Fitri

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Nasionalisme, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 7 August 2019

“Sesungguhnya, bangsa kita ini sedang dijajah,” tutur kata orang yang memiliki rasa nasionalisme ini membuatku bingung.
“Apa? Bukankah bangsa kita telah merdeka?” celetukku ditengah-tengah perdebatan oleh beberapa orang.
“Zaman ini udah maju kali, jajah itu bukan berarti melalui penyerangan fisik kali.”
“Maksudnya?”
“Eh tau ga sih, Indonesia itu adalah angka tertinggi penjualan HP di dunia setelah Brazil. Mirisnya, sebagian besar pengguna HP itu adalah anak dibawah usia 14 tahun. Mau jadi apa bangsa kita ini? Korea yang merupakan gedung perusahaan samsung saja penjualannya lebih sedikit dibandingkan Indonesia. Sesungguhnya mereka memperdaya kita melewati otak.” Kerutan kening khas Fitri muncul lagi, itu tandanya dia gondok.

Aku mengasingkan perdebatan orang-orang pandai di kelasku. Seketika aku bergumam apa yang dikatakan Fitri benar. Bukannya mencemooh negara sendiri namun hal itu adalah sebuah fakta. Lantas, apa yang dapat aku lakukan untuk memperbaiki bangsa yang kacau ini?
“Kenapa ya, banyak stasiun televisi yang memuat acaranya sinetron? Sinetronnya juga tentang cinta. Kebanyakan yang nonton TV kan anak-anak kecil. Sama aja kan mereka ngotori otak-otak anak zaman sekarang? Kok mereka gak mikir ya?” samar-samar masih terdengar suara Fitri yang lantang di antara kerumunan teman-temannya.
“Yah, salah orangtuanya dong yang gak melarang anaknya nonton,” sahut Makmur yang dari tadi membantah pernyataan Fitri.
“Apakah anak-anak tidak berhak menonton? Lantas, acara apa lagi yang harus mereka nonton? Kartun? Apakah kartun punya nilai moral? Jika kita tidak menonton TV, apa lagi yang harus dilakukan?” jawab Fitri lagi, kesal.

Aku tidak berani berkomentar. Gadis yang memiliki 1.001 pengetahuan itu selalu membungkamku.
“Anak zaman sekarang, cintanya mah dengan budaya orang luar negerti. Korea lah, Jepang lah, Amerika Serikat lah. Apa sih yang dibanggain? Kenal enggak, sodara enggak, lahir di satu negara aja enggak. Apa lagi orang Korea yang kerjanya joget-joget di panggung gak jelas tapi banyak yang nonton. Hahaha! Film Amerika Serikat mah film actionnya negara dia mulu yang menang. Negara kita enggak pernah dibuat menang,” lanjut Fitri dengan lantang. Seketika, suasana kelas menjadi riuh. Anak-anak pencinta Korea serentak kompalin Fitri.
“Kalo kalian emang suka sama Korea-Korea yang ga punya budaya moral itu pergi aja. Pergi dari Indonesia, kalian juga gak ada banggain negara kita. Malah memperburuk! Lahir di Indonesia tapi cinta sama Korea.”
“Tapi gue cinta Indonesia kok,” bentak Makmur.

Suasana hening.
“Kalo gitu, ulangan B. Indo lu harus 100 3 kali!”
“Enak aja buat peraturan sendiri,”
“Hah, katanya lahir di Indonesia, cinta Indonesia tapi ulangan aja gak bisa dapet 100. Giliran ulangan bahasa Korea 100 tapi kalo Indonesia 60 hahaha!” gelak tawa merendahkan menggelegar di seluruh kelas. Sebagian siswa memuji dan mengagumi pernyataan Fitri. Dan sisanya malah merendahkan. Aku hanya bungkam, tidak bisa berbuat apa-apa.
“Kalian ini emang ya. Pahlawan kita itu dulu memperjuangkan negara kita biar merdeka. Nah sekarang kita udah merdeka tapi kitanya malah gini. Astaga! Ternyata betul yang dikatain Pak Soekarno, ‘Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.’”

Aku terkagum dengan Fitri yang mengetahui segalanya. Yang sebegitunya mencintai negara Indonesia sampai hapal apapun yang pernah disampaikan oleh Pak Soekarno. Aku mengangguk seraya tersenyum dari jauh mendengar perkataan Fitri. Kelas masih riuh karena masih terngiang-ngiang perkataan Fitri mengenai negara Korea.

“Apa? Kalian masih bela negara mereka? Ckckck, ingat kalian tuh lahir di mana.”
“Tapi, apa salahnya kalau kami suka mereka.” Celetuk Zaenal.
“Yah, tidak ada salahnya. Tapi, kalian lebih mencintai budaya mereka dibanding mereka. Suka tuh ya sebatas suka jangan jadi cinta.” Aku tertawa terbahak-bahak. Kadang anak ini suka melenceng. Beberapa orang menyoraki Fitri.
“Eh, kalian tau kata-kata Pak Soekarno?”
“Apa?” sahut Cinta.
“’Apakah Kelemahan kita: Kelemahan kita ialah, kita kurang percaya diri kita sebagai bangsa, sehingga kita menjadi bangsa penjiplak luar negeri, kurang mempercayai satu sama lain, padahal kita ini asalnya adalah Rakyat Gotong Royong’”

Kini, hanya beberapa orang yang berbisik-bisik. Aku kembali bungkam. Gadis ini memang begitu pandai.
“Apa nasib bangsa ini nanti?” sahutku, kata-kata itu tidak sengaja terlontar dari bibirku. Fitri melempar senyum, mereka semua menatap ke arahku. Aku hanya menyengir.
“Yah, aku tidak tau. Kalian tau kata-kata Pak Soekarno?”
“Apaaaaa?” sahut seisi kelas serentak.
“’Firman Tuhan inilah gitaku, Firman Tuhan inilah harus menjadi Gitamu : “Innallahu la yu ghoiyiru ma bikaumin, hatta yu ghoiyiru ma biamfusihim” Tuhan tidak merobah nasibnya sesuatu bangsa sebelum bangsa itu merobah nasibnya.’”

Kali ini, seisi kelas bertepuk tangan.
“Kau hebat Fitri! Bagaimana cara kita merubah nasib bangsa kita?” teriak Windy.
“Kalian harus menjadi orang yang baik, memiliki iman, dan bertaqwa adalah hal yang paling penting. Jangan sampai kalian tercebur ke dalam perbuatan yang terlarang dan tidak baik. Apa lagi kita masih di bawah umur. Kita juga harus menjadi pemimpin yang baik, tidak boleh mementingkan kepentingan pribadi dan golongan. Kita harus mengambil alih kekuasaan dari tangan oknum yang jahat kepada orang-orang yang baik. Selain itu, untuk memperepat pembangunan dan pengentasan segala permasalahan bangsa kita butuh ilmu pengetahuan dan teknologi. Tapi ilmu pengetahuan dan teknologi yang kita butuhkan adalah hal yang bersifat positif. Oh iya, kalo ga kreatif mah sia sia aja tuh iptek. Kalo bisa, ciptain hal-hal baru yang positif supaya bisa bantu dan membangun bangsa Indonesia.”

“Keren!!! Keren!!!” teriakku heboh memukul meja.
“Makasih ya Fit, karna lo kita semua jadi tau banyak hal,” Ucapku tersenyum.
“Hahaha, iya sama-sama. Tapi nyadarnya tuh jangan cuma satu hari ya, harus setiap hari dan sampai akhir hayat. Eh, keasyikan dengerin kalian belum hapal lagu Indonesia Raya sampe stanza tiga kan?”
“Hahaha… Iya,” kerumunan perdebatan seketika bubar teringat bahwa peraturan baru mewajibkan menghapal lagu Indonesia Raya sampai stanza tiga.
“Jens!”
“Iya kenapa?”
“Tumben si Fitri dateng lambat,”
“Eh iya kok dia belum dateng sih? BTW kenapa? Lu kangen? Wkwkwk,”
“Wkwkwk, bukan gitu sih. Gw Cuma agak aneh aja. Kan biasanya dia ceramah tuh pagi-pagi.”
“Tapi ceramahnya bermanfaat tau. Dia tuh sayang banget ya sama negara kita ini.”
“Iya, sepatutnya kita mencontoh dia,”
“Apa? Mencontoh? Barusan aja lu ngejek dia,”
“Heheheh jus’t kidding,”
“Jus’t kidding? Biasain bahasa Indonesia. Katanya warga negara Indonesia.”
“Siap bu asisten Fitri,”

Hari ini, adalah hari yang paling sepi di antara hari yang lain. Tidak ada ikat rambut merah putih, tidak ada teriakan semangat, tidak ada kerutan kening, tidak ada kehebohan. Sepi dan sunyi. Bahkan, tidak ada yang tahu ke mana dan mengapa dia tidak ada di sini. Setiap siswa di kelas ini pasti merindukannya. Bahkan aku, teman yang tidak pernah dekat dengannya merindukan itu. Aku mengukir senyum mengingat kata demi kata perkataannya. Karenanya, kini aku hapal lagu Indonesia Raya sampai stanza tiga dan kini aku tahu kata-kata mutiara yang diucapkan oleh Pak Soekarno. Dia adalah sosok siswa teladan yang menginspirasi.

“Oi, lu udah belajar?”
“Hah, belajar buat apa?” seruku terkejut.
“Ulangan PKN tau hari ini,” jawabnya santai.
“Astaga! Gue belum belajar,” sahutku menepuk kening. Haduh, ternyata aku begitu menikmati semua perkataan Fitri.
“Tenang aja, kan ada gue,” lontarnya mengedipkan mata kirinya.
“Apa? Lu pikir gue mau seenaknya nyontek sama lu? Astaga, enggak lah ya. Kita tuh harus dapetin jawaban dari otak sendiri. Gak modal banget! Lagi pula kalo gue nyontek, guenya yang tambah bodoh. Ya kan?”
“Tumben lo bijak, hahaha,”
“Iyalah, kan gue penerus Fitri,”
“Halah!”

Detik demi detik telah berlalu. Aku mengerjakan soal ulangan dengan mudahnya. Karena segala hal yang dikatakan oleh Fitri adalah jawaban dari ulanganku. Hahaha, gak ada salahnya gue nginget semua kata Fitri, gumamku dalam hati.
“Gimana nyet? Bisa?” tanya Dian meremahkan.
“Ya bisa lah, namanya juga Sastri,” seruku sombong menjulurkan lidah.
“Lah? Lu nyontek gue?”
“Lah? Lu lupa yang gue bilang?” ujarku tertawa.
“BTW lu tau salah satu kata mutiara Ir. Soekarno waktu hut RI tahun 1964?”
“Yah, gue cuma tau satu. Tapi kan disuruh sebutin satu wkwk”
“Apa emang?”
“Lu gak tau? Katanya lu pinter,”
“Hhhh…” gerutunya kesal.

“Ibu kecewa dengan nilai kelas ini. Hanya Sastri yang mendapat nilai sempurna.”
“Astaga!” teriakku bahagia.
“Ih alay!”
Di tengah kebahagiaanku, wali kelasku masuk ke dalam kelas kami. Dia memberitahukan sesuatu kepada guru PKN kami.
“Turut berduka cita, teman kalian telah meninggalkan kita duluan,” sahut bu Vivi dengan nada sedih.

Apa? Aku tidak percaya, tidak mungkin! Tidak mungkin Fitri meninggalkan kami dahulu. Kami masih buta akan pengetahuan. Tanpanya, tidak mungkin nilai ulangan PKNku bisa sempurna. Tanpanya, aku akan terus mencintai budaya luar yang tidak memiliki nilai moral. Aku pasti akan selalu rindu teriakannya, aku pasti akan selalu rindu akan kerutan keningnya, aku pasti akan rindu nasehatnya, kepintarannya, teriakannya, dan segalanya.
“Kenapa bu?” beberku pelan.
“Saat menuju sekolah, ayahnya ingin mengerem menghindari lubang besar. Tapi tertabrak traktor besar.” jelas bu Vivi.
Tangisku pecah!

Ya Allah, baru saja aku mengenalnya lebih dekat. Kenapa dia meninggalkanku terlebih dahulu? Seruku dalam hati di makamnya menaburkan bunga. Aku menancapkan bendera merah putih disamping makamnya sebagai rasa tanda nasionalismenya.
“Semoga aku dapat mencintai Indonesia sepertimu, Fitri. Aku akan selalu merindukanmu,”

Cerpen Karangan: Tita Larasati Tjoa
Blog / Facebook: Tita Larasati

Cerpen Fitri merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sakit

Oleh:
Andi prayoga brahmantara, itu lah Namaku. Singkat saja dengan andi, karena aku tidak ingin membuat pusing orang yang akan memanggilku. Ya benar, aku adalah seorang anak laki-laki yang berdarah

Apakah Ia Seorang Psikopat? (Part 2)

Oleh:
Aku mengantongi HP di saku celanaku, aku terkejut mendapati ada dompet di sakuku. Ternyata itu dompet Rukov, aku lupa mengembalikannya saat ia mengembalikan HP-ku. Aku merasa orang yang paling

Ada Cinta (Part 1)

Oleh:
Cantik. Sungguh sangat cantik. Hanya kata itulah yang ada dibenak Leo saat ini. Laki-laki yang kini menjabat sebagai ketua Osis di sekolah. Ya, Leo adalah laki-laki pintar yang menjadi

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Fitri”

  1. moderator says:

    Tita tau?
    kakak membaca cerpen tita dari sejak pertama kali Tita mengirimkan cerpen ke Cerpenmu.. dan kakak melihat sekali perkembangan dari kualitas cerita yang mampu tita sajikan…

    Kemampuan menulis cerita Tita untuk anak seusia tita sudah sangat baik bahkan diatas rata rata…

    Maka berbanggalah dengan perkembangan Tita ini!, lebih percaya diri lagi ya dengan karya karyanya ^_^

    ~ Mod N

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *