Siapa yang Bersabar Pasti Akan Beruntung

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Motivasi, Cerpen Nasihat, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 17 July 2013

“Assalamua’alaikum ibu, Aku pulaanggg…” teriakku setelah sampai rumah.
Tidak ada yang menyahut. Kemana ibu? pikirku.
Apakah ibu bekerja? tapi ini kan hari Sabtu, biasanya hari Sabtu dan Minggu ibu libur dari pekerjaannya. Aku berkeliling mencari ibu. Sampai ketika aku mencari beliau di kamar mandi, aku menemukan sosok yang tergeletak tak berdaya dengan kepala penuh darah.
“Ibu…” jeritku.
Saat itu juga aku berlari ke luar rumah untuk meminta bantuan kepada tetangga terdekat. Ketika aku beritahu keadaan ibu, tetanggaku itu langsung berlari menuju rumahku. Dia berkata ibu harus segera di bawa ke rumah sakit.

Dokter masih memeriksa keadaan ibu. Aku berdoa mudah-mudahan ibu tidak apa-apa. Akhirnya dokter pun keluar.
“Maaf, pasien sudah dipanggil oleh Yang Maha Kuasa.” kata sang dokter.
Aku tak bisa berkata apa-apa. Aku berpikir, mengapa ibu meninggalkanku secepat ini? Aku masih perlu beliau. Tapi, apa daya, ini semua sudah menjadi kehendakNya. Tangisku pun meledak.

Setelah ibu dikuburkan, aku tak tahu harus bagaimana. Rumah yang kutinggali saat ini, adalah rumah kontrakan. Dan itu pun ibu belum membayar kontrakan untuk bulan ini. Jadi, setelah tahu bahwa ibu meninggal, bapak pemilik kontrakan itu mengusirku. Untunglah, tetangga yang kemarin membantu ibu dikuburkan, kembali membantuku lagi dengan memberikan tumpangan rumah untuk menginap selama beberapa hari, dan membantuku mencari jalan keluar. Karena aku sudah tak punya siapa-siapa lagi selain almarhumah ibuku.

Malam kedua aku menginap, tetanggaku yang bernama Bu laila itu, berbicara kepadaku.
“Husna, saya tak bisa lama-lama memberi tumpangan kepadamu. Karena saya juga mempunyai anak yang cukup banyak. Saya sudah berusaha mencari jalan keluar. Dan jalan satu-satunya saya akan mengirimkanmu ke Panti Asuhan.” kata bu Laila.
Aku hanya bisa diam mendengarnya.
“Husna, kamu tidak apa-apa kan?”
“Tidak bu. Saya tidak apa-apa.”
“Baiklah kalau begitu. Besok saya akan mengantarmu ke Panti Asuhan itu.”

Esok pun tiba. Selama perjalanan aku hanya diam. Sesekali bu Laila berbicara padaku. Akhirnya, setelah melalui perjalanan yang cukup panjang, aku telah sampai di Panti Asuhan yang akan menjadi rumahku kelak.

Bu Laila memperkenalkanku kepada Ibu Kepala Panti Asuhan. Anak-anak yang tinggal di Panti Asuhan itu memperhatikanku dan ada seorang anak memberikan senyumannya kepadaku. Tapi, aku tak membalas senyumannya. Dadaku terlalu sesak untuk menerima semua ini.

Selama beberapa hari, aku mengurung diri di kamar. Tak sanggup untuk keluar dan bertemu anak-anak lainnya. Sampai pada suatu hari ada seorang anak perempuan masuk kamarku. Anak perempuan itu tak mempunyai kedua tangan. Dia menghampiriku dan bertanya kepadaku.
“Nama kamu siapa?” tanya anak perempuan itu
“Husna, nama kamu siapa?”
“Namaku Adis.”
Aku memperhatikan kedua tangan Adis yang tidak ada itu.
“Oh, tanganku. Ini terjadi karena kecelakaan yang merenggut nyawa kedua orangtuaku. Ya, aku kehilangan kedua tanganku ini karena kecelakaan itu.” Jelasnya.
“Eh, maaf aku tidak bermaksud menyinggungmu.”
“Tidak apa-apa lagi.”
“Kamu tidak sedih?” tanyaku.
“Mulanya sih iya. Tapi, aku mencoba menerima dengan lapang dada. Aku yakin dengan “Man Shabara Zafiiraa” yaitu: siapa yang bersabar pasti akan beruntung. Ayo, kita keluar. Teman-teman yang lain menungu kehadiranmu.”

Tanpa berkata apa-apa lagi aku mengikuti Adis keluar. Ketika sampai di luar, aku di sambut oleh seorang anak yang pada saat aku datang, anak itu memberikan senyumannya. Dia berkata,
“Start Your Day With A Smile and The World Will Smile At You.”
Aku tersenyum mendengarnya. Dan aku ucapkan terima kasih kepada anak itu. Teman-teman di Panti Asuhan banyak memberi pelajaran hidup bagiku. Mulai dari menyikapi sesuatu dengan sabar dan juga mengajarkan untuk memulai hari dengan senyuman. Tentu saja ini semua sudah menjadi pilihanNya yang terbaik bagiku.

Cerpen Karangan: Annida Hasan
Facebook: annidahasan.wordpress.com

Cerpen Siapa yang Bersabar Pasti Akan Beruntung merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Untukmu Raisa

Oleh:
“Raisa!” panggilku. Raisa pun menoleh ke belakang. “Eh, Rika” jawabnya. “Raisa, Rasty mana?” tanyaku. “Kayaknya, belum datang deh!” jawab Raisa lagi. “Kantin, yuk” ajakku. “Yuk, deh.” Aku dan Raisa

Ayah Untuk Apa Aku Dilahirkan?

Oleh:
Mentaripun tak mampu menghapus kepedihanku walaupun aku terus mencoba untuk bangkit dan melupakan semua masalah yang aku alami. Seberapapun kerasnya aku mencoba tetap perih yang aku rasakan. Maaf.. Maaf..

Personality

Oleh:
Mungkin yang diketahui mereka tentangku adalah PEMALAS. Tapi percayalah .. Aku juga tidak menginginkan pilihan ini. Aku ingin bebas melakukan apapun seperti layaknya orang sehat. Disebut malas gerak sudah

Si Pingget Tangan Itu Mamaku

Oleh:
Hari ini aku melihatnya berbicara di podium itu. Lagi. Ya, ini bukan pertama kalinya dia berdiri di sana. Memberi pencerahan bagi semua muridnya. Memberi dorongan untuk orang-orang di sekitarnya.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *