Satirung Peseg

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Nasihat, Cerpen Penyesalan, Cerpen Persahabatan, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 10 February 2014

“emakkk… huhuhu”, irung yang masih mengenakan seragam sekolahnya itu berlari menghampiri emak di dapur. Ia memeluk emak yang sedang mengulek bumbu.
“ada apa toh nduk. Kok kamu nangis lagi”, tanya emak santai dan masih mengulek bumbu di dapur.
“emak, aku dihina lagi”, eluh irung. Ia menangis. Emak berhenti mengulek. Ia membalikkan badan.
“sudahlah nduk… ndak usah dipikirin. Lagian nanti mereka juga bosen-bosen sendiri. Kamu tutup kuping aja. Pura-pura ndak tahu”, emak membelai lembut rambut irung yang mengembang dan kriting itu.
“ahhh… Mereka nggak akan bosen hina irung. Buktinya, dari awal mos sampai saat ini, irung masih saja tetap jadi bahan tertawaan. Irung benci sama mereka. Irung benci nama irung. Irung pengen ganti nama. Irung benci mata belok irung. Irung benci rambut ini. Irung benci warna kulit irung yang persis seperti orang habis nyelam di lumpur. Pokoknya irung benci sama diri irung. Emak, emak kenapa sih dulu ngasih irung nama jelek kayak gini. Ini itu beban buat irung”, eluh irung di sela-sela isak tangisnya. Sesaat emak terdiam.
“terus kamu maunya gimana toh nduk”, emak menghela napas besar.
“irung mau ganti nama pokoknya. Irung nggak mau tau”

Irung berlari menuju kamarnya. Irung melemparkan diri ke tempat tidur. Ia tengkurap sanbil memeluk guling. Irung menangis.
“emak jahat. Emak nggak bisa ngerti irung. Nggak ada yang sayang sama irung”, teriaknya dalam kamar. Emak coba membujuk, tapi irung tak mau keluar kamar. Ia mengunci pintunya.
“satirung peseg”, ya itulah namanya. Irung sangat tak menyukai nama itu. Baginya, nama itu selalu membawa kesialan dalam kehidupannya.
“ya tuhan, kenapa sih engkau menciptakan aku dengan rupa seburuk ini. Kenapa tuhan?. Kalau tau begini, aku lebih memilih untuk tidak dilahirkan ke dunia ini”, irung menatap dirinya di cermin meja rias samping tempat tidurnya. Mata belok, bibir tebal, badan ceking, kurus kering, rambut keriting.
“dan kenapa pula engkau menciptakan seseorang yang sangat sempurna seperti vanessa. Dia cantik, seksi, hidung mancung, kulit bersih, bibir merah tipis. Dia memiliki semua yang tak aku miliki. Dan yang paling membuatku dengki padanya, kenapa engkau menciptakan rambut panjang nan lurus hitam berkilau indah untuknya. Kenapa bukan untukku…? Kenapa…? Kenapa tuhannn…? Ini tidak adil… Arrrggghhh…!!!”, irung mengacak-acak rambutnya. Ia meratapi nasib yang saat ini diterimanya.
“pokoknya aku harus berubah… Aku harus bisa seperti vanessa… Bagaimanapun caranya”, irung mengepalkan tangan kanannya, matanya menatap tajam ke cermin. Irung mengusap airmata dan segera keluar menemui emak. Ia akan menjalankan rencananya…

Pagi yang begitu cerah. Tak seperti biasanya, irung yang pemurung tersenyum lebar. Sambil mengayunkan kaki menuju kelas, ia bersenandung ria. Buuukk!!. Saking asyiknya, irung tak memerhatikan orang di depannya. Ia menubruk tubuh kokoh, nan tinggi tersebut. Biasanya dia akan marah-marah dan mengumpat orang yang telah menabraknya. Berhubung mood-nya sedang bagus, ia memaafkan cowok itu. Irung mendongak… Jreng… jreng…!!!. Mata irung tak berkedip. Ia melotot, dan jika diteruskan mungkin matanya yang belok itu akan lepas dari kelopak matanya. Bibir tebalnya yang tadi terkatup rapat, pelan-pelan terbuka. Cowok itu menyipitkan mata.
“hy”, sapa cowok itu membuat jantung irung deg-degan tak menentu.
“rung, kamu nggak kenapa-napa kan?”, cowok itu mengibas-ngibaskan tangannya di depan mata irung. Irung segera membuyarkan lamunannya. Ia juga menutup mulutnya kembali, sebelum lalat berhasil masuk.
“eh, enggak. Nggak papa. Maaf yah. Aku tadi nggak sengaja”, ujar irung. Ia menundukkan wajah untuk menyembunyikan pipinya yang bersemu merah.
“ya udah, aku kesana dulu yah”, cowok itu tersenyum dan pergi meninggalkan irung. Irung memerhatikan punggung cowok itu yang semakin hilang di kejauhan. Irung meloncat kegirangan. “yes, yes, yes”, serunya senang sambil menari-nari dan berlari menuju kelas.

“annissaa…”, teriaknya di depan pintu. Gadis berjilbab dan berkacamata yang sedang asyik dengan bukunya itu menoleh. Irung berlari dan memeluk gadis itu.
“kamu kenapa sih rung”, cewek itu menatap aneh.
“kamu tau nggak, aku tadi disapa khrisna loh. Hwaaahhh… Dia baik, cakep, ramah lagi”, irung menatap langit-langit kelas sambil senyum-senyum sendiri. Annisa geleng-geleng kepala melihat tingkah laku sahabatnya itu. Annisa adalah satu-satunya teman yang ikhlas dan rela hati bersahabat dengan irung.
“dan kamu tau nggak, aku juga punya berita yang sangat menggembirakan loh”, senyum masih tak lepas dari wajah irung.
“apa”, tanya annisa.
“aku sebentar lagi bakalan ganti nama jadi devita intan maharani, keren kan? Nggak kalah sama namanya vannesa putri. Jadi, nanti kamu panggil aku ehm… apa yah”, irung mengetuk-ngetukkan jari telunjuk ke dagunya. Ia sedang berfikir.
“devita aja deh”, ujar irung bahagia.
“emang bisa”, annisa mengangkat sebelah alisnya.
“ya bisa dong. Hari ini nyokap gue lagi ngurusin buat merubah semua nama gue yang ada di akte, raport, ijazah smp dan sd, ktp, catatan kependudukan, kartu keluarga, pokoknya semuanya deh”, cerocos irung tanpa berhenti.
“hello…!! Nyokap gue? Sejak kapan kamu pakek bahasa kayak gitu. Biasanya juga emak kok”, annisa memicingkan mata.
“sekarang, hehehe. Gaul dikit napa. Gue kan bentar lagi jadi orang cantik”, terang irung.
“oh ya, aku pengen kasih tau kamu”, irung menoleh ke kanan kiri takut ada yang melihat.
“aku sebentar lagi operasi plastik”, ujarnya pelan. Mendengar itu annisa tersentak.
“apaa?”
“ssssttt…!!! Nggak usah lebay kalee”, sewot irung.
“rung yang bener. Dapat darimana duit”, tanya annisa tanpa mengurangi rasa syocknya.
“emak udah janji mau ngejual tanah peninggalan bapakku yang di dekat sungai murni itu”
“ya ampun. Itu kan satu-satunya harta warisan yang dikasih almarhum bapak kamu rung. Kok dijual sih. Aku yakin emak kamu juga nggak bakalan setuju. Dia pasti terpaksa karena desakan kamu. Kasihan emak kamu rung. Rung, asal kamu tau, kecantikan yang sebenarnya itu bukan dari luarnya aja yang diperhitungkan, tapi juga dalamnya. Kecantikan hati itu 99 kali lipat jauh lebih cantik ketimbang fisik. Kamu nggak perlu ngelakuin ini semua rung”, tutur annisa dengan pandangan kecewa. Memelas agar sahabatnya itu mengurungkan niatnya.
“aduh nis, plis deh. Simpan ceramah kamu itu. Sudah ribuan kali kamu bilang kayak gitu ke aku. Dan aku sudah capek dengar semua itu. Okey”
“oh yah, aku juga mau kasih tau ke kamu, kalau cerpanku yang judulnya “khrisna pangeranku”, itu sudah aku kirim. Nunggu hasilnya. Kalau nanti aku menang, aku traktir kamu deh”, irung pergi keluar meninggalkan annisa. Annisa menatap kosong. Ia hanya membatin.

Sudah hampir dua bulan, irung tidak masuk sekolah. Annisa tau jika irung sedang menjalankan operasi plastiknya. Ia hanya bisa berdoa, agar sahabatnya itu lancar menjalankan operasi.
“pagi anak-anak. Hari ini kalian kedatangan teman baru”, senyum terkembang di wajah bu dina. Ia bersama dengan seorang gadis. Gadis itu sangat-sangat cantik. Tubuhnya putih mulus, rambut hitam panjang berkilau, hidungnya mancung, vannesa yang dinobatkan sebagai primadona sekolah itu, nggak ada apa-apanya. Semua memandang gadis itu. Terutama mereka yang pria. Sulit bagi kaum adam untuk menolak pemandangan elok yang saat ini berada di depan mereka. Namun mata gadis itu hanya memandang satu orang… khrisna. Cowok itu tak bergeming dari bukunya. Jangankan memandang, melirik saja enggak. Cewek itu nampak frustasi melihat khrisna tak mau melihatnya. Bu dina mempersilahkan gadis itu memperkenalkan diri.
“perkenalkan namaku devita intan maharani. Panggil saja devita…”, mendengar itu, annisa yang dari tadi diam saja, langsung terlonjak.
“irung…”, teriaknya. Semua menatap aneh ke arah annisa, termasuk khrisna.
“eh nis… Gue tau kalo mata lo rabun. Tapi masa sampe segitunya sih lo nggak bisa bedain antara irung sama devita”, celetuk adi mengundang tawa satu kelas.
“iye. Aneh lu… Bidadari secakep die, lo samain sama irung, gile lo”, tambah joko.
“irung, siapa itu”, tanya devita menatap penuh selidik. Ia pura-pura tak tau.
“udah, kagak penting lo tanye die. Die itu hantunye kelas kite”, jelas eko.
“iya neng. Dia itu super lebihhh deh. Mata lebih, bibir lebih, hidung…”, belum sempat bagus melanjutkan kalimatnya, khrisna memotong.
“lo semua bisa nggak sih berhenti menjelek-jelekkan irung. Dia itu teman kita, dia juga manusia. Dia juga ingin dihargai”, terlihat ada nada kemarahan di wajah khrisna. Devita menatap kagum ke cowok itu. Ternyata selama ini khrisna begitu perduli padanya. Mata devita sesaat berkaca-kaca.
“dan buat lo murid baru, lo nggak usah sok kecantikan deh. Karena betapapun cantiknya elo, status lo disini siswa. Nggak ada perlakuan khusus. Kita semua disini sama”, ketus khrisna. Mendengar hal itu, hati devita serasa diiris.
“khrisna..!! Jaga ucapanmu. Kalian semua juga, jaga sopan santun kalian. Devita maaf yah”, ujar bu dina.
“nggak papa kok bu. Bagi saya itu sudah biasa, saya sudah sering kok dihina. Perlu kalian semua ketahui, aku bukan murid baru. Aku satirung peseg. Thanks buat annisa, kamu masih mengenaliku”, pernyataan devita membuat seisi kelas ternganga tak percaya.
“makasih yah buat khrisna, aku nggak nyangka kamu perduli sama aku. Bahkan kamu belain aku disaat aku nggak ada”, ujar devita dengan senyum mengembang. Khrisna tertegun. Devita kembali duduk di tempatnya, di sebelah annisa. Semua memandangi langkah gadis itu tanpa berkedip.

“rung aku nggak percaya kalau ini kamu. Sumpah, kamu cantik banget. Rung, kamu benar-benar berubah tiga ratus enam puluh derajat”, annisa mentap kagum. Irung tersenyum dengan bangganya. Pelajaran berjalan seperti biasanya. Pada saat jam istirahat, banyak sekali yang mendatangi irung. Mereka menyatakan kekagumannya serta meminta maaf atas semua perlakuan mereka sebelum-sebelumnya. Vannesa cs mendatanginya, menawarkan supaya irung mau bergabung di gank-nya.
“selamat yah, lo sekarang sudah cantik de.. Vi.. Ta”, ujar vannesa sedikit ada penekanan di kata terakhir. Irung tersenyum ramah.
“lo mau nggak gabung di c2c sama kita”, tawar vannesa, menunjuk teman-teman di sebelahnya. C2c adalah gank vannesa yang anggotanya terdiri dari cewek-cewek cantik. Nggak sembarangan orang bisa masuk kelompok ini. Mereka memiliki kriteria tertentu untuk menerima seseorang menjadi anggota. C2c singkatan dari cewek-cewek cantik. Irung terdiam berpikir.
“jarang-jarang loh kita nawarin kayak gini. Inget dev, kesempatan nggak datang dua kali. Emang lo masih mau berteman sama kutu buku ini. Kalau gue sih ogah. Lo kan udah cantik, cari temen jauh lebih mudah”, vannesa merajuk. Ia menatap sinis ke arah annisa. Annisa hanya diam. Irung menatap bimbang ke arah keduanya. Ia bingung ingin ikut siapa.
“nis, gue nggak papa kan gabung sama mereka”, tanya irung. Annisa terkejut mendengar pernyataan itu. Ia kecewa pada irung.
“terserah kamu aja deh”, ketus annisa. Perhatiannya masih ke buku di depannya.
“makasih banyak ya nis. Lo emang sahabat gue yang paling baiikkk”, irung memeluk annisa. Annisa sangat kecewa terhadap irung. Bisa-bisanya dia lebih memlilih vannesa cs daripada dirinya. Paahal selama ini, dia yang selalu membela irung jika dicemooh oleh vannesa. Annisa tak habis pikir, kenapa sahabatnya bertingkah seperti itu.
“aku kecewa sama kamu rung”, celetuk annisa.
“maksud aku… de… vi… Ta”, ralat annisa. Terdengar ada penekanan di akhir kalimat.
“nis, aku mohon sama kamu, boleh yah. Pliiisss… Aku janji bakalan berusaha bagi waktu antara kamu sama teman baruku. Ini mimpiku sejak lama nis. Pliiis aku mohon”, irung merengek. Annisa cuek tak menghiraukan ia masih tetap fokus ke bukunya.
“udah lah, kamu nggak usah memelas di depan cewek ini. Mending kita ke kantin yuk”, vannesa menarik irung. Irung menatap annisa lemas. Ia mengikuti vannesa, toh annisa juga tidak perduli padanya. Mungkin dia marah.

Beberapa hari terakhir, irung tak pernah lagi bercengkerama dengan annisa. Ia lebih sibuk dengan c2c-nya. Suatu hari, emak sakit. Irung tak pulang, ia sedang asyik hang out bareng c2c. Waktu itu annisa ke rumahnya, karena ingin mengembalikan buku irung yang ketinggalan.
“benar-benar teledor. Bisa-bisanya dia ninggalin buku ini. Padahal besokkan ulangan kimia. Mau belajar apa tuh anak”, gerutu annisa. Ia berjalan kaki. Tiba-tiba sebuah motor berhenti di depannya.
“hai, kok kamu nggak bilang sih sama aku kalau mau keluar. Kan aku bisa antar”, tegur cowok itu.
“datang-datang nggak permisi nggak salam, eh marah-marah. Bukannya ponsel kamu nggak aktif. Makanya aku pergi sendiri”, keluh annisa. Cowok itu tersenyum dan turun dari motornya.
“ya udah, maafin aku yah. Ayo naik. Aku nggak mau kamu kenapa-napa”, bujuk cowok itu. Annisa awalnya tak mau, namun berkat kesabarannya, akhirnya annisa luluh juga.
“jaga jarak ya ukhti. Belum halal”, ucap cowok itu.
“yeee… Siapa juga yang mau meluk situ. Gr”, ketus annisa. Cowok itu tertawa. Ini yang paling dia suka dari annisa. Lucu, suka marah-marah.
“inget, kita nggak pacaran. Tapi ta’aruf”, cowok itu menatap annisa lewat kaca spion. Annisa mengangguk.
“ya udah, mau kemana neng”, tanya cowok itu.
“ke rumah irung bang. Tau kan. Agak jauh, dapat diskonkan”, seloroh annisa. Cowok itu tertawa lagi. Mereka pergi ke rumah irung.
“assalammualaikum”, salam annisa dengan senyum ramahnya. Tak ada jawaban. Annisa mengulangi salamnya lagi. Sampai salam ke tiga, baru si empunya rumah membukakan pintu.
“waalaikum salam. Uhuk.. Uhukk… eh annisa. Lama nggak main kesini nak. Emak kangen sama kamu”, emak membuka pintu, sambil batuk-batuk.
“iya mak, annisa juga kangen. Irung kemana?”, annisa mencium tangan emak. Lelaki yang bersamanya juga mencium tangan emak.
“entahlah, sejak sabtu sore sampai hari ini dia nggak pulang. Uhuk, uhuk. Emak juga nggak tau dia kemana, yang jelas, kemarin dia itu dijemput sama teman-temannya naik mobil. Emak sih sebenarnya nggak ngizinin. Tapi dia tetap maksa. Uhuk”, terang emak, masih dengan batuknya. Wajah emak pucat, kulitnya juga hangat.
“emak, loh loh loh. Emak kenapa”, annisa menyangga tubuh emak yang hampir jatuh.
“nggak tau, kepala emak pusing pening”, jelas emak. Annisa membawanya masuk menyuruh emak duduk di kursi tamu. Ia juga membuatkan teh hangat untuk emak.

“gimana sih irung, emak lagi sakit malah kelayapan nggak jelas. Dasar…!”, gerutu annisa.
“sabar annisa. Orang sabar disayang allah”, ucap lelaki itu mengingatkan.
“aku cuma sebel aja sama dia”, omel annisa. Emak batuk-batuk, dan mengeluarkan darah. Karena semakin buruk dan takut terjadi apa-apa annisa dan cowok itu membawanya ke rumah sakit. Annisa juga berkali-kali menghubungi irung. Tapi nggak diangkat. Akhirnya dia hanya menulis pesan singkat.
“km nggk mau nerima tlponq, gpp. Aq cm mw ngbarin, klu emak skit n krng d rmah skit. Klu km msih pduli, dtang aja ksna”, dengan kesal annisa mengirim pesan itu. Cowok itu mencoba menyabarkan.

Irung berlari ke rumah sakit. Sebenarnya, vannesa tak mengizinkan irung meninggalkannya. Semalam, dia dan teman-temannya clubbing, karena kemalaman mereka tidur di hotel. Napas irung ngos-ngosan.
“hos… hos… hos”, sejenak irung berhenti dan mengatur napas. Akhirnya, dengan susah payah irung sampai di kamar tempat emak dirawat. Ia kaget saat melihat annisa tak sendirian. Dia bersama seorang cowok. Dan irung sangat mengenali cowok itu. Khrisna.
“akhirnya kamu datang juga”, sambutan dingin annisa membuat irung semakin dipojokkan.
“aku kira, kamu udah nggak perduli lagi sama emak”, ketus annisa.
“maaf, maafkan aku. Aku tau aku salah. K-khrisna, kok kamu disini juga”, irung menatap keheranan.
“aku nemenin calon istriku”, terang khrisna dengan senyum ramah.
“mak-maksud kamu”, wajah irung pucat pasi dengan apa yang barusan didengarnya. Annisa yang tadi cuek dan marah, mndadak pucat. Ia tak tau jika khrisna akan bicara demikian.
“nis, aku mohon jelasin sama aku”, mata irung memerah. Annisa tertunduk lesu. Khrisna santai, karena ia tak tau apa-apa.
“rung, sebenarnya… Sebenarnya waktu kamu nggak ada, khrisna lah yang mengisi hari-hariku. Aku sedih karena kepergian kamu yang tanpa kabar itu. Khrisna datang menghiburku. Dia berada pada saat dan waktu yang tepat. Dan diam-diam perasaan itu muncul begitu saja yang aku sendiri tak tau kapan datangnya. Dan pada suatu malam, orangtuaku mengajakku makan di suatu tempat. Mereka bilang, akan ada pertemuan penting, antara keluargaku dengan keluarga teman ayahku. Mereka akan membicarakan tentang perjodohanku dengan anaknya. Awalnya aku malas, aku sedih, karena aku harus menikah dengan orang yang sama sekali tak aku kenal. Tapi setelah kami bertemu, dan aku benar-benar tak percaya jika lelaki yang dijodohkan denganku itu… Khrisna”, terang annisa. Ia sebenarnya tak enak hati.
“ngggakkk…!!! Nggak mungkin…!!! Khris, bilang sama aku kalau semua itu bohong”, teriak irung. Ia menangis.
“itu memang benar rung, eh maksud aku devita. Dan aku sangat bersyukur, tuhan telah menciptakan seorang wanita yang sholehah untukku”, khrisna menatap kagum ke gadis di sampingnya.
“aku senang dengan semua yang ada padanya. Dia tampil apa adanya, kesederhanaannya, dan kesholehannya membuatku tak ada alasan untuk menolaknya”, khrisna menatap annisa. Annisa hanya tertunduk.
“nggak, nggak mungkin. Nis kamu pengkhianat. Kamu tega sama aku. Paahal kamu tau sendiri kalau aku suka sama dia. Kenapa kamu ambil dia nis”, teriak irung sambil menunjuk khrisna.
“rung, aku nggak bisa menolak. Ini kemauan keluarga aku. Dan jujur aku juga…”, annisa menangis.
“mencintainya. Begitu…!! Kamu tega nis. Kamu tega. Khrisna, kenapa kamu memberikan harapan semu untukku. Kenapa khris, aku telah salah mengartikan semua kebaikanmu”
“maaf rung. Sebenarnya, sejak awal aku ada feelling sama kamu. Aku suka sama semua yang ada padamu. Aku nggak perduli orang lain berkata apa. Tapi semenjak aku tau, kamu operasi hanya untuk memperindah diri, aku jadi ilfeel. Aku hanya berpikir, jika kamu saja tidak dapat menerima diri kamu sendiri apa adanya, bagaimana mungkin kamu bisa menerimaku”, terang khrisna.
“aku kecewa sama kamu rung. Sama semua keputusanmu ini…”, lanjut khrisna.
“kalian berdua tega bermain di belakangku. Kalian berdua pengkhianat. Keluar kalian dari sini. Cepat keluaaarr!!. Khrisna asal kamu tau, aku ngelakuin ini semua juga demi kamu”, irung marah. Ia mendorong tubuh khrisna dan annisa. Gubraaakk!! Irung menutup pintu. Ia bersandar pada pintu dan menangis. Perlahan-lahan tubuhnya beringsut ke lantai. Irung menyembunyikan wajahnya di antara kedua lutut. Emak masih tertidur di atas ranjangnya. Untung nggak kebangun.
“emaaakkk…”, irung meronta. Kini ia duduk di samping emak sambil menangis.
“emak, kenapa semuanya jadi begini. Tuhan tidak adil emak. Sebelum aku cantik, nasibku buruk. Setelah aku cantik, nasibku tetap tak berubah dan jauh lebih buruk. Emak, aku sudah kehilangan sahabat baikku. Aku juga kehilangan khrisna mak, tuhan menakdirkan aku untuk menderita di dunia ini”, irung mencium tangan emak.
“j-jangan bilang begitu nduk. Tu-tuhan itu maha adil. K-kamunya saja yang kurang bersyukur. H-hidup itu anugrah terindah n-nduk. Ja-di bersyu-kurlah k-kamu. J-jangan terlalu banyak mengeluh, tuhan ti-dak suka i-tu”, suara emak terputus-putus.
“maafin irung ya mak”, irung mencium tangan emak. Emak hendak berkata, namun napasnya tersenggal. Irung panik, ia memanggil dokter. Siapa yang bisa melawan maut?. Emak telah menemui ujung hidupnya. Irung menangis tak tertahan.

Mata irung masih bengkak. Ia menuju rumahnya sehabis pemakaman, annisa datang dengan khrisna. Mereka masih perduli terhadap irung. Annisa dan khrina pamit, mereka tak bisa berlama-lama. Irung hanya mengangguk, tatapannya kosong. Beberapa saat kemudian, dua orang lelaki berjas mendatangi rumahnya.
“selamat siang. Ini benar rumahnya mbak satirung peseg”, tanya salah seorang. Yang satunya membawa koper. Irung yang saat ini berstatus devita, tak mau mengakui.
“terus mbak irungnya kemana. Kami kesini ingin memberitahu, jika cerpan yang dikirimnya telah kami nobatkan sebagai pemenang. Dan dia berhak menerima hadiah ini”, orang tersebut menunjuk koper hitam yang dibawa. Irung tersentak kaget. Bukan main senangnya dia. Irung yang tadi tak mengakui namanya, kini ia mengaku dan menjelaskan semuanya kenapa ia bisa ganti nama. Namun apa daya, kedua laki-laki itu tak ada yang percaya.

“anda jangan mengada-ngada. Jika nanti ketemu sama mbak irung tolong sampaikan”, kedua lelaki itu pergi, irung masih mencoba meyakinkan. Kedua lelaki itu tak menggubrisnya. Irung menangis. Ia benar-benar menyesal. Ia kehilangan sahabatnya annisa, emak, khrisna dan sekarang ia tak mendapatkan apa yang seharusnya ia dapatkan.

Penyesalan selalu datang terlambat. Teman, kita sebagai manusia seharusnya lebih pandai bersyukur daripada mengeluh. Semua masalah yang tuhan berikan untuk kita, itu suatu ujian, tantangan hidup yang harus kita selesaikan. Jika tuhan memberi ujian, berarti dia masih sayang kepada kita. Percayalah!!! Tuhan merencanakan yang terbaik untuk kita.

Cerpen Karangan: Yuni Maulina
Blog: yuni-maulina.blogspot.com
Facebook: yuni Lindsey

Cerpen Satirung Peseg merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Menyesal

Oleh:
Gubrakk “maaf maaf aku gak sengaja”, Reynald yang tidak sengaja menabrak orang yang gak asing lagi. “ohh iya gak apa kok”, Nayya pun berdiri sendiri. Reynald anak yang terkenal

Rama Sahabatku

Oleh:
Perkenalkan, namaku Chandra. Lengkapnya Galuh Ajeng Kalandiastri Chandra Kirana Sukrani. Namaku ini memang kedengarannya seperti cowo, tapi aku ini cewe. Memang aku ini agak tomboy, seperti namaku, tapi yang

Merantau

Oleh:
Malam berlalu, ku lihat awan berkelabu, menemani sepi dalam lamunanku di teras depan rumahku. Namaku Ricky, ini sepenggal kisah yang entah berapa tahun yang lalu, waktu itu aku kelas

Pertemuan Singkat

Oleh:
‘Aku benar-benar tidak berniat ikut! Tidak berniat sama sekali. Ini membosankan sangat-sangat membosankan. Kenapa mereka memilih tempat ini? Kenapa orangtuaku sangat senang ke tempat ini? Di sini tidak ada

Penantian Dikala Senja

Oleh:
Sedih rasanya ketika melihatnya tertawa bahagia bersama sahabatku. Aku yang berusaha tersenyum melihat mereka, meski hatiku ditelan luka. Sebenarnya aku tidak tahu apa itu cinta, tapi aku tahu dan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *