dengan keadaan ini, tapi apa daya hanya dengan menangis, hanya dengan menyesali keadaan yang bisa ku lakukan.

Apa hanya aku? apa anak-anak remaja lain juga pernah atau bahkan sering merasakan hal yang sama? Aku tak pernah mengumbar semua ini pada siapapun, pada keluarga sekalipun. Terkecuali pada sahabat terbaik ku ‘Citta’. Dia selalu mengerti apa yang ku maksud, dia mengerti apa yang kurasa ini pahit! dia selalu ada saat bahagia maupun dukaku. Begitu menyatu perasaanku dengan pikirannya, sangat sulit ku ungkap segala kebaikan tentang dirinya namun begitu indah 🙂 bagiku dia bukan hanya sekedar teman atau sahabat, tapi malaikat kecil yang selalu mendorong ku untuk tetap tegak walau perih kekecewaan membungkukkan ku

Malam itu aku bermaksud untuk menceritakan yang ku alami ini padanya, ku ambil hp yang tergeletak di samping tanganku. Tapi tunggu, tangisku terhenti sejenak.. tidak! bukan sekarang! mungkin lain kali.. Ya, ku jauhkan benda itu dari dekatku, aku hanya ingin menikmati kensunyian ini, menikmati pilu yang menyesakkan jiwaku. Tangisku kembali berderai membasahi bantal yang ku sandari. Tangisku terisak, Dadaku sesak, Tubuhku lemas, Mataku membengkak, tapi tak ku hiraukan semua ini, yang ku rasa hanya sakit perih pilu dan entah apa lagi istilahnya! ku pandangi sekelilingku, tak ada yang menghiraukan! tak ada yang menghentikan isak tangisku atau membuatku untuk mencoba tenang! semua hanya benda mati. Ku lempar buku-buku yang tertata rapi, ku lempar semua barang yang ada di sekitarku! aku berteriak sekencang mungkin memecahkan keheningan yang sedari tadi ku rasa. Tangisku makin meledak, dadaku makin sesak, ku tahan rasa sakit di kepala yang membuatku gelap arah.. AKU LELAH TUHAAN ku guncangkan tubuh ini yang seakan mati rasa, hingga ku terlelap bersama mimpi dan asa yang menyiksaku kini.

Pukul 8 pagi aku berjalan menyusuri pinggiran kota, melupakan kejadian kemarin sore. Aku duduk di sebuah taman. Beberapa lama kemudian “Ddooorrr” seketika mengagetkanku, ku pikir dia siapa.. ya dia Citta, sahabat terbaik ku itu. “ngapain? Sok galau gitu kaya orang aja” ledeknya. Aku hanya tersenyum, “Tumben gak nyaut kenapa? Gak kayak biasanya! lagi galau, diputusin pacar? Aku khawatir jangan lupa makan yah nanti die 🙁 ” Seraya memelukku. “Ah gila, enggak lah aku hanya bingung dengan apa yang ku hadapi, aku jenuh dengan suasana di rumah yang selalu menghakimi, jenuh dengan pekerjaan ku yang begitu-begitu saja. hidupku ini seperti air! Hambar dan mengalir begitu saja, seperti langit datar dan tak berujung” menghela nafas panjang.

Dia termenung sejenak, “Aku mengerti dengan apa yang kamu alami, aku juga pernah merasakan hal yang sama! mungkin banyak orang lain mengalaminya juga, sekarang aku akan ambil satu kertas putih kosong dan aku tunjukkan padamu, apa yang kamu lihat?” Jelasnya. “aku tidak melihat apapun, hanya kertas putih” Jawabku lirih. dia mengambil spidol hitam dan membuat satu titik di tengah kertasnya “Nah.. sekarang aku telah beri sebuah titik hitam di atas kertas itu, sekarang gambar apa yang kamu lihat?”
“Titik hitam” jawabku tegas.
“pastikan lagi”
“Hanya titik hitam” jawabku yakin
“Sekarang aku tahu penyebab masalahmu. Kenapa kamu hanya melihat satu titik hitam saja dari kertas tadi? cobalah rubah sudut pandangmu, menurutku yang kulihat bukan titik hitam tapi tetap sebuah kertas putih meski ada satu noda di dalamnya, aku melihat lebih banyak warna putih dari kertas tersebut sedangkan kenapa kamu hanya melihat hitamnya saja dan itu pun hanya setitik?”. Jawabnya lantang, Aku tak mengeluarkan sepatah kata pun. Hanya menunduk mencoba memahami apa yang dikatakannya, dia yang selalu bodor mengapa bijak seperti ini.
“Sekarang mengertikah kamu?, Dalam hidup, bahagia atau tidaknya hidupmu tergantung dari sudut pandangmu memandang hidup itu sendiri, jika engkau selalu melihat titik hitam tadi yang bisa diartikan kekecewaan, kekurangan dan keburukan dalam hidup maka hal-hal itulah yang akan selalu hinggap dan menemani dalam hidupmu”.
“Cobalah fahami, bukankah di sekelilingmu penuh dengan warna putih, yang artinya begitu banyak anugerah yang telah diberikan oleh Tuhan kepadamu, kamu masih bisa melihat, mendengar, membaca, berjalan, fisik yang utuh dan sehat, teman-teman dan keluarga yang menyayangimu dan begitu banyak kebaikan dari semua ini daripada kekurangannya, berapa banyak anak-anak yang kehilangan keluarganya?, Juga begitu banyak kebaikan dari pekerjaanmu, di lain sisi banyak orang yang antri dan menderita karena mencari pekerjaan. Begitu banyak orang yang lebih miskin bahkan lebih kekurangan daripada kamu, kamu masih memiliki rumah untuk berteduh, dan teman-teman baik yang selalu mendukungmu. Kenapa engkau selalu melihat sebuah titik hitam saja dalam hidupmu? PADAHAL SEBAGIAN KERTAS INI BERWARNA PUTIH?, Mengerti?” Ucapnya! lalu ia pergi meninggalkanku begitu saja.

Kertas itu ku ambil, ku pandangi, ku fahami, ku artikan kata kata yang dia ucapkan tadi! meski aku tak mengerti sepenuhnya dengan apa yang dia katakan, tapi aku akan berusaha memahami hidup ini dengan lebih bijaksana. aku buatkan satu pigura dan aku gantung di dinding kamarku. Bukan untuk SESEMBAHAN, tapi sebagai PENGINGAT dikala lupa, lupa bahwa begitu banyak warna putih di hidupku daripada sebuah titik hitam itu 🙂

Cerpen Karangan: Wiyan Nesta M
Facebook: Tiiya Anandha Yuanitta / wiyan.nestamarley[-at-]yahoo.com
Namaku wiyan umurku 16 thn, aku bukan penulis aku hanya ingin mengutarakan apa yang ada dalam pikiranku ! maaf kalo kata2nya aneh, maaf kalo rada gak nyambung juga mudah2an yang baca pada suka, Terimakasih 🙂

Cerpen Memahami dan Memaknai Kehidupan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Penyesalan Yang Datang Terlambat

Oleh:
Saskia menatap langit-langit kamar sembari menyeka air mata untuk yang kesekian kalinya, mengenang banyak kenangan dalam hidupnya. Dan salah satu kenangan itu, yang paling banyak membawa air mata pada

Pelangi Senja

Oleh:
Sore itu benar-benar dingin, angin-angin senja yang berhembus membuatku terlelap dalam dinginnya sore ini. Entah mengapa sudah dari siang hujan tak henti juga. Mungkin langit mengerti tentang apa yang

Ingatan Dalam Renungan

Oleh:
Rintik hujan masih telihat menyelimuti gedung gedung sekolah di salah satu SMA NEGERI di Kabupaten Purworejo. Ku rasakan hawa sejuk, sembari mebolak-balik buku Antropologi di depanku yang sedang duduk

Merenung

Oleh:
Waktu menunjukan pukul 7 malam, kurang 15 menit lagi sebelum MRT ku datang. Aku menutup mata dan menghembuskan nafas dalam. Ini tahun kelimaku terperangkap dalam ritme hidup ini. Berangkat

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Memahami dan Memaknai Kehidupan”

  1. eva lusyana says:

    Bgus keren , sama kaya apa yg aku rsain itu pnglmn pribdi apa imjnasi aja

Leave a Reply to eva lusyana Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *