Satu Pelajaran

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Nasihat, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 20 March 2019

“Eric. Cowok jangkung, cakep, pinter, keren lagi. Masa kamu nggak tertarik De?” tanya Della padaku saat kami mengerjakan tugas matematika di rumahku.
“Nggak, ah. Aku mau fokus sama pelajaran aja” jawabku sambil menghitung jawaban matematika. Sebenarnya bukannya nggak tertarik sih. Dia bisa mengerjakan soal matematika dan fisika secepat kilat tanpa kalkulator, juara olimpiade jadi langganannya, dan idola anak basket satu sekolah pula. Dia melakukannya semudah membalikkan telapak tangan, hebat sekali. Entah terbuat dari apa otaknya itu. Membuatku sedikit iri, tapi di sisi lain dia juga yang membuatku semangat belajar.
“Beneran nie, cih, pura-pura nggak tertarik. Hmmm, ya udah berarti saingan aku berkurang. Minggu depan, aku mau nembak si Eric. Aku nggak bisa bayangin kalo jadi pacarnya” kata Della sambil cengar-cengir sendiri.
“Hey, kamu pikir cuma kamu yang yang suka dia, aku juga suka dia tau. Aku yang mau nembak dia duluan” kata Fia tiba-tiba dengan muka sedikit cemberut.
“Hmm, saingan aku nambah satu” Della mendesah.
“Haa, nembak Eric? Cewek nembak..” kataku belum selesai ngomong tapi udah dipotong sama Della.
“Sekarang ini udah bukan zamannya lagi cewek nunggu. Cewek harus maju. Cewek yang harus nembak cowok. Bener gak Fia?” potong Della.
“Iya, buener banget” jawab Fia meyakinkan sambil mengacungkan jempolnya.
“Kalian ini, udahlah jangan mikirin dia terus, kerjakan tugas matematikanya biar cepet selesai” kataku pada mereka.
“Iya, iya, kamu ini..”

Waktu istirahat aku dan Fia jalan di koridor.
“Dea.. Huua..” Della berjalan menghampiriku dan Fia. Aku melihat matanya bengkak.
“Kenapa, kamu ditolak?” tanya Fia.
“I-ya, haaa..” katanya terputus-putus dengan air mata di pipinya.
“Ya ampun, Della.” Aku memeluk Della yang sedang menangis.
“Hmm, sudah aku duga akan jadi seperti ini” kata Fia.

“Dea, kamu tahu nggak apa yang Eric bilang? Dia bilang aku jelek. Huaaa.. emang bener ya?”
“Della, udah-udah ya, sabar. Kamu gak jelek kok” kataku menenangkan Della.
“Aku juga, waktu aku nembak dia kemarin. Dia bilang aku bodoh. Dia itu benar-benar berlidah ular” kata Fia.
Aku nggak terima sahabatku diperlakukan seperti ini. Aku nggak nyangka si otak kalkulator ternyata benar-benar…

Saat pulang sekolah di parkiran samar-samar aku mendengar “Apa karena aku jelek kamu nolak aku?” tanya suara cewek. ”Iya, seperti yang kamu bilang” jawab si cowok. Aku lihat cewek itu nangis, menutupi wajahnya kemudian berlari. Setangkai mawar dijatuhkannya. Di belakangnya ada sesosok manusia. Manusia itu…

“Hey, Eric, berhenti” tapi dia masih tetap berjalan. Apa suaraku kurang keras?
“Aku bilang berhenti” suaraku agak keras. Eric membalikkan badannya. Dan akhirnya.
“Hei, kamu memanggil namaku. Kamu kenal aku?” tanyanya. Aku melangkah mendekatinya.
“Kamu bilang bahwa sahabatku jelek, kamu juga bilang sababatku bodoh, asal kamu tahu ya walaupun kamu setampan aktor korea dan pintar tingkat dewa kamu ini sombong tingkat langit”.
“Lalu?” tanyanya santai. Benar-benar menyebalkan.
“Kamu suka menghina orang, berbuat semaumu dan membuat semua cewek menangis di hadapanmu seenaknya. Pasti kamu puas. Kalaupun mau nolak cewek, setidaknya kamu nolak baik-baik. Memangnya kamu ini siapa?” aku melanjutkan.
“Benarkah? Ooh, aku setuju. Apa kamu sudah selesai bicara?” katanya sambil tersenyum. Ia lalu berjalan menghampiriku dengan santai. Aku mundur dan terus mundur dan akhirnya punggungku bersandar tembok dekat parkiran. Lalu, tangan kanannya diluruskannya ke depan, mendorong tembok, dekat pundakku. Aku jadi gugup. Mata coklatnya menatap mataku, mukanya berubah serius.

“Asal kamu tahu ya..” Suaranya melembut, jantungku berdebar. “Aku tidak bilang mereka jelek atau bodoh, aku hanya bertanya dan mengulangi penyataan mereka. Aku nggak bisa menerima mereka, kamu tahu kenapa?”
Aku diam membeku, hanya mendongak dan menatap matanya yang berubah tajam itu.
“Karena mereka adalah apa yang mereka pikirkan. Menganggap diri mereka bodoh dan jelek. Selalu seperti itu. Mereka nggak mau menghargai diri mereka sendiri, terus gimana mereka bisa menghargai orang lain?”

Eric kemudian menurunkan tangannya, berbalik, dan pergi menjauh. Aku tidak percaya. Aku bahkan tidak menyadarinya selama ini. Tapi sekarang aku tahu. Aku mendapatkan satu pelajaran darinya. Ah tidak, dua. Menghargai diri sendiri dan aku adalah… apa yang aku pikirkan.

Cerpen Karangan: Hastarika Purwitasari
Blog / Facebook: Hastarika Purwitasari

Cerpen Satu Pelajaran merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Merelakan Dalam Semalam

Oleh:
Hujan tak henti hentinya mengguyur kota Bandung pagi itu. Sedari pagi sampai malam yang larut, tetesan tetesan air itu masih saja berjatuhan dengan derasnya. Membuat banyak orang terpaksa berdiam

Kenangan Terindah

Oleh:
Eh, eh, kenapa ya? Hari-hari ku itu selalu campur aduk? Eh, tapi selalu senang kalau ada dia. Dia yang selalu hibur aku kalau lagi sedih. Dia juga selalu ngebelain

The Enemy

Oleh:
“Oh syukurlah kau membebaskanku segera, brother. Aku tak bisa menunggu semalam lagi di sini. Tempat ini pengap, kotor dan… bau,” Anya keluar dari sel tahanan itu segera ketika seorang

A Love In Paris (Part 1)

Oleh:
Terik matahari perlahan mulai menyinari kaca jendela kamarku yang mengarah ke tempat tidurku. “Nelly..” teriak mama yang super cerewet dari bawah. Mama dari dulu memang cerewet, itu keturunan nenekku.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *