Mutiara Di Kampung Halaman

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Budaya, Cerpen Nasihat
Lolos moderasi pada: 12 November 2015

Liburan semester adalah hal yang paling dinantikan oleh hampir seluruh mahasiswa. Pasalnya hiruk pikuk tumpukan tugas dan ujian–ujian tidak akan kami dengar beberapa bulan kedepan. Dan liburan kali ini, aku memutuskan untuk berangkat ke rumah Nenek. Nama aku Zukhruf, tapi keluarga dan teman–teman lebih senang memanggil aku Zu. Aku mahasiswa semester 4. Aku punya hobi hiking. Kedengarannya agak ekstrim gimana gitu, secara kan aku nih perempuan tapi hobinya naik–naik gunung.

Ya, mau gimana lagi dong aku emang suka kalau lagi di alam yang terbuka. Bangun tenda, masak–masak, jelajah hutan, nangkap ikan di sungai. Pokoknya seru deh. Tapi sayang, kata Ayah, “anak gadis itu jauh lebih baik kalau berada di dalam rumah,” I know. But I need something different in my live. Kadang aku sempat mikir, enak yah jadi anak laki–laki, mau kemana aja boleh, ngelakuin kegiatan apa aja boleh, pulang jam berapa aja boleh. Nah, kalau perempuan segala tingkah lakunya mesti punya aturan. Susah juga ya jadi perempuan, harus berdampingan dengan peraturan.Tapi kata temanku, jadi perempuan itu enak karena bisa punya surga di kakinya. Kalau dipikir–pikir, benar juga sih. Daripada cuma bisa naik gunung, mending punya surga dong.

Hari pertama liburan di rumah Nenek adalah momen yang tidak akan aku lewatkan begitu saja. Agenda pertama adalah membuka jendela kamar. Kenapa harus jendela kamar? kata Ibu, kalau anak gadis itu harus pagi–pagi ngebuka jendela kamar, mitosnya sih supaya enteng jodoh. Hubungannya? Aku juga nggak tahu pasti, tapi yang namanaya perkataan Ibu–ibu itu mujarab 90 persen loh. Sebenarnya aku buka jendela itu bukan sepenuhnya karena mitos Ibu sih, tapi karena pemandangan dari jendela kamar aku luar biasa bagus, indah, sedap dipandang mata.

Dari depan jendela, langsung berhadapan dengan gunung yang menjulang tinggi dan pohon-pohon hijau berbaris rapi di sekitarnya, tak ketinggalan juga aroma udara pagi yang segar merasuk hingga ke dalam sanubari. Kebayang dong, gimana sejuknya itu udara. Di samping rumah ada kebun bunga. Ada bunga mawar warna–warni, kembang sepatu beraneka ukuran, bonsai dengan berbagai bentuk dan masih banyak lagi jenis bunga lainnya. Udah kayak istana bunga gitu. Perpaduan yang super duper juara dan menjadi alasan kenapa aku betah berlama–lama di depan jendela.

“Zu.. sarapan dulu nak,” suara yang selalu ku nantikan setiap pagi. Siapa lagi kalau bukan suara Nenek tersayang. Mendengar suara Nenek, aku pun melambaikan tangan seolah mengucapkan salam perpisahan bagi pemandangan indah pagi ini. Aku bergegas mandi dan bersiap menemui Nenek. Jilbab pink terpasang rapi di kepala, kupluk abu–abu juga tidak kalah memaniskan penampilan, baju abu–abu dan rok pink dengan corak bola abu–abu menjadi style hari ini. Jangan lupa siapkan camera.

“Loh, kok udah rapi gitu. Mau kemana sih?”
“mm, mau keliling kampung Nek,”
“oh, ya udah, habisin sarapan dulu gih,”
Sarapan sudah beres, saatnya menuju bagasi untuk ngucapin salam pagi sama si Vio. Iya, Vio itu sepeda kesayangan aku. Warnanya biru muda, punya keranjang di depan dan pastinya akan menjadi teman setia seharian ini.

Ku kayuh sepeda menyusuri perjalanan setapak demi setapak sambil memandangi hamparan sawah menguning, gunung menjulang tinggi nan kokoh di seberang sawah, pepohonan berjejer lurus di sepanjang jalan, dan suara burung-burung saling bersiul sahut-sahutan satu sama lain, serta tidak ketinggalan para perempuan–perempuan tangguh yang ikut ke sawah. Sungguh sangat memanjakan mata.

Sepeda semakin ku kayauh dengan cepat, seraya ingin mengetahui kejutan apa selanjutnya yang menanti. Perjalanan kali ini tidak semulus perjalanan diawal. Aku harus beradu dengan tanjakan yang seakan memintaku menguras seluruh tanaga. Tapi itu tidak sia–sia, pemandangan di ujung tanjakan ini tidak kalah indah dari pemandangan yang ku lihat sepanjang jalan tadi. Dari ketinggian ini kita bisa melihat hamparan sawah menguning dari atas jalan dan rumah–rumah penduduk yang terlihat bagai miniatur. Tidak hanya itu, tantangan yang menyenangkan berikutnya adalah meluncur dari atas bukit. Wuiihh, serasa lagi terbang.

Pemandangan terasa berbeda setelah sampai di bawah. Kali ini, aku melihat anak–anak yang sedang berkumpul dan asyik bermain. Aku berhenti sejenak dan membawa Vio menepi di pinggir jalan. “Vio, jangan kemana–mana ya, aku nggak lama kok,” Aku berjalan meninggalkan Vio menuju tempat anak–anak berkumpul. Ku pandangi dengan seksama dari balik pagar. Gelak tawa terdengar jelas di telinga, rupanya mereka sedang asyik memainkan sebuah permainan tradisional yang tidak asing bagiku.

Melihat mereka bermain dengan riang, membuat aku kembali menerawang, mengingat masa kecilku bersama teman–teman. Ya, dulu kami sering memainkan permainan itu, namanya egrang. Sebuah permainan tradisional yang terbuat dari dua pasang bambu bulat yang panjangnya bervariasi, mulai dari 2 meter hingga 3,5 meter dan diberikan pijakan kaki pada bagian bawahnya. Jarak antara ujung bambu bawah dengan tempat pijakan, rata–rata hingga 1 meter

Cara memainkannya memang sedikit sulit bagi pemula. Hal pertama yang harus dilakukan adalah berusaha berdiri tegak di atas egrang. Kedua kaki bertumpu pada tempat pijakan dan kedua tangan berpegangan pada bagian atas bambu. Setelah menemukan titik keseimbangan dengan baik, barulah kita mulai melangkahkan kaki perlahan dan berjalan seperti biasa. Sungguh sangat sulit dan menguras tenaga, tapi tetap menyenangkan.

Ketika sedang asyik mengambil foto mereka sedang bermain, tiba–tiba saja terdengar suara teriakan.
“Zuuu, Zuuu, Zukhruf,”
Aku berbalik sambil memandangi seorang pemuda yang sedang menghela napas dengan terengah–engah. Dia memandangiku seraya tersenyum.
“masih ingat aku?”
“mmm,” aku berpikir beberapa saat, “maaf, siapa?”
Dia kembali tersenyum dan mengatakan, “aku Adnan, teman kecilmu dulu,”

Betapa terkejutnya aku melihat dia yang sekarang sangat jauh berbeda dengan Adnan yang ku kenal dulu. Sekarang dia tumbuh menjadi sosok lelaki dewasa dan sepertinya sangat menyenangkan. Setelah berkenalan kembali beberapa saat, dia mengajak aku untuk melihat permainan egrang lebih dekat lagi. Dan ternyata kelompok permainan tradisional itu adalah milik Ayah Adnan yang sekarang ini dikelola oleh Adnan.

Kata Adnan, dia sangat prihatin dengan kondisi masyarakat kita saat ini, khususnya anak–anak. Mereka sudah tidak mengenal kebudayaan lokal yang kita miliki, khususnya permainan tradisional. Mereka hanya mengenal permainan modern yang diperoleh melalui gadget atau teknologi canggih lainnya. Sungguh miris melihat keadaan ini. Padahal permainan tradisional kita tidak kalah menarik dengan permainan modern. Contohnya saja egrang ini. Permaianan yang ramah lingkungan, tidak membutuhkan banyak uang untuk memilikinya. Andai saja seluruh masyarakat mau bersama–sama melestarikan kebudayaan lokal yang kita miliki, sudah pasti Negara kita akan menjadi tujuan utama para wisatawan asing.

Coba pikir, apa yang tidak dimiliki oleh Indonesia. Mulai dari wisata kuliner, pantai yang indah, masyarakat adat, dan masih banyak lagi kekayaan yang dimiliki oleh Negara kita ini, hanya saja kita terlena akan modernisasi yang semakin “menina bobokan” kita. Menjadikan kita manja dengan kehidupan praktis yang serba cepat. Aku tercengang mendengarkan pembahasan Adnan tentang arti penting kebudayaan. Ternyata dia sangat mencintai kebudayaan, khususnya permainan tradisional. Dia seakan mengingatkan aku akan pentingnya memiliki rasa cinta terhadap kebudayaan. Ketika kita merasa memiliki, maka kita akan selalu menjaganya, tidak akan membiarkannya hilang apalagi dirampas oleh orang lain.

Saudaraku, Budaya lokal adalah cikal bakal lahirnya budaya Nasional yang akan menjadi icon atau penanda sebuah Negara. Ketika kebudayaan lokal tidak lagi terjaga, maka Kebudayaan Nasional akan tergerus, dan jika kebudayaan Nasional tergerus, maka tunggulah kehancuran bangsa ini. Oleh karena itu, marilah kita jaga mutiara–mutiara yang tersembunyi itu, dan jadikan dia bersinar sepanjang masa.

Cerpen Karangan: Risma Ariyani
Facebook: Risma Ariyani
Nama: Risma Ariyani
Alamat: Perumahan Zarindah, Blok Ab No.14, Makassar

Cerpen Mutiara Di Kampung Halaman merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ada Batas Yang Membuat Kita Mengerti

Oleh:
Ia masih memegang sapu, ketika ada seorang pria terengah-engah bersembunyi di balik pagar tinggi rumahnya. Dari jauh terdengar teriakan maling… maling… terdengar kian mendekat. “Tolong saya, mas” kata orang

Nasihat Ayah

Oleh:
Kecewa dan marah. Itulah yang aku rasakan saat ini. Aku kecewa dengan keputusan yang telah ditetapkan. Dan aku marah karena keputusan itu bukanlah sesuatu yang aku inginkan. Sekarang aku

Maafkan Diriku Yang Tak Mengenalmu

Oleh:
Sekarang ini serasa badai bagiku, orang tua menjodohkanku dengan pria yang sama sekali tak kusukai, tak ada jejak ketampanan di wajahnya. Segala hal tentang dirinya tidak ada yang bagus

Dua Sisi Segala Hal

Oleh:
Namanya Kia, bibirnya merah muda dan mulutnya yang beraroma v*dka menyemburkan kalimat-kalimat yang tak ku mengerti. “Adam.” Tahukah engkau, bahwa laki-laki selalu berakhir di suatu tempat yang sama? Entah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *