Semangat Puasa

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Anak, Cerpen Nasihat, Cerpen Ramadhan
Lolos moderasi pada: 6 December 2016

Terdengar suara lembut yang sangat akrab di telingaku.
“Ruqayyah, sahur nak…!” Panggil umi dari ruang makan.
“Iya, umi…” Aku berjalan gontai sambil masih terkantuk-kantuk menuju kamar mandi untuk cuci muka.
“brrrrr…” dinginnya air membasuh mukaku.

Biasanya kami makan sahur hanya berempat aku, umi, abi, dan kak Laila. Tapi suhur Ramadhan kali ini terasa istimewa karena ditemani kakek dan nenek yang sengaja berkunjung dari desa.

“imsak… imsak… imsak…” sayup-sayup terdengar lirih suara imsak tiga kali dari masjid kampung, aku dan keluargaku segera menghabiskan minum masing-masing. Kan, ini bulan ramadhan, gimana mau enggak puasa coba?
Usai sahur aku bergegas kembali lagi ke kamarku di lantai dua.
“Ruqayyah kenapa ya nek..? nggak seperti biasanya” ujar kakek bingung.
“Iya… kek, Ayya aneh hari ini. Tidak seperti biasanya” komentar nenek sambil segera menyusul ke kamarku.
“Assalammualaikum Ayya, buka pintunya, Ayya…” Salam nenek. “Waalaikumussalam… masuk saja, nek. nggak dikunci, kok…!” Jawabku dari dalam kamar. Aku hanya memikirkan sesuatu. Ya, apa jadinya puasa tapi upacara? Wuiiih… heran aku!

Sambil ikut duduk di pinggir kasurku nenek mulai berbicara. “Ayya, Yang paling cantik sedunia… Kok tadi kelihatan aneh, sih?” Tanya nenek.
Aku hanya diam seribu bahasa. Sesaat kemudian aku balik bertanya “Memang ada apa dengan Ayya…?” Tanyaku seperti orang linglung.
“Ya… Nenek Cuma mau tahu saja. Ayya kelihatan aneh, tadi, tidak biasanya begitu selesai makan sahur langsung kembali ke kamar lagi, jangan-jangan Ayya kembali tidur lagi…” Canda nenek sambil tersenyum penuh kasih sayang.
Yang ini harus jawab, nih! “Maaf, nek… Tadi aku hanya berfikir, apa bisa upacara tapi puasa? Yah… sampai sekarang saja aku masih bingung…” Ujarku sedikit tertawa.
“Oh… nenek kirain ada apa. Ayya tahu perjuangan pahlawan?” Tanya nenek sambil membelai lembut kapalaku.
“Ya, pasti Ruqayyah tahu dan faham lah nek… Memang, ada apa?” ujarku lebih lanjut.
“Ruqayyah, merdeka itu butuh perjuangan dan pengorbanan. Perjuangan dan pengorbanan para pahlawan sangatlah besar. Mereka pantang menyerah demi tetap tegaknya negara kesatun Republik Indonesia. Mereka siap untuk mengorbankan jiwa dan raga tanpa pamrih. Untuk itu kita harus menghormati perjuangan para pahlawan, salah satunya dengan upacara itu…” Nenek menjelaskan panjang lebar. “Puasa bukan berarti membuat kita boleh bermalas-malasan, justru Ayya harus tunjukkan bahwa puasa janganlah dijadikan sebagai alasan yang dapat menghambat segala aktifitas sekolah Ayya” lanjut nenek.
“Baik nek, Ruqayyah janji untuk ikut upacara” Aku menegaskan dan meyakinkan nenek.
“Wah… ternyata, nenek itu pandai berpidato ya… hehe” gumamku dalam hati, dan aku sekarang mantap untuk mengikuti upacara sebagai rasa hormat terhadap perjuangan para pahlawan. Panasnya saat upacara belum seberapa dibanding pengorbanan yang telah mereka darma baktikan untuk nusa dan bangsa. Dan aku pun bertekad tetap semangat untuk selalu mengisi kemerdekaan ini dengan belajar rajin agar dapat mendarmabaktikan seluruh kemampuanku demi kejayaan negara Indonesia tercinta.

Seperti nasihat nenek, puasa bukanlah hambatan untuk beraktifitas dan belajar. Insya Allah… semoga kita selalu diberi kesehatan dan kekuatan dalam bulan puasa kali ini.

Cerpen Karangan: Hafshah Mufidah
Facebook: Hafshah Fida
Boleh hubungi lewat email atau facebook.
Jamankapan_ini
Latepost
Kelas_4 SD

Cerpen Semangat Puasa merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Bu Hamidah Pergi Haji

Oleh:
Saat itu bu Hamidah bermimpi. Bu Hamidah bermimpi sedang pergi haji. Bu Hamidah ingin sekali pergi haji. Tapi pasti ada gangguan terus. Keesokan harinya, bu Hamidah menceritakan mimpinya itu

Nasihat Sahur Ibu

Oleh:
“Zuraaa…” “Azzura Najwatunnisa!!” Suara Ibu mulai terdengar di mimpi Zura. Dia memang mendengar dengan jelas bahwa Ibu sedang marah karena memanggilnya dengan nama panjang. Segera ia bangun sambil mengucek

Kisah Persahabatan Tasya

Oleh:
Anastasya Anandra Putri Annetya atau biasa dipanggil Tasya adalah murid kelas 4 SD, dia sekolah di SD Angkasa Merdeka, Tasya adalah anak tunggal. Tasya adalah anak yang baik hati,

Demi Tas Baru

Oleh:
Pada siang hari Roy dan Ibunya sedang pergi berbelanja. Lalu pada saat melewati toko tas dan dia melihat tas bagus. Roy meminta kepada Ibunya unuk membelikan tas tersebut. Namun

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Semangat Puasa”

  1. Fatimah Putri Sinun says:

    Bikin lagi donk cerpen nya kak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *