Piala Untuk Nara (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Anak, Cerpen Nasihat, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 13 September 2017

“Kakak. Ini ada lomba ya, kakak ikut ya” pinta sang adik ketika membaca selembaran brosur yang ia temukan di kotak semir kakaknya.
“Lomba apa dek” tanya sang ibu
“Lomba puisi bu di sekolah tempat kita biasa nyemir hadiahnya lumayan bu bisa buat ngelunasin hutang kita ya kan bu” kini sang adik memberikan brosur tersebut ke ibunya. Sang ibu pun mulai membacanya. Dan air matanya mulai mengalir.
“Ibu kenapa nangis?” ucap Randi dengan lugunya
“Dari mana kamu tahu kalau kita punya tunggakan kontrakan” bicara sang ibu
“Tadi pagi ada bapak-bapak jahat ke sini terus marah-marah ke kakak dan bilang kalau kita tidak bayar tunggakan kontrakan, kita akan diusir” tutur Randi
“Sayang, kalian harus tahu kewajiban kalian seharusnya menikmati masa kecil kalian bukannya memikirkan hal ini. Biar ibu yang memikirkan bagaimana caranya kita bisa melunasi ini semua ya” ucap sang ibu sambil membelai rambut Randi dan Melati
“Ibu, kakak mau bantu ibu” bicara Melati bersemangat
“Adek juga mau” Randi pun mengikuti ucapan kakaknya itu
“Adek tidak usah, cukup kakak aja yang bantu ibu. Adek bantu do’a aja ya” ujar Melati
“Iya”
Sang ibu pun segera memeluk anaknya itu dengan penuh kasih sayang.

Melati terlihat sedang memasuki gerbang sekolah SD HARAPAN BANGSA. Dia Nampak binggung mencari panitia lomba di sekolah tersebut. Suasana pun Nampak ramai karena lomba tersebut terbuka untuk umum. Awalnya dia memang tidak percaya diri untuk mengikuti lomba ini tapi dia memang suka menulis puisi ketika waktu senggang di rumahnya. Jadi dia mulai memberanikan diri untuk mengikuti lomba tersebut. Apalagi hadiah lomba tersebut mampu untuk meringankan beban ibunya untuk melunasi hutang mereka.

“Ya ampun ngapain sih gembel kaya kamu masuk sini. Ngotor-ngotorin sekolah ini aja sih. Pergi kamu dari sini” tiba-tiba Nara datang dan mengusir keberadaan Melati saat itu
“Tapi aku mau ikut lomba di sini” ucapnya memelas
“Hello!! Kamu bisa apa memang? Sekolah aja tidak. Bagaimana bisa kamu ikut lomba. Dasar aneh” Nara mulai menghinanya di hadapan teman-temannya itu
“Ya tapi aku hanya ingin ikut lomba saja. Bisa atau tidaknya aku tak peduli, yang penting aku sudah berusaha. Kalau di rumah juga aku suka buat puisi kok” Melati terlihat ingin menceritakan hobinya itu ke Nara tapi Nara masih saja menghinanya.
“Suka nulis puisi??? Hahaha.. Palingan juga sukanya nyemir sepatu kali ah. Untuk beli pensil aja kamu tidak mampu apalagi untuk beli buku jadi bagaimana bisa kamu nulis puisi. Jangan ngarang deh” ucap Nara menyepelekan
“Kamu tidak bisa ya untuk tidak meremehkan dan menghina orang. Waktumu terlalu singkat jika kamu selalu menyombongkan dirimu. Kamu harus tahu betapa nikmatnya jika kita hidup saling memahami dan menghargai seseorang. Kita jadi banyak teman bukan memunculkan kesombongan diri yang justru akan membuatmu banyak yang memusuhimu nantinya. Ingat ucapan itu layaknya pisau semakin kamu berkata yang tidak baik pisau itu bisa menusuk dirimu sendiri” Melati nampak kesal atas hina-hinaan Nara dan membuatnya agar tersadar.
“Hah.. udah ngomongnya. Aku tidak peduli. Siapa kamu berani-beraninya nasehatin aku. Sudah ah malas deket-deket sama kamu, nanti aku bisa ketularan miskin lagi” ujar Nara sambil mendorong bahu Melati. Tapi Melati tak membalas perlakuannya itu dia justru mengelus dadanya agar bersabar menghadapinya.

Suasana lomba puisi pun dimulai. Nara terlihat duduk di kursi paling depan, dia nampak percaya diri dan sesekali mengibas-ngibaskan rambutnya. Sementara Melati berdiri di barisan paling belakang karena dia sudah tidak kebagian kursi karena memang peserta lomba ini lumayan banyak. Acara pun dibuka dengan sambutan kepala sekolah yang selanjutnya acara lomba pun segera dimulai. Satu demi persatu peserta maju ke atas panggung. Mereka nampak sudah siap dengan puisi mereka masing-masing. Mereka pun terlihat rapi dengan penampilan mereka. Sedangkan Melati tak ada persiapan teks puisi yang sudah di tulisnya untuk di tampilkannya nanti. Penampilannya pun sangat seadanya sekali, dia hanya memakai seragam lusuh dan rok sisa seragamnya dulu dengan sepatu bekas tambalannya.

Kini giliran Nara tampil membacakan puisinya. Gayanya pun sangat percaya diri. Puisi demi puisi pun dia bacakan sampai akhirnya semua hadirin berdecak kagum mendengarkan puisinya karena puisinya sangat bagus sekali. Orangtuanya pun bangga ketika menyaksikan anaknya itu. Tapi ketika dia mulai turun panggung ada teriakan seorang murid yang membuat suasana menjadi tak kondusif.

“Dewan juri! Dewan juri! Itu puisi boleh nyotek tuh” ternyata Wita teman sekelasnya itu memprotes atas puisi yang di bawakan oleh Nara tadi. Dia merasa jika puisi itu hasil contekan dari sumber lain.
“Huh!!!!” seketika para hadirin mulai menyorakin Nara dan suasana menjadi rebut
“Payah gimana sih masa yang seperti itu boleh ikut lomba” teriak salah satu orangtua murid
“Para hadirin di mohon tenang. Kamu coba maju ke sini dan jelaskan apa yang kamu maksud itu” ujar salah satu dewan juri, dan memanggil Wita untuk menjelaskan maksud ucapannya.
“Gini bu. Puisi yang dibacakan Nara tadi boleh nyotek bu. Kemarin dia memaksa teman saya untuk mencarikan puisi dan saya lihat teman saya itu menjeplak puisi dari salah satu halaman yang terdapat puisi di buku bahasa Indonesia bu. Kalau ibu tidak percaya ini buktinya” Wita segera memberikan buku tersebut ke dewan juri. Lalu dewan juri itu mempersilahkan wita kembali dan meminta waktu sebentar untuk merundingkan masalah itu ke dewan juri lainnya.

“Oke baiklah. Agar lomba ini berjalan adil dan lancar maka peserta dengan nama Nara Oktaviani kami nyatakan gugur karena dia terbukti tidak jujur terhadap hasil karyanya. Dan lomba pun bisa kami mulai kembali” ujar dewan juri
Nara tampak menangis dan malu karena kelakuannya itu terbongkar. Dia segera memeluk erat ibunya karena merasa bersalah atas tindakannya itu. Nara tak berani menoleh ke sekelilingnya dia terus saja menangis. Nampak para hadirin di sampingnya menatap tajam ke arahnya makanya dia takut untuk menoleh. Rasa malu pun mulai menghinggapinya.

Lomba pun terus diadakan sampai akhirnya nomor urut terakhir pun mulai dipanggil. Tapi tak nampak peserta dengan nomor urut tersebut. Panggilan kedua kali pun kembali di panggil, akhirnya sosok Melati nampak di panggung. Dia nampak gugup dan canggung ketika mulai menaiki panggung. Semua mata tertuju padanya. Pandangan sinis menghadap ke arahnya.

“Hi..du..p..” ujarnya grogi dan membuat semua hadirin menertawakannya
“Turun heii!!!” teriak salah satu hadirin di sana
Melati pun berusaha untuk meneruskan puisinya itu dan mulai memberanikan dirinya.

“Hidup
Hidup bukan tentang kemewahan
Hidup bukan tentang meremehkan orang
Hidup bukan bercerita tentang bagaimana caranya kita menyombongkan diri
Hidup itu tentang jatuh bangun
Ada kalanya rasa senang itu datang
Ada kalanya rasa sedih itu datang
Bahkan ada kalanya rasa Pahit itu pun datang
Jika kita tidak saling melukai atau menyombongkan diri
Maka arti hidup itu jauh lebih berarti
Sadarlah kesombongan hanya akan meruntuhkan hatimu
Tak akan membuatmu bahagia nantinya
Jika hidup saling berdampingan alangkah baiknya
Hidupmu jauh lebih berarti daripada waktumu terbuang hanya karena dengki”

Ketika Melati selesai membacakan puisinya. Nara langsung memanggil Melati ke arah tempatnya berada. Matanya terlihat masih sembab. Dia pun mempersilahkan Melati untuk duduk di sampingnya. Melati nampak binggung karena biasanya Nara sangat membencinya kini justru dia yang mendekatinya. Nara tampak nyaman duduk di samping Melati sampai acara hampir berakhir.

Saat yang ditunggu-tunggu pun datang. Pengumuman lomba akan segera dibacakan. Terlihat wajah tegang dari semua peserta lomba tersebut. Nara pun menyemangati Melati, “Insya Allah kamu pasti menang”. “Haha.. tidaklah Nar, puisi aku jelek yang lain puisinya bagus-bagus sekali. Aku bisa ikut lomba saja sudah senang apalagi bisa kenal kamu” ucap Melati pesimis. Nara langsung mengengam erat tangan Melati.
“Juara pertama di menangkan oleh…” dewan juri mulai mengumumkan pemenangnya
“Selamat kepada Melati Sukmawati. Kepada Melati Sukmawati harap naik ke atas panggung untuk menerima hadiah” ujarnya kembali

Air matanya pun mengalir dengan derasnya. Dia tak menyangka kalau dialah yang menjadi pemenangnya. Karena dia merasa penampilannya tadi sangat biasa sekali. Dan dia hanya menangis haru di tempatnya berada sampai akhirnya Nara menyuruhkan untuk ke atas panggung. Melati pun naik ke atas panggung dan mengajak Nara juga.

“Piala ini saya berikan untuk Nara sahabat saya. Karena dialah yang menginspirasi puisi saya” dengan tulusnya piala tersebut diberikan ke Nara.
Betapa kagetnya Nara karena piala yang seharusnya untuk Melati justru diberikan kepadanya. Dia pun menangis haru dan selalu berulang kali untuk meminta maaf atas sikapnya yang selalu jahat padanya.

“Terima kasih Mel, padahal selama ini aku jahat ke kamu tapi kamu justru membalas perlakuanku dengan kebaikan hatimu itu. Aku belajar banyak tentang dirimu Mel. Aku sadar kalau aku terlalu sombong dan tidak pernah menghargai orang lain. Dan maaf atas perlakuanku selama ini. Aku juga akan meminta maaf kepada orang yang pernah kusakiti. Aku ingin memperbaiki diriku. Boleh aku menjadi temanmu agar aku selalu belajar memaknai kehidupan darimu” bicara Nara tulus
“Mengalahkan ego itu merupakan sebuah prestasi Nar. Kamu mampu melawan keburukan dari dalam dirimu. Dengan senang hati aku ingin kamu bukan hanya sekedar teman tapi bahkan menjadi seorang sahabat untukku. Kita saling belajar dan memperbaiki diri kita. Aku juga sudah memaafkanmu” ujar Melati

Nara pun memeluk Melati, kini dia tak merasa risih lagi ketika berdekatan dengannya. Justru dialah yang mengakui kesalahannya dan mengajak Melati untuk menjadi temannya. Dia pun berjanji kepada orangtuanya akan meminta maaf kepada mbok Inem karena perlakuannya yang semena-mena terhadapnya selama ini. Nara pun merasa tenang ketika dirinya berubah ke arah yang lebih baik. Melati pun bisa kembali bersekolah karena mendapat beasiswa di sana dan hutang sang ibu sudah dilunasi oleh keluarga Nara. Mereka merasa kasihan dan ingin membantu Melati. Mulai saat itu mereka saling berhubungan baik seperti sepasang sahabat.

Seperti itulah jika kita saling menyayangi dan menghargai orang lain akan jauh lebih berarti. Daripada mengikuti ego untuk menyombongkan diri tak kan ada habisnya karena semakin kita menyombongkon diri, kita akan semakin mengikuti gaya hidup kita yang tak pernah untuk merasa cukup. Melawan ego juga merupakan sebuah kemenangan hati yang seutuhnya.

selesai

Cerpen Karangan: Retno Santi Finarsih
Blog / Facebook: Retnoshanty.blogspot.com / Retno shanty

Cerpen Piala Untuk Nara (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Liliana

Oleh:
Liliana adalah peri yang tinggal di sebuah kerajaan awan atau lebih sering disebut kerajaan Ranjana. Ibunya bekerja sebagai pelayan istana, sedangkan ayahnya adalah penjaga kerajaan yang bekerja sepanjang hari.

3 Sahabat

Oleh:
Pada suatu hari tinggallah seorang anak yang bernama Kayla. Dia tinggal di Bogor baru pindah dari Jakarta. Suatu hari dia akan bersekolah. Ibu: “Kayla bangun cepat, mandi nak!” Kayla:

Senyum Cantik Bidadari

Oleh:
Hai! Perkenalkan namaku Liona Anstasya Putri, panggilanku Putri. Aku bersekolah Di SDN Rancaloa Kota Bandung, aku duduk Di kelas 5 SD. Hari ini sampai Hari minggu, sekolahku akan libur.

Surat Sayang Untuk Sang Bulan

Oleh:
Terlalu banyak berharap dan mengkhayal adalah suatu kebiasaan buruk. Hal ini akan membuat diri semakin ringkih dan selalu bersedih. Namun itulah kenyataannya, aku telah masuk ke dalam permainan bodoh

Lomba Games

Oleh:
Hai namaku Alfian Ardhana Firmansyah, Aku seorang siswa di SMP Islam SABILILLAH Malang. Aku mendapat tugas dari guruku untuk membuat sebuah cerpen dan akhirnya aku memilih sepotong ceritaku saat

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *