Bendera Itu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Nasionalisme
Lolos moderasi pada: 17 November 2021

Jalanan pagi ini cukup berkabut, membuat siapa saja yang berjalan merasakan kedinginan hingga menusuk ke tulang. Aku melangkahkan kakiku diatas rerumputan, dipinggir jalanan beraspal. Bau hujan tadi malam masih terasa hingga menusuk kehidungku. Langkah kakiku terasa ringan menyambut hari pertamaku bekerja sebagai Sekretaris Kantor Desa di salah satu Desa di pelosok Riau.

Namaku Yania Adinda Sugino, anak kedua dari empat bersaudara, satu-satunya putri di keluarga Sugino. Ibuku telah lama meninggal sejak aku masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama. Aku terlahir bukan dari kasta tertinggi, aku lahir hanya sebagai anak dari salah satu petani sawit di Desaku, Kandis. Aku dibesarkan oleh keluarga yang taat pada agama dan aturan. Aku menempuh pendidikan hingga sarjana di salah satu Universitas terbaik di Riau, jurusan Teknik Sipil. Jadi nggak heran, aku bisa menjadi Sekretaris Desa di Desa yang kucintai ini.

“telah jauh berkelana entah di mana ada rasa hanya kuntum kasihnya khabar itu merelakan perjalanannya ada jiwa hanya kuntum kasihnya biar panas membakar biar ranjau mencabar telah mekar hati seindah purnama dipujuk segala rajuk sepi rindu adakala meracun imannya biar panas membakar biar ranjau mencabar hati mekar seindah purnama” senandungku sambil menuyusuri jalanan menuju Kantorku. Senyumku kian merekah saat aku mulai berpapasan dengan penduduk yang berdiam di desa ini. Langkah demi langkah aku lalui hingga aku tiba juga didepan gerbang yang gapuranya bertuliskan “Kantor Desa Kandis”.

Sejenak terdiam, aku memandang kearah tiang yang dengan kokohnya berdiri tegak didepan halaman Kantor Kepala Desa itu. Warnanya sudah usang, sudah berubah dari awalnya merah putih hingga menjadi kuning jingga. Ya, itu benderaku. Yang dengan gagahnya dia berkibar namun warnanya sudah tak sedap untuk dipandang. “apa tidak ada uang lagi, sehingga kantor ini tidak dapat mengganti bendera itu dengan yang baru?” batinku dengan hati yang kesal.

Aku sangat mencintai negaraku ini, Indonesia. Aku bangga dengan para pejuang yang dengan tidak memikirkan diri, ia mampu membawa Tanah Airku keambang kemerdekaan. Aku ingin kemerdekaan ini bukan hanya ada saat dikumandangkannya proklamasi, namun aku ingin sikap kemerdekaan ini dapat membakar semangat anak muda sepertiku.

Kakiku kulangkahkan masuk ke halaman Kantor Desa. “selamat pagi, buk?” sapa penjaga gerbang sembari tersenyum. “selamat pagi juga pak, selamat bekerja” jawabku dengan senyuman yang merekah di bibirku. Sapaan setiap karyawan berkumandng di telingaku. Aku hanya membalas dengan senyuman kepada mereka, namun kadang kala aku juga membalas sapaan mereka. Aku senang dengan keramahan karyawan disini terhadapku, ya meski aku hanya sebagai karyawan muda disini.

Kegiatan semestinya pun berjalan dengan sangat baik. Aku menyelesaikan seluruh berkas yang harus aku susun dengan semangat yang masih berkobar. Aku tidak merasa letih dengan semua pekerjaanku, justru aku merasa sangat bersemangat dengan pekerjaanku. Bekerja di bagian pemerintah dengan baik menurutku suatu wujud rasa syukurku kepada Sang Pencipta dan juga sebagai wujud kecintaanku dengan daerahku, bangsaku, bahkan negaraku.

Pukul 4 sore aku berkemas hendak kembali pulang. Semua barang kususun dengan rapi. Sebelum pulang pun aku membersihkan terlebih dahulu ruang kerjaku. Menurutku ruang kerjaku merupakan tempat aku menuangkan ekspresiku.

Aku melangkahkan kaki keluar ruanganku dengan langkah pasti. Sejenak aku terdiam saat menatap tiang itu didepan halaman kantor. Lagi-lagi aku merasa kesal dengan apa yang aku lihat. “Pak, itu benderanya tidak diganti saja? Sudah usang pak?” kataku pada seorang penjaga Kantor ini, Pak Igun. “tidak tau buk. Soalnya tidak ada instruksi untuk mengganti bendera dari Bapak Kepala Desa” jawab Pak Igun. “kok gitu sih? Diajuin dong pak. Tuh lihat benderanya sudah usang” kataku dengan nada sedikit kesal. “iya buk, nanti coba saya yang ajuin pada Beliau” jawab Pak Igun.

Aku heran. Bagaimana bisa mereka tenang melihat bendera usang itu? Bagaimana bisa mereka dengan setenang itu menanggapinya? Apakah kecintaan mereka terhadap merah putih itu telah sirna? Apa rasa itu telah hilang?

Dua minggu setelah aku memperingati pak Igun, sampaii sekarang tidak ada tanda bahwa bendera itu akan diganti. Aku kembali kesal. “kalau begini terus, yakin deh bendera itu gak bakalan diganti” batinku. Lalu aku pun menuju Ruangan Kepala Desa. “permisi, Pak” ucapku sambil mengetuk pintu yang terbuat dari bahan kayu tersebut. “Iya Nia, mari masuk” ucap Pak Wahyu; Kepala Desa kami. “terimakasih Pak” ucapku setelah duduk dihadapnnya.

“ada apa Nia? Kok tumben mampir kesini?” Tanya Pak wahyu dengan heran. “hmm, ini pak. Bendera kita yang dihalaman itukan sudah usang betul pak. Bagaimana kalau kita ganti saja Pak” kataku memulai pembahasan. “oh, masalah bendera itu? Untuk kali ini belum bisa Nia” jawab Pak Wahyu. “kenapa pak?” tanyaku. “dana kita belum ada” jawab Pak Wahyu dengan enteng. “Dana? Seberapalah biaya untuk bendera itu? Malu kali Pak bendera usang itu masih dikibarkan” kataku mulai kesal. “ya, mau bagaimana lagi gak mungkinkan uang saya yang saya gunakan?” jawab Pak Wahyu. “apa salahnya? Kalau gitu biar saya saja yang ganti. Saya kira Bapak bakalan inisiatif untuk mengganti bendera itu.” Kataku semakin kesal. “ya sudah, kalau kamu mau ganti, ganti saja. Gak ada yang larang kok” jawab Pak Wahyu. “ya sudah kalau begitu. Saya permisi” ujarku sambil berlalu.

Astaga? Aku tidak menyangka itu jawaban yang akan diberikan oleh Pak Wahyu. Aku kira dia sebagai salah satu ‘Pejabat’ pemerintahan akan lebih berinisiatif untuk mengganti bendera itu. Apa salahnya coba mengeluarkan sedikit uang untuk menghormati para pejuang bangsa ini. Para pahlawan telah mengorbankan segalanya mulai dari harta, keluarga hingga nyawanya sendiri ia relakan. Betapa mulia bukan? Lalu bagaimana cara kita untuk menghargai perjuangannya?

“sore pak” kataku sambil menyalim Bapak, setibanya aku di rumah. “Sore. Gimana kerjaan hari ini? Lancar?” Tanya Bapak. “ya gitulah pak, lancar kok. Tapi, ada yang buat kesel nih pak” ujarku dengan nada manja. “kesel kenapa? Bendera itu??” Tanya Bapak. Bapak memang mengetahui pasal bendera itu, karena aku telah menceritakan semuanya pada Bapak. Jadi, Bapak gak akan heran kalau aku selalu menggerutu tentang bendera itu. “iya pak. Tadi aku sudah nemuin Pak Wahyu. Tapi, pak Wahyu gak beri respon yang baik, malah dia bersikap seolah tidak penting.” Kataku dengan nada kesel. “yaudah sih, kalau dia gak bisa beri respon, kenapa gak dimulai dari kamu saja?” kata bapak sambil berlalu kebelakang.

Aku masih memikirkan apa yang barusan dikatakan oleh Bapak ‘kenapa gak dimulai dari kamu saja?’. Sambil memikirkannya, aku melangkahkan kakiku menuju kamarku. Aku berbaring sambil menatapi langit-langit kamarku yang bewarna abu-abu itu. “maksud Bapak apa ya?”.

Tiba-tiba pintu kamarku ada yang mengetok. “kak…” Panggilnya, yang ternyata adalah adik bungsuku yang saat ini masih duduk dikelas 2 dibangku Sekolah Menengah Pertama. “iya Masuk. Kenapa?” kataku mempersilahkannya masuk dan bertanya. “kak, aku nemu kain merah ini di jalan saat pulang sekolah tadi. Bagusnya diapain ya kak” kata adik bungsuku sambil menunjukkan kain bewarna merah ukuran 130 cm x 190 cm. Aku menatap sekilas kearah kain tersebut lalu memikirkan sesuatu.

Setelah berpikir beberapa saat, aku teringat kain ini cocok jika dijadikan sebagai benda yang dari tadi aku pikirkan. Lalu aku mencari sesuatu didalan lemariku. Akhirnya aku menemukan yang kucari yaitu kain bewarna putih dengan ukuran 200 cm x 150 cm. Kain ini merupakan sisa dari kegiatan kerajinan semasa aku SMA. “untuk apa kak?” Tanya adik bungsuku dengan nada bingung. “ini akan kakak jadikan bendera. Kamu mau gak?” jawab dan Tanyaku. “boleh ajah sih kak. Tapi, benderanya mau diletak dimana?” tanyanya masih dengan nada bingung. “bendera ini akan kakak buat sebagai ganti bendera yang ada di kantor kakak.” Jawabku dengan bibir yang mulai terangkat, tersenyum. “wah… boleh juga tuh kak. Soalnya, kemarin aku gak sengaja lewat kantor kakak. Terus aku lihat benderanya udah jelek dan mulai koyak juga.” Kata adik bungsuku menyetujui usulku.

Aku pun akhirnya mulai mengerjakan untuk membuat bendera itu dengan bibir yang terus terangkat keatas. Awalnya aku mengukur panjang dan lebar masing-masing kain, 180 cm x 120 cm. Aku mulai menjahit bendera tersebut dengan semangat meski jam kini telah menunjukkan pukul 22.00 wib. Meski malam mulai larut, namun semangatku belum juga larut untuk menyelesaikannya. Pukul 23.47 bendera itu akhirnya telah selesai juga. Aku puas dengan hasilnya. Aku bangga.

Keesokan paginya aku berangkat lebih awal dari waktu yang biasanya aku berangkat. Senyum dibibirku sedari tadi belum juga lepas. Kain merah putih tersebut pun dengan setia bertengger di tanganku. Sesampainya aku di kantor yang masih sepi ini, aku pun mulai memasang bendera ini ditiang. Setelah kuikat ditali pengikatnya, lalu aku menaikkan bendera itu. Dengan gagahnya bendera itu mulai menunjukkan kebolehannya dalam berkibar. Aku terharu dengan bendera itu.

Tanpa kusadari, sedari tadi ternyata aku sudah mulai jadi bahan tontonan karyawan lain “semangatnya amat tinggi ya” ujar salah satu Karyawan. “semangat muda yang luar biasa” ujar salah satu Karyawan. Pujian mulai terdengar di telingaku. Aku bangga bukan berarti sombong. Aku bangga karena aku bisa menjadi contoh di lingkunganku.

“Nia, saya bangga denganmu. Kamu mampu membuktikan rasa cinta kamu terhadap tanah air ini. Saya minta maaf sebelumnya, Karena telah mengabaikan pengajuanmu” kata Pak Wahyu sembari menyalamiku dengan bangga. “iya, tidak apa-apa, Pak. Saya juga berterimakasih jika bukan karena tolakan bapak kemarin, saya tidak akan bisa membuat moment ini. Hehehhe” kataku sambil bercanda. “hahaha… iya, betul juga kamu. Jadi sama-sama” kata Pak Wahyu bercanda. “hahahah” tawa karyawan yang ada disekitar.

Tidak perlu lagi kita mengorbankan harta, keluarga, bahkan nyawa kita untuk memperjuangkan kemerdekaan. Karena, kemerdekaan itu kini sudah kita genggam di tangan kita. Yang kita lakukan hanya bagaimana cara kita menggenggamnya. Apakah kita akan menggenggamnya erat, biasa saja, atau bahkan kita lepas. Jika genggaman kita erat maka perjuangan tidak akan sia-sia, bangsa ini pasti akan maju. Jika genggaman kita biasa saja maka perjuangan hanya dihargai sebagai rutinitas saja, bangsa ini akan tetap berada di posisi yang sama. Jika genggaman kita dilepas maka hancurlah identitas bangsa ini. Tentukan genggamanmu!!!

Nama: Elisma Br Hutabarat
Lahir: Kandis, 19 Maret 2001

Cerpen ini dimoderasi oleh Moderator N Cerpenmu pada 17 November 2021 dan dipublikasikan di situs Cerpenmu.com

Cerpen Bendera Itu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Jangan Biarkan

Oleh:
Ubin-ubin warna merah itu berjejer rapi di lantai dan menimbulkan sedikit suara saat sepasang sepatu menginjaknya. Hembusan angin yang kencang meniup-niup kecil rambut lelaki itu membuat siluet matanya yang

Inilah Aku

Oleh:
Pagi yang tidak disapa silaunya alam, melainkan disapa oleh rintikan air beserta sedikit musik dari langit, membuka hari Senin dengan indah. Tentunya saja indah bagi para siswa, termasuk Laila

Garuda 1 (Part 3)

Oleh:
Tak jauh dari tambang itu ada toko jus yang sedang sepi pelanggan, aku memutuskan untuk meninggalkan Robi sebentar dan membeli jus untuk kami berdua. Aku berjalan menembus teriknya mentari

Lomba Kemerdekaan RI

Oleh:
17 Agustus tahun 45 itulah hari kemerdekaan kita. Sayup-sayup terdengar lagu “Hari Merdeka” dari mulut Karin. Ia mencintai Indonesia. Hari ini adalah ulang tahun RI yang ke-70. Karin membuat

Observation

Oleh:
Malam itu, di pusat ibu kota Provinsi Jawa Timur, tepatnya di alun-alun Contong, Bubutan, Surabaya; sebuah kota metropolitan terbesar di provinsi tersebut, tiga orang pemuda sedang berjalan beriringan sambil

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *