Sarwono Sang Pemandu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Nasihat, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 27 March 2017

Kini telah tiba masa masa menegangkan, masa dimana sering kali menjadi pertaubatan manusia kelas 3 SMA yaitu semester akhir pembelajaran.
Di ruang kelas F bu Sri selaku wali kelas mengumumkan bahwa akan diadakannya beberapa macam kelompok tim sukses UN. Sarwono kaget dengan hasil yang telah ditentukan, tak disangka kalau Sarwono akan sekelompok dengan sekumpulan yang terkenal hebatnya sebagai pecandu rok*k, yaitu Reno, Rendi dan Fino. Sarwono pun tak dapat mengelak, sarwono yang terkenal dengan keteladanannya dan betapa rajinnya kini hanya berharap semoga ini adalah yang terbaik untuknya.

Rumah Reno, rumah Reno adalah awal tempat dimana mereka ngumpul pertama kalinya belajar kelompok. Karena yang terlihat mencolok dan sering kali bisa membantu adalah Sarwono, kini Fino sosok pecandu rok*k yang sedikit kocak berkata, “gimana kalau kelompok kita, kita namain dengan Sarwono’s gengs?”. Reno dan Rendi, “Okeh! Keren juga tu”. Nama kelompok pun jadi tanpa persetujuan Sarwono, namun apa boleh buat Sarwono pun menerimanya meski dengan sedikit terpaksa. Kini beban sarwono pun menjadi lebih berat karena namanya menjadikan tema dari nama kelompoknya. Belajar pun selesai, Sarwono beres beres dan bergegas untuk pulang. Namun saat setelah selasi beres beres Reno pun menegur, “mau kemana no, buru buru amat?”
Sarwono membalas “Pulang Ren.”
“Sini dulu lah ngumpul ngerok8k ngerok*k dulu.”
“enggak, saya enggak ngerok*k.”
“gimaana, laki kok gak ngrok*k. Gak keren.”
“iya gak keren.”
Sarwono pun mengabaikan omongan mereka dan bergegas pulang, “pulang dulu ya.”

Hampir setiap pertemuan Sarwono diledekin “gak keren, laki kok gak ngerok*k”. Namun dengan tekad yang kuat untuk menjadikan kelompoknya sebagai kelompok yang sebaik mungkin, Sarwono pun tak mempedulikan apapun ledekannya. Ledekan demi ledekan pun hampir setiap saat diterimanya dan kini bukan menjadi masalah lagi baginya, bukannya melemahkan tapi malah lebih menguatkan. Dengan segala ledekan yang sering kali diterimanya dan keseringan Sarwono berbagi cara mengerjakan soal serta bahkan yang kadang-kadang menjelaskan materi pelajaran layaknya guru yang lagi mengajar, kini Sarwono menjadi Sarwono yang penuh perubahan. Dari yang dulunya malu malu kini pedenya semakin menjadi, dari yang dulunya suka lupa kini hampir segala materi tersimpan di dalam sekujur raganya, dari yang dulunya sering kali meriasi peringkat tengah kini meroket naik melengkapi peringkat atas. Mungkin itulah keunikan berbagi ilmu, bukan merugikan tapi malah saling menguntungkan. Yang menerima jadi tau dan bisa, yang membagi pun menjadi lebih sempurna dalam memahami materinya. Berbanding terbalik dengan berbagi rok*k yang saling merugikan. pemberi yang rugi di materi dan penerima yang menghirup racun, racun membunuh yang berimbas ke ketagihan.

Hari demi hari telah berganti, kini UN sudah di depan menanti. Kini mereka belajarnya mulai sendiri sendiri, hanya beberapa materi yang masih belum matang saja yang membuat mereka belajar berkelompok lagi. UN berjalan, setiap kali bertemu mereka tak membahas apa yang sudah mereka kerjakan. Mereka hanya membahas materi yang sudah menanti di depan dan saling menguatkan. Kini UN terakhir telah terlewati, sarwono’s gengs pun berkumpul dan saling berbagi atau share dalam menjalani UN kali ini.

Sarwono pun menannyakan kepada gengsnya, “gimana UNnya, lancar kan?”. Kemudian Reno pun menjawab “lancar no, soal yang keluar mirip-mirip sama yang sering elu ajarkan.”
Rendi dan Fino pun serentak menjawab “iya no, mirip sama yang elu ajarkan.”
Kemudian Sarwono sembari bertanya, “yakin lulus enggak?”
Serentak bertiga menjawab “yakin lah, yakin banget.”

Tiba-tiba bu Sri datang dan memanggil Sarwono, Sarwono pun pamitan dengan teman-temannya dan segera mendatangi bu Sri. Bu Sri memberikan kabar bahwa akan diadakan lomba pidato di Universitas ternama Gajah Mada yang mana Pidato terbaik akan ditampilkan di Media ternama dan mendapatkan perhargaan yang sangat menggiurkan. Dengan modal melihat perkembangan Sarwono yang begitu pesat akan prestasinya akhir-akhir ini, bu Sri pun menawarkannya pada Sarwono untuk mengikuti lomba tersebut. Dengan girangnya Sarwono lansung menjawab “iya bu, saya mau. mau banget.” Setelah selesai mengobrol kini bu Sri pun kembali ke ruangannya.

Secara mengagetkan Reno, Rendi dan Fino pun mendatangi Sarwono dan berkata “no, yok kita rayakan hasil pusing-pusing kita selama empat hari ini.”
Sambil memikirkan apa yang bu Sri utarakan barusan kini sarwono pun langsung menjawab ajakan teman-temannya “maaf gengs, saya ndak bisa. lagi ada tawaran menggiurkan dari bu Sri.. hhi”.
Reno sembari bertanya “apa sar?”.
Sarwono pun menjawab dan langsu girang berlari “rahasia.. hha.”

Apa boleh buat, mereka bertiga kembali berkumpul dengan kawanan berbaret warna warni tanpa adanya Sarwono. Mereka hampir kembali ke seperti awalnya, mereka merayakannya dengan berpesta rok*k dan berorasi dengan seragam berbaret warna warni keliling seraya kampanye partai, dengan suara motornya yang meledak ledak, bising yang mengganggu masyarakat.

Hari mulai berganti, hari ini hari kamis. Hari dimana sarwono mengikuti lomba pidato di Universtas Gajah Mada. Sarwono yang tampak gemetaran awalnya kini ditenangkan oleh wali kelas tercintanya, bu Sri yang senantiasa mendampinginya. Di sisi lain Reno, Rendi dan Fino masih asyik dengan acaranya pesta dan hura-hura dengan rok*knya.

Hari tetap berjalan. Acara perpisahan yang diselenggarakan kini mulai berjalan. Namun sepertinya ada yang beda dari tahun-tahun sebelumnya, banyak media yang datang meliput acara dan para petinggi Fakultas yang datang ikut melengkapi. Kini acara berjalan dan di tengah perjalanan ada sebuah acara dadakan dari Universitas Gajah Mada, semacam nonton bersama. Dan yang begitu mengagetkannya, vidio yang ditayangkan adalah hasil pidato dari Sarwono. Kini semua guru dan murid terdiam, fokus melihat betapa mengagumkannya Sarwono dalam tayangan. Kini Sarwono pun dipersilahkan untuk maju kedepan. Kini kebahagian sarwono pun tak tertahankan, air mata kebahagiaannya berlinangan membasahi wajah riangnya. Sejenak Sarwono terdiam dan menghapus sebagian linangan air matanya. Dan kini beberapa patah kata pun mulai dilontarkannya.

“Saya Sarwono dwi hardi mengucapkan terimakasih kepada kalian semua, kepada Universitas Gajah Mada yang telah menyediakan acara perlombaan, bapak ibu guru yang telah mengajar saya, bu Sri yang senantiasa mendampingi saya dan sarwono’s gengs yang telah mengajari dan menjadikanku sekeren seperti sekarang ini, serta tak lupa buat Tuhan yang telah memberikan skenario seindah ini. Sebelumnya mohon do’anya semua terkhusus untuk sahabat saya Reno yang sedang menjalani perawatan, semoga beliau segara sehat kembali dan menjadi pribadi yang lebih baik lagi.. aamiin. Sepenggal pesan dari saya teruntuk teman-teman semua dan terlebihnya untuk sarwono’s gengs tercinta. ”

“benarkan! Untuk menjadi keren itu gak harus juga jadi perok*k? Prestasi akan lebih mengajak kita ke bentuk keren yang sesungguhnya, bukan mallah membawa luka, sakit ataupun mencemari alam sekitarnya.”
Sekian dari saya, ada kekurangan ataupun kata-kata yang kurang berkenan saya mohon maaf.

Wassalamu’alaikum wr. wb.
Terimakasih

Selanjutnya Reno pun kembali sehat, sarwono’s gengs pun sedikit sedikit mulai meninggalkan rok*k dan lebih memilih untuk mengasah kembali prestasinya. Sarwono kini menjadi sosok yang dicari, berbagai beasiswa dari Universitas ternama ditawarkan untuknya bahkan ada juga perusahaan yang menawarkannya untuk melanjutkan belajarnya ke negeri seberang.

Selesai

Cerpen Karangan: Joko Wihardi
Blog / Facebook: jowihardi.blogspot.com / facebook.com/hieita.d.mzhardy
manusia biasa

Cerpen Sarwono Sang Pemandu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Loper Cilik

Oleh:
Setiap hari Minggu aku selalu membantu ibuku mengantarkan koran ke rumah pelanggan yang rumahnya tidak terlalu jauh dari rumahku. Ya, aku adalah anak seorang loper koran di kotaku. Usiaku

First Love Never Die

Oleh:
“Wit, tunggu gue ya ntar kita pulang bareng!” teriak Kania yang buru buru masuk kelas setelah terdengar bel yang menggema. Itu tak lain adalah bel sebelum pelajaran terakhir. Mereka

Ririh

Oleh:
Perkenalkan namaku Yovi siswa salah satu SMA swasta di Jogja, dan aku siswa jurusan Bahasa yang tidak begitu pintar tapi suka ngeyel. Pagi yang kurang semangat untuk memulai kegiatan

Sepenggal Pesan

Oleh:
Di sudut kota ini dia tinggal, kota yang cukup besar. Selalu terlihat asri terkenal dengan budayanya. Namun, dia tak pernah bisa merasakan bagaimana rasanya asri? Seperti apakah budaya yang

Yang Ada Menjadi Tiada

Oleh:
Gadis berambut ikal itu mendekapkan kedua tangannya tepat di depan dada sembari memejamkan kedua matanya. Terdengar kata aamiin dengan lirih dari bibir mungilnya. Tak lama ia membuka kedua matanya

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *