Rona Kehidupan Malaikat Tak Bersayap

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Motivasi, Cerpen Nasihat, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 25 November 2016

Dunia mereka kelabu sebelum datangnya seorang malaikat tak bersayap. Tapi roda kehidupan terus berputar. Kini dunia malaikat itu kelabu sebelum segerombolan semut membuka mata hati dan pikirannya.

Mentari tersenyum gembira, awan tak bosan menaungi gadis cantik berkulit cerah itu. Pepohonan saling menyapa dan hembusan angin berlomba-lomba menggoyangkan rambut lurusnya. Cuaca pagi itu membuat Lotusia Amor begitu bersemangat memulai harinya. “Mam, Lotus berangkat” pamitnya sebelum ia pergi ke rumah keduanya dengan B-Blue, sepeda kesayangannya. Ia terus melantunkan nada-nada yang indah selama perjalanannya. Ia selalu menikmati setiap detik hari-harinya. Tak ada keluhan di kamus kehidupannya.

“Sore ibu, Bagaimana kabar dagangannya?” Senyumnya merekah ketika ia sampai di kantin sepulang sekolah.
“Hari ini semua daganganmu habis terjual. Ini hasilnya” Kata ibu kantin sembari menyodorkan beberapa lembar uang kertas.
“Uangnya tolong dibungkuskan 10 nasi saja Bu”
“Kamu masih sering menemui anak-anak jalanan itu?”
Lotus hanya tersenyum dan mengangguk kecil.
“Tak salah memang orangtuamu memberimu nama Lotusia Amor. Kau gadis yang sangat cantik dan penuh cinta”

“Selamat Sore” sapa gadis itu sesampainya di rumah kardus. Ya, rumah kardus, rumah yang dibangun dengan kardus. Rumah itu jauh dari kata layak tapi mereka dengan telatennya membersihkan dan merawat tempat itu. Sehingga tempat itu selalu terlihat bersih dan rapi.
Anak-anak yang sudah berkumpul disana langsung berhamburan ke arah Lotus. “Lihat! Kakak bawa sesuatu untuk kalian” gadis berambut lurus itu membagi-bagikan nasi bungkus yang telah ia beli. Senyum manis tersungging di bibirnya ketika anak-anak itu makan dengan lahap.

“Kak” panggil seorang anak laki-laki yang berkulit hitam dan berambut keriting. “Kenapa kakak diam saja? Kenapa kakak tidak makan? Ayo kita makan bersama”
“Kakak senang sekali bisa disini lagi dan bisa berbagi dengan kalian. Makanan itu kakak belikan untuk kamu, habiskan saja, kakak bisa makan nanti di rumah” jawab gadis itu dengan lembutnya. “Oh ya, bagaimana dengan buku yang kakak beri kemarin? Apa kamu suka?”
“Suka sekali Kak! Ceritanya bagus” jawabnya dengan mata berbinar-binar. “Kakak tau nggak? Sekarang Bintang sudah lancar membacanya”
“Oh ya? Pintar sekali adik kakak yang satu ini” Pujinya sambil mengelus rambut anak itu.

Sebelum pulang gadis berparas cantik itu menyempatkan diri untuk berfoto bersama. Hal yang sangat jarang sekali dilakukannya. Dia memang tidak suka berfoto tapi entah mengapa ia ingin sekali melakukan hal itu saat ini.

“Lotus, bangun nak!” Ibunya mencoba membangunkan gadis bernama Lotus itu. “Kita harus berangkat sebelum larut malam”
Masih dengan mata terpejam dan guling dipelukannya ia menjawab dengan malasnya, “Iya mam, sebentar lagi, Lotus masih mengantuk”
“Ayolah, ini sudah jam berapa? Kalau kita berangkat terlalu larut kita bisa terlambat datang ke pernikanan Lilib besok pagi”
Lotus mengucek-ucek matanya. Ia menyerah. “Iya iya Mam, aku sudah bangun ini, Aku akan turun 30 menit lagi. Mama tunggu saja aku di ruang keluarga, aku perlu bersiap-siap”

Entah mengapa Lotus merasa tidak nyaman dengan perasaannya. Sebelum berangkat kalimat “Jangan pergi, tetaplah disini” terus terdengar olehnya. Meski ia sudah mencoba memakai headset yang mengalunkan nada-nada indah, kalimat itu terus saja menghantuinya. Perasaan itu sungguh mengganggu dan membuatnya tidak nyaman saat dalam perjalanan. Ia sudah kehabisan akal. Akhirnya pemilik rambut lurus itu memilih memejamkan matanya dan mencoba memasuki alam bawah sadarnya meski berbagai rasa berkecamuk di hatinya dan membuat pikirannya menjadi liar.

Kalimat itu terdengar semakin keras ketika mereka memasuki jalan tol. “Tuhan, pertanda apakah ini?” tanyanya dalam hati. Ia terus memejamkan matanya dan memakai headset. Ia mencoba menenangkan dirinya. Hanya sekelebat cahaya berlalu lalang di kegelapan yang dia rasakan. Sampai ketika ada cahaya terang yang menuju arah yang berlawanan dengan arah laju mobilnya. Cahaya itu berbeda dengan cahaya yang ia temui sebelumnya. Semakin lama cahaya itu semakin membesar dan terang sehingga membuat jantungnya berdetak lebih cepat. Ia berpikir itu hanyalah halusinasinya saja. Gadis itu tetap memejamkan matanya dan mencoba membuang pikiran buruk itu. Tapi cahaya itu semakin lama semakin jelas dan disertai suara klakson yang memekakkan telinga. Ia semakin takut ketika ada sesuatu yang menghantam mobilnya hingga membuatnya merasakan goncangan yang begitu dahsyat. “Mah, Pah, Kak?” panggilnya lirih sebelum pandangannya kemudian kabur.

Jari-jari tangan Lotus mulai bergerak ketika jam dinding berdentang tepat pukul tiga sore. Ia mengedip-edipkan matanya mencoba beradaptasi dengan cahaya di ruangan itu kemudian ia melihat sekelilingnya. Di sebelahnya tertidur seorang anak kecil berambut keriting. Muncul rasa penasaran dibenak gadis itu. “Siapa anak itu dan mengapa dia ada disini?”. Lotus menyentuh lembut tangan anak itu dan menggenggamnya. “Tangan mungilnya kasar. Apakah ia bekerja terlalu keras?” pikir gadis itu. Ia terkejut ketika anak itu mendongakkan kepalanya dan melihat ke arahnya. Matanya yang sayup menatap gadis itu dengan lembut. Anak itu terdiam sejenak kemudian senyum manis terukir di wajah imutnya. “Kak Lotus. Kak Lotus sudah bangun?” senyum anak itu semakin melebar. “Tunggu sebentar Kak, tunggu” kata anak itu lalu keluar. Tak lama kemudian ia masuk dengan menggandeng seorang laki-laki beserta seorang perawat. Wajah laki-laki itu begitu sederhana dengan senyum yang merekah di bibirnya.
“Kenapa kalian ada disini?” tanya Lotus lirih.
“Aku melihat kakak di koran. Lalu aku bersama abang Doni mencari kakak disini dan ternyata itu benar” jawab anak itu dengan semangatnya.
“Lalu, dimana orangtuaku? dimana kak Aldi? kenapa mereka tidak disini?” Lotus menengok-nengok sekitarnya, berharap orang yang dimaksudkannya itu ada di ruangan putih dengan bau alkohol dan obat-obatan yang ia tempati sekarang.
Anak kecil bernama Bintang dan abangnya saling bertatap muka dalam sunyi. Mereka tidak tau bagaimana cara menyampaikan kabar keluarga gadis itu.
“Kenapa kalian diam? Katakan, dimana mereka?” Pinta Lotus.
“Me… mereka sudah.. sudah…” Kata Doni terbata-bata.
“Mereka sudah apa? katakan cepat!” Gadis itu membentak mereka meski suaranya lemah.
“Mereka sudah meninggal Kak” Bintang menundukkan kepalanya. Ia tak ingin melihat malaikatnya ini menangis.
Lotus hanya terdiam dengan tatapan kosong ke arah langit-langit ruangan itu. Perlahan-lahan cairan bening mengalir di pipi mulusnya. Ia tak tau lagi harus berbuat apa. Ia sudah tidak mempunyai keluarga lagi. “Tuhan, kenapa harus aku? kenapa harus Lotus, Tuhan?” isaknya dalam hati.

Baru kali ini Bintang dan Doni melihat malaikat tak bersayap mereka menangis. Setau mereka Lotus adalah gadis cantik, penuh kasih yang selalu ceria. Mereka tak menyangka gadis sebaik itu bisa mendapatkan cobaan seberat ini.
“Tolong pasien ini jangan dibiarkan terlalu larut dalam kesedihan, karena hal itu dapat memperburuk kesehatannya” Kata seorang perawat kepada Doni sebelum meninggalkan kamar pasien milik Lotusia Amor.

Minggu demi minggu telah berganti, dan Lotus masih saja menikmati kepedihan hatinya. Ia selalu saja menatap ke luar jendela dengan pandangan kosong. Tubuhnya samakin kurus karena hanya ia masuki sedikit nutrisi. Hal itu terus ia lakukan hingga tiba hari istimewanya.

Tepat sebelum matahari kembali ke peraduannya beberapa anak jalanan masuk ke kamar gadis berwajah bidadari itu. Mereka terus mengalunkan lagu selamat ulang tahun yang dipopulerkan oleh Jamrud meski Lotus tak memalingkan wajah sedikitpun. Mereka terus melantunkan nada-nada yang indah di hari istimewa itu. Ya, karena hanya ini yang bisa mereka lakukan. Mereka tidak mempunyai cukup uang untuk membelikan sebuah barang untuk saudara kesayangannya itu.
Anak-anak itu mendekat pada Lotus dan memeluknya lembut sembari mengucapkan selamat ulang tahun. Mereka tenggelam dalam kehangatan kasih yang murni dari hati.

“Kak, kakak jangan bersedih lagi. Kakak masih punya kami. Kami sudah menganggap kakak sebagai saudara kami. Sebagai keluarga kami. Kakak tolong jangan seperti ini terus. Kami jadi sedih kalau kakak terus seperti ini. Kami semua sayang kakak” Kalimat itu langsung saja meluncur dengan mulusnya dari seorang anak kecil yang begitu lugu. Kalimat luapan isi hatinya yang paling dalam.
“Mungkin anak itu benar. Aku tidak boleh terus seperti ini” Lotus memotivasi dirinya sendiri. Ia melihat sekelilingnya, banyak sekali yang sayang padanya dan selalu memberikan senyuman terbaiknya. “Bodohnya aku. Kenapa selama ini aku tak sadar? aku masih mempunyai keluarga” senyum kecil terlukis di tengah deras air matanya.

Satu tahun sudah mereka hidup bersama. Lotus tak lagi merasa sepi karena masih banyak orang-orang yang menyayanginya. Mereka membangun sebuah usaha kecil di rumah Lotus dengan harapan mereka bisa memetik buah dari apa yang sudah ia tanam di kemudian hari.

Tidak ada gunanya berlarut-larut dalam kesedihan. Bangkitlah dan jemputlah bintang masa depanmu. Kita tidaklah sendirian di dunia ini. Masih banyak orang-orang yang menyayangi kita. Hanya saja terkadang kita terlalu sibuk mengurusi kepedihan hati.

Cerpen Karangan: Dema Biofani

Cerpen Rona Kehidupan Malaikat Tak Bersayap merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Berjuang Demi Masa Depanku

Oleh:
Hay, namaku Riri umur 20 tahun anak pertama dari dua bersaudara dan saat ini lagi kuliah di jurusan pendidikan matematika salah satu universitas swasta. Ayahku bekerja sebagai petani dan

Pesan ke Saudara Kembarku

Oleh:
Lisa terlihat sangat ceria di siang ini. Itu karena dia mendapat nilai sempurna pada ulangan Matematika. Sebagai saudara kembarnya, aku turut senang. Lisa merupakan adik yang baik, walaupun dia

Surat Untuk Presiden

Oleh:
02 Juli 2013 Kayu-kayu itu masih berserakan. Sampah dimana-mana. Rumah-rumah kokoh itu sekarang tinggal kepingan-kepingan yang berserakan. Guncangan besar telah terjadi di tempat ini rupanya. Entah, aku tak tahu

Impian Yang Hilang

Oleh:
Hujan menyisakan gerimis membasahi bumi, cuaca semakin dingin di pagi ini. sementara jarum jam baru menunjukkan angka 04:30 itu tandanya kegelapan masih menyelimuti desaku tapi itu takkan lama, karena

Impian Sang Bintang

Oleh:
Namaku Bintang Nesya Permata Putri, aku biasa dipanggil Bintang oleh kedua orangtuaku. Saat ini aku berusia 15 tahun, aku duduk di kelas 1 Sekolah Menengah Atas. Aku bersyukur dan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *