Sebuah Karma di 2017

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Lingkungan, Cerpen Nasihat, Cerpen Persahabatan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 28 September 2013

Kubuka mataku perlahan dan kupandangi sebuah jam yang tergantung di dinding. Melihatnya membuatku sadar, bahwa sudah waktunya aku harus memulai aktivitasku. Aku meregangkan otot tubuhku dan segera bangkit dari tempat tidur mungilku.
Aku bergegas pergi ke sekolah tanpa mandi. Aneh bukan? Air sulit didapat. Lebih baik aku menggunakannya untuk minum. Aku melangkah pergi sambil memakan roti yang rencananya akan kumakan di perjalanan ke sekolah.

Fia, begitulah mereka memanggilku. Namaku sebenarnya adala Refia Marsha. Umurku baru saja 17 tahun lusa kemarin. Dan kau tahu aku harus pergi ke sekolah seperti anak lainnya. Namun menurutku aku tak sama seperti yang lainnya. Kau tahu? Ayah dan ibuku sudah meninggal beberapa tahun karena peristiwa “itu”. Entahlah, aku sesak bila harus menjelaskannya. Namun, tetap saja harus kujelaskan.

Sekarang merupakan tahun 2017. Tahun yang kuharapkan menjadi tahun yang manis. Karena aku yang telah beranjak dewasa. Aku selalu berharap sejak kecil, untuk mengadakan pesta ulang tahun bersama keluarga dan teman-temanku, seperti di film-film. Namun, tentu saja harapan itu sirna. Karena ayah dan ibuku tidak lagi disini.

Peristiwa yang kumaksudkan adalah peristiwa di tahun 2012. Pada tahun itu, terjadi pembakaran hutan secara habis-habisan. Kebetulan, rumahku dulu cukup dekat dengan hutan, tepatnya sekitar 1 km. Akhirnya, desaku pun ikut terbakar. Waktu itu aku selamat, karena sedang mengunjungi rumah teman lama di luar kota. Namun, orangtuaku tidak selamat. Mereka ikut terbakar, karena sulit menyelamatkan diri.

Pembakaran hutan itu sangat bodoh! Yang pemerintah pikirkan hanya bangunan baru. Alasannya, karena manusia bertambah banyak dan membutuhkan tempat tinggal baru. Pembakaran hutan itu terjadi di seluruh dunia. Akhirnya, suhu udara bertambah panas dan kering. Dan sangat tak nyaman untuk ditinggali. Seluruh dunia kekurangan air, oksigen dan tentunya kehidupan yang layak.

Kadang aku sangat menyesal, tak memperhatikan itu dulu. Tapi, guruku bilang. Aku adalah manusia yang beruntung. Yang masih bisa menikmati itu waktu kecil. Namun, sekarang aku hanya bisa merenung dan melakukan aksi sebisaku. Namun tetap saja, sangat sulit.
“Fia!!” teriakan itu membangunkanku dari lamunan yang sedari tadi mengganguku.
“Hai! Ternyata seorang Rina bisa bangun pagi juga ya! Hahahaha,” jawabku membalas sapaannya.
Dia adalah sahabatku. Entahlah, aku tak berarti tanpa dia. Dia tinggal dekat dengan rumahku. Ibunya sudah meninggal, jadi dia tinggal bersama ayahnya. Dia juga anak tunggal, sama sepertiku. Aku memang hidup sendiri di rumah yang aku tinggali. Rina suka mengunjungi rumahku. Rina, begitulah aku memanggilnya.
Kami bercanda tawa sepanjang perjalanan ke sekolah. Udara panas sekali, bila dibandingkan udara yang aku hirup waktu masih berusia 10 tahun.

Ketika kami masuk ke kelas. Banyak juga anak yang menyapa kami penuh semangat. Kami segera menyimpan tas dan berlari keluar. Seperti biasa, untuk menyiram satu-satunya tanaman di sekolah. Dengan merelakan sedikit air yang harusnya kami minum.
“Tak apalah, aku tak minum hari ini, agar tanaman ini bisa tumbuh!” ujarku kepada Rina
“iih.. nanti tanamannya mati, kalau kau beri 2 gelas air yang harusnya jatahmu hari ini!” balas Rina sambil tertawa.
Mengingat itu, aku pun tertawa. Aih, kenapa bisa lupa? Kalau saja Rina tidak mengingatkan, aku dan tanaman itu pasti sama-sama mati.

Hari ini panas sekali, lebih dari biasanya. Tentu saja, di kelas, aku tidak dapat berkonsentrasi. Tubuhku disana, namun pikiranku melayang kemana-mana. Sepulang sekolah aku bekerja di sebuah kafe kecil, karena aku hidup sendiri. Jadi, aku pun harus bekerja memenuhi kebutuhanku.
“Siang non fia,” sapa seorang lelaki tua yang berdiri di belakang meja kasir sambil tersenyum ke arah ku.
“Siang, hari ini panas sekali ya?” aku menjawab sapaannya sambil tersenyum simpul dan mengambil celemek yang biasa kupakai.

“Selamat siang para pemirsa. Hari ini suhu meningkat 4 derajat dari suhu rata-rata. Kutub Selatan mencair cukup hebat. Namun, belum dapat dinyatakan dapat menenggelamkan pulau di Indonesia. Namun, sebagian pulau Australia telah mulai tenggelam. Demikian sekilas info hari ini. Selamat siang,” ujar seorang pembawa acara di layar televisi.
Orang-orang yang mendengar berita itu, langsung berhenti berbicara seketika. Air muka mereka menjadi murung dan hanya bisa pasrah akan berita itu.
“Mau tak mau, hidup kita hanya sebentar lagi. Manfaatkanlah baik-baik.” lelaki tua yang merupakan atasanku, ternyata satu-satunya orang yang dapat menanggapi berita tadi.

Aku melanjutkan pekerjaanku hingga pukul 6 sore. Ternyata, Rina menjemputku. Katanya dia ingin menginap di rumahku. Malam ini ayahnya tidak pulang, karena belum dapat menyelesaikan pekerjaannya.

Kami mengobrol sepuasnya di rumahku. Rencananya besok kami akan pergi ke sekolah bersama-sama.
“Kau sudah dengar berita tadi siang kan? Aku sampai tak sanggup mendengarnya,” Rina memulai pembicaraannya.
“Yah, kau tahu, hidup di zaman sekarang memang serba sulit.”
“Kita pindah ke amerika yuk? Jadi, saat Indonesia tenggelam. Kita selamat bila di Amerika,” Kelihatannya Rina serius sekali, namun ku anggap itu bercanda. Aku tertawa.
Bibir Rina kering sekali, aku memberinya sedikit jatah airku untuknya. Namun, ternyata ia menolak.
“Tidak usah, buatmu saja. Memang sih, di rumahku airnya sedikit sekali. Entahlah, ayahku tak membeli air.”
Aku kasihan sekali, tapi aku yakin. Rina pasti menolak. Ia sangat tak suka bila dikasihani.
“Eh, ini untukmu,” Rina menyodorkan sebuah gelang yang bertuliskan ‘Rina & Fia’
“Terima kasih. Pasti kupakai selalu,” jawabku sambil mengedipkan sebelah mata.

Keesokan hari, saat pulang sekolah, aku dan Rina pergi ke rumahnya. Aku menunggu di luar, Rina bilang dia hanya akan melihat apa ayahnya sudah pulang atau belum. Tiba-tiba Rina berteriak memanggilku dan terdengar menangis.
Aku berlari ke dalam, dan menuju sumber suara. Kulihat Rina menangis di sebelah tempat tidur ayahnya. Saat kulihat ayahnya, lututku lemas seketika. Aku menahan tangis sebisaku, dan mengelus perlahan punggung sahabatku itu. Ayah Rina, meninggal.

Kulihat ayah Rina terkulai lemas di tempat tidurnya. Dengan mata terbelalak lebar dan mulutnya yang menganga. Bibirnya sangat putih, begitu pula tubuhnya dan sangat dingin. Dokter yang memeriksa ayah Rina, berkata kalau ayah Rina meninggal karena dehidrasi.

Saat upacara pemakaman. Udara panas sekali. Ternyata udara bertambah panas terus, dari hari ke hari. Rina menjadi sangat tertutup dan selalu murung. Rina selalu kusuruh untuk menginap di rumahku. Namun, ia tidak mau.

Suatu waktu, aku pergi mengunjungi rumah Rina. Aku menunggu Rina di kamarnya, Rina sedang berada di kamar mandi sepertinya. Tak sengaja, kutemukan sepucuk surat yang kelihatannya sudah basah sekali. Surat itu berbunyi:

Rina, ayah tahu hal ini akan terjadi. Ayah sudah memikirkannya beberapa hari terakhir bahwa hidup ayah tidak akan lama lagi. Tapi, kau jangan sedih, Refia adalah sahabat yang baik, ia pasti akan menemanimu. Kau harus tabah, kau jangan terus berlarut dalam kesedihanmu sendiri. Tak perlu mengingat keadaan ayah disana. Pasti ayah juga, telah berbahagia bersama ibumu. Kau tak perlu sedih mengingat kenangan kita. Ayah yakin, kau adalah anak yang kuat. Jangan sedih, bila melihat tempat tidur ayah yang kosong, ataupun melihat kamar itu sunyi. Kau harus bisa hidup mandiri, carilah pekerjaan yang baik. Ayah akan selalu mengawasimu dari atas sana.
Salam, Ayah

Aku membaca dengan mata yang menahan tangis. Aku sadar, surat ini basah karena air mata Rina. Namun, sepertinya Rina bukanlah anak yang kuat, seperti yang dikatakan ayahnya. Aku segera mengembalikan surat itu ke tempat semula, tepat sebelum Rina masuk ke kamarnya.

“Pergi!” bentak Rina dengan suara keras.
Aku kaget sekali. Sepertinya Rina memang butuh sendiri hari ini. Jadi, aku mengiyakan permintaan kasarnya itu. Dan pulang ke rumah.

Aku pergi ke rumah dengan perasaan yang masih sesak, karena surat tadi dan bentakan Rina. Aku hanya bisa pasrah. Aku mengambil air yang hanya seperempat gelas lagi, untuk jatahku hari ini, dan mendengarkan berita.
Ternyata, sebagian besar Australia telah tenggelam. Banyak sekali korban jiwanya. Aku selalu berpikir, bahwa sebentar lagi adalah giliranku. Pasrah hanya jalan terbaik yang bisa kuambil.

Besoknya, aku pergi ke sekolah seperti biasa. Ternyata, Rina tidak masuk. Kursinya yang kosong membuatku semakin khawatir akan keadaannya. Aku bertekad untuk menjenguknya pulang sekolah.

Saat yang kutunggu pun tiba. Matahari bersinar lebih terik lagi. Aku langsung menuju ke rumah Rina. Rumahnya sepi sekali, aku tetap masuk melewati pekarangan rumahnya. Ternyata, pintunya tidak dikunci dan aku langsung menerobosnya.
Aku lemas, wajahku pucat pasi. Aku melihat Rina. Terkulai di tempat tidurnya dengan pisau di tempat tidur, yang masih terdapat cairan darah. Aku berteriak keluar.
“Tolooong!! Tolong sahabat saya!” Aku berteriak keluar sekencang-kencangnya.

Para tetangga yang mendengar, langsung masuk ke rumah Rina dengan bimbinganku. Aku hanya bisa menangis saat kulihat, ternyata Rina bunuh diri. Dia memotong nadinya, terlihat bekas di pergelangan tangan, yang ternyata tertutup gelang. Gelang persahabatan kami.

Para tetangga, juga ikut sedih. Mereka tahu, bahwa aku adalah sahabatnya. Ternyata, mereka menemukan sebuah kertas kecil yang ternyata pesan yang Rina tujukan untukku. Bunyi pesan itu adalah:

Fia, aku tahu kau adalah sahabat yang baik. Aku selalu menyayangimu. Aku tahu, pilihan ini menurutmu salah, tapi menurutku ini adalah jalan terbaik. Aku sayang padamu, maafkan aku.. Aku tahu bagaimana rasanya kehilangan seseorang yang kita sayangi. Tapi, aku tak kuat, aku sungguh-sungguh tak bisa menerima kenyataan yang ada. Sahabatku yang baik, aku harap kau tidak cepat-cepat menyusulku ke alam sana. Aku tak menginginkan hal itu terjadi. Aku pasti bahagia, karena telah bertemu dengan ayah dan ibuku. Kau adalah sahabat yang paling baik di dunia.
Salam sayang, Rina.

Kini, aku menjalani hidup kosong. Tanpa arti sama sekali. Kadang, aku berpikir untuk menyusul Rina dengan cara yang sama. Tapi aku sadar, Hidupku pun tak akan lama, Aku akan memanfaatkannya sebaik mungkin.

Aku tetap bersekolah seperti biasa, dan bekerja di kafe kecil itu. Aku pun belajar untuk melukis. Dan berusaha, tetap seperti biasanya. Aku mendekati teman-teman lain di sekolah, namun tak berhasil. Mereka jauh lebih putus asa, setelah mendengar kalau Australia hanya tingaal seperempat nya lagi.

5 hari setelah kepergian Rina. Peristiwa hebat itu terjadi. Aku sedang duduk-duduk di teras rumah sambil membaca buku. Aku mendengar orang-orang berteriak panik. Aku juga mendengar gemuruh seperti gemuruh ombak.
Aku ikut berlari ke luar rumah. Mereka berteriak, “Kita akan tenggelam!!”

Ternyata saatnya tiba, aku berlari bersama yang lain. Dan menuju, sebuah bukit. Tapi tetap saja aku ditelan ombak. Aku berusaha berenang sekuat tenaga, tapi ombak lebih kuat. Aku kelelahan dan akhirnya menyerah. Aku kehilangan nafasku dan akhirnya tenggelam bersama pulau Indonesia yang kucintai.

Kini, aku bersama Rina dan orangtuaku. Aku tak bisa menyalahkan alam yang telah melenyapkan sahabatku, masa depanku dan aku sendiri. Tapi ini adalah sebuah karma yang Tuhan berikan kepada kita. Bisakah kita menjaga alam dan lingkungan kita? Bisa! Kalian adalah manusia yang masih memiliki kesempatan.

Lingkungan kita yang sudah cukup parah ini, masih bisa kita perbaiki. Selagi kita ada, di dunia yang kita cintai, kita bisa mencegah kejadian itu terjadi. Kita bisa mencegahnya! Percayalah pada diri kita sendiri.

Cerpen Karangan: Kariza Rai Shafira
Facebook: Kariza Rai Shafira

13 th, read my short story on kawanku magazine 153 ‘topeng impian’
Happy Write!
@karizafira

Cerpen Sebuah Karma di 2017 merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


I Miss You Yoona

Oleh:
Yoona terbaring lemah di kasur rumah sakit. Ia mengidap kanker otak stadium 2. Menurut dokter, kanker Yoona sudah termasuk parah. Orangtua Yoona selalu mendoakan yang terbaik untuk Yoona. Pada

Hidupku Berwarna Karnamu Kak

Oleh:
Setiap hari mentari menyambutku dengan sinarnya. Malam, malam kuhabiskan dengan senyuman bulan dan kilauan bintang yang sangat mengagumkan. Sejak hari itu semua keindahan dunia musnah begitu saja. Oh ya!

Bersahabat Dengan Puisi

Oleh:
Kau tahu? Sudah banyak sahabat meninggalkanku. Beberapa di antara mereka memilih menjalin hubungan cinta dan melepaskan persahabatanku. Lain kasus, sahabatku yang lain pergi karena dia merasa aku tidak lebih

Ayah

Oleh:
Dulu saya adalah anak sekolah yang tak pernah bisa diatur. Semua yang saya inginkan harus dituruti hari itu juga,. Lama berselang saya keluar dari sekolah menengah kejuruan. Disaat itu

Cerita Kenangan

Oleh:
Marta nama gadis itu. Ia berasal dari sebuah kampung di pedalaman di kabupaten Ngada. Ia adalah seorang anak perempuan semata wayang yang terlahir di dalam sebuah keluarga yang sederhana.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

4 responses to “Sebuah Karma di 2017”

  1. alkisa says:

    keren banget..
    Saya sangat suka..

  2. Dewi kristina says:

    Keren bgt kak (y). Moga warga negara indonesia cepat menyadari dan selalu menjaga indonesia sadhu sadhu sadhu….

  3. Gany says:

    Like. Ceritanya sangat memotivasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *