Piala Untuk Nara (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Anak, Cerpen Nasihat, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 13 September 2017

Di suatu pagi terlihat dua kakak beradik sedang menyemir sepatu pelanggannya di dekat gerbang sekolah SD HARAPAN BANGSA. Mereka giat sekali bekerja di saat anak seumurannya masih harus bersekolah. Mereka justu harus membanting tulang untuk memenuhi kehidupan mereka. Tak sedikit pun mereka mengeluh.

“Dek, berapa ongkosnya?” Tanya sang Bapak ketika Melati selesai menyemir sepatunya
“10 ribu Pak” ujarnya ramah
“Ini dek” Bapak itu memberikannya uang dua puluh ribu rupiah dan segera berjalan menjauhinya
“Pak.. pak!!!” panggilnya sambil mengejar Bapak itu tapi sepertinya sang Bapak tak mendengarkan panggilannya itu
Melati pun mempercepat larinya sambil terus memanggilnya sampai ia tak sengaja menabrak seseorang anak perempuan. Anak itu pun berkata, “Auw.. Sakit tau, kamu tidak punya mata apa? Sampai bisa nabrak gini” omelnya. Melati pun merasa bersalah dan berujar, “Maaf-maaf ya aku tidak sengaja” Melati pun membantu anak itu untuk berdiri. Tapi anak itu justru menepis tangannya dan memperhatikan wajah Melati dengan sangat tajam. “Aku tidak butuh bantuan kamu. Pergi dariku aku kesal denganmu!” usir anak itu. Melati masih merasa bersalah dan dia kekeuh ingin mendapatkan maaf dari sang anak itu. Dia pun membersihkan tanah yang terdapat di siku anak itu karena terjatuh tadi. “Hei aku tidak suka denganmu. Nanti aku bisa tertular miskin kalau dekat denganmu” ucap anak itu. Tak sedikit pun Melati tersinggung atas ucapan anak itu dia memakluminya dan segera berlalu karena anak itu terus saja mengusirnya.

Setelah dirasa tak ada keberadaan Bapak itu dia segera kembali ke tempat dia menyemir tadi dan menemui adiknya yang masih menyemir di sana juga. “Dek, kamu sudah makan?” Melati memperhatikan wajah adiknya yang terlihat pucat. “Belum kak” jawab Randi, adiknya itu. “Ya sudah kakak ingin beli makan dulu ya. Kamu tunggu sini” ucap sang kakak yang terlihat menyayangi adiknya itu. Ketika dia ingin pergi tiba-tiba pelanggan yang disemirkan sepatunya oleh Randi memberikan mereka 2 buah Roti kepada mereka. “Tidak usah kak, terima kasih” Melati tampak sungkan menerimanya. Pemuda itu pun berbicara, “Tidak apa-apa dek, saya ikhlas kok. Semoga kalian kenyang makan rotinya. Itu untuk kalian”. Melati berterima kasih dan langsung menyalami pemuda itu begitu pun dengan adiknya. Mereka merasa senang karena sehari-harinya untuk makan saja mereka harus mendapatkan uang yang cukup dulu baru bisa makan.

Nara merupakan seorang anak perempuan yang berkehidupan kaya. Makanya sifatnya menjadi sombong dan berperilaku seenaknya sendiri. Dia tak suka bila orang miskin mendekatinya. Dan memandang orang tersebut dengan hinanya. Dia anak tunggal di keluarganya. Orangtuanya sibuk dengan pekerjaanya masing-masing. Sehari-harinya dia lebih banyak menghabiskan waktu dengan pembantunya yang sudah sejak bayi mengasuhnya. Dia selalu bersikap seenaknya ketika memerintah mbok Inem, pembantu rumah tangganya.

“Mbok sepatu yang warna pink yang mamah beliin itu mana ya, aku mau pakai” pinta Nara sambil menata rambutnya di kaca
“Ada di kamar mandi non” ujar Mbok Inem
“Ah.. ah.. Mbok masa sepatunya di kamar mandi sih. Aku mau pakai tahu tidak” bicaranya sambil memarahi Mbok Inem
“Kemarin sepatu non kan sudah kotor jadi saya cuci dulu non” ucapnya lembut sekali
“Ya tapi kan sekarang mau aku pakai titik”
“Sepatu non kan banyak, bagus-bagus semua jadi non bisa pakai yang lainnya” mbok Inem memberikannya saran.
“Ya ampun mbok pakai ngatur-ngatur aku lagi. Aku maunya yang pink, tahu nggak mbok. Sepatu yang itu tuh keren sekali jadi aku bisa banggain ke teman-teman aku nanti” Nara masih kekeuh minta pakai sepatu tersebut.
“Ya tapi sepatunya kan basah non”
“Aku nggak peduli, bagaimana caranya pokoknya mbok keringin sepatu aku. Nanti jam 4 sore aku mau pakai ke acara ulang tahun teman aku” Nara tak peduli betapa sulitnya keinginanya itu untuk dipenuhi yang di tahu keinginannya harus selalu terpenuhi.
Mbok Inem pun sibuk mencari cara agar sepatu Nara bisa kering. Lalu dia membawa sepatu itu ke dekat kipas angin yang berada di kamarnya. Dia terus saja meenghadapkan sepatu itu di depan kipas angin sambil akhirnya dia bercucur keringat karena lelah memegangnya.

Jam sudah menunjukan pukul 4 sore, Nara sudah terlihat cantik dengan dress biru yang dipadu padankan dengan sepatu dengan warna senada itu. Dengan angkuhnya dia memanggil mbok Inem dengan kerasnya, “Mbok!!!” dia mencari-cari keberadaan mbok Inem. Sampai akhirnya dia menemui di kamarnya. Mbok Inem terhentak kaget karena dia seketika tak sadar sudah tertidur dengan posisi tangannya masih memegang sepatu Nara itu. “Maaf non sepatunya belum kering” ujar mbok Inem takut. Nara pun menjawab dengan entengnya, “Tidak usah mbok, aku udah tidak mood pakai sepatu itu. Aku mau pakai sepatu warna biru aja biar matching”. Betapa kesalnya mbok Inem karena dia sudah bersusah payah mencari akal agar sepatunya bisa kering dan bisa dipakai, ini justru dengan entengnya dia berujar tidak jadi memakai sepatu yang diinginkannya tadi. Bukannya meminta maaf, sikap Nara malah santai dan tak peduli atas tindakannya itu. Mbok Inem ingin memarahinya tapi dia selalu tak bisa marah karena dia menganggapnya seperti cucunya juga. Jadi dia selalu menyayanginya dengan tulus.

“Mbok pak Eko mana sih ah.. Aku mau berangkat nih. Ini udah terlambat tau” omelnya mencari keberadaan supirnya
“Pak Eko kan jemput Mamah kamu non”
“Apa?? Gimana sih ah terus aku naik apa ini”
“Naik ojek online aja non. Kan non punya aplikasinya” Mbok Inem memberi sarannya
“Euw.. nanti kalau aku naik ojek dandanan aku bisa berantakan, terus belum lagi nanti aku jadi bau matahari. Aduh aku tidak mau itu terjadi” dia terus saja mengoceh sambil bertolak pinggang.
“Daripada naik angkot non” ujar Mbok Inem kembali
“Aduh mbok pokoknya aku mau dianter naik mobil titik” ancamnya
“Ya tapi kan pak Eko sudah jemput mamah non”
“Ya sudah aku telepon mamah. Aku kesal banget sumpah”

Nara segera menelepon Ibunya. Dia menumpahkan kekesalannya itu. Dia merasa kalau seharusnya Pak Ekolah yang mengantarkannya. Tapi bukan pembelaan yang didapatkannya dia malah dapat omelan karena terlalu menganggap remeh orang lain dan terlalu memerintah seseorang sesuai keinginannya, sang Ibu malah menyuruhnya untuk naik ojek online saja kalau tidak mau dia malah tidak boleh datang ke pesta ulang tahun temannya itu.

Setelah perdebatan itu akhirnya dia sampai di rumah teman yang mengundangnya itu. Dia segera bergabung dengan beberapa teman dekatnya itu. Mereka langsung mengobrol dengan gaya bicara mereka masing-masing.
“Nar, sepatu kamu bagus” ucap Maharani teman satu kelompoknya itu
“Iya dong aku tuh tidak level ya sama sepatu tidak berbobot alias KW-KW gitu” tuturnya dengan gaya angkuhnya
“Emang harganya berapa Nar?” kali ini Diva yang bertanya kepadanya
“Murah kok cuma 500 ribu aja”
“Kemarin aku juga baru beli sepatu harganya juga murah banget cuma sejuta” tak kalah angkuhnya Wita temannya itu justru membuat nya semakin tersaingi.
“Ya aku juga harga aslinya sejuta lebih tapi lagi sale 75% jadi murah harganya” ucapnya sambil memainkan bibir tipisnya itu
“Ah masa sih emang merknya apa?” ujar Wita kembali
“Adidas, kamu nggak percaya banget sih apa perlu aku bawain struknya biar kamu percaya” bicara Nara emosi
“Aduh sudah-sudah kok kalian malah berantem sih. Ini kan acara ulang tahun Putri kok malah kalian rusak sih. Ya sudah yuk kita ke sana aja” Diva mengajak mereka berdua untuk bergabung ke acara pemotongan kue di pesta ulang tahun Putri, teman mereka.

Satu jam sudah acara ulang tahun itu diadakan. Kini saatnya Nara untuk pulang ke rumahnya. Dan dia pun sudah dijemput pak Eko bersama ibunya di dalam mobil. Sebelum pulang tadi dia menelepon untuk minta dijemput. Di dalam mobil pun dia menceritakan acara tadi ke ibunya, “Mah, masa ya tadi acaranya tidak seru sekali. Kampungan.. apaan coba masa bingkisan makanannya nasi kuning, udah gitu isi snacknya cuma dikit lagi. Nyesel aku udah datang”. Merasa tak sepantasnya anaknya berbicara seperti itu, ibunya pun segera mengomelinya sekaligus menasehatinya, “Hei kamu tidak boleh bilang seperti itu. Jangan kebiasaan mengejek orang lain. Kamu harus tahu mencari uang itu susah jadi kalau orangtuanya mampunya membuat pesta seperti itu ya harus dimaklumi. Kamu juga harus menghargai orang yang mengundang kamu”. Bukannya menuruti dan mendengarkan ibunya berbicara dia justru memainkan handphonenya dan terkesan tidak peduli. Sulit rasanya untuk mengajari Nara untuk bisa menghargai orang lain karena dia terbiasa dengan hidupnya yang berkecukupan dan apapun yang dia inginkan selalu dituruti, makanya dia menjadi pribadi yang angkuh dan terlalu meremehkan seseorang.

Berbeda dengan Nara, kehidupan Melati sangat memprihatinkan. Dia bertempat tinggal di permukiman yang kumuh. Dia seorang anak yatim, ayahnya telah meninggal sejak dia berusia 6 tahun. Ibunya seorang buruh cuci gosok, sedangkan dia dan adiknya yang bernama Randi yang berusia 7 tahun harus bekerja menjadi penyemir sepatu. Melati pun harus merelakan dirinya yang putus sekolah karena kesulitan biaya, seharusnya jika dia bersekolah dia sudah kelas 5 SD. Dan adiknya pun juga tak bisa bersekolah karena kesulitan biaya juga. Penghasilan sang ibu tak mencukupi untuk mereka bisa bersekolah, untuk makan pun tak cukup. Makanya Melati dan sang adik bersikeras untuk bekerja agar membantu ibunya juga walaupun ibunya tak memperbolehkan mereka bekerja tapi mereka memaksakan diri untuk bekerja.

“HA-RU-S DI-PA-HA-MI” Randi terlihat sedang belajar membaca Koran dengan mengeja kata-kata di dalam Koran tersebut. Melati pun memperhatikan dan mengajarkan adiknya itu. Maklum saja Randi harus diajari sang kakak secara amatiran karena dia tak pernah bersekolah sebelumnya. Dengan sabar sang kakak mengajarinya membaca.
“Kakak, adek. Ibu pamit mau gosok dulu ya. Tadi ibu sudah buatkan kalian telur dadar, nanti jangan lupa dimakan ya. Ibu pamit ya. Assalamu’alaikum!”
“Wa’alaikum salam. Hati-hati bu” ujar Melati dan mereka pun mencium tangan ibu mereka.
Mereka pun menyantap masakan ibunya tadi, walaupun hanya nasi dan telur dadar mereka tampak lahap memakannyaa dan mensyukuri itu semua.

Ketika mereka sedang makan tiba-tiba ada suara ketukan pintu terdengar, Melati pun segera membukakan pintu.
“Hei mana ibu kamu” tegur lelaki bertubuh tegap dan berwajah garang kepadanya
Melati tampak takut dan gugup untuk menjawabnya, “I..i..bu lagi kerja pak. A..a..da apa ya?”
“Bilangin ke ibu kamu segera lunasin tunggakan kontrakan. Atau kalian akan diusir dari sini. Batasnya sampai akhir bulan ini. Awas kalau sampai tidak bayar tanpa kompromi kalian akan diusir. Mengerti!” ancam lelaki itu lalu mendorong badan Melati sampai ia terjatuh dan meninggalkannya pergi

“Kakak!!!” teriak Randi panik melihat kakaknya terjatuh
“Kak, ada apa sih. Kenapa dia marah-marah ke kakak” ucapnya masih dengan kepanikannya
“Dia minta ibu melunasi tunggakan kontarakan dek kalau ibu tidak bayar kita akan diusir dari sini” Melati tampak meneteskan air matanya itu
“Terus kita harus gimana kak?” Randi pun ikut menangis
“Kita harus giat bekerja dek, kalau perlu kita nyemirnya sampai malam aja biar kita dapat uang banyak. Dan jangan lupa untuk sholat lalu berdo’a sama Allah agar dimudahkan jalannya” dengan bijaknya Melati berujar.
“Iya kak” ucap Randi dengan polosnya.
Mulai saat itu pun mereka segera memulai bekerja dan bersemangat untuk mendapatkan uang banyak agar dia bisa melunasi tunggakan uang kontrakan. Mereka juga ingin meringankan beban sang ibu.

“Hello!!!! Bisa kan nyemirnya disanaan dikit. Aku tuh tidak bisa lewat. Ganggu banget sih”
Pagi-pagi Nara sudah membuat masalah. Dia merasa terganggu karena Nara menyemir di gerbang sekolah dan membuat mobilnya tidak bisa masuk. Padahal gerbang satunya lagi masih terbuka jadi dia bisa masuk dari gerbang sebelah kanan. Tapi Nara tak mau tahu dia merasa terhalangi dan meminta Nara untuk berpindah posisi.
“Hei dek, kan kamu bisa lewat sebelah sana” ucap pelanggan sepatu yang sedang di semir Nara itu
“Aduh saya tuh tidak mau repot ya. Saya maunya lewat sini. Lagian ngapain sih nyemir di area sekolah ini. Bisa saja saya laporin dia ke kepala sekolah karena sudah menganggu murid di sini Karena keberadaan dia” protes Nara
“Iya maaf. Saya akan pindah dari sini” jawab Melati mengalah dan segera bergeser menjauh dari gerbang sekolah itu.

“Dek, kok kamu tidak melawan sih. Itu anak jelas-jelas angkuh harusnya kamu lawan” bicara pemuda pelanggan sepatu yang di semirnya
“Saya cukup tahu diri kak. Lagipula jika sebuah keangkuhan dilawan dengan sebuah kekerasan hati tidak akan menyelesaikan masalah. Akan lebih baik jika kita mengalah, mengalah kan bukan berarti kita kalah ya kan kak” ujar Melati
“Iya juga ya. Kata-kata kamu bijak juga ya. Kamu sekolah kelas berapa?”
“Saya sudah tidak sekolah kak. Tidak punya biaya” telihat genangan air mata di sudut matanya
“Ya ampun sayang sekali ya. Harusnya anak pintar sepertimu harus dikembangkan potensinya. Oh ya kenapa kamu tidak ikut aja lomba puisi di sekolah ini, siapa tahu kamu bisa dapat beasiswa” pemuda itu memberikan selembar brosur dari tasnya itu.
Di sana tertera lomba Puisi yang diadakan di SD HARAPAN BANGSA dan terbuka untuk umum. Hadiahnya pun beasiswa, piala dan uang tunai sebesar 2 juta rupiah. Melati tampak tidak menghiraukan ajakan sang pemuda tersebut. Dia hanya meletakan brosur tersebut di sela-sela kotak semirnya.

Cerpen Karangan: Retno Santi Finarsih
Blog / Facebook: Retnoshanty.blogspot.com / Retno shanty

Cerpen Piala Untuk Nara (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Water Boom

Oleh:
Di negeri Space, Kota Sky adalah kota favorite karena di kota Sky banyak sekali anjungan wisata, walaupun kota Earth-lah ibu kota di negara Space. “Mom! Apa kita akan pindah

Hujan Musim Gugur

Oleh:
Rena mengambil tongkatnya ia tau sekarang jam berapa makannya ia bergegas untuk pergi. Ia berjalan sekuat tenaga untuk sampai di sekolahnya yang baru. Ia baru kelas 10 jadi ia

Meet Again

Oleh:
Aku menunggu disini, di sebuah danau yang airnya sangat tenang. Menunggu matahari terbenam karena di tempat ini aku bisa melihat dengan sempurna sunset. Disini tempatku menengkan diri, tempatku saat

Aku Hanya Ingin Teman

Oleh:
‘Gubrak’ terdengar bunyi pintu yang ditutup sedikit keras. Seketika aku membaringkan tubuhku di tempat tidur yang empuk menurutku. Teringat aku akan kejadian beberapa menit yang lalu. “Lin, kok kamu

Aku dan Aling

Oleh:
Batu tempatku berdiri ini masih sama seperti dulu, tak terkikis dengan hantaman ombak yang berulang kali menerpa. Sama seperti ingatanku akan kenangan-kenangan yang ada di pantai ini, di batu

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *