Perspektif

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Misteri, Cerpen Nasihat, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 27 August 2019

Mega-mega lembayung yang berkelindan dalam cakrawala sudah hampir menjelma menjadi hitam. Mentari pun perlahan mulai muak dengan langit dan segala isinya, hingga ia perlahan-lahan turun dari singgasananya.
Tapi tidak dengan gerutuan-gerutuan Zhafran.
Ia terus bergerutu tiada henti. Mungkin sudah jutaan kali ia mengoceh. Kalau saja sang mulut bisa berbicara, mungkin ia akan mendeklarasikan kepada pemiliknya bahwa ia lelah bergerak tiada henti.

Itu semua karena pelajaran Seni Budaya. Kemarin malam, ia harus begadang demi mengerjakan lima gambar perspektif. Karena tugasnya memang diperintahkan untuk membuat lima gambar perspektif. Tapi nyatanya, ia hanya sanggup membuat tiga gambar. Itu pun hingga pukul sebelas. Padahal, ia belum belajar untuk ulangan esoknya. Ada ulangan IPS dan TIK. Ketika akan belajar, ia terus menguap tanpa henti. Kantuknya menyerbu tanpa ampun, hingga ia harus ambruk ke kasurnya yang empuk. Ia pun tertidur dalam keadaan belum belajar.

Esoknya alias hari ini, ia melihat teman-temannya sibuk mengerjakan gambar perspektif sebelum bel masuk sekolah tiba. Ia pun harus berkutat kembali dengan alat-alat gambar dan sketchbook. Rencana ia belajar di sekolah pun gagal. Ia bahkan hanya belajar 5 menit sebelum ulangan. Sial benar, begitu yang terus ada di pikirannya.

“Ah, kalau nilai ulanganku jelek, pasti karena perspektif,” gumam Zhafran yang sedang merebahkan diri di kasurnya. Tangannya asyik mengacak-acakan rambut. Terlihat seperti orang frustasi memang.
“Kenapa sih harus ada tugas buat 5 gambar perspektif segala? Terus, kenapa pelajaran seni budaya kelas 9 harus ada perpsektif sih? Emang ada keuntungannya belajar perspektif?” Zhafran terus mengoceh.
Dan ocehannya pun harus terhenti ketika Ibu Zhafran berteriak memanggil-manggilnya dari dapur. Rupanya, Ibu meminta dibelikan gula ke warung. Sambil terus mengoceh dalam hati, Zhafran pergi ke warung.

Warna hitam telah mendominasi langit ketika Zhafran berjalan pulang dari warung menuju rumah.
Tiba-tiba, saat ia melewati sebuah gang beberapa meter dari rumahnya, ada seseorang yang mencegatnya. Meraih tangan Zhafran. Mencengkram. Membuat langkah Zhafran terhenti.
“Kamu siapa?” Tanya Zhafran diliputi kekagetan luar biasa.
“Aku Rayhan Febri, panggil saja aku Ray.”
Ray? Siapa dia? Mengapa aku baru tahu namanya? Dan mengapa baru pertama kali aku melihat dirinya? Zhafran bertanya-tanya dalam hati.
“Ah, kamu pasti heran ya denganku? Tentu saja, jangan ditanya. Kamu kan sekarang jarang ke luar. Jadi pantas saja kalau kamu baru bertemu denganku. Aku dari RT sebelah.” Ucap Ray seakan tahu pikiran Zhafran.
Ray memiliki tinggi yang sama seperti Zhafran. Ia memakai jaket hitam yang menurutku terlalu besar bagi dirinya. Topinya hitam celananya hitam, bahkan sepatunya pun berwarna hitam.
Untung saja wajahnya tidak hitam juga, batin Zhafran sembari terkekeh geli.

“Tenang, aku bukan orang jahat.” Katanya pendek. “Aku hanya mau memberitahumu, berhentilah mengoceh tentang perspektif. Meskipun itu memang menyakitkan bagimu, tapi alangkah baiknya kamu lihat sisi positifnya. Kamu bisa belajar sesuatu dari perspektif. Kamu tahu pelajaran apa yang bisa dipetik?”
Hening menjeda.
Zhafran bingung, mengapa Ray tahu ia terus mengoceh seharian ini?
“Sebelumnya, kamu hanya melihat gambar bangunan dari sisi depannya saja ‘kan? Lalu, saat kamu belajar perpsketif, kamu mulai memandang bangunan itu tidak hanya depannya saja, tapi juga sisi lain. Ada sisi samping dan sisi belakang. Nah, itulah pelajarannya. Kamu aplikasikan ilmu perpsketif itu ke dalam kehidupan sehari-hari.”
Zhafran mengerutkan dahi. “Apa maksudnya?”
“Maksudnya, janganlah kamu lihat seseorang dari satu sisi. Tapi, dari berbagai sisi. Misalnya, kita ambil contoh pencuri. Walaupun ia jahat, tapi ia memiliki sisi baiknya. Mungkin ia mencuri karena ia ingin membantu keluarganya yang sedang sakit. Hanya saja, dirinya tidak tahu cara yang baik itu bagaimana.”
“Jadi, aku harap kamu jangan lagi mengoceh tentang perspektif mulai saat ini. Karena setiap yang ada di muka bumi ini pasti ada manfaatnya dan bisa diambil hikmahnya.”
Ray melepas cengkramannya setelah selesai berbicara, lalu ia berlari meninggalkan Zhafran. Ray masuk ke gang tersbeut.
Zhafran berteriak. “Tunggu! Tunggu, Ray!”
Tapi nihil, ia tidak menoleh bahkan tidak berhenti. Zhafran pun mencoba mengejarnya, namun sayang, Ray telah menghilang.

Zhafran lantas pulang ke rumah dengan penuh tanya.
“Mengapa tadi Ray harus pergi? Padahal, masih banyak yang harus aku tanyakan,” ucap Zhafran. Sampai-sampai ia lupa, kalau tujuan keluarnya adalah membelikan Ibunya gula.
“Bagaimana kalau Ibu sudah menunggu lama di rumah?” tanyanya, lalu berlari sekuat tenaga menuju rumah.

Mulai saat itu, Zhafran tidak lagi pernah mengoceh karena suatu hal. Ia mulai tersadar karena sosok Ray yang ia temui saat di jalan itu.
Hingga suatu hari, saat sedang pelajaran PLH tentang bencana alam, sang guru memberikan tugas untuk membuat kliping bencana alam dari koran secara berkelompok. Setiap anak harus mebawa satu koran.
Dan saat Zhafran meminjam koran milik temannya terbitan tahun 2010, sekitar 7 tahun yang lalu, ia menemukan sebuah berita yang membuat ia berdegup kencang jadinya.

Dalam berita itu disebutkan, ada seorang anak bernama Rayhan Febri tewas karena tertabrak mobil. Zhafran lebih kaget lagi saat melihat foto di berita tersebut. Sosok anak yang tertabrak itu wajahnya benar-benar mirip Rayhan yang waktu itu ia temui di jalanan. Dan sama persis sedang memakai jaket hitam, topi hitam, celana hitam, serta sepatu hitam.
“Kalau begitu, siapa yang kemarin aku temui di jalanan jika Rayhan sudah meninggal 7 tahun yang lalu?”

Cerpen Karangan: Creafids
Creafids, penulis remaja penggemar sepak bola dan penyuka sastra. Memiliki mimpi untuk menjadi finalis lomba Akademi Remaja Kreatif Indonesia 2017. Bisa lihat potret kehidupannya di instagram, @mrnr_18

Cerpen Perspektif merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Untold Story (Part 1)

Oleh:
I have been here for you.. Cause, I don’t want to see you feel lonely anymore.. Leon berhenti memetik senar gitar setelah ia selesai menyanyikan lagu ciptaannya sendiri. Seperti

Kenangan Bersamamu

Oleh:
Pagi senin, pagi yang aku tunggu setelah 2 hari yang lalu aku merubah gelar lajangku menjadi berpacaran. Tak sabar rasanya kulangkahi kaki ini untuk memasuki ruanganku, ruangan yang mempertemukan

Bekal Nasi

Oleh:
Semenjak aku sekolah pagi, aku jadi lebih banyak kegiatan. Kegiatan tambahan dari ekskul, rapat osis dan latihan musik benar-benar membuatku jauh dari makan siang, terutama jauh dari Nasi. Tapi

Berubah 180 derajat

Oleh:
Gemmy namanya, remaja berusia 15 tahun ini kini bersekolah di SMP Nusa Persada yang merupakan salah satu SMP favorit di kota ini. Dulu dia adalah siswa yang berprestasi dan

Kemarin dan Sekarang

Oleh:
Jam sudah menunjukan waktu sore. Tibalah sudah zea di rumahnya. Tak cuma zea. Tapi kak aga, kak diana dan uli pun memutuskan untuk istirahat di rumah zea, sekalian berhentinya

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *