Seandainya Saja Aku…

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Galau, Cerpen Nasihat, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 12 May 2019

Hari ini adalah hari paling memalukan sekaligus menyedihkan dalam hidupku.

Oiya, sebelumnya aku mau memperkenalkan diriku terlebih dahulu. Namaku Fanny Karinina. Tahun ini aku telah lulus dari salah satu universitas negeri di Indonesia. Aku telah lulus menjadi sarjana muda, tentunya aku senang sekali. Aku harap aku bisa melanjutkan pendidikanku, bekerja, dan bisa sukses. Namun, semua harapan itu ternyata sulit sekali diwujudkan sampai hari ini aku benar-benar merasa depresi.

Orangtuaku tidak memiliki biaya untuk aku berkuliah di universitas negeri ataupun universitas yang bagus. Mau tidak mau, aku berkuliah di salah satu universitas swasta yang biasa saja. Terkadang, aku merasa biasa saja, terkadang aku sedih, terkadang pula, aku senang karena bisa melanjutkan pendidikanku.

Sudah hampir sebulan pula, aku menuntut ilmu di universitas swasta ini. Sampai hari ini, aku merasa kesal bercampur dengan benci. Aku mengikuti salah satu mata kuliah dengan dosen yang semaunya. Oiya, sebelumnya, ini salahku juga tapi aku merasa ini adalah kejadian yang memalukan yang tidak akan dilupakan oleh dosen tersebut dan juga mahasiswa yang lain. Karena aku mengikuti program ekstensi, materi pun lebih dipadatkan, namun, yang aku bingung adalah dosen tersebut tidak mengajarkan dasar materi melainkan lebih mengajak mahasiswa untuk praktikum dalam bentuk praktek biasa. Apa mungkin aku yang tidak dapat tanggap secara cepat? Apa hanya aku saja yang merasa kalau praktikum yang diajarkan hanya sia-sia? Apa dosen tersebut bermaksud baik karena lebih mengajak kearah praktikum sehingga mahasiswanya tidak harus berpikir dengan keras? Atau mungkin, aku yang salah. Sebenarnya memang aku yang salah.

Jadi, dosen tersebut pada awal perkuliahan menerangkan peraturan dalam praktikum tersebut. Aku hanya mendengar tanpa memahami peraturan dalam praktikum. Perlahan, praktikum berjalan dengan lancar. Aku pun sempat tertawa karena mahasiswa lain presentasi dengan baik tapi juga lucu.

Setelah praktikum hampir selesai, dosen bertanya padaku ‘kamu mau milih nomor berapa?’. Aku bertanya kepada temanku ‘eh milih nomor berapa?’. Kata teman sebelahku, ‘ini sendiri-sendiri’. Aku pikir ini sama seperti praktek minggu lalu yang memilih nomor sesuai kesepakatan kelompok tapi praktek hari ini ternyata memilih sendiri-sendiri. Bodohnya aku. Aku yang masih bodoh. Sangat bodoh, aku bertanya balik ke dosen tersebut ‘memangnya milih sendiri-sendiri Bu?’.
‘Kamu merhatiin ga?’ ujar dosen tersebut membuatku langsung tegang dan tak berdaya.
‘Oh. Iya Bu. Saya milih nomor 3’ ucapku. Lalu, aku langsung menundukkan kepala. Aku yakin dosen maupun mahasiswa lain langsung meremehkanku dan bingung denganku karena aku duduk di kursi paling depan. Aku merasa benar-benar malu dan perasaan itu tak bisa dibayangkan.

Rasanya aku ingin keluar saja setelah hari ini. Aku benar-benar malu. Sampai salah satu temanku yang duduk tidak jauh dari tempatku melihat dengan tatapan yang sinis dan aku hanya bisa berkata ‘gue ga ngerti’. Tentu saja itu langsung membuatku semakin bodoh.

Teman-teman baruku di kampus ini tidak mengenalku dengan baik. Mereka tidak tahu bahwa aku lulusan dari universitas negeri yang bagus. Tapi itu memberikan keuntungan untukku. Kalau tidak bisa saja mereka berkata, ‘lulusan terkemuka kok begitu saja tidak dapat memahami.’

Walaupun di belakangku. Detik ini. Menit ini. Jam ini. Teman-teman maupun dosen tersebut akan membicarakanku. Seperti
‘Wah dia kan duduk paling depan tapi mengapa dia tidak mengerti maksud dosen. Aku saja mengerti’
‘Dia itu kerja dimana. Semua orang yang kuliah ekstensi juga bekerja dan juga lelah. Apa dia selelah itu sampai tidak bisa mendengarkan dosen dengan baik’
‘Dasar bodoh’
Aku siap dan memang sudah terbiasa kalau orang lain membicarakanku di belakang. Hanya, karena kejadian ini baru saja berlangsung beberapa jam yang lalu, itu membuatku benar-benar depresi. Ini membuatku sangat malu dan juga menderita dan juga minder.

Namun, harus kuakui bahwa aku kuliah tidak niat. Dan hari ini sesungguhnya tidak ada jadwal kuliah. Namun, karena pukul 2 siang tadi, aku mendapat kabar dari grup whatsapp bahwa ternyata ada kuliah, mau tidak mau, aku datang walaupun tidak niat.
Ah. Sudahlah. Ini semua salahku. Kau boleh menyalahkanku.

Lalu, yang membuatku tambah stres, minggu depan adalah kuis lisan. Jadi, sistemnya adalah dosen tersebut memberikan pertanyaan. Lalu, langsung dijawab oleh mahasiswa. Apa aku harus masuk kuliah minggu depan? Apa aku akan mempermalukan diriku lagi? Aku tidak bisa begini. Aku bingung harus bagaimana. Kekecewaan terhadap diriku sendiri ini belum selesai. Apa yang harus kulakukan?

Hei, kau. Kalau boleh, aku beri saran. Aku mau memberi tahu bahwa kuliah dimana saja sama. Jangan seperti aku. Aku masih bisa melanjutkan kuliah tapi aku tidak niat, imbasnya ke aku lagi. Aku jadi malu karena perilaku dan juga kebodohanku. Jangan menganggap enteng universitas swasta. Setiap mahasiswa di Indonesia bahkan di dunia ini sama-sama berjuang untuk belajar. Setidaknya mereka mendengarkan dengan baik, dosen yang sedang memberikan materi. Jangan sepertiku.

Sekarang ini, aku tidak tahu harus bagaimana. Jadwal kerjaku kacau malam ini. Aku tidak bisa berpikir. Aku belum benar-benar mendapat teman tapi sudah mendapat cap buruk oleh teman-teman yang lain. Aku benar-benar menderita. Aku harap aku bisa mengembalikan waktu dan berkuliah di universitasku yang dulu. Aku harap aku bisa berkuliah di universitas yang bagus tetapi mengambil program sarjana. Aku harap, aku tidak masuk saja hari ini. Aku harap, aku tidak pernah berkuliah di universitas ataupun masuk kelas tersebut.

Ah. Tapi sudahlah. Aku yang tidak pandai bersyukur. Aku juga yang kena akibatnya.
Jangan sepertiku.

Aku harap aku bisa mengembalikan citra baikku.

Lalu, apa yang harus aku lakukan untuk minggu depan? Apa aku harus masuk kuliah lagi? Apa kau memiliki saran untukku?

-Fanny Karinina-

Cerpen Karangan: Fiena Giarti

Cerpen Seandainya Saja Aku… merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


I’m Telatan Not Teladan

Oleh:
Senin pagi seperti biasa Indah berangkat sekolah dengan tergesa-gesa. Karena, lagi-lagi dia harus mengalami suatu kejadian yang membuatnya gelisah, Terpepet Waktu! “Pukul 06.45,” desis Indah sambil mempercepat langkah setengah

Bloon (Pabrik Kaos Kutang)

Oleh:
Jam 22.46 nampak di Hp Aulia. Opik dan Aulia memojok ke tembok sambil ketakutan setengah mati. Hp Aulia hanya satu-satunya cahaya di tempat tersebut. “duh gimana ni Pik?, ini

Berbeda

Oleh:
Dia masih duduk di bangkunya, padahal ini saatnya istirahat. Tetapi ia sibuk dengan goresan pensil di atas kertas. Buku tebalnya pun ia buka, ia jelajahi rumus yang sesuai dengan

The Crazy Boy (Part 5) Special

Oleh:
Suara hati Mars, si ninja gila Aku memang bodoh, memperlakukannya sekasar itu. Aku lupa bahwa wanita suka dipuji dan diberi perhatian lebih, dan mereka suka disaat laki-laki memperlakukan mereka

That Can’t Be Guessed

Oleh:
Aku tidak pernah berpikir panjang tentang keputusanku satu tahun yang lalu. Aku kira kalimat ‘penyesalan selalu datang terlambat’ tidak akan pernah masuk dalam kehidupanku. Ternyata pemikiranku salah. Satu tahun

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *