Tengkup Paya

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Anak, Cerpen Dongeng (Cerita Rakyat), Cerpen Nasihat
Lolos moderasi pada: 18 June 2016

Di pagi yang indah, para jam weker terbangun dari tidurnya. Sementara Fidy, dia masih tertidur lelap. Sudah berkali-kali jam wekernya membangunkannya, tetapi Fidy, dia tetap belum beranjak dari tempat tidurnya itu. Karena matahari sudah mulai meninggi, ini saatnya ibu yang akan berurusan dengan Fidy. “Fidy!! Bangun!!!” Ibu memanggil Fidy dari luar kamarnya. Tetap saja, Fidy juga tidak bangun-bangun. Emosi ibu mulai meninggi, ibu langsung masuk kamarnya Fidy dan membangunkan Fidy dengan cara merintikkan air ke wajah Fidy. Lalu, setelah Fidy terbangun, Fidy disuruh oleh ibu untuk bersiap-siap dan segera ke ruang makan.

Saat Fidy sudah siap, Fidy segera ke ruang makan. Ibu dan ayah mengatakan pada Fidy bahwa pagi ini mereka akan pergi kampung. Fidy menolaknya. Tetapi, karena tidak ada yang akan menjagakan Fidy di rumahnya, jadi Fidy terpaksa ikut dengan kedua orangtuanya. Saatnya pun untuk berangkat. Fidy juga tidak lupa untuk membawa ketiga jam wekernya. Sampainya di kampung, Fidy mengucapkan salam kepada neneknya. Neneknya mempersilahkan Fidy dan keluarganya masuk ke rumah. Di dalam rumah, nenek berjanji pada Fidy bahwa nenek akan membawa Fidy ke sebuah tempat.

Hari ini telah datang. Ini saatnya nenek membawa Fidy ke sebuah tempat itu. Di tempat itu, nenek menceritakan suatu kisah legenda. Nenek menceritakan kisah TENGKUP PAYA. Nenek mulai bercerita..

Pada zaman dahulu, hiduplah seorang anak yang sangat durhaka pada orangtuanya. “Nak, ibu pergi ke sawah dulu ya nak.” Pamit ibu kepada anaknya dengan lembut. “Ya pergi aja! harusnya pergi dari tadi tau!” Bentak anaknya pada ibunya. ibunya memulai langkah sedikit demi sedikit ke luar rumah. Sang anak durhaka bergumam dalam hatinya “ih, ibu ini. Teman-teman aku semua selendangnya pada bagus-bagus, sementara aku, hanya punya sarung usang begini. Huh, ibu tidak becus”. Sore sudah tiba, sang ibu juga sudah pulang dari sawah. “Nak, ini ibu ada sedikit beras. Setidaknya ini sudah cukup untuk kita berdua” kata ibu kepada anaknya. Sang anak melempar beras itu dari tangan sang ibu dan ia marah-marah pada ibunya. Karena sudah menyerah, sang ibu menyerahkan semua kepada tuhan. Tiba-tiba, tanah mulai retak dan terbelah. Sang anak durhaka perlahan-lahan mulai dimakan oleh bumi. Anak durhaka itu menjerit-jerit meminta tolong pada ibunya. Tapi, apa boleh buat. Bumi telah menelannya, dan tanah itu masih kering sampai sekarang.

Selesailah kisah nenek. Setelah mendengar kisah nenek, Fidy berjanji tidak akan nakal lagi, dan sifat Fidy berubah menjadi baik.

TAMAT

Kalian bisa melihat peninggalan tanahnya di daerah kuantan singingi (KUANSING) Riau, tanahnya masih kering sampai sekarang

Cerpen Karangan: Fayi Amatullah Azhara
Facebook: Fayi Amatullah
Hallo, namaku Fayi Amatullah azhara. Sekarang aku duduk di kelas 5 SD. Aku bersekolah di SDIT AL-FITYAH-pekanbaru-Riau. Kalau kalian ingin berkenalan lebih dekat;
E-mail:fayiamatullah[-at-]gmail.com
Line (ID): fayipowel
Instagram: Fayi_scout
(Follow ya…) hehehe

Cerpen Tengkup Paya merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Gigi Ompong

Oleh:
Seperti biasa, setiap pagi aku harus bersiap-siap ke sekolah. Aku dan temanku Lian namanya. Kami berangkat sekolah dengan berjalan kaki sekitar 10 menit lamanya dengan kecepatan rata-rata. Setiap di

Aku dan Saudara Kembarku

Oleh:
Hujan mengguyur kotaku dengan deras. Aku hanya bisa berdiam diri di rumah. Untuk mengisi kebosanan, aku bermain piano. Sejak kecil, aku tidak pernah melihat ibuku. Aku hanya tinggal berdua

Ayah, Maafkanlah Aku

Oleh:
Hari itu merupakan hari yang sangat penting bagiku, sekian tahun lamanya jerih payahku akan terbayar. Bersama teman-teman seangkatanku, itu adalah hari yang paling kami nantikan. Kami akan segera menyandang

Sahabat Lamaku Sudah Tak Kukenali

Oleh:
“Hallo teman-teman, aku Fayya Karin Putri. Panggil Fayya saja!” masih teringat saat dia mengenalkan dirinya pada anak kelas V-B. Aku Freya Alya Ukroy. Panggilannya Freya. Anak itu mengingatkanku pada

Pino Kurcaci Hutan

Oleh:
The Power Girls adalah nama persahabatan antara Siska, Nessa dan Sasa. Suatu hari saat libur panjang, mereka bertiga berencana untuk berlibur bersama. “Enaknya kita liburan di mana?” tanya Nessa.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *