Terimakasih Ratih

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Nasihat, Cerpen Ramadhan
Lolos moderasi pada: 2 August 2013

“Segera selesaikan tugasmu, Gilang!”
Suara Bu Tinah terdengar tepat di telingaku. Beliau memang tidak membentak, tapi kalimatnya penuh penekanan. Terdengar begitu kuat kejengkelan Bu Tinah terhadap sikapku yang tidak pernah menjadi baik apalagi santun.
Aku beranjak dari tempat dudukku. Bu Tinah pun menatapku tajam. “Mau kemana kamu?” Tanyanya dengan mata melotot. Seisi kelas menoleh ke arahku.
“Keluar. Sumpek di sini.” Jawabku datar sambil berlalu meninggalkan kelas.
Mungkin Bu Tinah sudah terlalu lelah memarahiku untuk hari ini. Beliau membiarkanku keluar begitu saja, tanpa mengejaarku. Paling juga Bu Tinah sudah hafal tempat mana yang akan kutuju.

Aku duduk di kursi kantin, tanganku menyambar keripik singkong yang ada di depanku. Aku membukanya kemudian melahap tanpa beban. Bu Siti tampak memandangiku dari balik etalase makanan.
“Pelajarannya Bu Tinah, Lang?” Tanyanya dengan tangan yang sibuk merapikan makanan.
Bu Siti sudah hafal kebiasaanku rupanya. Aku memang paling tidak betah dengan guru matematikaku itu. Dari sekian banyak guru yang membosankan di sekolah ini, dialah yang paling super membosankannya.
Tidak pernah tersenyum, garing dalam menghadirkan canda, dan tidak pernah punya tatapan ramah untukku. Yah, aku juga tidak butuh keramahannya. Kalau pun Bu Tinah bisa ramah denganku, pasti bukan keramahan tulus. Ramah abal-abal, dan itu sangat tidak kubutuhkan!
“Iya, Bu. Males saya. Rese banget.” Jawabku. Entah mengapa aku selalu nyaman bicara terbuka dengan Bu Siti. Beliau punya kemiripan dengan Ibu. Halus, pengertian, punya tatapan lembut. Ibuku juga seperti itu. Ibuku yang, ah sudahlah.
“Rese gimana, Mas?”
Ratih anak Bu Siti tiba-tiba muncul di hadapanku. Dia masih mengenakan seragam putih birunya. Tas merahnya pun masih diselempangkan di pundak.
Nyaman sekali nasib anak ini. Sudah rampung ujian, tinggal libur dengan dag-dig-dugnya saja. Aku jadi ingat, dulu aku pernah punya rasa khawatir pada hasil nilai. Punya rasa takut bila mengecewakan orang tua. Dulu, beda dengan sekarang.
Sekarang aku hampir tidak pernah memikirkan bagaimana nasib nilai raporku nanti. Lagipula, baik atau buruk nilaiku – sudah tidak ada yang bakal kecewa. Paling-paling Bu Tinah, wali kelasku itu akan malu berat punya anak didik sepertiku. Justru membanggakan untukku nanti.
“Mas Gilang kok malah bengong tho?” Tanya Ratih sembari duduk di depanku. Aku gelagapan.
“He? Kamu nanya apa sebelumnya?” Aku balik bertanya.
Ratih mendesah panjang. “Bu Tinah itu resenya kayak apa? Perasaan setiap mampir ke sini orangnya asik.”
“Beh! Asik dari hongkong?” Cemoohku. Bola mata Ratih memutar, terlukis raut kesal di wajahnya. “Pokoknya rese, Tih. Ngga pernah baik sama aku.” Jelasku.
“Mungkin karena kamunya punya sikap yang kurang baik sama beliau juga, Lang.” Sahut Bu Siti masih dari balik etalasenya.
Aku mencoba mencernanya meski sulit. Memang iya, aku sering kurang ajar dengan Bu Tinah, juga dengan guru-guru lain.
“Mending, Mas Gilang tuh buruan minta maaf sama Bu Tinah dan guru-guru yang lain. Guru kan orang tua kedua kita Mas, ngga sepantesnya Mas Gilang pertahanin sikap ini.” Saran Ratih.
Memang hanya Ratih dan Bu Siti yang setiap sarannya mampu kudengar dan kucerna dengan baik. Walaupun tidak mudah kuturuti. Tapi perkataan dari mereka tidak pernah membuatku dongkol. Mulutku selalu terkunci untuk membantahnya.
“Dua hari lagi mulai puasa lho, Mas!” Seru Ratih dengan wajah berseri-seri.
Ramadhanku berbeda dengan ramadhanmu, Tih. Kamu patut bersyukur, bisa menjalankan puasa dengan dikelilingi keluarga yang menyayangimu. Tidak seperti aku.
“Pelajarannya Bu Tinah udah selesai deh kayaknya. Aku kesana dulu ya!” Pamitku karena tak ingin larut dalam perbincangan ini.
“Mas Gilang!” Panggil Ratih, membuat langkahku terhenti. Aku menoleh ke arahnya. “Nanti sepulang sekolah rujakan di rumahku, ya!” Serunya dengan tatapan penuh harap. Kuacungkan ibu jari sebagai tanda persetujuan.

Kusantap lutis buatan Ratih di teras rumahnya. Banyak yang kuperbincangkan dengannya siang ini. Ratih seorang pendengar yang baik, selalu mempersilakanku memaparkan semua yang ada di pikiran.
Aku mengenalnya belum cukup lama. Baru sekitar tiga bulan karena perkenalan yang tak disengaja siang itu. Karena keisenganku ketika melihat bros berbentuk bunga di meja kantin, aku memainkannya di sana. Tak lama kemudian Ratih datang memintaku mengembalikan brosnya. Dari situlah perbincang kami berawal.

“Dari dulu, mas kayak gini kalau sekolah?” Tanya Ratih sembari membenarkan jilbabnya.
“Maksudmu suka cabut pas jam pelajaran, terus ngga pernah ngerjain tugas, kurang ajar sama guru?”
Ratih terkekeh. “Iya, Mas.”
Aku menerawang sebentar, sebelum membuka mulutku untuk bercerita. “Dulunya aku pelajar yang serius, Tih.”
“Hah? Masa?”
“Iya! Kalau ngga serius, mana bisa masuk SMA Bakti sih?” Yakinku, Ratih pun manggut-manggut dengan senyum lugunya. “Dulu masih ada Ayah sama Ibu, masih dapet tumpahan perhatian dan kasih sayang yang bikin aku terdorong buat membalasnya. Satu-satunya jalan terdekat, ya, lewat prestasi itu. Makanya aku serius sekolah, berusaha masuk ke SMA yang mereka dambakan.” Jelasku panjang.
Ratih terlihat antusias mendengarkan. Sepertinya sudah lama sekali aku tidak melihat ekspresi antusias dari seseorang ketika mendengar ceritaku. “Nah, terus Mas?” Tanya Ratih.
“Beberapa hari setelah pendaftaran, Ayah sama Ibu,” Aku berhenti sejenak, meresapi dadaku yang makin sesak. “Kecelakaan, dan keduanya meninggal.”
Ratih membungkam mulutnya.
“Dari situ, aku sudah tidak punya obsesi apapun. Keberhasilanku ngga ada artinya, Tih. Mau aku persembahkan untuk siapa? Ayah sama Ibuku udah ngga ada.” Lanjutku. “Sekarang aku tinggal sama om-tanteku. Sepertinya mereka kerepotan sama kehadiranku.” Aku menambahkan. Lega rasanya setelah menceritakan hal ini pada Ratih.
“Di sana, Ayah-Ibu mas tetap melihat Mas. Dipersembahkan untuk siapa keberhasilan mas, ya jelas tetap untuk mereka. Mereka akan ikut tersenyum dengan kesuksesan Mas Gilang. Begitupun sebaliknya. Mereka akan sedih kalau mas terus bersikap seperti ini.” Tutur Ratih membuat hatiku tersayat.
Meski Ayah dan Ibu sudah tidak ada, aku tetap punya kewajiban mendoakan dan membuat mereka tersenyum bangga di sana.
“Kalau soal om sama tante mas, ah, mungkin itu perasaan mas saja yang terlalu sensi. Coba diperhatiin lagi setelah pulang dari sini.” Tambah Ratih dengan secuil senyumnya.

Kuikuti saran Ratih. Selain akan lebih fokus belajar untuk meraih keberhasilan, demi orangtuaku, aku ingin memperhatikan suasana di rumah hari ini.
“Pulangmu sore banget tho, Lang? Darimana aja?” Tanya Tante Wati di kursi tamu. Aku tidak menjawabnya, ada perasaan lain yang menyentuhku kali ini. Biasanya pertanyaan ini selalu membuatku kesal dan tak ingin pulang kemari. “Sudah makan belum kamu? Itu ada sop ayam sama tempe di dapur.” Tambah Tante Wati sambil terus melanjutkan rajutannya.
“Makan dulu sana, Lang! Sore banget pulangmu?” Om Darma keluar dari kamarnya. Pertanyaan itu dapat kusentuh ketulusannya kali ini.
Mungkin selama ini aku terlalu keras kepala, berprasangka buruk dengan lingkungan sekitarku. “Om, Tante, Gilang minta maaf kalau selama ini banyak sikap Gilang yang ngga enak.” Tuturku. Om Darma dan Tante Wati saling bertatapan, kemudian mendekati dan memelukku hangat.

“Bu Tinah,” Panggilku sedikit ragu. Beliau menatapku sinis. “Saya minta maaf. Banyak banget kesalahan yang saya perbuat pada Ibu. Saya janji, akan berubah jadi lebih baik, Bu.” Tuturku ketika Bu Tinah memeriksa tugasku.
Senyum beliau merekah, matanya berkaca-kaca setelah mendengar pengakuanku. Dilepasnya kacamata, kemudian ia hapus titik air matanya. “Ibu juga minta maaf ya, kalau cara ibu selama ini terlalu kasar dan malah bikin kamu makin tidak betah dengan pelajaran ibu. Kamu harus betul-betul menjalankan janjimu, itu buat masa depanmu, Lang.” Tutur Bu Tinah, aku mengangguk mantap.

Ratih sudah menyadarkanku. Untung aku belum terlambat untuk meminta maaf pada orang-orang di sekelilingku.
“Lebih plong kan sekarang? Ntar puasanya pasti lebih nyaman, deh!” Ujar Ratih sambil mengacungkan jempol.
“Terimakasih ya,” Ungkapku, Ratih mengangguk senang. “Nanti malam tarawih pertama kan? Ikut tarawih di SMA Bakti ngga?” Tanyaku.
“Biasanya ikut terus kok.” Jawabnya dengan senyuman. “Tapi kita ngga bisa sebelahan, Mas!”
“Yaiyalah!” Sahutku diikuti gelak tawanya.
Tanpa Ratih, entah kapan sadarnya aku. Mungkin hingga detik ini aku masih keras kepala, merasa jadi orang yang paling benar. Berkat Ratih, ramadhan tahun ini insyaallah dapat kujalani seperti ramadhan tahun sebelumnya. Tidak menyimpan benci dan dendam pada siapapun, serta masih dikelilingi orang-orang yang perhatian dan menyayangiku. Terimakasih, Ratih.

Cerpen Karangan: Widyadewi Metta
Blog: wdymetta.wordpress.com
Sampaikan komentarmu mengenai cerpen ini. Bisa di-mention ke @wdymetta ^^

Cerpen Terimakasih Ratih merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cerita Cinta di Putih Biru Tua

Oleh:
Malam tanpa bintang. Mungkin begitulah kata yang pas untuk seorang cewek yang sedang GALAU, Yaa.. begitulah hati seorang cewek yang satu ini. Dia seorang cewek bernama Cancer dia bingung

Tak Disangka

Oleh:
Di sebuah kota besar yang berada di antara benua asia dan Australia,pada pagi hari seperti biasa seorang pekerja serabutan berangkat dengan gesit langsung memenuhi kewajibanya sebagai seorang kepala keluarga

Sahabat Khianat

Oleh:
Gatot, dia adalah kakak kelas ku di SMP, dia termasuk cowok yang ramah dan murah senyum. Awal mula aku kenal dengannya karena waktu itu aku dikenalkan oleh temannya sahabatku

Takbir Terakhir

Oleh:
Jika ini menjadi takbir terakhir, Izinkan aku mengucap permintaan maafku. Yang belum dapat mewujudkan kebahagiaan untuk kalian yang kucintai … Jika ini menjadi takbir terakhir, Ijinkan aku mengucap sampai

Sang Mujahid Jatuh Cinta

Oleh:
Ponselku berdering tanda panggilan masuk, Andi incoming call tertera dilayar LCD ponselku. Ternyata sepupuku yang satu itu rupanya! Ku angkat, “Assalmu’alaikum Ndi?” “Wa’alaikumussalam mbak! Piye kabare mbak Rahma?” suara

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Terimakasih Ratih”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *